Tanyo ciek ka buya, apo ado forum nan mampatamukan LKAAM dengan Ulama awak 
untuak membahas permasalahan tentang REKONSTRUKSI ADAT?
 
Salam 
Defiyan Cori L/40

--- On Fri, 12/26/08, Riri Chaidir <[email protected]> wrote:

From: Riri Chaidir <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Re: Anak Gadis Mencari Jodoh
To: [email protected]
Date: Friday, December 26, 2008, 9:24 AM



Buya, 
 
Tarimokasih pencerahan nan ambo dapek dari Buya.
 
Jadi ado semacam pergeseran "gaya" perempuan. 
 
Nah, nan ambo ingin tau, apo reaksi kaum adat terhadap pergeseran ini. Jadi 
ambo "mengamini" statement Buya, mungkin LKAAM nan harusnyo menjawab. Tidak 
perlu di milis ini, tapi ambo berharap LKAAM tanggap terhadap berbagai praktek 
yang - setidak2nya untuak sebagian urang - menjadi pertanyaan, ini adat Minang 
atau bukan?
 
Riri
Bekasi, L 46
 


 
2008/12/24 Abraham Ilyas <[email protected]>



Dinda Riri dan Dunsanak ka sadonyo nan ambo hormati.
Untuk menjawab "Whats wrong"  ini ambo cubo jawab melalui kutipan dari buku 
 
Antologi Esai Sastra Bandingan dalam Sastra Indonesia Modern terbitan th. 2002 
oleh Pusat Bahasa, Depdiknas.
Untuak itu ambo scan 4 halaman dari karangan nan bajudul: "Profil Wanita di 
dalam Novel-Novel Indonesia Modern Warna Lokal Minangkabau Sebelum dan Sesudah 
Perang", yang ditulis oleh Hasanuddin W.S (hal. 117 – 132 dengan 16 buku 
rujukan/daftar pustaka).

Novel sebelum perang adalah, Sitti Nurbaya karangan Marah Rusli dan Salah 
Asuhan karangan Abdul Muis.
Novel sesudah perang adalah Kemarau karangan A.A. Navis dan Warisan karangan 
Karangan Chairul Harun. 
 
Karya Sastra sebagai Cermin Masyarakat (hal. 118)

Novel sebagai hasil cipta sastra, dari satu sisi dapat berfungsi sebagai cermin 
dari masyarakatnya. Novel dapat dianggap sebagai alat perekam kehidupan 
masyarakat pada suatu waktu, pada suatu tempat. 
Anggapan ini dapat dibenarkan karena sebagai karya sastra, sesungguhnya novel 
tidak hanya berlandaskan kepada imajinasi pengarang belaka. 
Imajinasi pengarang tidak mungkin berkembang jika pengarang tidak mempunyai 
pengetahuan yang baik tentang realitas objektif (semesta). 
Scholes (dalam 4 Junus, 1983: 1) mengungkapkan bahwa setiap kali orang 
berhadapan dengan suatu realitas, maka realitas tersebut akan mengundang orang 
untuk berimajinasi; dan orang tidak mungkin dapat berimajinasi tanpa memiliki 
pengetahuan tentang suatu realitas. 
Dengan demikian, karya sastra novel tidaklah sekadar merupakan hasil ekspresi 
pikiran dan perasaan pengarang belaka.
Tokoh Wanita dan Pandangan Hidup (hal. 122)
Wanita-wanita Minangkabau sebelum perang, menurut data yang diinventarisasi 
dari sampel penelitian, dideskripsikan sebagai wanita yang memiliki pandangan 
hidup yang berorientasi pada pencapaian nilai budaya ideal. Orientasi ini 
menurut Kluckhon (dalam Muhardi, 1984: 19) adalah pandangan hidup; yang 
memandang bahwa hidup hari ini buruk, sehingga berusaha untuk mewujudkan hidup 
itu menjadi lebih baik pada masa mendatang. Karena pandangannya ini, mereka 
kemudian berbuat, bertindak, untuk memperbaiki hidup yang dianggapnya tidak 
mengenakkan itu.
Keadaan yang paling mengungkung wanita Minangkabau pada saat itu sebagaimana 
didapatkan dari data sampel, adalah ketidakbebasan memilih pasangan hidup. 
Pandangan hidup wanita pada masa itu ternyata tidak sejalan dengan konvensi 
yang hidup ketika itu. Menurut konvensi pada waktu itu wanita yang dinilai baik 
adalah wanita yang patuh, menerima.
Tokoh Wanita dan Tanggung Jawab (hal. 126)
Dari sisi kemanusiaan, tokoh-tokoh wanita pada masa sesudah perang kelihatan 
lebih lugas. Tidak munafik dalam banyak hal, termasuk pengungkapan hal yang 
sebelumnya dianggap tabu, misalnya persoalan seksualitas. 
Dari sisi keagamaan, tindakan, sikap, dan perilaku mereka memberikan kesan 
bahwa mereka kurang bertanggung jawab.
Hubungan seksual sebelum menikah, menyeleweng dari suami, atau berkhianat pada 
kekasih bukan hal yang aneh bagi mereka. Tokoh-tokoh seperti Arneti, Maimunah, 
Farida, Sitti Baniar, dan lainnya merupakan wakil dari contoh yang dapat 
menunjang data tentang hal ini. Oleh sebab itu, jika mereka hamil di luar 
nikah, atau hal lainnya yang terjadi pada diri mereka, mereka tidak terlalu 
panik meminta pertanggung jawab pada diri mereka sendiri. 
Kesemua ini disebabkan oleh keadaan bahwa mereka lebih mengejar kesenangan 
sesaat dan yang lebih bersifat material.  
Tokoh Wanita dan Penderitaan (hal. 128)
Tokoh-tokoh wanita sesudah perang memperlihatkan bahwa diri mereka adalah 
wanita-wanita yang kurang tabah di dalam menjalani hambatan-hambatan hidupnya. 
Penderitaan bagi tokoh-tokoh wanita, merupakan sesuatu yang dianggap 
menyulitkan hidupnya. 
Jarang tokoh-tokoh wanita pada masa ini beranggapan bahwa penderitaan itu 
adalah cobaan yang harus dijalani secara tawakal dan tabah. Jika ada, itu hanya 
ucapan belaka, karena ketika mereka mengalaminya, tindakan mereka menunjukkan 
bahwa mereka tergolong orang yang tidak tabah dan tidak tawakal.
Ketidaktabahan para tokoh menghadapi penderitaan di dalam hidupnya, disebabkan 
oleh tidak tahannya mereka terhadap berbagai godaan di dalam hidup. 
Godaan-godaan cenderung tidak dapat dihindari oleh para tokoh. 
Para tokoh cepat hanyut dalam kesenangan keduniawian sehingga penderitaan yang 
dialami dirasakan sebagai sesuatu yang menyiksa.
Wanita-wanita Minangkabau sesudah perang ini selalu terlihat berusaha 
menghindari penderitaan. Jika tidak dapat dihindari, mereka berusaha melibatkan 
orang lain. Dengan ikut menderitanya orang lain, mereka merasakan 
penderitaannya akan berkurang, karena ada yang senasib dengannya. 
Jika mereka tetap harus mengalami penderitaan, mereka cenderung mudah frustrasi 
dan putus asa. 
Cara apapun akan mereka cari untuk lepas dari penderitaan itu, termasuk jalan 
pintas. 
Risiko yang bakal muncul menjadi perhitungan kedua.
Catatan ambo :
Tahu di diri salah satu elemen dari tahu di nan Ampek (ref: 
http://www.nanampek.nagari.org/c11.html)

Para sastrawan telah membedah diri perempuan-wanita Minang sebelum dan sesudah 
perang. 
Iko pandapek ambo pribadi, profil nan dicaritokan oleh novel-novel sebelum 
perang itu adalah perempuan-perempuan Minangkabau, sedangkan nan sesudah perang 
ialah wanita Indonesia nan mengaku sebagai orang Minang, termasuk yang beriklan 
mencari laki di Kompas Minggu. 

Apakah pengakuannya di Kompas itu, bahwa dirinya sebagai orang Minangkabau akan 
kita terima saja ?, 
mungkin yang lebih mampu menjawabnya adalah mamak kito mamak LKAAM ! 

Atau sarupo nan ambo lakukan pribadi (tangguang jawab pribadi) mangirim email 
ka biro jodoh korantu untuak indak manulihkan identitas suku Minangkabau untuak 
anggota-anggotanya nan maminta. Mudah-mudahan disetujui oleh pengsuh. 
 
Kok disebut sebagai perempuan tentulah kita perlu mengacungkan empujari atau 
jempol kepadanya; suatu bahasa tubuh yang dipahami oleh semua manusia. 

Kemampuan serta keterampilan mereka setara dengan kemampuan empu Gandring, mpu 
Sindok, mpu Tantular dst. 
cuma bidang kerjanya saja yang berbeda.
Bicara tentang kata wanita, bermacam-macam kata sambungannya yang bisa 
digandengkan seperti, 
wanita pekerja ..., wanita pengusaha, wanita Jawa, Tenaga Kerja Wanita, wanita 
Papua, wanita Barat, wanita karir dsb.
Wa Allohu 'aklam bi as showab  
Wassalam
Abraham Ilyas 63 th.
admin./webmaster
www.nagari.org 
www.nagari.or.id



 




      
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke