Angku Lies Suryadi, Ado juo nan bapandapek dek urang awak PD no kurang jadi malu manyabuk namo kampuang no nan asli, jadi ba Indonesiakan nak gagah saketek dan itu indak paduli walau arati no lah barubah malah dalam bahasa Indonesia sendiri indak ado pulo. Hal iko di paparah dek kalah wakatu PRRI, tambah ilang PD no cako. Mungkin di dunia ko cuma dinagari awak sen nan tajadi bantuak iko, nagari urang namo nagari no tataok sen indak ba Indonesia2 kan. Tantu angku Lies labiah ahli pado ambo dalam hal iko.
Wassalam Tan Ameh (50+) ----- Original Message ----- From: Lies Suryadi To: [email protected] Sent: Sunday, November 30, 2008 3:36 PM Subject: Balasan: [EMAIL PROTECTED] Payo Kumbuah atau Paya Kumbuh, Limo Puluah Koto atau Lima Puluh Kota? Purwakarta tanto ndak samo jo Purwokerto,... Salam rang lapau, Ini memang salah satu fenomena kebahasaan yang khas Minangkabau. Ini antara lain karena pada dasarnya kebanyakan orang Minang adalah penutur diglosia: mereka bisa berbahasa Melayu (zaman dulu) atau Indonesia (zaman setelah zaman kemerdekaan) sekaligus berbahasa ibunya sendiri (bahasa Minang). Di sisi lain, fenomena ini juga terkait dengan usaha mengkodifikasikan bahasa lisan Minang pada masa lampau, mula-mula dengan aksara Arab Melayu (aksra Jawi) seiring dengan menguatnya pengaruh Islam, kemudian aksara Latin yang diperkenalkan oleh orang Belanda. Rupanya dalam soal nama-nama daerah itu berbeda bentuknya antara ragam lisan dan tulisan. Jika kita membaca naskah2 Minang beraksara Arab-Melayu, misalnya, maka negeri Aceh itu ditulis Acas, namun sama sekali tidak menimbulkan kerancuan makna. Begitu juga dengan nama2 negeri di Minangkabau sendiri. Demikianlah umpamanya, dalam naskah dan buku2 lama, baik yang beraksara Melayu maupun Latin, orang menulis "Tiga Belas Kota", "Saning Bakar", Solok Solaya", "Sulit Air", "Batusangkar", dan lain-lain. Tapi apabila tulisan itu dibaca, misalnya didaraskan, maka otomatis kata-kata itu akan dibaca "Tigo Baleh Koto", "Saniang Baka", "Solok Salayo", "Sulik Aia", "Batusangka", dan lain-lain (anehnya, cara penulisan seperti ini juga digunakan oleh Thomas Stanford Raffles dalam laporannya tentang perjalanan ke pedalaman Minangkabau tahun 1818). Jadi, rupanya sudah lama orang Minang berlaku seperti itu dalam berbahasa (lisan dan tulisan). Namun, hal itu tampaknya sama sekali tidak mengganggu bagi kebanyakan penutur bahasa Minang, dalam arti bahwa sama sekali tidak terjadi miskomunikasi atau percanggahan makna akibat perbedaan bentuk pelafalan dan penulisan nama-nama nagari itu.Mungkin oleh sebab itu kita dapat pahami mengapa selama ini usaha untuk menstandarkan bahasa Minang itu terus-menerus gagal. Memang buat apa hal itu dilakukan jika penutur bahasa Minang itu sendiri tidak memerlukannya, atau malah merasa terganggu jika bahasa mereka distandarkan, seperti reaksi mereka (yang diwakili oleh anggota Minangkabau Raad, Abd. Aziz St. Kenaikan) terhadap orang Belanda pada tahun 1930-an (lihat: Suryadi, "Vernacular intelligence: colonial pedagogy and the language question in Minangkabau", Indonesia and the Malay World [SOAS University of London], Vol. 3, No. 100, 2006: 315-44). Namun, bila mayoritas orang Minang sudah menganggap perlu menstandarkan bahasa mereka, maka mungkin usaha untuk menyeragamkan bentuk tertulis dan lisan nama-nama nagari itu perlu dilakukan. Salam, Suryadi --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN: - Wajib mematuhi Peraturan Palanta RantauNet, mohon dibaca & dipahami! Lihat di http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi anda pada setiap posting - Dilarang mengirim email attachment! Tawarkan kepada yg berminat & kirim melalui jalur pribadi - Dilarang posting email besar dari >200KB. Jika melanggar akan dimoderasi atau dibanned - Hapus footer & bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Jangan menggunakan reply utk topik/subjek baru =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [EMAIL PROTECTED] Daftarkan email anda yg terdaftar pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk dpt melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
