Assalaamu'alaikum wa rahmatullahi wa barakaatuhu

Pangalaman pribadi sabanano jo rokok.

Wassalamu'alaikum

Lembang Alam

*ROKOK*

* *

Empat puluh tahun lebih yang lalu, ketika menginjak remaja, masa pancaroba
itu menggiringku kepada sebuah kebiasaan tidak elok. Kebiasaan merokok.
Dimulai dengan satu dua sedotan (*sairuik duo iruik*) sebagai jawaban untuk
rasa ingin tahu dan ingin coba-coba. Dilakukan bersama kawan-kawan seumur,
yang sama-sama *mantiko langek*. Diawali dengan terbatuk-batuk sampai hampir
muntah. Tapi hebatnya, entah karena pengaruh teman, entah memang sudah
berjodoh akhirnya sampai kecanduan. Aku mulai kecanduan rokok ketika masih
sangat belia, berumur 14 – 15 tahun di tahun 1965. Ternyata merokok itu *
nikmat*. Merokok yang paling nikmat adalah sesudah makan dan... di kakus,
ketika buang hajat. Nikmat nian.



Tentu saja aku tidak dibiarkan bebas begitu saja untuk merokok kalau di
rumah. Ibu pasti akan sangat marah ketika beliau tahu aku mencoba-coba
merokok. Jadi semua urusan merokok itu harus dilakukan di luar rumah. Tidak
dilakukan dekat orang tua yang pasti akan melarang atau yang pasti akan
melaporkan kepada ibuku. Itu pada awal-awalnya.



Merokok di hadapan orang dewasa kami lakukan di arena *mengirik* padi di
sawah. Di lingkungan seperti itu kami seolah-olah mendapat izin, alias tidak
ada yang melarang. Bahkan ada di antara *mak etek – mak etek* itu yang
sengaja menawari kami rokok, sementara *mak dang *dan* mak
tangah*mendiamkan saja. Kamipun berkepas-kepus menikmati asap nikotin
itu. Aku
berani menyedot asap itu dalam-dalam, sebelum menyemburkannya melalui
hidung. Wuih, hebatnya.



Tapi, disanalah candu itu mulai mencengkeram.



Ketika sudah kecanduan, tentu harus membeli rokok. Tidak mungkin
mengharapkan pemberian orang terus menerus. Dari mana aku dapat uang?
Adatiga macam sumber uang untuk pembeli rokok. Pertama dari menjual
telor ayam.
Aku mempunyai beberapa ekor ayam, yang memang dilabel sebagai ayam milikku
sendiri, di antaranya keturunan ayam  hadiah ketika berkhatam Quran beberapa
tahun sebelumnya. Ibuku memang membiarkan saja ketika aku menjual
telor-telor itu untuk uang jajan. Sayangnya, ayam kampung bukanlah petelur
yang produktif.



Sumber uang kedua adalah dari hasil *menganak* ikan. Menahankan puluhan
pancing di batang air di sore hari lalu di ambil di pagi hari. Hal ini hanya
mungkin dilakukan di akhir pekan. Hasilnya kadang-kadang lumayan. Sejerat
ikan limbek dan belut yang dihasilkan bisa bernilai beberapa bungkus rokok.
Yang ketiga sedikit *nyerempet* berbohong. Yaitu memancing ikan di tebat di
belakang rumah. Ada mak tuoku di sebelah rumah yang sering menyuruh kami,
aku dan adik-adikku, memancing ikan. Hasil pancingan selalu beliau bagi dua.
Separo untuk yang memancing dan separo untuk beliau. Memancing ini boleh
dilakukan kapan saja. Bahagian beliau biasanya dikeringkan dengan dijemur.
Ikan kering itu bisa beliau hadiahkan kepada anak-anak beliau ketika mereka
pulang kampung. Ikan bahagianku, aku bagi dua. Separonya pula aku serahkan
ke ibu dan separo yang lain aku jual diam-diam. Selalu saja ada etek-etek
yang tidak punya tebat bersedia membelinya.



Jadi aku cukup aman untuk bisa membeli rokok sendiri.  Dimulai dengan
membeli sebatang-sebatang. Meningkat menjadi lima batang-lima batang dan
seterusnya. Kehebatanku merokok semakin tidak terbendung. Meskipun
berkali-kali aku dimarahi ibuku, yang sering menemukan remah-remah tembakau
di kantong bajuku. Sampai akhirnya, sepertinya beliau capek sendiri
memarahiku. Apalagi ada seorang inyiak yang menawariku rokok di hadapan
beliau, seolah-olah memberikan pembelaan kepadaku untuk terus merokok.
Jadilah aku secara resmi diakui saja sebagai perokok dan aku mulai berani
merokok di rumah.



Waktu ujian akhir SMP, aku berbekal sebungkus rokok yang disembunyikan
hati-hati sekali. Di sekolahpun banyak teman-teman yang sudah kecanduan
rokok. Di saat istirahat di antara dua ujian, kami menyepi ke parak betung  di
belakang sekolah untuk menghisap.



Setelah tamat SMP aku dibawa kakak sepupuku merantau ke Rumbai untuk
melanjutkan sekolah disana. Kakakku ini bukan perokok  dan sangat benci
dengan asap rokok. Aku terpaksa berhenti merokok untuk beberapa hari. Tapi
di sekolah, ternyata ada pula kawan-kawan yang pecandu rokok. Mereka merokok
di pemberhentian bus di luar pekarangan sekolah. Aku bisa merokok lagi.
Seringkali kakak sepupuku itu menanyai apakah aku tadi merokok karena
katanya badanku bau rokok. Aku berbohong dengan mengatakan bahwa aku duduk
dekat orang merokok di bus panjang yang aku tompangi dari Rumbai ke Pakan
Baru. Biar tidak seleluasa di kampung, aku tetap bisa merokok secara
sembunyi-sembunyi.



Lama kelamaan kakakku itu tahu juga bahwa aku tetap merokok. Dia selalu
menasihatiku untuk berhenti. Tapi berhenti merokok itu sudah semakin sulit.



Begitulah seterusnya sampai aku kuliah di Bandung. Di ruang kuliah kami
biasa merokok dan hal itu sah secara resmi. Seingatku tidak ada satupun
dosen yang melarang kami merokok. Begitulah sampai aku bekerja. Aku tetap
seorang perokok kelas menengah. Aku menghabiskan satu slof rokok putih dalam
seminggu.



Pencandu rokok sangat bebas dan merdeka ketika itu. Kita bisa merokok dimana
saja dan kapan saja. Di pesawat, di kendaraan umum seperti bus atau kereta
api, di kantor-kantor, di hotel-hotel. Ada temanku yang mengoleksi asbak
dari berbagai hotel berbintang. Di dalam bus Jakarta – Bandung, di bulan
puasa, ketika masih belum masuk waktu maghrib tidak ada orang yang merokok.
Tapi begitu datang waktu berbuka banyak penumpang yang berbuka  dengan
menyalakan sebatang rokok. Termasuk aku.



Di kantorku di Balikpapan, seorang teman menghadiahiku sebuah asbak besar.
Bukan karena sinis, tapi karena solidaritas sesama pecandu rokok. Sekarang
orang mengatakan dilarang merokok di ruangan ber AC. Dulu kami mengomentari
larangan seperti itu sebagai *takhyul*. Tidak ada bukti apa-apa bahwa
merokok di ruangan ber AC merusak AC.



Rokok merek apa yang aku hisap? Mula-mula berkenalan dengan rokok di
kampung, aku menghisap rokok Kansas. Ketika kuliah di Bandung aku beralih ke
Commodore berfilter. Kemudian beralih ke Mascot. Terakhir beralih ke
Dunhill.



Kenapa beralih atau berganti rokok? Di Bandung rokok Kansas tidak populer.
Seringkali aku mendapatkan bahwa rokok itu sudah usang. Asapnya terasa
tengik dan menyakitkan hidung. Commodore lebih populer dan kebanyakan
teman-teman mahasiswa pecandu rokok menghisapnya. Aku mulai familiar dan
akhirnya menyukai merek itu.



Selama pengalamanku merokok, ada masa-masanya, rokok itu usang semuanya.
Dimanapun aku membelinya rokok itu tidak enak rasanya. Hal ini sangat
menjengkelkan. Dan mubazir. Karena rokok yang tidak enak itu, baru dihisap
satu dua kali tarikan langsung menimbulkan rasa tidak enak sehingga langsung
dibuang. Kalau sudah begitu, aku beralih ke rokok keretek untuk sementara.
Meskipun aku sebenarnya tidak terlalu menyukai rokok keretek. Setelah
berlalu beberapa hari atau kadang-kadang beberapa minggu aku coba kembali
merek sebelumnya. Ternyata sudah kembali yang baik, yang tidak apak, yang
tidak usang.



Suatu ketika rokok Commodore usang itu hadir berulang-ulang. Hal ini jelas
sangat menjengkelkan. Itulah sebabnya aku beralih ke Mascot.  Ketika aku
ditugaskan ke Perancis pertama kali untuk beberapa bulan aku membawa bekal
beberapa slof rokok Mascot. Tentu tidak mencukupi untuk waktu lama. Lalu aku
pindah ke merek Dunhill. Hal itu terjadi di tahun 1983.



Aku jadi penghisap Dunhill sampai tahun 1988 ketika aku untuk kedua kalinya
berada di Perancis selama dua tahun. Lalu terjadi pula fenomena rokok usang.
Dimanapun aku beli, semua rokok Dunhill itu usang dan apak. Setiap kotak
yang dibuka, baru satu batang dicoba sudah ketahuan bahwa rokok itu tidak
enak. Bungkus itu langsung dibuang. Beli lagi yang baru. Begitu lagi. Di
buang lagi.



Di Perancis tidak ada rokok keretek untuk transisi (setiap kali mengalami
beredar rokok usang, aku pindah sementara ke keretek Dji Sam Sue). Aku
uring-uringan. Tiba-tiba tercetus keinginan untuk berhenti merokok.



Istriku mentertawakan karena dia tidak percaya aku akan sanggup berhenti
merokok. Banyak sekali orang yang sudah menasihatiku untuk berhenti merokok,
tidak seorangpun yang berhasil. Lalu sekarang aku akan berhenti? Dia tidak
sedikitpun percaya.



Sepertinya aku tidak punya pilihan. Berhari-hari aku mencoba membeli rokok
dan ternyata tetap busuk. Tetap rokok usang yang menyengit menyakitkan
hidung. Sampai akhirnya aku berhenti mencobanya.



Berhenti sehari. Dua hari. Sampai seminggu. Bukan sesuatu yang mudah dan
enteng. Aku sangat uring-uringan. Tapi mau mencoba lagi, khawatir karena
sepertinya akan mendapatkan rokok tengik lagi. Jadinya tidak jadi membeli.
Akhirnya sampai sebulan, tanpa rokok. Wah, kok terasa enak juga? Paling
tidak bau rumah tidak lagi bau rokok. Bau baju tidak lagi bau rokok. Bau
mulut tidak lagi pahit bau rokok. Berhenti itupun berketerusan. Sampai dua
bulan. Sampai tiga bulan. Aku hanya ingat Agustus 1988 adalah saat terakhir
aku menghisap rokok.



Dan aku mewanti-wanti diriku. Sekali saja aku mencoba lagi sebatang rokok,
candu itu pasti kembali. Jadi aku benar-benar tidak mau lagi menyentuh
rokok. Sampai sekarang. Meskipun sampai sekarang, ketika mencium asap rokok
Dunhill yang enak aku masih bisa mengenalinya. Itu dulu rokokku. Tapi tetap
tidak mau mencobanya lagi. Ingat! Kataku kepada diriku. Sebatang saja kau
coba kau akan ketagihan lagi.



Ternyata indah sekali terbebas dari kecanduan rokok. Ternyata sungguh zalim
ketika dulu aku seorang perokok. Di dalam mobil berlima dengan anak-anakku
yang masih kanak-kanak, aku tetap merokok dan merasa sudah cukup memberi
perhatian untuk istri dan anak-anakku dengan sedikit membuka jendela mobil.
Di kamar hotel ketika kami berlibur bersama-sama, ruangan kamar itu berawan
oleh asap rokokku. Mereka jadi korban sebagai perokok pasif.



Dan aku menzalimi diriku sendiri di bulan puasa. Berhenti merokok di siang
hari lalu membalas dendam dengan merokok sebanyak-banyaknya di malam hari.
Berbuka puasa dengan sebatang rokok. Memulai puasa di akhir sebatang rokok.
Terkantuk-kantuk berlebihan di siang hari karena tidak merokok.
Berkepul-kepul ketika mendengar ceramah Ramadhan. Rokok, rokok, rokok. Tiada
masa tanpa rokok.



Aku benar-benar bersyukur karena terlepas dari belenggu rokok.






*****

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke