Tarimo kasih komentarnyo Da,

Betul, berkoalisinya partai besar dan kalau koalisi itu berkuasa maka 
kekuasaan ditangan mereka. BUkan berarti dikangkangi, karena itu bisa 
berarti otoritarian. koalisi dibutuhkan untuk mebentuk sistem 
presidensial agar lebih kuat, efektif, mandiri dan tahan lama.

Koalisi yang dimaksud tentu saja koalisi yang permanen dan bukan 
koalisi pragmatis seperti yang ada selama ini. lihat saja koalisi 
kebangsaan yang bubar di tengah jalan atau koalisi kerakyatan yang 
menjadi pendudkung SBY-JK. koalisi kerakyatan ini seperti kita tahu 
juga begitu rapuh, tidak mempunyai konsensus bersama atau kontrak 
politik yang kuat. Sehingga koalisi ini seringkali tidak sejalan 
dengan kebijakan yang di usung oleh presiden mereka. contoh terakhir 
PKS dan PAN justru menandatangani hak angket BBM, padahal mereka 
sebelumnya adalah pendukung SBY-JK. Inkonsistensi inilah yang sering 
terjadi bila koalisi yang terbentuk adalah koalisi pragmatis.

Hal ini jugalah kemungkinan mengapa SBY kelihatan begitu peragu, 
tidak tegas, lambat berpikir karena harus menyesuaikan segala 
kebijakannya dengan kepentingan partai-partai pendukungnya, bila 
memaksakan kebijakan bisa-bisa koalisi ini menarik dukungan. Dalam 
kata lain pemerintahan ini tidak mandiri. 

ada koalisi saja bisa begini apalagi tidak ada koalisi ? bisa-bisa 
SBY yang dari partai minoritas di parlemen jadi bulan-bulanan dan 
tidak satupun program bisa berjalan.

segitu dulu Da,

salam

Ben


--- In [EMAIL PROTECTED], "Muzirman --" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> Saya menambahkan Pertanyaan dan komentar, semoga bisa di response di
> milist ini nantinya, trims
> 
> On Tue, Sep 2, 2008 at 7:37 AM, Benni Inayatullah
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > Dialog Aktual "Koalisi Golkar dan PDI-perjuangan"
> >
> > Selasa, 2 September 2008 , Pkl 23.00 WIB. di layar TVRI
> >
> >
> > Nara Sumber:
> > Hajriyanto Tohari, Partai Golkar
> > Yasonna Laoly, PDI-p
> > Benni Inayatullah, The Indonesian Institute
> >
> > Host: Chandra Sugarda
> >
> >
> >
> > Golkar dan PDIP menuju Koalisi Kebangsaan Jilid II
> >
> >
> > Tentu kita masih ingat pada tahun 2004 lalu ketika Golkar dan 
PDIP tergabung dalam sebuah koalisi yang dinamakan koalisi 
kebangsaan. Namun koalisi ini bubar ditengah jalan ketika Golkar 
memutuskan untuk mendukung pemerintahan SBY-Kalla yang ketika itu di 
dukung oleh koalisi kerakyatan yang terdiri dari partai Demokrat, 
PBB, dan PKS.
> >
> > Sekarang wacana koalisi antara Golkar dan PDIP kembali muncul. 
Mengapungnya wacana koalisi antara PDIP dan Golkar bermula di 
Silatnas Golkar beberapa waktu lalu yang juga dihadiri oleh Taufik 
Kiemas. Wacana koalisi ini kembali diapungkan oleh elit Golkar dan 
elite PDIP untuk menyongsong Pemilu 2009.
> >
> > Sebagai partai yang sama-sama mengambil posisi di tengah (catch 
all party), tentu saja Golkar dan PDIP mempunyai peluang yang cukup 
besar untuk membentuk sebuah koalisi yang permanen.  Namun, kesamaan 
ideologi saja dirasa tidak cukup apabila koalisi yang dibentuk adalah 
berlandaskan pragmatisme atau kepentingan jangka pendek semata. Bisa-
bisa wacana koalisi ini hanya tinggal wacana karena begitu banyak 
sekali kepentingan masing-masing partai yang seringkali berbenturan 
sehingga mengaburkan kerangka koalisi yang ingin dibentuk.
> >
> > Di Indonesia yang menganut sistem presidensial dan multipartai, 
koalisi merupakan sesuatu yang mutlak diperlukan. Koalisi menjadi 
pilihan yang menarik sekaligus membingungkan dalam prakteknya di 
Indonesia . Meskipun begitu, usaha koalisi Golkar dan PDIP harus 
dihargai semangatnya dalam mencari jalan mewujudkan stabilitas 
politik yang memang dibutuhkan dalam sistem presidensial.
> >
> >
> > Pertanyaan yang muncul adalah;
> >
> >1.agaimanakah prospek koalisi yang dijajaki oleh Golkar dan PDIP ? 
Apakah akan terbentuk koalisi yang permanen atau akankah terulang 
kisah koalisi kebangsaan 2004 ?
> >
> >2.aktor apakah yang membuat Golkar dan PDIP kembali tertarik untuk 
berkoalisi ?
> >
> > 3.alisi bagaimanakah yang paling ideal untuk membentuk 
pemerintahan yang stabil ?
> >
> >4. Ber koaslisi nya Partai besar, berarti akanmengangkangi  
kekuatan dan kuasaan .??
> IMPLikasi nya adalah tahu saja. "Power is  sweet, man".
> Semoga dlm diskusi itu juga bisa di assess bgmn konsekwensi nanti 
nya.
> Terimaksih. Wass. Muzirman
> ========================
> >
> >
> >
> >
> > >
> >
> 
> >



--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke