Dari teman melalui miling
Pete, ternyata banyak khasiatnya! Written by citra Petai…Bau si…Tapi Khasiatnya…Wow!Pete tu mengandung 3 macam gula alami yaitu sukrosa, fruktosa dan glukosa yang dikombinasikan dengan serat. Nah..kombinasi ini, ternyata bikin kita jadi sangat bertenaga! *wah buat maniak pete, bakal makin semangat ni ngeborong pete, ki’5, tapi tunggu..sabar..sabar…baca dulu artikelnya mpe abis yak☺*Riset membuktikan dua porsi pete aja..mampu memberikan tenaga yang cukup untuk melakukan aktivitas berat selama 90 menit.Makanya, tau ga sih kalo makanan ini tu kesukaannya para atlet top!Selain itu, pete juga banyak gunanya. Bisa juga ngebantu ngobatin beberapa penyakit. Check this out! (dari berbagai sumber).-Depresi-Menurut survei yang dilakukan oleh MIND diantara pasien penderita depresi, banyak orang merasa lebih baik setelah makan pete. Hal ini terjadi karena pete mengandung tryptophan, sejenis protein yang diubah tubuh menjadi serotonin. Inilah yang akan membuat relax, memperbaiki mood dan secara umum membuat seseorang lebih bahagia.-PMS (premenstrual syndrome)-Jika mengalami PMS saat 'tamu' datang, kamu ga perlu minum pil ini ataupun itu, cukup atasi dengan makan pete. Vitamin B6 yang dikandung pete mengatur kadar gula darah, yang dapat membantu mood.-Anemia-Dengan kandungan zat besi yang tinggi, pete dapat menstimulasi produksi sel darah merah dan membantu apabila terjadi anemia.-Tekanan darah tinggi-Buah tropis unik ini sangat tinggi kalium, tetapi rendah garam, sehingga sangat sempurna untuk memerangi tekanan darah. Begitu tingginya, sehingga FDA Amerika mengizinkan perkebunan pete untuk melakukan klaim resmi mengenai kemampuan buah ini untuk menurunkan resiko tekanan darah dan stroke.-Kemampuan otak-200 siswa di Twickenham (Middlesex) tertolong dengan mudah melalui ujian pada tahun ini karena memakan pete pada saat sarapan, istirahat, dan makan siang. Riset telah membuktikan bahwa buah dengan kandungan kalium tinggi dapat membantu belajar dengan membantu siswa semakin waspada.-Sembelit- Karena kandungan serat yang tinggi, maka pete akanmempermudah menormalkan kembali aksi pencernaan,membantu mengatasi permasalahan ini tanpa haruskembali ke laksativ.-Obat mabuk- Salah satu cara paling cepat untuk menyembuhkan"penyakit" mabuk adalah milkshake pete, yangdimaniskan dengan madu. Pete akan membantu menenangkanperut dan dengan bantuan madu akan meningkatkan kadargula darah yang jatuh, sedangkan susu akan menenangkandan kembali memperbaiki kadar cairan dalam tubuh.-Kekenyangan- Pete memiliki efek antasid pada tubuh, sehingga biladada anda terasa panas akibat kebanyakan makan,cobalah makan pete untuk mengurangi sakitnya.-Mual di pagi hari- Makan pete diantara jam makan akan menolongmempertahankan kadar gula dan menghindari muntah.-Gigitan nyamuk- Sebelum anda meraih krim gigitan nyamuk, coba untukmenggosok daerah yang terkena gigitan dengan bagiandalam kulit pete. Banyak orang berhasil mengatasi rasagatal dan bengkak dengan cara ini.-Untuk saraf- Pete mengandung vitamin V dalam jumlah besar, sehinggaakan membantu menenangkan sistem saraf.-Kegemukan- Penelitian di Institute of Psychology Austriamenemukan bahwa tekanan pada saat kerja menyebabkanorang sering meraih makanan yang menenangkan seperticoklat dan keripik. Dengan melihat kepada 5.000 pasiendi rumah sakit, peneliti menemukan bahwa kebanyakanorang mejadi gemuk karena tekanan kerja yang tinggi.Laporan menyimpulkan bahwa, untuk menghindari nafsumemakan makanan karena panik, kita butuh mengendalikankadar gula dalam darah dengan ngemil makanan tinggikarbohidrat setiap dua jam untuk mempertahankankadarnya tetap.-Luka lambung- Pete digunakan sebagai makanan untuk merawatpencernaan karena texturnya yang lembut dan halus.Buah ini adalah satu-satunya buah mentah yang dapatdimakan tanpa menyebabkan stress dalam beberapa kasusyang parah. Buah ini juga mampu menetralkan asamlambung dan mengurangi iritasi dengan melapisipermukaan dalam lambung.-Mengatur suhu tubuh- Banyak budaya lain yang melihat pete sebagai buah'dingin' yang mampu menurunkan suhu tubuh dan emosiibu yang menanti kelahiran anaknya. Di Belandamisalnya, ibu hamil akan makan pete untuk meyakinkanagar si bayi lahir dengan suhu tidak tinggi.Seasonal Affective Disorder (SAD) (penyakit emosionalyang kacau)Pete dapat membantu penderitas SAD kerena mengandungpendorong mood alami, tryptophan.-Merokok- Pete dapat menolong orang yang ingin berhenti merokok.Vitamin B6 dan B12 yang dikandungnya, bersama dengankalium dan magnesium, membantu tubuh cepat sembuh dariefek penghentian nikotin-Stress- Kalium adalah mineral penting, yang membantu untukmenormalkan detak jantung, mengirim oksigen ke otakdan mengatur keseimbangan cairan tubuh. Ketika kitastress, kecepatan metabolisme kita akan meningkat,sehingga akan mengurangi kadar kalium dalam tubuh. Halini dapat diseimbangkan lagi dengan bantuan makanpetai yang tinggi kalium.-Stroke- Menurut riset dalam "The New England Journal ofMedicine," makan pete sebagai bagian dari makanansehari-hari akan menurunkan resiko kematian karenastroke sampai 40%.-Caplak- Mereka yang suka berpaling pada pengobatan alami akanberani bersumpah, jika kamu ingin mematikan caplak,maka ambil sepotong pete, dan letakkan di caplak itu.Tetap pertahankan pete itu dengan menggunakan plester!Lalu…setelah membaca semuanya, kamu pasti jadi percayabahwa pete adalah obat alami untuk berbagai macampenyakit. Jika dibandingin ma apel, pete memilikiprotein 4 kali lebih banyak, karbohidrat dua kalilebih banyak, tiga kali lipat fosfor, lima kali lipatVitamin A dan zat besi, dan dua kali lipat jumlahvitamin dan mineral lainnya.Jadi…mulai sekarang, jangan memandang sebelah mata mabuah satu ini…Ternyata kaya nutrisi kan?Selamat mencoba… Zoer'aini Djamal Irwan Date: Fri, 17 Oct 2008 20:45:46 -0400From: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL PROTECTED] Re: Ini dia Suryadi, Pengelana dari Pariaman itu.. Gagah si Ajo komah ajoduta/61/usa On Fri, Oct 17, 2008 at 3:25 AM, HIFNI HFD <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Suryadi, Pengelana dari Pariaman DOK PRIBADI / Kompas Images Suryadi Jumat, 17 Oktober 2008 | 03:00 WIB Dia percaya pada takdir. Jalan hidupnya yang penuh onak dan duri diyakini bukanlah kebetulan. Ada semacam garis nasib yang membentang antara kampung halaman di pedalaman Pariaman, Sumatera Barat, hingga Leiden, Belanda, tempat ia bermukim sejak 10 tahun terakhir. Suryadi memang tipikal perantau Minang. Ulet dan tahan banting. Hanya saja, sebagai perantau, ia tak menekuni sektor informal, sebagaimana profesi urang awak perantauan umumnya. Ia memilih jalur keilmuan melalui dunia akademik. Bidang yang ia tekuni pun tak terlalu umum: naskah-naskah lama! Menjadi penelaah naskah dan buku klasik (bahasa kerennya filolog) memang bukan profesi yang bisa mengantarkannya menjadi selebritas, seperti fenomena para "komentator" bidang ekonomi, politik, dan hukum di Tanah Air. Dari aspek ekonomi pun, profesi ini jauh dari menjanjikan kehidupan mewah dan berkecukupan. Namun, di balik dunia yang sepi itu, ketika larut bersama naskah tua yang ia kaji di pojok perpustakaan di berbagai perguruan tinggi di Eropa, Suryadi mengaku menemukan "dunia kecil"-nya itu justru luas membentang. Jalan kehidupan dia kian terbuka lebar. "Ternyata saya tidak sendiri. Ada juga orang lain yang menyukai bidang ini, yang bisa menjadi teman dalam satu network keilmuan," tuturnya. Hasil penelitian yang ia publikasikan di sejumlah jurnal internasional banyak mendapat tanggapan. Kajiannya atas surat raja-raja Buton, Bima, Gowa, dan Minangkabau, misalnya, dimasukkan dalam satu proyek (Malay Concordance Project) yang berpusat di Australian National University, Camberra, Australia. Berkat penelitiannya atas naskah-naskah lama itu pula ia kerap diundang menjadi pemakalah seminar di mancanegara. Suryadi bahkan dipercaya memimpin satu proyek pernaskahan yang didanai the British Library. Kajian komprehensif atas Syair Lampung Karam—satu-satunya sumber pribumi tentang letusan Gunung Krakatau tahun 1883, yang diikuti gelombang tsunami dan memorak-porandakan wilayah sekitar Selat Sunda (Kompas, 12 September 2008)—hanya satu dari sekian banyak teks Melayu klasik yang sudah ia teliti. Syair dalam tulisan Arab-Melayu alias Jawi itu kemudian ia transliterasikan ke teks beraksara Latin, sebelum dibandingkannya dengan pandangan para penulis asing (baca: Eropa). Menggeluti naskah lama atau buku-buku klasik mengenai Nusantara ternyata memberi keasyikan tersendiri bagi Suryadi. Perpustakaan KITLV dan Universiteitsbibliotheek Leiden menjadi rumah kedua, tempat ia "bersemedi", intens menekuni ribuan naskah tentang Indonesia yang pada zaman kolonial diangkut ke negeri Belanda. "Saya seperti menyelam ke masa lalu. Banyak hal menarik dari bangsa kita yang terekam dari naskah-naskah lama. Kadang, sewaktu membaca, saya tertawa sendiri," ujarnya. Honor seadanya Tahun 1998 menjadi semacam titik balik bagi Suryadi. Sejak September 1998 ia menetap di Belanda, negeri tempat naskah-naskah lama tentang Nusantara menumpuk. Ia memulai bekerja sebagai pengajar di Universiteit Leiden untuk penutur asli bahasa Indonesia. Jalan menuju ke Leiden penuh tikungan. Setelah menunggu tanpa kepastian sebagai asisten dosen di Universitas Indonesia (UI, 1994-1998), pada pertengahan 1998 lowongan (vacature) mengajar di Universiteit Leiden datang. Peluang itu langsung ia tangkap. Lamarannya diterima. "Ini sebenarnya soal jalan hidup saja. Soal pilihan," kata Suryadi terkait kepergiannya dari UI. Menunggu tanpa kepastian—juga tanpa masa depan yang jelas—seperti dilakoninya semasa menjadi asisten dosen di UI, bukan hal baru. Sebelumnya, saat diajak Lukman Ali (alm)—dan didukung filolog senior Achadiati Ikram—untuk merintis pengembangan studi Bahasa dan Sastra Minangkabau di UI, Suryadi sudah tiga tahun diterima sebagai asisten dosen di almamaternya: Universitas Andalas (Unand) di Padang. Seperti halnya saat meninggalkan UI, di Unand pun ia menunggu tanpa kepastian kapan diangkat menjadi dosen tetap. Tentang hal ini, ia hanya berkata, "Konon, kata mereka, karena tak ada posisi. Tapi anehnya, yang belakangan lulus dari saya diangkat jadi dosen. Saya tidak tahu kenapa?" Begitu pun di UI. Hidup di Jakarta dari honor sebagai asisten dosen tentu sulit dibayangkan. Di tahun terakhirnya di UI, ia menerima Rp 70.000-an sebulan. Ini pun jauh lebih baik mengingat pada tahun awal ia mendapat honor Rp 35.000 sebulan. Untuk biaya kontrak rumah saja tak cukup. Menyiasati keadaan ini, Suryadi mendekati teman-teman sesama asisten dosen. Dengan semangat gotong royong ia bersama empat teman bisa menyewa rumah kontrakan di Gang Fatimah, Depok, Jawa Barat. Bagaimana untuk hidup sehari-hari? "Saya terpaksa mencari obyekan. Misalnya, selama beberapa tahun saya membantu Ibu Pudentia di Asosiasi Tradisi Lisan. Barangkali memang tidak ada suratan tangan saya menjadi pegawai negeri," katanya. Masa kecil Hidup di tengah penderitaan bukan hal baru baginya. Terlahir sebagai anak petani kebanyakan di Nagari Sunur, Pariaman, sejak kecil Suryadi hidup hanya dengan ibunya, Syamsiar. Orangtuanya bercerai. Ibunya kawin lagi, tetapi perkawinan itu pun bubar setelah memberi Suryadi satu adik lelaki bernama Mulyadi. Di tengah kondisi serba pas-pasan, ia menamatkan SD di Sunur (1977). Kesulitan hidup juga menyertainya saat di SMP Negeri 3 Pariaman di Kurai Taji (1981). Begitu pun ketika menyelesaikan pendidikan lanjutannya di SMA Negeri 2 Pariaman (1985). Akibat kesulitan biaya hidup, setamat SMA Suryadi tak bisa langsung kuliah. Setahun ia menganggur, sebelum masuk Unand di Padang. "Saya masih ingat, Ibu menjual cincin satu-satunya untuk membayar uang masuk kuliah saya." Selama kuliah, ia mondok di rumah saudara ibunya, Emi. Suami Emi, Duski Sirun—yang dipanggil Suryadi dengan sebutan Apak—punya beberapa toko kain di Pasar Raya Padang. Di sinilah Suryadi kerja, membantu Apak-nya sambil kuliah. Tak ada gaji, kecuali imbalan tinggal dan makan gratis di rumah sang Apak, serta dibayarkan uang kuliah. Begitulah selama lima tahun ia kerja siang-malam, termasuk kuliah. Pagi sekitar pukul 05.00 ia bangun dan segera ke pasar untuk membuka toko. "Kalau ada kuliah, saya 'lari' ke kampus, lalu kembali ke toko. Malam hari, di tengah rasa capek, saya ulangi pelajaran. Kadang sampai larut, padahal pagi-pagi saya harus bangun dan ke pasar membuka toko," ujarnya. Hidup memang butuh perjuangan. Pengelanaannya hingga bermukim di Leiden, meretas tradisi pengajar tamu bagi penutur asli bahasa Indonesia di Leiden yang maksimal lima tahun, tetap saja membutuhkan perjuangan baru. Ia merasa seperti pengelana (wanderer) yang tak punya rumah tetap, tempat berdiam. Tak ingin pulang? "Pasti saya tidak selamanya di Leiden. Suatu saat saya dan keluarga tentu pulang ke Indonesia, atau mungkin pindah rantau ke negara lain. Biasanya seorang wanderer selamanya akan jadi wanderer," tambahnya. Itulah Suryadi. Berbeda dengan slogan seorang politisi masa kini bahwa hidup adalah perbuatan, ia masih dibelenggu masa lalu: hidup adalah perjuangan! Entah sampai kapan.... (ken)Selamat dan sukses ya.....Wassalam, 3vy nizhamul Kawasan Puspiptek, Serpong Tangeranghttp://hyvny.wordpress.comhttp://bundokanduang.wordpress.com _________________________________________________________________ Join the Fantasy Football club and win cash prizes here! http://fantasyfootball.id.msn.com --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
