Assalamualaikum, wr. wb Mohon maaf sanak sapalanta, Walaupun themanya sudah sangat basi - namun bagi saya tidak - karena barulah saat ini saya ikut berkomentar. Setelah membaca posting dan tanggapan atas email Sdri. Reni Nuryanti, dapat saya simpulkan sebagai berikut : 1. Saya setuju dengan pendapat Ajo Duta, bahwa penemuan derita - Perempuan Minang saat PRRI tidak perlu diangkat kepermukaan lagi. Percuma...!! Saya kawatir berita ini seakan diekplorasikan dan diekploitasikan oleh pihak pihak tertentu yang menjatuhkan martabat padusi Minang, khususnya dan orang minang pada umumnya. 2. kalau tidak salah Sdr. Reni Nuryanti adalah bukan padusi minang melainkan perempuan dari Banyumas. Saya kawatir ada tatakrama, yang tidak sepantasnya dikemukakan dan menyama ratakan pengalaman yang dialami perempuan minang waktu itu, dengan penderitaan yang dialami oleh umumnnya perempuan didaerah konflik, seperti yang dilansir oleh pak Jacky Mardono, yaitu : - melakukan kawin kontrak, sehingga nasib mereka seperti piala bergilir. mana mungkin.......???? - melacurkan diri, mana mungkin....???? - mejadi korban pelecehan seksual oleh pihak pendatang atau pihak yang diubernya. .. apa iya ada...???? 3. Bagaimana mungkin ada perempuan minang, dapat diperlakukan semena-mena karena keberadaan tentara " pusek " itu di Sumbar itu efektifnya berlangsung selama 2 tahun saja. 3. Banyak adik - adik dibawah usia saya menyeseuaikan nama ala Wong Jowo - namun hakikatnya, tetap tidak memulihkan image pada generasi itu menjadi manusia yang dianggap memiliki kapasitas dan kapabilitas tertentu. Tetap saja generasi kami disebut si padang bengkok yang pemberontak alias pembakang. 4. Saya dapat merasa kesedihan peristiwa PRRI itu - khususnya para kaum prianya - ketika ia berpisah dari keluarga, mereka sering mendendangkan sebuah lagu gubahan seorang Seniman Minang ALm Yusaf Rahman, sehingga bunyi lagu itu menjadi seperti ini ; Hari baransua pagi... Muarai alah bakicua Rusuah malam hari... Tuan kanduang manga duduak bamanuang.. Jiko tuan mandanga... Bunyi latusan sayuik sayuik sampai ...... Itulah kan ganti ...nan manyampaikan salam rindu...dst Ibu saya - dikala saya masih bayi hingga kanak-kanak sangat sering mendendang lagu ini. Almarhumah mengatakan bahwa lagu ini - milik para pejuang PRRI. Lirik lagu itu katanya diubah sedemikian rupa - sehingga dapat menggambarkan kerinduan sang pejuang terhadap isteri, anak dan kekasihnya yang ditinggal pergi masuk hutan. Soal keganasan tentara " Pusek " - kakak saya (usia 9 tahun kala itu..) pernah dilampang - sekali lagi ditampar oleh tentara pusek itu - hanya - ketika ia melarang si Oom tentara itu - agar jangan merenggut buah rambutan semena -mena dirumah dinas Papa kami di Stasiun Duku - Padang Pariaman. Tahukah sanak - entah ada hubungan dengan larangan mengambil buah-buahan, sesudah itu pepohonan disepanjang desa DUKU hingga Pasar Usang dibabat habis. Apakah maksudnya.. ??? Sayang sekali rumah dinas Papa kami - dimana kami mengalami pahit getirnya - kelakuan tentara Pusek ini sudah roboh. Terus terang alm. Ibu saya sangat berpihak pada pejuang PRRI - dengan cara menyediakan makanan untuk dibawa ke hutan. Almarhumah terobsesi dengan gubahan Yusaf Rahman yang kemudian berganti lirik.. ... bunyi lagu sayup sayup sampai - diubah menjadi ... bunyi latusan sayup sayup sampai.. Jadi, yang pantas bagi saya adalah : 1. Mengangkat peri kelakuan tentara yang semena-mena terhadap rakyat Sumbar waktu itu, ketimbang mengangkat kisah Perempuan Minang saat PRRI itu ...... 2. Mengangkat masalah - apa dan bagaimana timbulnya PRRI dan apa janji yang diberikan oleh Pemerintah waktu itu ketika akhirnya Pemimpin PRRI itu di alahkan. Bukan dikalahkan...!!! Wassalam, 3vy nizhamul Cerita dibawah ini Boleh dibaca ... boleh tidak, ini adalah otobiografi papa kami. Tugas berat yang dihadapi Engku Sep ketika menjadi Kepala Stasiun “Duku” ialah, Ia harus mampu menjalankan tugas sebagai aparat yang loyal kepada Negara. Ia ditugaskan mengamankan asset negara yang ditempatkan stasiun itu. Seperti peralatan komunikasi dan peralatan-peralatan yang terkait dengan keamanan dan keselamatan perjalanan kereta api. Pada masa akhir tahun 50-an itu, terjadi pemberontakan PRRI terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di Duku berkecamuk pertempuran antara TNI dengan pemberontak PRRI. Daerah ini sangat strategis sebagai lokasi pertempuran, mengingat wilayahnya yang terbuka dan jauh dari perumahan peduduk. Komando Daerah Militer di Propinsi ini berupaya memadamkan pemberontakan. Komunikasi Perintah Pusat dengan Pemerintah Daerah, Jakarta – Padang terputus. Kehidupan Masyarakat diliputi ketegangan. Pihak manakah yang benar. Didaerah krisis, biasanya mayoritas penduduk berpihak kepada kaum pemberontak. Bila kelompok separatis ini tidak dipenuhi keiinginannya, maka kelompok ini mengumandangkan genderang untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peristiwa pada masa ini sebenarnya adalah bagian dari peristiwa sejarah nasional yang disebabkan adanya ketidak stabilan ekonomi dan politik nasional ketika itu. Pemberontakan serupa juga terjadi diwilayah Indonesia lain, seperti PERMESTA di Sulawesi Selatan.Pertempuran semakin menjadi-jadi ketika tentara dari KODAM 17 Agustus mendapat bantuan tentara Pusat. Masyarakat menjadi panik... ,.”Tentara Pusat sudah mendarat di Lubuk Buaya”, demikian informasi yang diterima dari warga. Penduduk mulai mengungsi kedaerah yang aman. Rumah-rumah penduduk kosong. Kegiatan masyarakat, baik berjualan di Stasiun maupun di Pasar Duku nyaris mati . Engku Sep berunding dengan isterinya bagaimana sebaiknya, Apakah Engku Sep dan keluarganya akan bertahan didesa ini?” Bagaimana rencana kita, apakah kita tetap bertahan? Tanya isteri Engku Sep kepada suaminya. Ia merasa sangat cemas. ”Kita harus bertahan.., kata Engku Sep. ”Perintah dari kantor jawatan, saya harus bertahan dan tetap menjalankan tugas”, jelasnya pada sang isteri. Dikala malam tiba, suasana mencekam itu sangat terasa. Rumah-rumah penduduk gelap gulita. Dalam kegelapan malam, ketika suasana kampung semakin sunyi, dari jauh kadang kala terdengar letusan senjata api. Bahkan kedua belah pihak pernah bertikai tidak jauh dihalaman rumah. Dalam suasana demikian, semua anggota keluarga dirumah itu berhamburan turun kegudang yang terletak dibawah rumah. Gudang berada disamping dapur rumah, yang dindingnya terbuat dari batu bata. Mengungsi ke gudang ini, sangat aman bagi keluarga Engku Sep. Tidak akan ada peluru yang nyasar. Selain itu keluarga Engku Sep akan aman dari para penyelinap malam, yang suka mengintip dari dinding rumah yang terbuat dari papan. Entah mereka itu anggota pemberontak atau tentara yang selalu mengawasi gerak gerik Engku Sep. Isteri Engku Sep termasuk orang yang berpihak kepada tentara PRRI, akan tetapi Engku Sep sebagai aparat Negara tidak diperbolehkan berpihak kepada pemberontak. Malam itu, pintu rumah diketuk orang. Hati isteri Engku berdebar-debar. “Siapa… ? , serunya dengan perasaan kawatir.Ternyata ada seorang pemuda yang menjadi anggota tentara pemberontak, datang kerumah Engku Sep meminta makanan untuk dibawa ke hutan. Ia kemenakan Isteri Engku Sep yang bernama Haswil Harun. “ Sudah lama kamu tidak datang, kata istri Engku. “Iya Nanak….., persembunyian kami semakin jauh dari Duku, katanya. (istri Engku Sep dipanggil ” Nanak” oleh anak-anaknya termasuk kerabat terdekatnya .”In. hati-hati ya , sekarang tentara Pusat mulai mencurigai kami”, Kata isteri Engku kepada Haswil Harun. Sebetulnya Haswil Harun ini, masih bersekolah di SMA, namun Ia ikut menjadi anggota pemberontak demi suatu idealisme pemuda. Sekolahpun ditinggalkannya. Seperti biasanya, setiap kedatangan Haswil Harun. Nanak cukup mengerti dengan keinginannya dengan menyiapkan makan untuknya serta membekalinya dengan bungkusan makanan yang mentah. Perasaan isteri Engku Sep cukup berdebar-debar, ketika rumah Engku Sep dipantau dan diawasi tentara. Beberapa rumah penduduk, memang sering didatangi tentara Pusat. Tentara mencurigai Engku Sep dan isteri tentang keberpihakan mereka pada PRRI. Suatu hari beberapa tentara mendatangi Isteri Engku Sep. Mereka bermaksud menggali informasi - seberapa jauh peran keluarga ini membantu pemberontak. .“Kami tidak berpihak kepada siapapun” Akan tetapi bila ada famili kami yang datang meminta makanan, tentunya kami harus bantu”....., demikian kilah isteri Engku Sep kepada kelompok tentara itu. Stasiun Duku, termasuk bangunan dan sarana yang dijadikan markas tentara Pusat. Orang desa menyebut pasukan TNI dari Pusat itu dengan sebutan “tentara pusek”. ”Pusek” = pusat. Arti pusek didaerah kami = pusar. Pertikaian semakin gencar. Desa Duku, - sudah tidak aman lagi. Para Kepala Stasiun kereta api lainnya yang berlokasi dekat dengan pertempuran, banyak yang sudah mengungsi ke kota Padang Panjang. Engku Sep masih bertahan. Kereta yang singgah distasiun Duku pun sering dalam keadaan kosong. Tidak ada berpenumpang. Kereta batu bara hanya sesekali melintasi Stasiun Duku. Engku Sep merasa menjadi sosok yang selalu dicurigai, baik oleh kelompok pemberontak maupun Tentara Pusat. Sudah beberapa kali Ia , memohon kepada Kantor Jawatan Kereta Api di Padang, agar ia dan keluarganya diperkenankan mengungsi ke wilayah aman.. Akhirnya Stasiun Duku ditutup untuk sementara dan kereta yang lalu lalangpun dihentikan. Keluarga Engku Sep mempersiapkan semua kebutuhan untuk mengungsi yaitu; peralatan memasak, baju-baju, kasur, bantal dan selimut. Semua barang kebutuhan dikemas dan dinaikkan kedalam gerbong kereta. Keluarga Engku Sep diungsikan oleh Kantor Jawatan Kereta Api ke stasiun Padang Panjang. Secara khusus gerbong kereta dan lokomotif didatangkan dari Padang untuk mengangkut semua barang keluarga Engku Sep. Gerbong kereta ditarik ke Padang Panjang. Ternyata Keluarga Engku Sep adalah pengungsi yang terakhir tiba di Kota Padang Panjang. Gerbong kereta keluarga Engku Sep diparkirkan di Stasiun Padang Panjang bersama dengan keluarga Engku-Engku Sep yang lain.. Untuk sementara keluarga Engku menetap dikota ini. Jika ingin mandi dan mencuci, keluarga Engku Sep turun ke kampung-kampung yang ada disekitar Stasiun. Keluarga Engku Sep kembali dari pengungsian ketika wilayah Duku dinyatakan aman, seiring terciptanya perdamaian antara Pusat dengan Kaum pemberontak. Masih teringat dalam ingatan bungsu, ketika sebuah dendang lagu pengantar tidur yang acap kali dilantunkan Ibunya, dalam lirik yang menyentuh hati,sebagai berikut : Hari baransua pagi Murai alah bakicau Rusuahnyo malam hari Tuan kandung manga duduak bamanuang Jiko’ tuan mandanga Bunyi latusan sayuik…. Sayuik sampai Itulah katando jiko .. Kami menyampaikan salam rindu Lirik lagu ini adalah lagu ratapan tentara PRRI, dimalam hari mengisi waktu di persembunyiannya. Lagu itu adalah ciptaan seniman Yusaf Rahman. Menjelang berakhirnya pertempuran dan mulai terciptanya perdamaian, Tentara Pusat masih sering berkeliaran dirumah kami. Seenaknya mereka merambah pohon rambutan, yang saat itu berbuah lebat. Munzil Ardhi – yang dipanggil Zil , puteranya Engku Sep, menegur tentara-tentara itu ,“ Om, Jangan seenaknya mengambil rambutan kami, seru Zil, menegur tentara itu. Tentara tidak senang ditegur seorang anak yang berusia 9 tahun itu. “Apa katamu …? Beraninya kamu melarang kami…”Siapa namamu … ? dengan cara menampar anak Engku Sep itu, “ Jangan….!! teriak Nanak, sambil menarik Zil menjauhi rombongan tentara itu. “ Maafkan dia Pak….. Apalah arti perkataan seorang anak kecil…. , kata Nanak. Isteri Engku Sep kesal dengan gelagat tentara Pusat yang tidak santun itu.Selain dari peristiwa ini dan entah disebabkan hal yang lain, yang terjadi setelah itu, semua pohon-pohon disepanjang jalan raya didesa Duku itu, ditebangi oleh para tentara.
3vy Nizhamul http://hyvny.wordpress.com http://bundokanduang.wordpress.com --- On Fri, 10/24/08, H Masoed Abidin bin Zainal Abidin Abdul Jabbar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Date: Friday, October 24, 2008, 8:11 PM Pahit memang, tetapi bentengnya hanya taqwa semata. Pada 25 Oktober 2008 07:06, Rainal Rais <[EMAIL PROTECTED]> menulis: Pak Jacky yang baik....Dengan membaca cerita ibu reni,kita dan generasi muda lebih paham apa yang terjadi pada masa itu..Sewaktu kejadian PRRI,saya sendiri berada di Jakarta..dan pada waktu itu masih duduk di SMP..Saya tunggu pula pengalaman bapak sewaktu di Sumatra Barat..Saya ingin pula mengirim buku kepada bapak,saya tunggu alamat di Jakarta..wass Rainal Rais ( Jkt 65 th - 2 hr ) --- On Sat, 25/10/08, Jacky Mardono Tjokrodiredjo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: From: Jacky Mardono Tjokrodiredjo <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Trs: Bls: Penemuan To: [EMAIL PROTECTED] Date: Saturday, 25 October, 2008, 5:14 AM Bapak Rainal Rais yang budiman Komentar saya terhadap temuan Reni. Wass, Jacky Mardono. --- Pada Rab, 22/10/08, Jacky Mardono Tjokrodiredjo <[EMAIL PROTECTED]> menulis: --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
