Uda uni, niniak mamak, cadiak pandai nan ambo hormati.
Kalau manuruik ambo adaik kito nan ado ndak lakang dipaneh ndak lapuak di
hujan, ado juo paraluno kito palajari basamo ba mulo asa muasa adaik
maatua, walaupun kito ndak barado dimaso adaik batetapan, saketek banyak
no ado samar-samar dalam manantuan adaik nan patuik dibarui atau tidak, tu
nan patamo.
Adopun jo pandapek nan kaduo ambo satuju pulo, sajauah masih sara' mangato
ndak do salah jikok ka adaik dipakaikan.

Ambo hijau dikomuditas ko baru pak,mak,uda,uni. Jikok ado salah jo jangga
nan ambo sampaikan, tolong ajaan ambo, sambah sarato maaf ambo aturkan.
Wasalam,

Fadhil
(L,24,Riau, Duri, Tarusan kamang mudiak, Agam)

On 3/24/09, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]> wrote:
>
>   Sanak R.A dan para sanak sapalanta,
> Jika Sanak memperhatikan keseluruhan dinamika wacana mengenai adat -- atau
> lebih persisnya mengenai ABS SBK -- maka Sanak akan berkesimpulan bahwa
> tidak ada yang akan merubah adat itu.
> Yang ada adalah permintaan agar pengertiannya lebih dijernihkan, dan
> kelembagaannya ditata serta diaktualisasikan sesuai dengan kebutuhan zaman
> kita sekarang.
> Permintaan in juga sesuai sepenuhnya dengan kesepakatan bahwa ad empat
> jenis adat [adat nan sabana adat;adat nan teradat; adat nan diadatkan; dan
> adat istiadat], dan bahwa adat itu sendiri menyediakan tempat bagi
> perubahan, bagi dinamika.
> Gagasan saya mengenai 'Ranji ABS SBK' tersebut juga sesuai sepenuhnya
> dengan ajaran adat, khususnya yang sudah diresapi oleh ajaran agama Islam.
> Itulah sebabnya saya merujuk kepada fatwa Buya Masoed Abidin dari MUI
> Sumbar.
> Memang, mengenai perubahan ini terlihat ada dua 'schools of thought', yaitu
> yang berpendapat bahwa adat yang  sekarang ini sudah baik, dan yang
> berpendapat bahwa sudah saatnya untuk diperbaharui, karena Minangkabau itu
> -- suka atau tidak suka -- sudah, sedang, dan akan terus berubah
> Saya menghormati pendapat kelompok pertama, namun saya termasuk kelompok
> kedua.
> Latar belakang perjuangan saya untuk adanya apa yang saya sebut sekarang
> ini sebagai 'Ranji ABS SBK' terdapat dalam buku yang saya tulis bersama
> Ir Moh.Zulfan Tadjoeddin, 2004, "Masih Ada Harapan: Posisi Sebuah Etnik
> Minoritas dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara." Jika sanak berminat,
> dengan senang hati saya bersedia memberi Sanak satu copy. Kebetulan masih
> ada persediaan di rumah.
>
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
> (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang
> Dalam, Pariaman.)
> "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak"
> Alternate e-mail address: [email protected];
>  [email protected]
>
>
>
>
>
>  ------------------------------
> *From:* "[email protected]" <[email protected]>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Tuesday, March 24, 2009 9:10:34 AM
> *Subject:* [...@ntau-net] MERUBAH ADAT ISTIADAT (Kasus "Punah")
>
> Dear Pak Saaf dan Dunsanak Yang Mulia,
>
> 1. Membaca tulisan Bpk ttg usulan merubah adat (sesuai saran Buya HMA spt
> Bpk tulis di bawah) ....mhn ijinkan saya bertanya apakah kita memang akan
> mampu utk merubah ADAT ISTIADAT Minangkabau?
>
> 2. Jika mampu, ....apakah sudah cukup pengetahuan dan pemahaman kita semua
> ttg segala detail adat istiadat, ...ttg latarbelakang DIBUAT dan DISEPAKATI
> nya dulu adat istiadat tersebut oleh nenek moyang kita....dan tentang apa
> saja yg harus dirubah ....serta tentang apa keterkaitan dan konsekuensi jika
> ada satu saja elemen adat istiadat yg kita ubah. Baik konsekuensi atas
> konstelasi adat secara partial, secara keseluruhan, dlm jangka pendek hingga
> jangka panjang.
>
> 3. Secara sepintas,....memang sepertinya "banyak" cerita yg mempertetangkan
> antara adat dgn agama di Ranah Minang,.....tapi jika ditelusuri maka rasanya
> barangkali kita akan terkesan TERGOPOH-GOPOH jika hendak "membalikan gunung"
> yg telah diijinkan ALLAH untuk menjulang dan dijulangkan untuk menopang alam
> jagad raya ini.
>
> 4. Saya sangat yakin bahwa nenek moyang kita (Ranah Minang) tidak sia-sia
> menegakan dan menyepakati adat istiadat yg telah diturunkan pada kita tsb
> secara bersama. Meskipun saat itu ISLAM belum masuk ke sana, .....tapi saya
> sangat yakin bahwa mereka telah di beri PETUNJUK, TUNTUNAN dan IJIN oleh
> ALLAH utk membangun adat istiadat Minang tsb bagi kepentingan anak cucunya
> utk kurun waktu yg SANGAT PANJANG....dan dalam segala aspek kehidupan.
>
> 5. Secara pribadi, nasib telah membawa saya meninggalkan Ranah Minang lebih
> dari 35 tahun,.......dan langkah telah membawa saya melihat, membaca,
> mendengar dan merasakan air banyak negeri orang. Atas perjalanan nasib itu,
> .....meskipun bukan sejarahwan atau budayawan)..... saya menemukan (dan
> yakin serta bahagia) bahwa ADAT ISTIADAT MINANG adalah TERBAIK dari semua
> adat istiadat yg ada pada abad milenium ini.
>
> 6. Pertanyaan dan perspektif tsb saya cuatkan bukan utk "malintang" ataupun
> "manantang matoari",.....tapi sebagai usaha saya utk belajar agar bisa tetap
> berdiri teguh dlm menghadapi "jaman edan" ini. Mohon maaf kalau ada pilhan
> kata atau kalimat yg tidak tepat.
>
> Salam,
> r.a.
>
>
>
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>
> ------------------------------
> *From*: "Dr.Saafroedin BAHAR"
> *Date*: Mon, 23 Mar 2009 17:10:46 -0700 (PDT)
> *To*: <[email protected]>
> *Subject*: Re: Bls: [...@ntau-net] Re: Penemu Naskah Undang-Undang Zaman
> Adityawarman --- PERLU KITA UNDANG
>
>  Sanak Suryadi,
> Nanti malam saya akan berjumpa dengan beberapa teman di Jakarta. Akan saya
> tanyakan bagaimana pendapat beliau-beliau.
> Bagi saya sendiri, ada dua hal yang amat menggembirakan saya tentang
> Minangkabau saat ini, yaitu: 1) dengan terbitnya berbagai buku sejarah
> tentang Minangkabau -- khususnya tentang Gerakan Paderi oleh Christine
> Dobbin yang dibedah di Padang bulan Oktober yang lalu -- sudah semakin
> lengkap pengetahuan kita tentang Minangkabau, khususnya tentang hubungan
> antara dua sumber norma kebudayaan Minangkabau: adat dan Islam; 2)   adanya
> sikap keterbukaan untuk menggali lebih lanjut tentang apa sesungguhnya
> hakikat  dan identitas keminangkabauan, yang dirumuskan dalam ABS SBK.
> Bagi diri saya sendiri, mulai diterimanya konsep 'Ranji ABS SBK', yang
> sekaligus mencatat garis keturunan dari fihak ibu dan bapak, sesuai dengan
> fatwa Buya Masoed Abidin, sungguh merupakan langkah historis yang teramat
> besar, bukan hanya secara pribadi dengan akan hilangnya konsep 'punah' yang
> merupakan trauma bagi  Ayah saya; tetapi juga secara kolektif yang akan
> memungkinkan disatukannya seluruh orang Minangkabau sejak dari tatanannya
> yang paling dasar
> Suatu tantangan yang masih harus dijawab oleh seluruh sejarawan Minang
> adalah menuliskan buku sejarah Minangkabau yang lebih komprehensif, yang
> tidak hanya mengulas tentang demikian banyak nagari yang tidak punya
> suprastruktur itu, tetapi juga tentang berbagai kerajaan tradisional, yang
> salah satu bukti sejarahnya diungkapkan oleh penelitian Uli Kozok sekarang
> ini.
> Sekedar informasi, beberapa waktu yang lalu, secara pribadi saya telah
> menganjurkan kepada para sahabat di Fakultas Sastra Universitas Andalas,
> Padang, untuk memulai penulisan sejarah Minangkabau yang komprehensif
> tersebagai bagian dari kegiatan penelitian yang standar. Rasanya saran saya
> ini mendapat perhatian beliau-beliau, walaupun tentunya jika didukung oleh
> suatu program dan anggaran khusus akan memeprcepat selesainya penulis
> sejarah tersebut.
>
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
> (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang
> Dalam, Pariaman.)
> "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak"
> Alternate e-mail address: [email protected];
>  [email protected]
>
>
>
>
>
>  ------------------------------
> *From:* Lies Suryadi <[email protected]>
> *To:* [email protected]
> *Sent:* Tuesday, March 24, 2009 1:52:10 AM
> *Subject:* Bls: [...@ntau-net] Re: Penemu Naskah Undang-Undang Zaman
> Adityawarman --- PERLU KITA UNDANG
>
>
> Pak Saaf dan dunsanak di lapau sadonyo:
>
> Alamat email Uli Kozok sbb: Uli  Kozok"<[email protected]>.
> Saat ini dia menjadi dosen studi Indonesia di Hawaii University. Kozok
> sedang mengerjakan proyek digitalisasi naskah2 Kerinci dengan sumber dana
> yang sama dengan yang saya lakukan di Buton (Yayasan Arcadia, the British
> Library). Jika ingin mengundangnya mungkin bagus kalau dia lagi berada di
> lapangan di Kerinci. Buku Uli Kozok tentang Naskah Undang2 Tanjung Tanah
> sudah diterbitkan Yayasan Obor Jakarta (2006).
>
> Semoga informasi ini bermanfaat.
>
> Wassalam,
> Suryadi
>
> --- Pada *Sen, 23/3/09, Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]>*menulis:
>
>
>
> Dari: Dr.Saafroedin BAHAR <[email protected]>
> Topik: [...@ntau-net] Re: Penemu Naskah Undang-Undang Zaman Adityawarman ---
> PERLU KITA UNDANG
> Kepada: [email protected]
> Tanggal: Senin, 23 Maret, 2009, 8:30 PM
>
>   Assalamualaikum w.w. para sanak sa palanta,
> Secara pribadi saya merasa Bung Uli Kozok ini perlu kita undang, baik untuk
> mendengarkan cermahnya maupun untuk kita tanyai mengenai hal-hal yang masih
> gelap mengenai sejarah Minangkabau kuno.
> Bagaimana pendapat sanak ?
>
> Wassalam,
> Saafroedin Bahar
> (L, masuk 72 th, Jakarta; Tanjuang, Soetan Madjolelo; Lagan, Kampuang
> Dalam, Pariaman..)
> "Basuku ka Ibu; banasab ka Bapak; basako ka Mamak"
> Alternate e-mail address: 
> [email protected]<http://id.mc760.mail.yahoo..com/mc/[email protected]>
> ;
>  
> [email protected]<http://id..mc760.mail.yahoo.com/mc/[email protected]>
>
>
>
>
>
>  ------------------------------
> *From:* ardian hamdani <[email protected]>
> *To:* forahmi forahmi <[email protected]>; rantau net <
> [email protected]>
> *Sent:* Monday, March 23, 2009 10:54:55 AM
> *Subject:* [...@ntau-net] Penemu Naskah Undang-Undang Zaman Adityawarman
>
>  Berikut terlampir kutipan bagus tentang budaya kita..
> mudah2 an berguna atau kita ulang membacanya..
>
> salam
>
> DanY
>
>
>
>
>  Uli Kozok:
> Penemu Naskah Undang-Undang Zaman Adityawarman
>
>
> *Oleh: Syofiardi Bachyul Jb/Padang**Kini.com*
>
>
> ULI Kozok, doktor filologi asal Jerman, telah mengejutkan dunia penelitian
> bahasa dan sejarah kuno Indonesia. Lewat temuan sebuah naskah Malayu kuno di
> Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi yang ia lihat pertama kali di tangan
> penduduk pada 2002, ia membantah sejumlah pendapat yang telah menjadi
> pengetahuan umum selama ini.
>
> Pendapat pertama, selama ini orang beranggapan naskah Malayu hanya ada
> setelah era Islam dan tidak ada tradisi naskah Malayu pra-Islam. Artinya,
> dunia tulis-baca orang Malayu diidentikkan dengan masuknya agama Islam di
> nusantara yang dimulai pada abad ke-14.
>
> "
>
>
>
> ------------------------------
> Mencari semua teman di Yahoo! Messenger?
> <http://sg.rd.yahoo.com/id/messenger/trueswitch/mailtagline/*http://id.messenger..yahoo.com/invite/>
> Undang teman dari Hotmail, Gmail ke Yahoo! Messenger dengan mudah sekarang
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> >
>
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
=============================================================== 
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi di setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
=============================================================== 
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Daftarkan email anda yg terdaftar disini pada Google Account di: 
https://www.google.com/accounts/NewAccount?hl=id
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
===============================================================
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke