Add Reni..1..Saya setuju dengan pendapat Reni...2..zaman dahulu dikampuang 
kita...banyak sekali pemuda/i dijodohkan oleh orang tua atau mamak ybs..padahal 
daerahnya tidaklah besar...3..Dengan pesatnya warga Minang merantau..padahal 
sebagian warga ingin anaknya agar dapat jodoh berasal dari Minang..4..seperti 
kebanyakan nagari di Sumbar..( termasuk nagari saya)..mereka berinisiatif 
membuat organisasi dengan cabang diseluruh warganya berada/merantau..salah satu 
programnya adalah "Pulang Basamo" ...Disamping membicarakan pembangunan 
Nagari,orang tua atau pemuda/i saling berkenalan..karena mereka datang dari 
tempat berlainan.5...sehingga istilah " komo dibalik daun" bisa dikurangi..6 
Kita yakini :Jodoh..maut dan rejeki adalah ditangan Tuhan...tapi tentu kita 
harus berusaha..sehingga sebagai orang tua mencari jalan agar anaknya mendapat 
jodoh yang pas...kalau dahulu kebanyakan ingin anaknya mendapat jodoh yg 
berasal dari Minang..sekarang meluas..tidak masalah
 dari mana berasal.. asal beragama islam..sampai kini masih ada 
perantara,biasanya kawan atau keluarga atau dikenal sebagai "Tali 
Aso"...7..meskipun kampuang kami kecil..Sulit Air mempunyai sekitar 80 
cabang..yang tersebar keseluruh dunia..Ada dua organisasi.. IPPSA ( ikatan 
pemuda pelajar Sulit Air )..dan SAS ( Sulit Air Sepakat )..8..Saya adalah salah 
satu produk "Tali Aso"..sehingga mendapat jodoh satu kampung..saya dibesarkan 
di Jakarta dan istri saya di Rengat, Riau..padahal sebelumnya tidak saling 
kenal...InsyaAllah hampir 41 th kami berumah tangga..dan telah dikurnai 11 
orang cucu..Demikianlah pengalaman kami..wass Rainal Rais Jkt 65 th




________________________________
Dari: Reni Sisri Yanti <[email protected]>
Kepada: "[email protected]" <[email protected]>
Cc: "[email protected]" <[email protected]>
Terkirim: Sabtu, 27 Desember, 2008 04:15:58
Topik: [...@ntau-net] Re: Anak Gadis Mencari Jodoh


assalammualaikum.
Maaf ikut komentar .  
Jodoh seseorg sdh diatur oleh allah swt, dgn siapa?, kapan? Dgn cara apa? Cuma 
tuhan yg tau, jika memang ada seseorg menemukannya dgn cara kotak jdh apa 
salahnya? Salah apa krn dia seorg gadis minang? Reni malah merasa si gadis tsb 
melakukannya krn sdh sampai pd titik keputus asaan? Siapa yg salah? Si gadis? 
Belum tentu! Yg salah kemukinan keadaan, keadaan yg mana sekarang susahnya 
menemukan jodoh yg benar2 tepat! Bukan krn pihak ortu atau mamak tdk mau 
mencarikan tp di jaman skr menjamin seseorg itu benar2 tepat dan baik itu 
susah, bertanggung jawab pd masa depan hidup seseorg gadis nantinya, membuat 
ortu dan mamak takut utk menjodohkan seorg anak atau ponakannya pd seseorg 
itulah masalahnya, dan satu hal lg, apa benar si gadis tsb yg mendaftarkan 
diri? Bisa jd ortu, mamak bs jg temannya yg memasukan data diri pd kotak jdh 
tsb? So jgn terlalu menyalahkan si gadis .
Wassalam 
renny,31 ancol
aku cuma membela kaumku, senasibku tp insyaallah aku tdk seputus asa spt 
diatas, thanks ma, pa yg tetap sabar dan mendoakan utk terus  menjadi yg 
terbaik utk mendapatkan yg terbaik, amin...
Pak mode, maaf kalau ada yg salah daku buat email ini dr hp, takut ada yg salah

Riri Chaidir wrote: 
> Buya, 
>    
>  Tarimokasih pencerahan nan ambo dapek dari Buya. 
>    
>  Jadi ado semacam pergeseran "gaya" perempuan. 
>    
>  Nah, nan ambo ingin tau, apo reaksi kaum adat terhadap pergeseran ini. Jadi 
> ambo "mengamini" statement Buya, mungkin LKAAM nan harusnyo menjawab. Tidak 
> perlu di milis ini, tapi ambo berharap LKAAM tanggap terhadap berbagai 
> praktek yang - setidak2nya untuak sebagian urang - menjadi pertanyaan, ini 
> adat Minang atau bukan? 
>    
>  Riri 
>  Bekasi, L 46 
>    
>    
>  2008/12/24 Abraham Ilyas < [email protected] > 
>  Dinda Riri dan Dunsanak ka sadonyo nan ambo hormati. 
>  Untuk menjawab "Whats wrong"  ini ambo cubo jawab melalui kutipan dari buku 
>    
>  Antologi Esai Sastra Bandingan dalam Sastra Indonesia Modern terbitan th. 
> 2002 oleh Pusat Bahasa, Depdiknas. 
>  Untuak itu ambo scan 4 halaman dari karangan nan bajudul: "Profil Wanita di 
> dalam Novel-Novel Indonesia Modern Warna Lokal Minangkabau Sebelum dan 
> Sesudah Perang", yang ditulis oleh Hasanuddin W.S (hal. 117 – 132 dengan 16 
> buku rujukan/daftar pustaka). 
>  Novel sebelum perang adalah, Sitti Nurbaya karangan Marah Rusli dan Salah 
> Asuhan karangan Abdul Muis. Novel sesudah perang adalah Kemarau karangan A.A. 
> Navis dan Warisan karangan Karangan Chairul Harun. 
>    
>  Karya Sastra sebagai Cermin Masyarakat (hal. 118) 
>  Novel sebagai hasil cipta sastra, dari satu sisi dapat berfungsi sebagai 
> cermin dari masyarakatnya. Novel dapat dianggap sebagai alat perekam 
> kehidupan masyarakat pada suatu waktu, pada suatu tempat. Anggapan ini dapat 
> dibenarkan karena sebagai karya sastra, sesungguhnya novel tidak hanya 
> berlandaskan kepada imajinasi pengarang belaka. 
> Imajinasi pengarang tidak mungkin berkembang jika pengarang tidak mempunyai 
> pengetahuan yang baik tentang realitas objektif (semesta). Scholes (dalam 4 
> Junus, 1983: 1) mengungkapkan bahwa setiap kali orang berhadapan dengan suatu 
> realitas, maka realitas tersebut akan mengundang orang untuk berimajinasi; 
> dan orang tidak mungkin dapat berimajinasi tanpa memiliki pengetahuan tentang 
> suatu realitas. 
> Dengan demikian, karya sastra novel tidaklah sekadar merupakan hasil ekspresi 
> pikiran dan perasaan pengarang belaka. 
>  Tokoh Wanita dan Pandangan Hidup (hal. 122) Wanita-wanita Minangkabau 
> sebelum perang, menurut data yang diinventarisasi dari sampel penelitian, 
> dideskripsikan sebagai wanita yang memiliki pandangan hidup yang berorientasi 
> pada pencapaian nilai budaya ideal. Orientasi ini menurut Kluckhon (dalam 
> Muhardi, 1984: 19) adalah pandangan hidup; yang memandang bahwa hidup hari 
> ini buruk, sehingga berusaha untuk mewujudkan hidup itu menjadi lebih baik 
> pada masa mendatang. Karena pandangannya ini, mereka kemudian berbuat, 
> bertindak, untuk memperbaiki hidup yang dianggapnya tidak mengenakkan itu. 
> Keadaan yang paling mengungkung wanita Minangkabau pada saat itu sebagaimana 
> didapatkan dari data sampel, adalah ketidakbebasan memilih pasangan hidup. 
> Pandangan hidup wanita pada masa itu ternyata tidak sejalan dengan konvensi 
> yang hidup ketika itu. Menurut konvensi pada waktu itu wanita yang dinilai 
> baik adalah wanita yang patuh, menerima. 
>  Tokoh Wanita dan Tanggung Jawab (hal. 126) Dari sisi kemanusiaan, 
> tokoh-tokoh wanita pada masa sesudah perang kelihatan lebih lugas. Tidak 
> munafik dalam banyak hal, termasuk pengungkapan hal yang sebelumnya dianggap 
> tabu, misalnya persoalan seksualitas. 
> Dari sisi keagamaan, tindakan, sikap, dan perilaku mereka memberikan kesan 
> bahwa mereka kurang bertanggung jawab. Hubungan seksual sebelum menikah, 
> menyeleweng dari suami, atau berkhianat pada kekasih bukan hal yang aneh bagi 
> mereka. Tokoh-tokoh seperti Arneti, Maimunah, Farida, Sitti Baniar, dan 
> lainnya merupakan wakil dari contoh yang dapat menunjang data tentang hal 
> ini. Oleh sebab itu, jika mereka hamil di luar nikah, atau hal lainnya yang 
> terjadi pada diri mereka, mereka tidak terlalu panik meminta pertanggung 
> jawab pada diri mereka sendiri. 
> Kesemua ini disebabkan oleh keadaan bahwa mereka lebih mengejar kesenangan 
> sesaat dan yang lebih bersifat material.  
>  Tokoh Wanita dan Penderitaan (hal. 128) Tokoh-tokoh wanita sesudah perang 
> memperlihatkan bahwa diri mereka adalah wanita-wanita yang kurang tabah di 
> dalam menjalani hambatan-hambatan hidupnya. 
> Penderitaan bagi tokoh-tokoh wanita, merupakan sesuatu yang dianggap 
> menyulitkan hidupnya. Jarang tokoh-tokoh wanita pada masa ini beranggapan 
> bahwa penderitaan itu adalah cobaan yang harus dijalani secara tawakal dan 
> tabah. Jika ada, itu hanya ucapan belaka, karena ketika mereka mengalaminya, 
> tindakan mereka menunjukkan bahwa mereka tergolong orang yang tidak tabah dan 
> tidak tawakal. 
> Ketidaktabahan para tokoh menghadapi penderitaan di dalam hidupnya, 
> disebabkan oleh tidak tahannya mereka terhadap berbagai godaan di dalam 
> hidup. Godaan-godaan cenderung tidak dapat dihindari oleh para tokoh. Para 
> tokoh cepat hanyut dalam kesenangan keduniawian sehingga penderitaan yang 
> dialami dirasakan sebagai sesuatu yang menyiksa. 
>  Wanita-wanita Minangkabau sesudah perang ini selalu terlihat berusaha 
> menghindari penderitaan. Jika tidak dapat dihindari, mereka berusaha 
> melibatkan orang lain. Dengan ikut menderitanya orang lain, mereka merasakan 
> penderitaannya akan berkurang, karena ada yang senasib dengannya. 
>  Jika mereka tetap harus mengalami penderitaan, mereka cenderung mudah 
> frustrasi dan putus asa. Cara apapun akan mereka cari untuk lepas dari 
> penderitaan itu, termasuk jalan pintas. Risiko yang bakal muncul menjadi 
> perhitungan kedua. 
>  Catatan ambo : 
>  Tahu di diri salah satu elemen dari tahu di nan Ampek (ref: 
> http://www.nanampek.nagari.org/c11.html ) 
>  Para sastrawan telah membedah diri perempuan-wanita Minang sebelum dan 
> sesudah perang. 
>  Iko pandapek ambo pribadi, profil nan dicaritokan oleh novel-novel sebelum 
> perang itu adalah perempuan-perempuan Minangkabau, sedangkan nan sesudah 
> perang ialah wanita Indonesia nan mengaku sebagai orang Minang, termasuk yang 
> beriklan mencari laki di Kompas Minggu. 
>  Apakah pengakuannya di Kompas itu, bahwa dirinya sebagai orang Minangkabau 
> akan kita terima saja ?, mungkin yang lebih mampu menjawabnya adalah mamak 
> kito mamak LKAAM ! 
>  Atau sarupo nan ambo lakukan pribadi (tangguang jawab pribadi) mangirim 
> email ka biro jodoh korantu untuak indak manulihkan identitas suku 
> Minangkabau untuak anggota-anggotanya nan maminta. Mudah-mudahan disetujui 
> oleh pengsuh. 
>    
>  Kok disebut sebagai perempuan tentulah kita perlu mengacungkan empu jari 
> atau jempol kepadanya; suatu bahasa tubuh yang dipahami oleh semua manusia. 
>  Kemampuan serta keterampilan mereka setara dengan kemampuan empu Gandring, 
> mpu Sindok, mpu Tantular dst. cuma bidang kerjanya saja yang berbeda. 
>  Bicara tentang kata wanita, bermacam-macam kata sambungannya yang bisa 
> digandengkan seperti, wanita pekerja ..., wanita pengusaha, wanita Jawa, 
> Tenaga Kerja Wanita, wanita Papua, wanita Barat, wanita karir dsb. 
>  Wa Allohu 'aklam bi as showab  
>  Wassalam 
>  Abraham Ilyas 63 th. admin./webmaster www.nagari.org www.nagari.or.id 
>    
> 


      



      Jatuh cinta itu seperti apa ya rasanya? Temukan jawabannya di Yahoo! 
Answers! http://id.answers.yahoo.com
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke