Maaf terpaksa masuk lagi...
 
Sayang ya...memeluk keyakinan yang benar tapi malah murtad? Kasus2 seperti 
sangat banyak saya jumpai dulu ketika kuliah di Yogya, alasan perempuan lebih 
banyak soal materi dan keluarga kaya raya, jadi silau...ado nan suami no icak2 
masuak Islam, setelah menikah inyo baliak ka agamo asalnto Kristen...
Alhamdulillah kalau masuk ke ISLAM lagi dengan tidak terpaksa,jika dulu dipaksa 
murtad,,,
Harus diterima dengan seluas-luasnya sanak kito itu Sanak Jepe..
 
Salam
Defiyan Cori

--- On Fri, 12/19/08, Jupardi <[email protected]> wrote:

From: Jupardi <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Mohon Masukan dan Pencerahan Adi Dunsanak atas kisah ini
To: [email protected]
Date: Friday, December 19, 2008, 9:01 PM








Assalamualaikum Wr Wb
Adi Dunsanak Sapalanta RN, mohon masukan dan pencerahan sehubungan kisah ini
 
Sekitar dua bulan yang lalu sebut saja Adi seorang perantau Minang di Batam, 
istrinya Nina mengenal seorang ibu yang berusia sekitar 50 Tahun. Nina 
sebelumnya telah lama mengenal Ibu ini, karena Nina dirumahnya membuka usaha 
kecil-kecilan berjualan barang kebutuhan hidup sehari-hari (sembako), jadi 
hamper semua warga disekitar warung disekitarnya dikenal Adi dan Nina. Ibu ini 
tinggal bersama suami dan dua orang anaknya  didaerah pinggiran termasuk 
pemukiman liar di Kota Batam. Sehari-hari untuk menopang kehidupannya keluarga 
ini berprofesi sebagai pemulung.
 
Beberapa bulan yang lalu suami Ibu ini meninggal dunia akibat derita sakit asam 
uratnya yang bertambah parah, akhirnya si Ibu ini tinggal berdua bersama 
anaknya yang sudah beranjak Dewasa. Adi dan Nina beranggapan selama ini Ibu 
tersebut bukan orang Minang atau berasal dari suku lain di 
Indonesia.Sepeninggal suaminya barulah dia sedikit terbuka sama Adi dan Nina 
sebagai pelanggan tetap warungnya tentang apa dan bagaimana kisah hidup Ibu 
ini, seperti yang diceritakan Ibu ini pada Adi dan Nina keluarga muda asal 
Minang yang mengadu nasib dan peruntungan di Kota Batam.

Ibu ini berasal dari sebuah Kampung di Minang (dimana daerahnya mohon maaf 
tidak saya sampaikan). Dimasa gadisnya Ibu ini pergi merantau ke Pekanbaru 
dengan Mamaknya, dikota inilah si Ibu mengenal baik seorang pemuda dan akhirnya 
mereka menikah secara Islam. Tapi tanpa diduga si Pemuda tadi adalah seorang 
Kristen, kedok Islam hanya untuk mendapatkan si Ibu ini saja. Si Ibu ini baru 
tahu ketika suaminya membawa pergi merantau ke kota kelahiran suaminya di Jawa, 
dikota tersebut mulailah suami dia melakukan aksi permutadan dengan ancaman 
jika tidak mau masuk Kristen akan diceraikan serta ancaman fisik lainnya 
intinya si Ibu ini dalam pihak yang terancam baik fisik dan mentalnya di 
kampung suaminya.Akhirnya Ibu ini disamping factor keimanan yang lemah serta 
dibawah ancaman maka dia masuk Kristen.
 
Setelah kematian suaminya ini, si Ibu ini bercerita atau curhat paada adi dan 
Nina tentang siapa dan bagaimana dia yang selama ini cukup tertutup, ada 
keinginan dia sebagai orang Minang ingin kembali kepada Islam, namun ada 
beberapa ganjaran Ibu ini menurut Adi

Pemahaman Islam Ibu ini kurang memadai
Anaknya yang beranjak dewasa pemeluk agama Bapaknya (Kristen)
Ibu ini menutup didi untuk tidak diketahui kalau dia orang Minang
Takut diterima di masyarakat, terutama perantau Minang
Kondisi Ekonomi yang lemah sebagai pemulung
 
Adi dan Nina hanya berusaha melakukan pendekatan tidak terlalu dalam hanya 
pergaulan sehari-hari dan sekedar memberi masukan yang terbaik bagi Ibu ini. 
Adi dan Nina sebagai orang Minang sangat berbahagia seandainya Ibu inio balik 
lagi ke Agama Islam sebagai jati diri orang Minang. Nah Adi juga bingung 
menanyakan kepada saya dan sayapun hanya tahu kulitnya saja atas pertanyaan Adi 
yaitu “Apakah mungkin orang minak (Niniak Mamak) ibu ini bersedia menjemputnya 
lagi yang boleh dikatakan selama ini si Ibu  istilah Adi “Alah hanyuik dari 
Kampuang” dan juga ada pertanyaan dari Adi kepada saya apakah lembaga Adat 
Minangkabau dengan segala perangkatnya menangani masalah ini. Sebagai catatan 
Orang kampungnya tidak tahu kalau Ibu ini Murtad.
 
Para Adi Dunsanak sidang pembaca di Rantau Net, mohon kiranya masukan tentang 
hal ini.terutama dari Buya HMA dan sanak-sanak yang sangat ahli dan paham 
tentang Adat kita sehubungan kisah salah seorang anggota milist Rantau net juga 
yang minta tolong ke saya meedit ceritanya dan disampaikan atau diposting ke 
Rantau Net. Segala pendapat dari Adi Dunsanak atas cerita ini tentunya akan 
dibaca secara lansung oleh Adi (nama samaran) di Palanta Rantau Net ini. Adi 
melalui saya mengucapkan terima kasih atas segala masukan dari Dunsanak RN dan 
ini nantinya menjadi masukan bagi Adi yang berusaha membimbing dan memberikan 
arahan kepada Ibu ini.
 
Wass-Jepe 
Catatan : cerita ini fakta bukan fiksi seperti yang disampaikan salah seorang 
anggota RN kepada email saya secara Japri.
 
 




      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke