Dinda Riri dan Dunsanak ka sadonyo nan ambo hormati.
Untuk menjawab *"Whats wrong"*  ini ambo cubo jawab melalui kutipan dari
buku

*Antologi Esai Sastra Bandingan dalam Sastra Indonesia Modern terbitan th.
2002 oleh Pusat Bahasa, Depdiknas.*
Untuak itu ambo scan 4 halaman dari karangan nan bajudul: *"Profil Wanita di
dalam Novel-Novel Indonesia Modern Warna Lokal Minangkabau Sebelum dan
Sesudah Perang",* yang ditulis oleh Hasanuddin W.S (hal. 117 – 132 dengan 16
buku rujukan/daftar pustaka).
Novel sebelum perang adalah, Sitti Nurbaya karangan Marah Rusli dan Salah
Asuhan karangan Abdul Muis.
Novel sesudah perang adalah Kemarau karangan A.A. Navis dan Warisan karangan
Karangan Chairul Harun.
**
*Karya Sastra sebagai Cermin Masyarakat (hal. 118)
* Novel sebagai hasil cipta sastra, dari satu sisi dapat berfungsi sebagai
cermin dari masyarakatnya. Novel dapat dianggap sebagai alat perekam
kehidupan masyarakat pada suatu waktu, pada suatu tempat.
Anggapan ini dapat dibenarkan karena sebagai karya sastra, sesungguhnya
novel tidak hanya berlandaskan kepada imajinasi pengarang belaka.
Imajinasi pengarang tidak mungkin berkembang jika pengarang tidak mempunyai
pengetahuan yang baik tentang realitas objektif (semesta).
Scholes (dalam 4 Junus, 1983: 1) mengungkapkan bahwa setiap kali orang
berhadapan dengan suatu realitas, maka realitas tersebut akan mengundang
orang untuk berimajinasi; dan orang tidak mungkin dapat berimajinasi tanpa
memiliki pengetahuan tentang suatu realitas.
Dengan demikian, karya sastra novel tidaklah sekadar merupakan hasil
ekspresi pikiran dan perasaan pengarang belaka.

*Tokoh Wanita dan Pandangan Hidup (hal. 122)
*Wanita-wanita Minangkabau sebelum perang, menurut data yang diinventarisasi
dari sampel penelitian, dideskripsikan sebagai wanita yang memiliki
pandangan hidup yang berorientasi pada pencapaian nilai budaya ideal.
Orientasi ini menurut Kluckhon (dalam Muhardi, 1984: 19) adalah pandangan
hidup; yang memandang bahwa hidup hari ini buruk, sehingga berusaha untuk
mewujudkan hidup itu menjadi lebih baik pada masa mendatang. Karena
pandangannya ini, mereka kemudian berbuat, bertindak, untuk memperbaiki
hidup yang dianggapnya tidak mengenakkan itu.
Keadaan yang paling mengungkung wanita Minangkabau pada saat itu sebagaimana
didapatkan dari data sampel, adalah ketidakbebasan memilih pasangan hidup.
Pandangan hidup wanita pada masa itu ternyata tidak sejalan dengan konvensi
yang hidup ketika itu. Menurut konvensi pada waktu itu wanita yang dinilai
baik adalah wanita yang patuh, menerima.

*Tokoh Wanita dan Tanggung Jawab (hal. 126)
*Dari sisi kemanusiaan, tokoh-tokoh wanita pada masa sesudah perang
kelihatan lebih lugas. Tidak munafik dalam banyak hal, termasuk pengungkapan
hal yang sebelumnya dianggap tabu, misalnya persoalan seksualitas.
Dari sisi keagamaan, tindakan, sikap, dan perilaku mereka memberikan kesan
bahwa mereka kurang bertanggung jawab.
Hubungan seksual sebelum menikah, menyeleweng dari suami, atau berkhianat
pada kekasih bukan hal yang aneh bagi mereka. Tokoh-tokoh seperti Arneti,
Maimunah, Farida, Sitti Baniar, dan lainnya merupakan wakil dari contoh yang
dapat menunjang data tentang hal ini. Oleh sebab itu, jika mereka hamil di
luar nikah, atau hal lainnya yang terjadi pada diri mereka, mereka tidak
terlalu panik meminta pertanggung jawab pada diri mereka sendiri.
Kesemua ini disebabkan oleh keadaan bahwa mereka lebih mengejar kesenangan
sesaat dan yang lebih bersifat material.

*Tokoh Wanita dan Penderitaan (hal. 128)
*Tokoh-tokoh wanita sesudah perang memperlihatkan bahwa diri mereka adalah
wanita-wanita yang kurang tabah di dalam menjalani hambatan-hambatan
hidupnya.
Penderitaan bagi tokoh-tokoh wanita, merupakan sesuatu yang dianggap
menyulitkan hidupnya.
Jarang tokoh-tokoh wanita pada masa ini beranggapan bahwa penderitaan itu
adalah cobaan yang harus dijalani secara tawakal dan tabah. Jika ada, itu
hanya ucapan belaka, karena ketika mereka mengalaminya, tindakan mereka
menunjukkan bahwa mereka tergolong orang yang tidak tabah dan tidak tawakal.
Ketidaktabahan para tokoh menghadapi penderitaan di dalam hidupnya,
disebabkan oleh tidak tahannya mereka terhadap berbagai godaan di dalam
hidup.
Godaan-godaan cenderung tidak dapat dihindari oleh para tokoh.
Para tokoh cepat hanyut dalam kesenangan keduniawian sehingga penderitaan
yang dialami dirasakan sebagai sesuatu yang menyiksa.
Wanita-wanita Minangkabau sesudah perang ini selalu terlihat berusaha
menghindari penderitaan. Jika tidak dapat dihindari, mereka berusaha
melibatkan orang lain. Dengan ikut menderitanya orang lain, mereka merasakan
penderitaannya akan berkurang, karena ada yang senasib dengannya.
Jika mereka tetap harus mengalami penderitaan, mereka cenderung mudah
frustrasi dan putus asa.
Cara apapun akan mereka cari untuk lepas dari penderitaan itu, termasuk
jalan pintas.
Risiko yang bakal muncul menjadi perhitungan kedua.

*Catatan ambo :*
*Tahu di diri* salah satu elemen dari *tahu di nan Ampek* (ref:
http://www.nanampek.nagari.org/c11.html)
Para sastrawan telah membedah diri *perempuan-wanita Minang* sebelum dan
sesudah perang.
Iko pandapek ambo pribadi, profil nan dicaritokan oleh novel-novel sebelum
perang itu adalah perempuan-perempuan Minangkabau, sedangkan nan sesudah
perang ialah wanita Indonesia nan mengaku sebagai orang Minang, termasuk
yang beriklan mencari laki di Kompas Minggu.
Apakah pengakuannya di Kompas itu, bahwa dirinya sebagai orang Minangkabau
akan kita terima saja ?,
mungkin yang lebih mampu menjawabnya adalah mamak kito mamak LKAAM !
Atau sarupo nan ambo lakukan pribadi (tangguang jawab pribadi) mangirim
email ka biro jodoh korantu untuak indak manulihkan identitas suku
Minangkabau untuak anggota-anggotanya nan maminta. Mudah-mudahan disetujui
oleh pengsuh.

Kok disebut sebagai perempuan tentulah kita perlu mengacungkan *empu*jari
atau jempol kepadanya; suatu bahasa tubuh yang dipahami oleh semua manusia.
Kemampuan serta keterampilan mereka setara dengan kemampuan empu Gandring,
mpu Sindok, mpu Tantular dst.
cuma bidang kerjanya saja yang berbeda.

Bicara tentang kata wanita, bermacam-macam kata sambungannya yang bisa
digandengkan seperti,
wanita pekerja ..., wanita pengusaha, wanita Jawa, Tenaga Kerja Wanita,
wanita Papua, wanita Barat, wanita karir dsb.

Wa Allohu 'aklam bi as showab

Wassalam

Abraham Ilyas 63 th.
admin./webmaster
www.nagari.org
www.nagari.or.id

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke