Ambo sapandapek jo uni Hifni, ajo Duta bahwa temuan derita perempuan Minang 
tidak perlu lagi diangkat, apalagi dari sudut pandang sdri Reni Nurhayati 
seorang Jawa. Apapun alasannya derita penduduk di daerah konflict tidak dapat 
dihindarkan. Berbagai bentuk kekejaman dapat saja di alami namun beda dengan 
cerita-cerita yang ambo danga dari Ayah (alm). Sering beliau berbicara lantang 
dengan nada tinggi serta bangga bahwa dia dan teman-temannya tidak kalah dan 
terkesan beliau sangat kuat.

Beliau  sangat marah dengan keputusan Ahmad Husein untuk kembali ke pangkuan 
ibu pertiwi. Ahmad Husein telah menghianati perjuangan mereka. Padahal hal 
waktu itu katanya beliau baru menerima  pesawat yang siap untuk dirakit dan 
pada saat itu juga beliau telah menerima informasi  bahwa perlengkapan senjata 
yang dibawa kapal armada ke 7 telah berada di perairan Riau. Cerita-cerita 
tentang kekuatan mereka bahkan cerita-cerita lucu yang mereka alami di masa 
perang seperti bagaimana kakak-adik yang berada pada posisi yang berlawanan. 
Satu-satunya kekalahan yang mereka alami adalah masalah pesawat dimana mereka 
harus mundur bila pesawat datang. Hal itu akan segera teratasi bila pesawat 
yang telah mereka terima selesai dirakit.

Dari banyak carito nan ambo danga, ndak saketek juo talinteh penderitaan 
perempuan Minang samaso parang. Jadi temuan derita perempuan Minang dalam 
perang PRRI melawan tetantara pusek ndak bisa mewakili derita perempuan Minang. 
Mungkin itu terjadi tapi sifatnyo individual atau mencakup wilayah yang kecil.


Zulidamel (46)
Jakarta
  ----- Original Message ----- 
  From: hanifah daman 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, November 04, 2008 12:35 PM
  Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: [EMAIL PROTECTED] - Perempuan Minang saat PRRI 
- respon bundokandung


        Hanifah juga setuju hal ini dikaji secara ilmiah, paliang indak di 
lapau gon sen.
        Mumpung masih ada nyiak sunguk sabagai tantara pelajar, ada buya HMA 
yang tentunya juga menjadi saksi hidup, ada pak Saaf sabagai tantara dari 
pusek, dan ada bu Prof ade sabagai korban. Tapi terus terang saja, hanifah 
tidak kuat membaca sedihnya penderitaan orang waktu itu, seperti penderitaan 
yang tiada akhir dari bu ade. 

        Bagaimana kalau kita minta pak Saaf bercerita sebagai tentara pusek ??? 
Biar seimbang cerita yang kita dapatkan. 

        Salam


        Hanifah Damanhuri

        --- On Mon, 11/3/08, Mantari Sutan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

          From: Mantari Sutan <[EMAIL PROTECTED]>
          Subject: [EMAIL PROTECTED] Re: [EMAIL PROTECTED] - Perempuan Minang 
saat PRRI - respon bundokandung
          To: [email protected]
          Date: Monday, November 3, 2008, 2:08 PM


          Bundo Hifni nan ambo hormati,

          Saya kok melihatnya lain ya.  Bagi saya kajian-kajian seperti ini 
perlu kita lakukan.  Kalau memang nanti akan ada perdebatan, tentulah sebisanya 
dilakukan dalam kerangka kajian ilmiah sejarah juga.  Penderitaan perempuan 
dalam konflik memang seharusnya terus kita buka, karena perempuan (dan 
anak-anak)lah yang paling menjadi korban dalam sebuah konflik.  Saya juga tidak 
melihat tendensi bahwa kajian yang dilakukan Reni ini bertujuan untuk 
menjatuhkan martabat perempuan minang.  Sepanjang yang saya ketahui dari 
pemaparan Angku Jacky, Reni telahj melakukan sebuah pendekatan ilmiah lain.  
Rasanya juga kurang bijak, jikalau mengkaitkan dengan Reni yang bukan orang 
minang.  Menurut saya, mungkin seharusnya tantangan yang kita berikan kepada 
perempuan minang untuk mengkaji lebih dalam lagi. 

          Pemaparan sebuah kisah-kisah atau fakta-fakta sejarah, tentu akan 
selalu mengundang pro dan kontra.  Rosihan Anwar pernah dicerca karena membuat 
tulisan bahwa Soekarno pernah meminta maaf kepada pemerintah kolonial.  Polemik 
tidak terhindari ketika itu, sampai menjadi berhenti selepas Taufik Abdullah 
membuat sebuah tulisan juga tentang pemisahan seorang manusia dan aktor sejarah.

          Kembali ke topik perempuan minang di masa PRRI, perlu terus kita 
lakukan kajian.  Jangan pernah berhenti. Jangan ketika di mata dipicingkan, 
ketika di perut dikempiskan.  Kalaupun bakal ada pernyataan kepada saya, 
semisal, "waang indak tau bana marasainyo kami wukatu itu, makonyo gampang se 
minta ditaruihan curito pandaritaan padusi minang".  Justru disitu titik 
awalnya.  Agar orang-orang seperti saya bisa mendapatkan informasi secara 
cukup,netral dan berimbang. Sehingga tidak cepat berkesimpulan.  Tidak cepat 
menjadikannya mitos atau cerita keramat.  Kalau soal respek, ambo raso orang 
minang dan sebagian besar Indonesia respek dengan apa yang diperjuangkan oleh 
PRRI.  Kepada tokoh-tokohnya pun ambo kagum.  Namun rasanya pemaparan ilmiah 
dari sejarah dan perjuangan PRRI dan akses-akses lain pergolakan ini perlu juga 
kami ketahui.  Terutama kami yang muda-muda ini.

          Mohon maaf.

          MS/29



          From: HIFNI HFD <[EMAIL PROTECTED]>
          To: [email protected]
          Sent: Monday, November 3, 2008 12:41:46 PM
          Subject: [EMAIL PROTECTED] [EMAIL PROTECTED] - Perempuan Minang saat 
PRRI - respon bundokandung

                Assalamualaikum, wr. wb

                Mohon maaf sanak sapalanta,
                Walaupun themanya sudah sangat basi - namun bagi saya tidak  - 
karena barulah saat ini saya ikut berkomentar. Setelah membaca posting dan 
tanggapan atas email Sdri. Reni Nuryanti, dapat saya simpulkan  sebagai berikut 
:

                1. Saya setuju dengan pendapat Ajo Duta, bahwa penemuan derita 
- Perempuan Minang saat PRRI tidak perlu diangkat kepermukaan lagi. 
Percuma...!! Saya kawatir berita ini seakan diekplorasikan dan diekploitasikan 
oleh pihak pihak tertentu yang menjatuhkan martabat padusi Minang, khususnya 
dan orang minang pada umumnya.

                2. kalau tidak salah Sdr. Reni Nuryanti adalah bukan padusi 
minang melainkan perempuan dari Banyumas. Saya kawatir ada tatakrama, yang 
tidak sepantasnya dikemukakan dan menyama ratakan pengalaman yang dialami 
perempuan minang waktu itu, dengan penderitaan yang dialami oleh umumnnya 
perempuan didaerah konflik, seperti yang dilansir oleh pak Jacky Mardono, yaitu 
 :

                - melakukan kawin kontrak, sehingga nasib mereka seperti piala 
bergilir. mana mungkin.......????
                - melacurkan diri, mana mungkin....????
                - mejadi korban pelecehan seksual oleh pihak pendatang atau 
pihak yang diubernya. .. apa iya ada...????

                3. Bagaimana mungkin ada perempuan minang,  dapat diperlakukan 
semena-mena karena keberadaan tentara " pusek " itu di Sumbar itu efektifnya 
berlangsung selama 2 tahun saja. 

                3. Banyak adik - adik dibawah usia saya menyeseuaikan nama ala 
Wong Jowo - namun hakikatnya,  tetap tidak memulihkan image pada generasi itu 
menjadi manusia yang dianggap memiliki kapasitas dan kapabilitas tertentu. 
Tetap saja generasi kami disebut si padang bengkok yang pemberontak alias 
pembakang.

                4. Saya dapat merasa kesedihan peristiwa PRRI itu - khususnya 
para kaum prianya - ketika ia berpisah dari keluarga, mereka sering 
mendendangkan sebuah lagu gubahan seorang Seniman Minang ALm Yusaf Rahman, 
sehingga bunyi lagu itu menjadi seperti ini ;

                . 



                  3vy Nizhamul 

                http://hyvny.wordpress.com
                http://bundokanduang.wordpress.com



                 






                --- On Fri, 10/24/08, H Masoed Abidin bin Zainal Abidin Abdul 
Jabbar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

                  Date: Friday, October 24, 2008, 8:11 PM


                  Pahit memang, tetapi bentengnya hanya taqwa semata.


                  Pada 25 Oktober 2008 07:06, Rainal Rais <[EMAIL PROTECTED]> 
menulis:

                          Pak Jacky yang baik....Dengan membaca cerita ibu 
reni,kita dan generasi muda lebih paham apa yang terjadi pada masa itu..Sewaktu 
kejadian PRRI,saya sendiri berada di Jakarta..dan pada waktu itu masih duduk di 
SMP..Saya tunggu pula pengalaman bapak sewaktu di Sumatra Barat..Saya ingin 
pula mengirim buku kepada bapak,saya tunggu alamat di Jakarta..wass Rainal Rais 
( Jkt 65 th - 2 hr )

                          --- On Sat, 25/10/08, Jacky Mardono Tjokrodiredjo 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

                            From: Jacky Mardono Tjokrodiredjo <[EMAIL 
PROTECTED]>
                            Subject: Trs: Bls: Penemuan
                            To: [EMAIL PROTECTED]
                            Date: Saturday, 25 October, 2008, 5:14 AM


                                Bapak Rainal Rais yang budiman

                                Komentar saya terhadap temuan Reni.
                                Wass, Jacky Mardono.


                                --- Pada Rab, 22/10/08, Jacky Mardono 
Tjokrodiredjo <[EMAIL PROTECTED]> menulis:



                                 

                         


------------------------------------------------------------






               







       


--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting
- Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim 
melalui jalur pribadi
- Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau 
dibanned
- Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] 
Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke