Assalamuaiakum w.w. Sato ambo saketek tentang persoalan nangko, menurut pandangan ambo nan paralu dilakukan adolah Sbb : 1. Melaksanakan niatnyo untuk kembali masuk Agamo Islam, dengan membacakan kalimah "Sahadat", dan kalau bisa pernyataannya itu dibimbing dan disaksikan oleh seorang Ulama atau Ustat nan sekaligus dapat membimbingnyo. 2. Cari keluarga terdekanyo, jiko indak ado nan sakampung, jiko indak ado nan sa Minang, dan jelaskan semua persoalan agar mereka dapat memberikan bimbingan dan pengawasan. 3. Mengenai hubungan dengan mamak atau niniak mamak dalam kaum atau sukunya, jika persoalan ini belum terbuka kepada mereka dan kepada umum, berarti tidak adak ada masalah, tetapi kalau sudah terbuka jelaskan persoalannya sejak dari awal sampai dia kembali memeluk Agama Islam, dan sampaikan permintakaan maaf kepada mereka. Menurut pandangan ambo mereka akan bersyukur, karena yang hilang, telah kembali, siriak telah pulang ka gagangnyo, pinang telah kembali ke tampuak.Kok sasek alah suruik, kok salah alah kumbali, salah kepada Allah telah tobat salah kepada manusia telah mintah maaf. Beberapa tahun yang lalu ambo pernah melakukan hal sarupo iko di Jakarta, curitnyo ampia samo, tetapi mereka baru punyo anak duo orang dan masih kecil. mereka telah menyadari kesalahannyo dan pingin kembali ke Agama Islam, tetapi tidak di izinkan oleh suaminyo dan mereka tersiksa dan suaminyo kawin lagi dengan caro nan samo, hanya untuak pemurtatan sajo. Mako kami usahkan jo mamaknya mambao, dan di Islamkan kembali, dan kemudian di kirim kakampung kamamaknyo ( ka pusakonyo ) dan di pataruahkan ka urang kampung tolong di bimbing dan jiko ado masalah tolong di bantu., malah mamaknyo basyukur karano nan hilang telah kembali dan alah kembali kepada Agama Islam. Demikian sajo nan dapek ambo sampaikan, mudah-mudahan persoalan nangko dapek diselesaikan sacapeknyo, mohon maaf jiko ado kasalahan. Wasalam Azmi Dt.Bagindo
--- Pada Sab, 20/12/08, Riri Chaidir <[email protected]> menulis: Dari: Riri Chaidir <[email protected]> Topik: [...@ntau-net] Re: Mohon Masukan dan Pencerahan Adi Dunsanak atas kisah ini Kepada: [email protected] Tanggal: Sabtu, 20 Desember, 2008, 9:35 AM Waalaikumsalam Wr Wb Kok buliah ambo sato berkomentar (boleh donk ..., ini kan milis). Cobalah prioritaskan melihat kasus ini dari sudut: "Ada seorang Ibu yang ingin kembali memeluk agama Islam". Nah, please facilitate her, entah dengan membawa ke ulama setempat, ke mesjid, atau kemanapun, yang arahnya adalah agar keinginan dia kembali ke Islam ini terakomodasi.. Bukan berarti ambo meng-ignore isu tentang niniak mamak, lembaga adat, anaknya yang beragama lain, kehidupannya ekonominya, dst dst. Riri Bekasi, L 46 2008/12/20 Jupardi <[email protected]> Assalamualaikum Wr Wb Adi Dunsanak Sapalanta RN, mohon masukan dan pencerahan sehubungan kisah ini Sekitar dua bulan yang lalu sebut saja Adi seorang perantau Minang di Batam, istrinya Nina mengenal seorang ibu yang berusia sekitar 50 Tahun. Nina sebelumnya telah lama mengenal Ibu ini, karena Nina dirumahnya membuka usaha kecil-kecilan berjualan barang kebutuhan hidup sehari-hari (sembako), jadi hamper semua warga disekitar warung disekitarnya dikenal Adi dan Nina. Ibu ini tinggal bersama suami dan dua orang anaknya didaerah pinggiran termasuk pemukiman liar di Kota Batam. Sehari-hari untuk menopang kehidupannya keluarga ini berprofesi sebagai pemulung. Beberapa bulan yang lalu suami Ibu ini meninggal dunia akibat derita sakit asam uratnya yang bertambah parah, akhirnya si Ibu ini tinggal berdua bersama anaknya yang sudah beranjak Dewasa. Adi dan Nina beranggapan selama ini Ibu tersebut bukan orang Minang atau berasal dari suku lain di Indonesia.Sepeninggal suaminya barulah dia sedikit terbuka sama Adi dan Nina sebagai pelanggan tetap warungnya tentang apa dan bagaimana kisah hidup Ibu ini, seperti yang diceritakan Ibu ini pada Adi dan Nina keluarga muda asal Minang yang mengadu nasib dan peruntungan di Kota Batam. Ibu ini berasal dari sebuah Kampung di Minang (dimana daerahnya mohon maaf tidak saya sampaikan). Dimasa gadisnya Ibu ini pergi merantau ke Pekanbaru dengan Mamaknya, dikota inilah si Ibu mengenal baik seorang pemuda dan akhirnya mereka menikah secara Islam. Tapi tanpa diduga si Pemuda tadi adalah seorang Kristen, kedok Islam hanya untuk mendapatkan si Ibu ini saja. Si Ibu ini baru tahu ketika suaminya membawa pergi merantau ke kota kelahiran suaminya di Jawa, dikota tersebut mulailah suami dia melakukan aksi permutadan dengan ancaman jika tidak mau masuk Kristen akan diceraikan serta ancaman fisik lainnya intinya si Ibu ini dalam pihak yang terancam baik fisik dan mentalnya di kampung suaminya.Akhirnya Ibu ini disamping factor keimanan yang lemah serta dibawah ancaman maka dia masuk Kristen. Setelah kematian suaminya ini, si Ibu ini bercerita atau curhat paada adi dan Nina tentang siapa dan bagaimana dia yang selama ini cukup tertutup, ada keinginan dia sebagai orang Minang ingin kembali kepada Islam, namun ada beberapa ganjaran Ibu ini menurut Adi Pemahaman Islam Ibu ini kurang memadai Anaknya yang beranjak dewasa pemeluk agama Bapaknya (Kristen) Ibu ini menutup didi untuk tidak diketahui kalau dia orang Minang Takut diterima di masyarakat, terutama perantau Minang Kondisi Ekonomi yang lemah sebagai pemulung Adi dan Nina hanya berusaha melakukan pendekatan tidak terlalu dalam hanya pergaulan sehari-hari dan sekedar memberi masukan yang terbaik bagi Ibu ini. Adi dan Nina sebagai orang Minang sangat berbahagia seandainya Ibu inio balik lagi ke Agama Islam sebagai jati diri orang Minang. Nah Adi juga bingung menanyakan kepada saya dan sayapun hanya tahu kulitnya saja atas pertanyaan Adi yaitu "Apakah mungkin orang minak (Niniak Mamak) ibu ini bersedia menjemputnya lagi yang boleh dikatakan selama ini si Ibu istilah Adi "Alah hanyuik dari Kampuang" dan juga ada pertanyaan dari Adi kepada saya apakah lembaga Adat Minangkabau dengan segala perangkatnya menangani masalah ini. Sebagai catatan Orang kampungnya tidak tahu kalau Ibu ini Murtad. Para Adi Dunsanak sidang pembaca di Rantau Net, mohon kiranya masukan tentang hal ini.terutama dari Buya HMA dan sanak-sanak yang sangat ahli dan paham tentang Adat kita sehubungan kisah salah seorang anggota milist Rantau net juga yang minta tolong ke saya meedit ceritanya dan disampaikan atau diposting ke Rantau Net. Segala pendapat dari Adi Dunsanak atas cerita ini tentunya akan dibaca secara lansung oleh Adi (nama samaran) di Palanta Rantau Net ini. Adi melalui saya mengucapkan terima kasih atas segala masukan dari Dunsanak RN dan ini nantinya menjadi masukan bagi Adi yang berusaha membimbing dan memberikan arahan kepada Ibu ini. Wass-Jepe Catatan : cerita ini fakta bukan fiksi seperti yang disampaikan salah seorang anggota RN kepada email saya secara Japri. Menambah banyak teman sangatlah mudah dan cepat. Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/invite/ --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
