Assalamualaikum ww Yaa namanya juga perang bermacam peristiwa boleh terjadi, kan negeri ini telah sering dilanda konflik bahkan sejak zaman saisuak entah Chola dari India menyerang Melayu Jambi, Kartanegara vs Damarsraya, Jayakatwang vs Kertanegara, pasukan Khubilai Khan vs Jayakatwang, Mojopahit vs Pajajaran, Mojopahit vs Pagaruyung hingga RI vs PRRI
Keharmonisan Soekarno Hatta awal kemerdekaan tidak bertahan lama, Iboe Pertiwi udah merdeka perbedaan pandang mulai muncul pada fase gimana ngisi kemerdekaan mensejahterakan kawula rakyat, nan sorang merasa PBR Pemimpin Besar Revolusi yang suka meng-gebu2 nan, sorang lai Mr. Sederhana tapi seorang Pemikir bak kecek Jenderal Naga Bonar "kerjanya cumak berfikir, berfikir, berfikiiir terus entah kapan dia mau berhenti berfikir"….. Merasa sebagai orang nomor satu akan tidak enak kalau ada orang lain terasa lebih olehnya, lihat tuh Hatta ekonom jebolan Roterdaam yang kesohor itu sedangkan awak apalah cuman tamatan dalam negeri Techniche Hoge School Bandung Rasa minder campur iri ini bila dipupuk terus kelak akan menjadi sangat2 explosive Ketika Hatta mengatakan akan "Mempersatoekan Indonesia" ini dengan memperbanyak kapal2 pelayaran perintis, hampir saja Soekarno berteriak "No" walau di-okay-kan juga akhirnya Namun ketika Hatta mengatakan dari Kuta Raja (Banda Aceh) paling Utara hingga paling Selatan Lampung akan dibangun Hi way Trans Sumatera lalu untuk ke Pulau Jawa akan dihubungkan dengan armada2 penyeberangan yang pembiaya-an adalah gratis dari Ford Foundation, lalu Soekarno yang Insinyur itu langsung berkat "no no no no !!! Lalu dia berkata "Kita akan bangun terowongan bawah laut seperti terowongan bawah laut Inggris Prancis didaratan Eropa sana Gratis memang, mereka hanya minta bahwa mobil2 yang boleh berlalu lalang di jalan yang dibangun Ford Foundation itu di pulau Sumatera hanya merek FORD selama 25 tahun Hanya karena merasa sang Ekonom lebih pintar dari awak yang Insinyur dalam negeri, tega2nya BK mementahkan rencana proyek yang menyentuh hajat hidup rakyat banyak itu Walhasil 1955 Hatta pun hengkang, urus bana lah di ang sorang nagari ko Satu demi satu para elit mulai sadar dan menyentuh rasa ketidak adilan mereka, lalu racikan2 explosive sang PBR meledak dimana2 tidak terkecuali di Sumatera Tengah dengan PRRI nya, sejarah pun berulang ……………. Lihat saja ketika Ekspedisi Pamalayu bentukan Prabu Kartanegara dari Jawa dapat diredam Petinggi Kerajaan Damasraya dengan mengorbankan 2 putri jelitanya Dara Petak dan Dara Jingga, kalau seandainya perang sampai terjadi tentu malapetaka akan lebih besar lagi, namanya juga perang tentu saling bunuh dan ada bakar membakar yang jelas paling tidak kedua Putri tersebut telah menyelamatkan kaum hawa dinegerinya dari penistaan para prajurik paik sang agressor Berbeda ketika Aditiwarman yang karena telah mendeklarasikan sebagai Maharaja Diraja Kerajaan Melayu Pagaruyung dituduh pemberontak oleh rezim Tribhuana Tungga Dewi yang masih saudara se-ayah (sama2 anak Raden Wijaya), TANTARA PUSEK pun didatangkan untuk mengobrak abrik Pagaruyuang bahkan di era Putranya Hananggawarman terkenal dengan peristiwa Padang Sibusuak dimana korban kedua belah pihak sama2 banyak yang punah tanpa ada yang bisa menguburkan sehingga bau busuk menyengat sampai berbulan2 Perang sebagai ambisi politik memang membawa sengsara apalagi bagi kaum hawa, hanya saja dek lai samo ba-jangek sawo matang jadi indak mangasan bana, gimana bila berbeda, di Lubuak Aluang ada dijumpai urang awak yang putiah tinggi badagok, kecek urang disinan "we e' katurunan Bulando tu mah," juga di Bukik Tinggi dan Payakumbuah banyak urang awak katurunan Japang putiah pitok bantuak Cino sebaliknya di Jepang sendiri generasi mudanya ba-iduang mancuang bamato biru bantuak GI tantara Amirika, yaa namanya juga perang So, kenapa mesti disembunyikan, kupas tuntas aja biar semua tahu bahwa perang itu kedepan mesti dihindari sebagaimana yang telah dicontohkan mamak muyang kita dulu, kan mending adu kerbau aja ketimbang parang basosoh yang akibatnya pastilah pahit buat semua wasalam abp57 Pada tanggal 04/11/08, Zulidamel <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > > Ambo sapandapek jo uni Hifni, ajo Duta bahwa temuan derita perempuan > Minang tidak perlu lagi diangkat, apalagi dari sudut pandang sdri Reni > Nurhayati seorang Jawa. Apapun alasannya derita penduduk di daerah konflict > tidak dapat dihindarkan. Berbagai bentuk kekejaman dapat saja di alami namun > beda dengan cerita-cerita yang ambo danga dari Ayah (alm). Sering beliau > berbicara lantang dengan nada tinggi serta bangga bahwa dia dan > teman-temannya tidak kalah dan terkesan beliau sangat kuat. > > Beliau sangat marah dengan keputusan Ahmad Husein untuk kembali ke > pangkuan ibu pertiwi. Ahmad Husein telah menghianati perjuangan > mereka. Padahal hal waktu itu katanya beliau baru menerima pesawat > yang siap untuk dirakit dan pada saat itu juga beliau telah > menerima informasi bahwa perlengkapan senjata yang dibawa kapal armada ke 7 > telah berada di perairan Riau. Cerita-cerita tentang kekuatan mereka bahkan > cerita-cerita lucu yang mereka alami di masa perang seperti bagaimana > kakak-adik yang berada pada posisi yang berlawanan. Satu-satunya kekalahan > yang mereka alami adalah masalah pesawat dimana mereka harus mundur bila > pesawat datang. Hal itu akan segera teratasi bila pesawat yang telah mereka > terima selesai dirakit. > > Dari banyak carito nan ambo danga, ndak saketek juo talinteh penderitaan > perempuan Minang samaso parang. Jadi temuan derita perempuan Minang dalam > perang PRRI melawan tetantara pusek ndak bisa mewakili derita perempuan > Minang. Mungkin itu terjadi tapi sifatnyo individual atau mencakup wilayah > yang kecil. > > > Zulidamel (46) > Jakarta > > ----- Original Message ----- > *From:* hanifah daman <[EMAIL PROTECTED]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Tuesday, November 04, 2008 12:35 PM > *Subject:* [EMAIL PROTECTED] Re: [EMAIL PROTECTED] - Perempuan Minang saat > PRRI - respon bundokandung > > > Hanifah juga setuju hal ini dikaji secara ilmiah, paliang indak di lapau > gon sen. > Mumpung masih ada nyiak sunguk sabagai tantara pelajar, ada buya HMA yang > tentunya juga menjadi saksi hidup, ada pak Saaf sabagai tantara dari pusek, > dan ada bu Prof ade sabagai korban. Tapi terus terang saja, hanifah tidak > kuat membaca sedihnya penderitaan orang waktu itu, seperti penderitaan yang > tiada akhir dari bu ade. > > Bagaimana kalau kita minta pak Saaf bercerita sebagai tentara pusek ??? > Biar seimbang cerita yang kita dapatkan. > > Salam > > > Hanifah Damanhuri > > --- On *Mon, 11/3/08, Mantari Sutan <[EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > From: Mantari Sutan <[EMAIL PROTECTED]> > Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: [EMAIL PROTECTED] - Perempuan Minang saat > PRRI - respon bundokandung > To: [email protected] > Date: Monday, November 3, 2008, 2:08 PM > > Bundo Hifni nan ambo hormati, > > Saya kok melihatnya lain ya. Bagi saya kajian-kajian seperti ini perlu > kita lakukan. Kalau memang nanti akan ada perdebatan, tentulah sebisanya > dilakukan dalam kerangka kajian ilmiah sejarah juga. Penderitaan perempuan > dalam konflik memang seharusnya terus kita buka, karena perempuan (dan > anak-anak)lah yang paling menjadi korban dalam sebuah konflik. Saya juga > tidak melihat tendensi bahwa kajian yang dilakukan Reni ini bertujuan untuk > menjatuhkan martabat perempuan minang. Sepanjang yang saya ketahui dari > pemaparan Angku Jacky, Reni telahj melakukan sebuah pendekatan ilmiah lain. > Rasanya juga kurang bijak, jikalau mengkaitkan dengan Reni yang bukan orang > minang. Menurut saya, mungkin seharusnya tantangan yang kita berikan kepada > perempuan minang untuk mengkaji lebih dalam lagi. > > Pemaparan sebuah kisah-kisah atau fakta-fakta sejarah, tentu akan selalu > mengundang pro dan kontra. Rosihan Anwar pernah dicerca karena membuat > tulisan bahwa Soekarno pernah meminta maaf kepada pemerintah kolonial. > Polemik tidak terhindari ketika itu, sampai menjadi berhenti selepas Taufik > Abdullah membuat sebuah tulisan juga tentang pemisahan seorang manusia dan > aktor sejarah. > > Kembali ke topik perempuan minang di masa PRRI, perlu terus kita lakukan > kajian. Jangan pernah berhenti. Jangan ketika di mata dipicingkan, ketika > di perut dikempiskan. Kalaupun bakal ada pernyataan kepada saya, semisal, > "waang indak tau bana marasainyo kami wukatu itu, makonyo gampang se minta > ditaruihan curito pandaritaan padusi minang". Justru disitu titik awalnya. > Agar orang-orang seperti saya bisa mendapatkan informasi secara cukup,netral > dan berimbang. Sehingga tidak cepat berkesimpulan. Tidak cepat > menjadikannya mitos atau cerita keramat. Kalau soal respek, ambo raso orang > minang dan sebagian besar Indonesia respek dengan apa yang diperjuangkan > oleh PRRI. Kepada tokoh-tokohnya pun ambo kagum. Namun rasanya pemaparan > ilmiah dari sejarah dan perjuangan PRRI dan akses-akses lain pergolakan ini > perlu juga kami ketahui. Terutama kami yang muda-muda ini. > > Mohon maaf. > > MS/29 > > > > *From:* HIFNI HFD <[EMAIL PROTECTED]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Monday, November 3, 2008 12:41:46 PM > *Subject:* [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] - Perempuan Minang saat PRRI > - respon bundokandung > > Assalamualaikum, wr. wb > > Mohon maaf sanak sapalanta, > Walaupun themanya sudah sangat basi - namun bagi saya tidak - karena > barulah saat ini saya ikut berkomentar. Setelah membaca posting dan > tanggapan atas email Sdri. Reni Nuryanti, dapat saya simpulkan sebagai > berikut : > > 1. Saya setuju dengan pendapat *Ajo Duta*, bahwa penemuan derita - > Perempuan Minang saat PRRI *tidak* perlu diangkat kepermukaan lagi. > Percuma...!! Saya kawatir berita ini seakan diekplorasikan dan > diekploitasikan oleh pihak pihak tertentu yang menjatuhkan martabat padusi > Minang, khususnya dan orang minang pada umumnya. > > 2. kalau tidak salah Sdr. Reni Nuryanti adalah *bukan padusi minang*melainkan > perempuan dari Banyumas. Saya kawatir ada tatakrama, yang tidak > sepantasnya dikemukakan dan menyama ratakan pengalaman yang dialami > perempuan minang waktu itu, dengan penderitaan yang dialami oleh umumnnya > perempuan didaerah konflik, seperti yang dilansir oleh *pak Jacky Mardono*, > yaitu > : > > - melakukan kawin kontrak, sehingga nasib mereka seperti piala bergilir. *mana > mungkin.......????* > - melacurkan diri, *mana mungkin....????* > - mejadi korban pelecehan seksual oleh pihak pendatang atau pihak yang > diubernya. *.. apa iya ada...????* > > 3. Bagaimana mungkin ada perempuan minang, dapat diperlakukan semena-mena > karena keberadaan *tentara " pusek "* itu di Sumbar itu efektifnya > berlangsung selama 2 tahun saja. > > 3. Banyak adik - adik dibawah usia saya menyeseuaikan nama *ala Wong Jowo*- > namun hakikatnya, tetap tidak memulihkan image pada generasi itu menjadi > manusia yang dianggap memiliki kapasitas dan kapabilitas tertentu. Tetap > saja generasi kami disebut si *padang bengkok* *yang pemberontak alias > pembakang.* > > 4. Saya dapat merasa kesedihan peristiwa PRRI itu - khususnya para kaum > prianya - ketika ia berpisah dari keluarga, mereka sering mendendangkan > sebuah lagu gubahan seorang Seniman Minang *ALm Yusaf Rahman*, sehingga > bunyi lagu itu menjadi seperti ini ; > > > . > ** > ** > * 3vy Nizhamul * > > http://hyvny.wordpress.com > http://bundokanduang.wordpress.com > > > > > > <http://www.ranahati-hyvny.blogspot.com/> > > <http://www.tambo-hyvny.blogspot.com/> > > > --- On *Fri, 10/24/08, H Masoed Abidin bin Zainal Abidin Abdul Jabbar < > [EMAIL PROTECTED]>* wrote: > > Date: Friday, October 24, 2008, 8:11 PM > > Pahit memang, tetapi bentengnya hanya taqwa semata. > > Pada 25 Oktober 2008 07:06, Rainal Rais <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > >> Pak Jacky yang baik....Dengan membaca cerita ibu reni,kita dan generasi >> muda lebih paham apa yang terjadi pada masa itu..Sewaktu kejadian PRRI,saya >> sendiri berada di Jakarta..dan pada waktu itu masih duduk di SMP..Saya >> tunggu pula pengalaman bapak sewaktu di Sumatra Barat..Saya ingin pula >> mengirim buku kepada bapak,saya tunggu alamat di Jakarta..wass Rainal Rais ( >> Jkt 65 th - 2 hr ) >> >> --- On *Sat, 25/10/08, Jacky Mardono Tjokrodiredjo < >> [EMAIL PROTECTED]>* wrote: >> >> From: Jacky Mardono Tjokrodiredjo <[EMAIL PROTECTED]> >> Subject: Trs: Bls: Penemuan >> To: [EMAIL PROTECTED] >> Date: Saturday, 25 October, 2008, 5:14 AM >> >> *Bapak Rainal Rais yang budiman* >> ** >> *Komentar saya terhadap temuan Reni.* >> *Wass, Jacky Mardono.* >> >> >> --- Pada *Rab, 22/10/08, Jacky Mardono Tjokrodiredjo < >> [EMAIL PROTECTED]>* menulis: >> >> >> >> >> >> >> >> >> >> ------------------------------ >> >> > > > > > > > > > > > > > > > > > > > --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
