Gagah si Ajo komah ajoduta/61/usa
On Fri, Oct 17, 2008 at 3:25 AM, HIFNI HFD <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Suryadi, Pengelana dari Pariaman > DOK PRIBADI / Kompas Images <http://www.kompasimages.com/> > Suryadi > Jumat, 17 Oktober 2008 | 03:00 WIB > > Dia percaya pada takdir. Jalan hidupnya yang penuh onak dan duri diyakini > bukanlah kebetulan. Ada semacam garis nasib yang membentang antara kampung > halaman di pedalaman Pariaman, Sumatera Barat, hingga Leiden, Belanda, > tempat ia bermukim sejak 10 tahun terakhir. > > Suryadi memang tipikal perantau Minang. Ulet dan tahan banting. Hanya saja, > sebagai perantau, ia tak menekuni sektor informal, sebagaimana profesi urang > awak perantauan umumnya. Ia memilih jalur keilmuan melalui dunia akademik. > Bidang yang ia tekuni pun tak terlalu umum: naskah-naskah lama! > > Menjadi penelaah naskah dan buku klasik (bahasa kerennya filolog) memang > bukan profesi yang bisa mengantarkannya menjadi selebritas, seperti fenomena > para "komentator" bidang ekonomi, politik, dan hukum di Tanah Air. Dari > aspek ekonomi pun, profesi ini jauh dari menjanjikan kehidupan mewah dan > berkecukupan. > > Namun, di balik dunia yang sepi itu, ketika larut bersama naskah tua yang > ia kaji di pojok perpustakaan di berbagai perguruan tinggi di Eropa, Suryadi > mengaku menemukan "dunia kecil"-nya itu justru luas membentang. Jalan > kehidupan dia kian terbuka lebar. > > "Ternyata saya tidak sendiri. Ada juga orang lain yang menyukai bidang ini, > yang bisa menjadi teman dalam satu network keilmuan," tuturnya. > > Hasil penelitian yang ia publikasikan di sejumlah jurnal internasional > banyak mendapat tanggapan. Kajiannya atas surat raja-raja Buton, Bima, Gowa, > dan Minangkabau, misalnya, dimasukkan dalam satu proyek (Malay Concordance > Project) yang berpusat di Australian National University, Camberra, > Australia. > > Berkat penelitiannya atas naskah-naskah lama itu pula ia kerap diundang > menjadi pemakalah seminar di mancanegara. Suryadi bahkan dipercaya memimpin > satu proyek pernaskahan yang didanai the British Library. > > Kajian komprehensif atas Syair Lampung Karam—satu-satunya sumber pribumi > tentang letusan Gunung Krakatau tahun 1883, yang diikuti gelombang tsunami > dan memorak-porandakan wilayah sekitar Selat Sunda (Kompas, 12 September > 2008)—hanya satu dari sekian banyak teks Melayu klasik yang sudah ia teliti. > > Syair dalam tulisan Arab-Melayu alias Jawi itu kemudian ia transliterasikan > ke teks beraksara Latin, sebelum dibandingkannya dengan pandangan para > penulis asing (baca: Eropa). > > Menggeluti naskah lama atau buku-buku klasik mengenai Nusantara ternyata > memberi keasyikan tersendiri bagi Suryadi. Perpustakaan KITLV dan > Universiteitsbibliotheek Leiden menjadi rumah kedua, tempat ia "bersemedi", > intens menekuni ribuan naskah tentang Indonesia yang pada zaman kolonial > diangkut ke negeri Belanda. > > "Saya seperti menyelam ke masa lalu. Banyak hal menarik dari bangsa kita > yang terekam dari naskah-naskah lama. Kadang, sewaktu membaca, saya tertawa > sendiri," ujarnya. > > *Honor seadanya* > > Tahun 1998 menjadi semacam titik balik bagi Suryadi. Sejak September 1998 > ia menetap di Belanda, negeri tempat naskah-naskah lama tentang Nusantara > menumpuk. Ia memulai bekerja sebagai pengajar di Universiteit Leiden untuk > penutur asli bahasa Indonesia. > > Jalan menuju ke Leiden penuh tikungan. Setelah menunggu tanpa kepastian > sebagai asisten dosen di Universitas Indonesia (UI, 1994-1998), pada > pertengahan 1998 lowongan (vacature) mengajar di Universiteit Leiden datang. > Peluang itu langsung ia tangkap. Lamarannya diterima. > > "Ini sebenarnya soal jalan hidup saja. Soal pilihan," kata Suryadi terkait > kepergiannya dari UI. > > Menunggu tanpa kepastian—juga tanpa masa depan yang jelas—seperti > dilakoninya semasa menjadi asisten dosen di UI, bukan hal baru. Sebelumnya, > saat diajak Lukman Ali (alm)—dan didukung filolog senior Achadiati > Ikram—untuk merintis pengembangan studi Bahasa dan Sastra Minangkabau di UI, > Suryadi sudah tiga tahun diterima sebagai asisten dosen di almamaternya: > Universitas Andalas (Unand) di Padang. > > Seperti halnya saat meninggalkan UI, di Unand pun ia menunggu tanpa > kepastian kapan diangkat menjadi dosen tetap. Tentang hal ini, ia hanya > berkata, "Konon, kata mereka, karena tak ada posisi. Tapi anehnya, yang > belakangan lulus dari saya diangkat jadi dosen. Saya tidak tahu kenapa?" > > Begitu pun di UI. Hidup di Jakarta dari honor sebagai asisten dosen tentu > sulit dibayangkan. Di tahun terakhirnya di UI, ia menerima Rp 70.000-an > sebulan. Ini pun jauh lebih baik mengingat pada tahun awal ia mendapat honor > Rp 35.000 sebulan. > > Untuk biaya kontrak rumah saja tak cukup. Menyiasati keadaan ini, Suryadi > mendekati teman-teman sesama asisten dosen. Dengan semangat gotong royong ia > bersama empat teman bisa menyewa rumah kontrakan di Gang Fatimah, Depok, > Jawa Barat. > > Bagaimana untuk hidup sehari-hari? "Saya terpaksa mencari obyekan. > Misalnya, selama beberapa tahun saya membantu Ibu Pudentia di Asosiasi > Tradisi Lisan. Barangkali memang tidak ada suratan tangan saya menjadi > pegawai negeri," katanya. > > *Masa kecil* > > Hidup di tengah penderitaan bukan hal baru baginya. Terlahir sebagai anak > petani kebanyakan di Nagari Sunur, Pariaman, sejak kecil Suryadi hidup hanya > dengan ibunya, Syamsiar. Orangtuanya bercerai. Ibunya kawin lagi, tetapi > perkawinan itu pun bubar setelah memberi Suryadi satu adik lelaki bernama > Mulyadi. > > Di tengah kondisi serba pas-pasan, ia menamatkan SD di Sunur (1977). > Kesulitan hidup juga menyertainya saat di SMP Negeri 3 Pariaman di Kurai > Taji (1981). Begitu pun ketika menyelesaikan pendidikan lanjutannya di SMA > Negeri 2 Pariaman (1985). > > Akibat kesulitan biaya hidup, setamat SMA Suryadi tak bisa langsung kuliah. > Setahun ia menganggur, sebelum masuk Unand di Padang. "Saya masih ingat, Ibu > menjual cincin satu-satunya untuk membayar uang masuk kuliah saya." > > Selama kuliah, ia mondok di rumah saudara ibunya, Emi. Suami Emi, Duski > Sirun—yang dipanggil Suryadi dengan sebutan Apak—punya beberapa toko kain di > Pasar Raya Padang. Di sinilah Suryadi kerja, membantu Apak-nya sambil > kuliah. Tak ada gaji, kecuali imbalan tinggal dan makan gratis di rumah sang > Apak, serta dibayarkan uang kuliah. > > Begitulah selama lima tahun ia kerja siang-malam, termasuk kuliah. Pagi > sekitar pukul 05.00 ia bangun dan segera ke pasar untuk membuka toko. "Kalau > ada kuliah, saya 'lari' ke kampus, lalu kembali ke toko. Malam hari, di > tengah rasa capek, saya ulangi pelajaran. Kadang sampai larut, padahal > pagi-pagi saya harus bangun dan ke pasar membuka toko," ujarnya. > > Hidup memang butuh perjuangan. Pengelanaannya hingga bermukim di Leiden, > meretas tradisi pengajar tamu bagi penutur asli bahasa Indonesia di Leiden > yang maksimal lima tahun, tetap saja membutuhkan perjuangan baru. Ia merasa > seperti pengelana (wanderer) yang tak punya rumah tetap, tempat berdiam. > > Tak ingin pulang? "Pasti saya tidak selamanya di Leiden. Suatu saat saya > dan keluarga tentu pulang ke Indonesia, atau mungkin pindah rantau ke negara > lain. Biasanya seorang wanderer selamanya akan jadi wanderer," tambahnya. > > Itulah Suryadi. Berbeda dengan slogan seorang politisi masa kini bahwa > hidup adalah perbuatan, ia masih dibelenggu masa lalu: hidup adalah > perjuangan! Entah sampai kapan.... (ken) > > Selamat dan sukses ya..... > > Wassalam, > > > * 3vy nizhamul * > Kawasan Puspiptek, Serpong Tangerang > http://hyvny.wordpress.com > http://bundokanduang.wordpress.com > > > > > <http://www.ranahati-hyvny.blogspot.com/> > > <http://www.tambo-hyvny.blogspot.com/> > > > > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
