Nanda Rina dan para sanak sa palanta, Kebetulan disertasi saya (UGM, 1996) mencakup juga era PRRI ini. Saya memang banyak mendengar kisah-kisah tragis dalam kurun antara tahun 1958-1961 tersebut, yang sebagiannya secara umum saya kutip dalam disertasi saya tersebut. Bagaimanapun, era PRRI adalah era yang mungkin paling traumatik bagi orang Minang dan masyarakat Sumatera Barat setelah kemerdekaan, yang tidak menyangka bahwa Negara serta Angkatan Perang yang ikut didirikan mampu melakukan kekejaman terhadap mereka, walaupun jangan dilupakan peranan PKI dalam batang tubuh Kodam III/17 Agustus. Dalam hubungan ini saya mrasa senang sewaktu mengatahui bahwa dalam tahun-tahun terakhir ini sudah ada langkah-langkah untuk mengungkap peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kurun tersebut, walau secara sporadis saja, antara lain terbitnya buku Suwardi Idris (almarhum), ditayangkannya diskusi mengenai sejarah PRRI di TVRI Padang, dibahasnya masalah PRRI di The Habibie Center [kebetulan saya diminta menjadi salah seorang pembicara bersama Kol Pur Ventje Sumual dan Dr Indria Samego], di-'posting'-nya cerbung [=cerita bersambung] Sanak Sutan Lembang Alam, dan paling akhir dimuatnya di RN ini rangkaian kenangan pribadi Mayjen Pol Pur Jacky Mardono yang menjadi Kapolres Pasaman dan Padang Pariaman pada waktu itu. Semuanya itu jelas halal. Secara pribadi saya berpendapat bahwa memang adalah halal-halal saja jika Nanda atau para sanak yang lain ingin mengisahkan kehilangan sanak saudara dalam kurun tersebut. Format ungkapannya dapat dikemas sesuai kaidah yang tercantum Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) dan dalam Undang-undang Nomor 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia, yaitu dengan mencantumkan secara jelas data, fakta, dan informasi yang akurat.. Bukan musathil ini dapat menjadi bahan penelitian sejarah yang menarik bagi para dosen dan mahasiswa Fakultas Sastra Unand.
Wassalam, Saafroedin Bahar (L, masuk 72 th, Jakarta) Alternate e-mail address: [email protected]; [email protected] --- On Thu, 1/22/09, rit rina <[email protected]> wrote: From: rit rina <[email protected]> Subject: Bls: [...@ntau-net] SERI NAN DI LUA TAMPURUANG 43: KEJAHATAN PERANG BELANDA DI RAWAGEDE, BEKASI, 1947 To: [email protected] Date: Thursday, January 22, 2009, 3:15 PM Waalaikum salam warahmatullahi wabarakaatuh, Pak Tuo Saafroedin Bahar, Memang terkadang memilukan kisah2 rakyat badarai ini ya Pak Tuo. Sewaktu masih kecil ketika nenek saya masih hidup, sering kali bercerita tentang menantunya yang dibawa kabur oleh Tentara Soekarno, sewaktu perang PRRI Sekitar tahun 1960 suami beliau ini harus melapor ke kantor Kodim di Bukittinggi yang dulunya bernama Batalyon Lapangan Kantin BUkittinggi. Nah, ketika hari itu harus melapor, suami beliau ini lagi sakit jadi digantikan oleh beliau untuk melapor ke Kantor Batalyon ini. Nenek saya mengantarkan berdiri menunggu di luar kantor, namun sampai siang belum juga menantunya ini keluar2 dari kantor tersebut. Ditanya2 ke tentara yang ada disitu, mereka bilang Ibuk Mardiana (nama beliau) sudah keluar dari tadi, padahal nenek tak beranjak dari pintu masuk kantor sebab takut terjadi apa2 sama menantunya itu.. Nenek terus bertanya tanya ke semua tentara yang ada di depan kantor itu, mereka bilang si Ibuk yang melapor sudah pergi. Padahal anaknya yang masih balita masih dipangkuan nenek. Akhirnya nenek pulang dengan hati remuk dan mengabarkan ke semua sanak famili. Beberapa waktu setelah itu, keluarga tetap melakukan pengecekan dan pencarian namun sampai tentara Soekarno pergi dari Bukittinggi dan bahkan sampai sekarang Ibu Mardiana ini tidak diketemukan lagi. Anak beliau satu2nya sekarang ini bekerja jadi perawat di Rumah sakit Payakumbuh. Menurut perkiraan saya, jika betul2 di selidiki dan dilacak, barangkali InsyaALLAH bisa diketemukan, namun rakyat badarai yang ketakutan.. apalah daya.... Menurut cerita nenek, Ibuk Mardiana ini adalah yang paling manis di kampung kami dan cerita ini saya dapatkan juga dari beberapa orang tua dikampung kecil kami di Tilatang Kamang desa Kaluang Tapi Bukittinggi sana. JIka masih hidup umur beliau sekarang sama dengan Pak Tuo Saaf. Wassalam Rina,32, batam Dari: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> Kepada: Rantau NET [email protected] ---dipotong ---- --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ =============================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned: - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama - DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner =============================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe =============================================================== -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
