Batua Ben....
Sepintas terlihat lebih mudah kalau partai yang berideologi sama 'berfusi'
menggabungkan diri.
Persoalannyo, setelah mereka berfusi, apo awak masih merasa terwakili dek
partai hasil fusi itu?
Misalkan si A adalah pendukung partai X, lalu partai X, Y, Z kemudian
merger jadi partai '('ain)....lalu apo si A masih maraso se-ideologi jo
partai 'ain tadi? Atau malah jadi golput...? Mamak kanduang ambo,
partainyo PERTI. Sasudah islam hanya diwakili PPP, beliau memilih golput.
Kalau ditanyo, piliah apo Mak?..PERTI, katonyo. :-)
Sebab kalau berfusi, pasti ado idealisme yang dikorbankan...Pengorbanan,
bagi partai barangkali dianggap strategi, tapi bagi pemilih bisa jadi
dianggap pengkhianatan.
Ambo suko partai A, dan sangaik mambanci partai C. Makonyo di pemilu ambo
piliah partai A. Ternyata, belakangan demi strategi pemenangan pilkada,
partai A ambo malah berduet jo partai C. Pasangan A dan C ko ternyata
manang. Bagi partai A, itu strategi, bagi ambo itu pengkhianatan. Kalau ka
merger juo jo si C, manga ambo piliah A patang2? Karena bagi sebagian
orang, pilihan partai adalah masalah ideologi, bukan masalah kalah manang.
Tidak ada teman abadi, yang ada hanya kepentingan abadi...berlaku bagi
politisi. Bagi rakyat, baa? Ambo ingek haru biru di milis Amien-Siswono
katiko pak Amien Rais kalah 2004.....ado yang nulis giko : ndak baa pak
Amien kalah, tapi dek kami memilih pak Amien ko sekaligus menunjukkan
identitas kami. Jadi memang banyak waktu tu ndak yakin pak Amien manang,
tapi tetap juo 'kekeuh' miliah pak Amien. 'Sia' nan dipiliah, menunjukkan
'sia' pemilihnyo.
Kalau ambo ambiak contoh, kalau bintang film (reagen, estrada) manjadi
presiden tantu yang mamiliah kebanyakan dari golongan penggemar film, kan
baitu.
Itulah saketek uneg2.. :-)
Saketek lai yang maugia-ugia juo di kiro2...baa kok sampai ado partai yang
berasas islam yang mamecat salah satu ketuanyo, karena si ketua
berpoligami :-) Katonyo, poligami sang ketua bisa mengurangi suaro
partainyo tahun 2009.
salam
ridha/male/30thn-jkt
"benni_inayatullah" <[EMAIL PROTECTED]>
Sent by: [email protected]
07/08/2008 10:26 AM
Please respond to
[email protected]
To
[email protected]
cc
Subject
[EMAIL PROTECTED] OOT: PEMILU 2009, URANG AWAK GOLPUT atau pilih PKS
Bung Mantari, kalau anda bermaksud memilih partai berdasarkan
ideologi maka saya pastikan anda akan bingung seketika, karena
ideologi partai hanya ada diatas kertas semata, sementara dalam
realita tidak ada partai yang mempunyai ideologi jelas. Bila anda
ragu, coba anda bandingkan ideologi Golkar dengan Demokrat. apa
bedanya ? atau PAN dengan PKS, sama sama partai yang berbasiskan
Islam sosiologis dan sama-sama menegaskan sebagai partai Pluralis.
Kemudian sebagai orang Minangkabau, seandainya ABS-SBK diterjemahkan
menjadi urang awak harus memilih partai Islam, maka harus dibedakan
lagi partai yang Islam mana ? apakah secara teologis seperti PPP, PBB
dan PBR atau Partai yang Islam secara sosiologis seperti PAN, PKS
atau PKB.
Kalaupun anda memilih salah satu dari sekian banyak partai yang
berlabelkan Islam tersebut, maka secara tujuan politik saya percaya
tidak akan tecapai, boleh dikatakan mustahil salah satu partai
tersebut untuk muncul sebagai pemenang. Akan menang kalau sekiranya
partai berlabelkan Islam tersebut melakukan merger menjadi satu
partai atau paling tidak menjadi dua partai yang bisa digolongkan
secara sederhana misalnya tradisionalis dan modernis.
tapi pilihan itu juga hampir mustahil karena modal sosial (social
capital) yang dimiliki partai tersebut sangat tipis. saking tipisnya
sehingga sulit untuk bekerjasama apalagi dalam keadaan merger. Sebab,
lainnya fragmentasi Islam itu sendiri sangat rumit dan terpecah
belah. Bagaimana akan bekerja sama bila modal sosial tidak ada ?
bagaimana akan bekerjasama bila "trust" tidak terbangun ? Bagaimana
akan bekerjasama bila elite partai sendiri tidak dewasa menyikapi
perbedaan ?
sehingga tidak dapat disalahkan bila sebagian besar masyarakat
memilih untuk Golput atau memilih partai berdasarkan patronase.
bingungkan ? sama, saya juga bingung
tapi biar gak dikatakan kurang tegas, plin plan, sarupo baliang-
baliang diateh bukik, sebagai orang awak coba saja anda cermati
silsilah pimpinan partai yang ada. Kalau ada bau-bau Minangnya..pilih
saja partainya meskipun marganya Batak (Misalnya loh seperti
kebiasaan urang awak)
atau seperti yang sudah anda lakukan, pilih saja calonnya..apakah itu
calon mertua, tetangga sebelah rumah, langganan kacang tojin, mantan
mandan bamain domino atau siapapun itu tanpa melihat partainya. sebab
dalam pemilihan langsung ini, yang kita pilih adalah orangnya. kalau
orangnya punya integritas, apapun partainya tidak jadi masalah
jadi jangan golput, karena itu tidak mendidik meskipun sikap itu
suatu pilihan juga sesungguhnya…
salam
Ben
--- In [EMAIL PROTECTED], Mantari Sutan <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Berandai di tahun 1955 saya sudah ada dan memiliki hak pilih,
partai pilihan saya adalah PSI. Alasannya, partai ini diisi oleh
kelompok intelektual, berani bersikap dan yang paling penting mereka
mengutamakan akal sehat. Secara relatif, saya lihat (baca dari buku
lalu dianalisa sendiri tentunya) tokoh-tokohnya relatif idealis
dibandingkan dengan yang lain. Sebut nama untuk tokoh-tokoh mereka
Syahrir, Soemitro Djojohadikusumo, Soedjatmoko dan nama lainnya.
>
> Pemilu 1971 dan 1977, saya belum lahir. Selanjutnya 1982,1987, dan
1992 saya belum cukup umur. Pemilu 1997, saya tidak terdaftar di TPS
dekat kosan. Terdaftarnya hanya di kampung halaman. Dokumen
transfer juga tidak saya siapkan, karena memang tidak penting.
Alhamdulillah, saya bersyukur sekali tidak [ernah mencoblos selama
pemilu orde baru.
>
> Tahun 1999, pilihan saya berbeda untuk tiap dewan perwakilan. DPRD
tingkat II, pilihan dijatuhkan kepada PAN. Tingkat I-nya memilih
Partai Keadilan. Sementara untuk pusatnya, saya memilih Partai
Rakyat Demokratik. Memilih PAN karena asumsi calegnya adalah tokoh
Muhammadiyah. Sebagai "pemenang perang" di masa itu, tentu para
kadernya akan senantiasa mengikuti pentolan mereka Amien Rais.
Seorang yang kagumi. Partai Keadilan dan PRD saya pilih karena saya
kenal dengan caleg-calegnya. Yang satu dosen saya, satu lagi
kakaknya teman. Dengan keduanya saya pernah berdiskusi, dan menurut
saya keduanya orang pintar.
>
> Tahun 2004 memutuskan golput. Saya tidak melihat adanya alasan
untuk memilih. Saya sudah terlanjur kecewa dengan pilihan saya lima
tahun sebelumnya.
>
> Untuk tahun 2009, jujur saya masih bingung. Kembali golput atau
ikut memilih. Sebenarnya kalau harus memilih, saya sudah punya
partai pilihan. Partai itu bernama Partai Keadilan Sejahtera,
disingkat PKS. PKS menjadi pilihan lebih kepada memenuhi quote yang
"terbaik dari yang ada", walaupun yang ada saat ini bukanlah yang
baik-baik. PKS menurut saya secara relatif mereka adalah partai yang
bersih, banyak tokoh muda, santun dalam berpolitik, dan orangnya
pintar-pintar. Partai ini juga tidak bergantung pada kharisma
tokohnya. Ketika Nurmahmudi diganti, lalu muncul Hidayat Nurwahid
semua berjalan normal. Kalau mereka mengajukan nama untuk pilkada,
nama yang dimunculkan biasanya unpredictable. Harapan untuk
mendapatkan ide-ide segar dan baru, masih ada dari partai ini. Siapa
yang menyangka mereka mengajukan Ahmad Heryawan untuk gubernur Jawa
Barat. Di Sumatera Utara juga begitu.
>
> Kalau kita suka menonton debat politik di TV Nasional,
perhatikanlah utusan PKS. Sebut nama misalnya Tiffatul Sembiring,
Zulkiflimansyah, Rama Pratama, Fahri Hamzah dan seterusnya. Lalu
bandingkan cara dan content mereka berdialog, berargumen atau bahkan
sekalian berdialektika. Tanyakan pada hati nurani kita, siapa yang
lebih baik. Kalau saya yang ditanyakan, PKS lebih baik.
>
> Tetapi, menjadi golput masih menjadi pertimbangan utama saat ini.
Melihat gejala dan pertunjukan politik saat ini, saya merasa definisi
kewarasan yang saya punya sudah melenceng dengan definisi kewarasan
mereka. Saya tidak tahu, apakah saya yang sudah gila atau mereka
yang senewen. Atau tidak ada yang gila, karena memang sudah berbeda
definisi kewarasan. Nah, berangkat dari kondisi ini. Menjadi golput
adalah yang terbaik rasanya. Saya menjadi tidak peduli lagi dengan
bentangan-bentangan spanduk yang memuat foto-foto tokoh, untuk ucapan
berbagai tema. Saya tak lagi membuang-buang waktu memperhatikan
kampanye-kampanye dan iklan TV. Dan yang paling penting, saya merasa
tidak perlu lagi merasa terlibat dan berdosa atas tingkah dan polah
wakil saya kelak.
>
> Mudah-mudahan sharing yang saya sampaikan ini, bisa menjadi
pertimbangan urang awak juga dalam bersikap. Menjadi Golput atau
memilih PKS. Waktu masih panjang untuk berpikir. Selamat berpikir
dan selamat menentukan pilihan.
>
> Piss yo....
>
>
>
>
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
===============================================================
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
===============================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED]
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di:
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---