Assalamualaikum w.w

Angku2 / Bapak2/ Ibu2 nan ambo hormati

Sato ambo saketek tantang masalah perjodohan, memang benar apa yang di katakan 
oleh kmd. Rini, yang petama, bahwa jodoh memang sudah ada yang mengatur yaitu 
diatur oleh Yang Maha Kuasa, yang kudua kita tidak boleh myalahkan siapa-sipa, 
baik mamak, Ibu /Bapak dan sanak famili tentang perjodohan tersebut.
Namun, sekalipun sudah ada yang mengatur tentu harus ada usah dari semua pihak, 
baik Ibu/Bapak, mamak dan termasuk yang bersangkutan dengan cara membuka diri 
dalam pergaulan. Usaha dengan melalui iklan memang itu adalah usaha yang 
terakir.
Pada suatu kali ambo pernah di undang oleh salah satu organisisi "Pemuda 
Pelajar"  Minang yang terkenal di Jakarta, mereka telah berdiri sejak lama dan 
mereka punya oganisasi sejak dari tingkat pelajar, sampai  orang tua.Pada waktu 
itu acara khusus pemuda dan pemudi tetapi dalam kridor Minang dan ambo sendiri 
di mintak untuk memberikan ceramah tentang bagaimana  Adat Minang mengatur 
tentang pergaulan menurut adat, dan bagai mana posisi   seorang anak mudo yang 
disebut sebagi salendang dunia.
Setelah selesai ambo diantar pulang, di perjalanan ambo berkumintar, bahwa cara 
ini sangatlah bagus sehingga bisa saling kenal diantara kalian, seingga hal ini 
adalah mempermudah untuk menuju perjodohan karena mereka telah saling kenal dan 
tidak perlu lagi di jodohkan atau mencari keluar. Lalu ambo lasung tanyo bagi 
kalian alah ado nan nampak?,.... lansung salah seorang mereka manjawab, alah 
angku, tapi inyo alaun amuak lai jo awak lai, jinak alah katanmgan alaun paning 
ambo dinyo, baa caronyo to angku?. Ambo jawab,... itu sudah kaji manurun tu, 
tingga diadokan pendekatan, termasuak kepada  keluarga atau orang tuonyo,  tapi 
tetap dalam kigiatan organisisi, dengan catatan, untuak sementara keliahatan 
maksud "kok mambuua jangan mangasan kok mauleh jangan mambuku" baraso kito ado 
niat
Jadi kesimpulannyo ambo, yang sebaiknyo kito lakukkan baik mamak, orang tuo, 
diadokan wadah untuak mereka tu bakumpua-kumpua agar mereka dapek saling kenal, 
baik tingkat suku yang di gabung dengan anak-anak dari pihak laki-laki yang 
disebut anak pusako, bigitu juga tingkat kampung, nagari atau Minang. Dan 
keuntunganyo adolah mereka indak lapeh kalua, jadi awak indak mamaga karambia 
condong, urek jo buah tatap punyo awak.
Sekaitu sajo dulu mohon maaf jiko ado nan salah, semoga ado manfaatnyo.

Wasalam,

Azmi Dt.Bagindo  

--- Pada Sab, 27/12/08, Reni Sisri Yanti <[email protected]> menulis:
Dari: Reni Sisri Yanti <[email protected]>
Topik: [...@ntau-net] Re: Anak Gadis Mencari Jodoh
Kepada: "[email protected]" <[email protected]>
Cc: "[email protected]" <[email protected]>
Tanggal: Sabtu, 27 Desember, 2008, 4:15 AM

assalammualaikum.
Maaf ikut komentar .  
Jodoh seseorg sdh diatur oleh allah swt, dgn siapa?, kapan? Dgn cara apa? Cuma
tuhan yg tau, jika memang ada seseorg menemukannya dgn cara kotak jdh apa
salahnya? Salah apa krn dia seorg gadis minang? Reni malah merasa si gadis tsb
melakukannya krn sdh sampai pd titik keputus asaan? Siapa yg salah? Si gadis?
Belum tentu! Yg salah kemukinan keadaan, keadaan yg mana sekarang susahnya
menemukan jodoh yg benar2 tepat! Bukan krn pihak ortu atau mamak tdk mau
mencarikan tp di jaman skr menjamin seseorg itu benar2 tepat dan baik itu susah,
bertanggung jawab pd masa depan hidup seseorg gadis nantinya, membuat ortu dan
mamak takut utk menjodohkan seorg anak atau ponakannya pd seseorg itulah
masalahnya, dan satu hal lg, apa benar si gadis tsb yg mendaftarkan diri? Bisa
jd ortu, mamak bs jg temannya yg memasukan data diri pd kotak jdh tsb? So jgn
terlalu menyalahkan si gadis .
Wassalam 
renny,31 ancol
aku cuma membela kaumku, senasibku tp insyaallah aku tdk seputus asa spt
diatas, thanks ma, pa yg tetap sabar dan mendoakan utk terus  menjadi yg terbaik
utk mendapatkan yg terbaik, amin...
Pak mode, maaf kalau ada yg salah daku buat email ini dr hp, takut ada yg salah

Riri Chaidir wrote: 
> Buya, 
>    
>  Tarimokasih pencerahan nan ambo dapek dari Buya. 
>    
>  Jadi ado semacam pergeseran "gaya" perempuan. 
>    
>  Nah, nan ambo ingin tau, apo reaksi kaum adat terhadap pergeseran ini.
Jadi ambo "mengamini" statement Buya, mungkin LKAAM nan harusnyo
menjawab. Tidak perlu di milis ini, tapi ambo berharap LKAAM tanggap terhadap
berbagai praktek yang - setidak2nya untuak sebagian urang - menjadi pertanyaan,
ini adat Minang atau bukan? 
>    
>  Riri 
>  Bekasi, L 46 
>    
>    
>  2008/12/24 Abraham Ilyas < [email protected] > 
>  Dinda Riri dan Dunsanak ka sadonyo nan ambo hormati. 
>  Untuk menjawab "Whats wrong"  ini ambo cubo jawab melalui
kutipan dari buku 
>    
>  Antologi Esai Sastra Bandingan dalam Sastra Indonesia Modern terbitan th.
2002 oleh Pusat Bahasa, Depdiknas. 
>  Untuak itu ambo scan 4 halaman dari karangan nan bajudul: "Profil
Wanita di dalam Novel-Novel Indonesia Modern Warna Lokal Minangkabau Sebelum dan
Sesudah Perang", yang ditulis oleh Hasanuddin W.S (hal. 117 – 132 dengan
16 buku rujukan/daftar pustaka). 
>  Novel sebelum perang adalah, Sitti Nurbaya karangan Marah Rusli dan Salah
Asuhan karangan Abdul Muis. Novel sesudah perang adalah Kemarau karangan A.A.
Navis dan Warisan karangan Karangan Chairul Harun. 
>    
>  Karya Sastra sebagai Cermin Masyarakat (hal. 118) 
>  Novel sebagai hasil cipta sastra, dari satu sisi dapat berfungsi sebagai
cermin dari masyarakatnya. Novel dapat dianggap sebagai alat perekam kehidupan
masyarakat pada suatu waktu, pada suatu tempat. Anggapan ini dapat dibenarkan
karena sebagai karya sastra, sesungguhnya novel tidak hanya berlandaskan kepada
imajinasi pengarang belaka. 
> Imajinasi pengarang tidak mungkin berkembang jika pengarang tidak
mempunyai pengetahuan yang baik tentang realitas objektif (semesta). Scholes
(dalam 4 Junus, 1983: 1) mengungkapkan bahwa setiap kali orang berhadapan dengan
suatu realitas, maka realitas tersebut akan mengundang orang untuk berimajinasi;
dan orang tidak mungkin dapat berimajinasi tanpa memiliki pengetahuan tentang
suatu realitas. 
> Dengan demikian, karya sastra novel tidaklah sekadar merupakan hasil
ekspresi pikiran dan perasaan pengarang belaka. 
>  Tokoh Wanita dan Pandangan Hidup (hal. 122) Wanita-wanita Minangkabau
sebelum perang, menurut data yang diinventarisasi dari sampel penelitian,
dideskripsikan sebagai wanita yang memiliki pandangan hidup yang berorientasi
pada pencapaian nilai budaya ideal. Orientasi ini menurut Kluckhon (dalam
Muhardi, 1984: 19) adalah pandangan hidup; yang memandang bahwa hidup hari ini
buruk, sehingga berusaha untuk mewujudkan hidup itu menjadi lebih baik pada masa
mendatang. Karena pandangannya ini, mereka kemudian berbuat, bertindak, untuk
memperbaiki hidup yang dianggapnya tidak mengenakkan itu. 
> Keadaan yang paling mengungkung wanita Minangkabau pada saat itu
sebagaimana didapatkan dari data sampel, adalah ketidakbebasan memilih pasangan
hidup. Pandangan hidup wanita pada masa itu ternyata tidak sejalan dengan
konvensi yang hidup ketika itu. Menurut konvensi pada waktu itu wanita yang
dinilai baik adalah wanita yang patuh, menerima. 
>  Tokoh Wanita dan Tanggung Jawab (hal. 126) Dari sisi kemanusiaan,
tokoh-tokoh wanita pada masa sesudah perang kelihatan lebih lugas. Tidak munafik
dalam banyak hal, termasuk pengungkapan hal yang sebelumnya dianggap tabu,
misalnya persoalan seksualitas. 
> Dari sisi keagamaan, tindakan, sikap, dan perilaku mereka memberikan kesan
bahwa mereka kurang bertanggung jawab. Hubungan seksual sebelum menikah,
menyeleweng dari suami, atau berkhianat pada kekasih bukan hal yang aneh bagi
mereka. Tokoh-tokoh seperti Arneti, Maimunah, Farida, Sitti Baniar, dan lainnya
merupakan wakil dari contoh yang dapat menunjang data tentang hal ini. Oleh
sebab itu, jika mereka hamil di luar nikah, atau hal lainnya yang terjadi pada
diri mereka, mereka tidak terlalu panik meminta pertanggung jawab pada diri
mereka sendiri. 
> Kesemua ini disebabkan oleh keadaan bahwa mereka lebih mengejar kesenangan
sesaat dan yang lebih bersifat material.  
>  Tokoh Wanita dan Penderitaan (hal. 128) Tokoh-tokoh wanita sesudah perang
memperlihatkan bahwa diri mereka adalah wanita-wanita yang kurang tabah di dalam
menjalani hambatan-hambatan hidupnya. 
> Penderitaan bagi tokoh-tokoh wanita, merupakan sesuatu yang dianggap
menyulitkan hidupnya. Jarang tokoh-tokoh wanita pada masa ini beranggapan bahwa
penderitaan itu adalah cobaan yang harus dijalani secara tawakal dan tabah. Jika
ada, itu hanya ucapan belaka, karena ketika mereka mengalaminya, tindakan mereka
menunjukkan bahwa mereka tergolong orang yang tidak tabah dan tidak tawakal. 
> Ketidaktabahan para tokoh menghadapi penderitaan di dalam hidupnya,
disebabkan oleh tidak tahannya mereka terhadap berbagai godaan di dalam hidup.
Godaan-godaan cenderung tidak dapat dihindari oleh para tokoh. Para tokoh cepat
hanyut dalam kesenangan keduniawian sehingga penderitaan yang dialami dirasakan
sebagai sesuatu yang menyiksa. 
>  Wanita-wanita Minangkabau sesudah perang ini selalu terlihat berusaha
menghindari penderitaan. Jika tidak dapat dihindari, mereka berusaha melibatkan
orang lain. Dengan ikut menderitanya orang lain, mereka merasakan penderitaannya
akan berkurang, karena ada yang senasib dengannya. 
>  Jika mereka tetap harus mengalami penderitaan, mereka cenderung mudah
frustrasi dan putus asa. Cara apapun akan mereka cari untuk lepas dari
penderitaan itu, termasuk jalan pintas. Risiko yang bakal muncul menjadi
perhitungan kedua. 
>  Catatan ambo : 
>  Tahu di diri salah satu elemen dari tahu di nan Ampek (ref:
http://www.nanampek.nagari.org/c11.html ) 
>  Para sastrawan telah membedah diri perempuan-wanita Minang sebelum dan
sesudah perang. 
>  Iko pandapek ambo pribadi, profil nan dicaritokan oleh novel-novel
sebelum perang itu adalah perempuan-perempuan Minangkabau, sedangkan nan sesudah
perang ialah wanita Indonesia nan mengaku sebagai orang Minang, termasuk yang
beriklan mencari laki di Kompas Minggu. 
>  Apakah pengakuannya di Kompas itu, bahwa dirinya sebagai orang
Minangkabau akan kita terima saja ?, mungkin yang lebih mampu menjawabnya adalah
mamak kito mamak LKAAM ! 
>  Atau sarupo nan ambo lakukan pribadi (tangguang jawab pribadi) mangirim
email ka biro jodoh korantu untuak indak manulihkan identitas suku Minangkabau
untuak anggota-anggotanya nan maminta. Mudah-mudahan disetujui oleh pengsuh. 
>    
>  Kok disebut sebagai perempuan tentulah kita perlu mengacungkan empu jari
atau jempol kepadanya; suatu bahasa tubuh yang dipahami oleh semua manusia. 
>  Kemampuan serta keterampilan mereka setara dengan kemampuan empu
Gandring, mpu Sindok, mpu Tantular dst. cuma bidang kerjanya saja yang berbeda. 
>  Bicara tentang kata wanita, bermacam-macam kata sambungannya yang bisa
digandengkan seperti, wanita pekerja ..., wanita pengusaha, wanita Jawa, Tenaga
Kerja Wanita, wanita Papua, wanita Barat, wanita karir dsb. 
>  Wa Allohu 'aklam bi as showab  
>  Wassalam 
>  Abraham Ilyas 63 th. admin./webmaster www.nagari.org www.nagari.or.id 
>    
> 


      





      Terhubung langsung dengan banyak teman di blog dan situs pribadi Anda? 
Buat Pingbox terbaru Anda sekarang! http://id.messenger.yahoo.com/pingbox/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke