Assalamualaikum ww
 
(lanjutan)
 
Setelah runtuhnya Dinasti Ummayah dan ketika Bagdad yang Abbasiyah itu 
disibuk-kan dengan Romantisme Negeri Seribu Satu Malam, dibelahan utara benua 
Afrika muncul sebuah Kerajaan Islam yang kuat kemudian kita kenal sebagai 
Dinasti Fatimiyah Mesir yang berfaham Syi’ah (976-1168M)
 
Kesultanan Fatimiyah Mesir ini mengambil alih peran lalu lintas maritim dan 
monopoli perdagangan rempah serta da’wah Islamiyah aliran Syi’ah kekawasan Timur
 
Usaha2 tersebut berhasil tidak lama kemudian dengan berdirinya cabang dan 
markaz da’wah aliran Syi’ah seperti kesultanan Samudera Pasai Aceh, Kesultanan 
Bandar Khalifah, Kesultanan Barumun, Kesultanan Kuntu Kampar Minangkabau Timur 
dan Kesultanan Muar di Semenajung Tanah Melayu (Malaysia) bahkan Angkatan Laut 
Dinasti Fatimiyah Mersir ini juga merebut daerah Gujarat India yang strategis 
itu 
 
Sebagaimana kita maklumi bahwa walau berfaham Syi’ah namun sejarah mencatat 
bahwa Kerajaan Islam pertama di Nusantara ini adalah Kerajaan Samudera Pasai 
Aceh adanya  
 
Perubahan peta politik Kerajaan Samudera Pasai di-utara tentu saja membuat 
gusar penguasa2 di-selatan pulau Perca ini terutama menyangkut monopoli dan 
lumbung penghasil rempah
 
Peta penghasil rempah Minangkabau timur sejak dari timur gunung Merapi hingga 
daerah Muara Takus Minanga Tamwan dan Kuntu Kampar berada dibawah pengaruh para 
saudagar Islam Syi’ah Pasai sementara lumbung rempah daerah Sungai Dareh 
sekitarnya dikuasai ber-ganti2 antara Kerajaan Melayu Jambi dan Damarsraya 
Sijunjung yang masih Hindu Budha
 
Pertengahan 1168 Dinasti Fatimiyah Mesir yang Syi’ah ini ditumbangkan oleh 
Sultan Salahudin dari Dinasti Al Ayyubi yang bermahzab Sjafi’i namun pengaruh 
aliran Syi’ah di Sumatera bagian utara cukup lama bertahan walau akhirnya 
hilang juga namun pengaruhnya masih terasa pada anak negeri ini terutama 
perayaan Tabuik di Pariaman (di Bengkulu Tabot) dan tentu saja yang sangat 
kontroversial adalah Tambo Minangkabau yang katanya tenggelam kedalam 98% mitos 
itu
 
(to be continued)
wasalam abpbandaro -57

--- On Thu, 30/4/09, Arman Bahar <[email protected]> wrote:

From: Arman Bahar <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Minangkabau Kuno cont'd
To: [email protected]
Date: Thursday, 30 April, 2009, 11:07 AM








Assalamualaikum ww 
  
(Sambuangan) 
  
Dikurun yang sama armada2 dagang Islam Dimasa pemerintahan Dinasti Umayyah juga 
membawa misi da’wah ke Timur terutama Bandar Barus Pesisir Barat, Bandar Muara 
Sabak Jambi Pesisir Timur dan Muara Takus Minanga Kamwar Pedalaman Sumatera 
bahkan juga sampai Kerajaan Kalingga Jepara Jawa Tengah hingga tidak heran bila 
Da’wah Agama Islam semakin meluas di Nusantara ini bahkan tercatat Sri 
Indrawarman (718M) sang Maharaja Sriwijaya Jambi dan Ratu Shima (726M) sang 
Maharani Kerajaan Kalingga di Jepara Jawa Tengah tertarik masuk Islam 
  
Melihat perkembangan yang tidak menguntungkan ini menyusul semakin merosotnya 
volume perdagangan Canton China Kaisar Dynasti Tang yang Sekte Budha Mahayana 
ini merencanakan pemblokiran jalur pelayaran armada dagang Arab ini  
  
Diawali dengan pengiriman mata2 dan Bikshu Budha Mahayana untuk mempengaruhi 
rakyat Sriwijaya yang menganut Sekte Hinayana hingga terjadi dualisme penganut 
Budha selanjutnya Kaisar Tang tahun 720M mengerahkan pasukannya dan dibantu 
penduduk yang telah pindah ke Sekte Mahayana menyerang Istana Sriwijaya Muara 
Sabak Jambi hingga Raja Sri Inderawarman yang telah masuk Islam itu Syahid 
  
Petinggi Budha Mahayana dan Panglima Pasukan Dinasti Tang memindahkan pusat 
Kerajaan Sriwijaya dari Muara Sabak Jambi ke tepian Sungai Musi yang sekarang 
bernama Palembang dan menobatkan raja Sriwijaya yang baru dari sekte Mahayana 
yang kelak melahirkan Raja2 Sriwijaya Dinasti Syailendra (727-950) 
  
Dynasti Syailendra juga menyerang Bandar Muara Takus dan semua penganut Sekte 
Hinayana Candi Muara Takus dihabisi, tidak sampai disitu Dinasti ini juga 
kemudian menyerang Kerajaan Kalingga Jepara Jawa Tengah hingga Ratu Shima sang 
Maharani yang juga baru masuk Islam itu tewas sebagai Syahidah     
  
Dengan demikian daerah2 penghasil rempah antara Muara Sabak di Jambi hingga 
Muara Takus Minanga Kamwar dikuasai Sriwijaya Dinasti Syailendra Palembang 
sehingga denyut ekonomi Canton China pulih kembali 
  
Sejak itu armada2 dagang Islam berlayar terbatas hanya hingga ke Barus Pesisir 
Barat Sumatera dan dengan demikian berakhirlah dominasi Islam di Pesisir Timur 
Sumatera sampai Jawa hingga kemudian muncul Kerajaan Islam Samudera Pasai di 
Aceh abad ke8  
  
Walaupun selama hampir 400 tahun terjadi kekosongan da’wah Islam dipesisir 
Timur Sumatera selama dibawah bayang2 Sriwijaya Syailendra Budha Mahayana 
Palembang namun daerah2 penghasil rempah Timur Gunung Merapi seperti Suliki, 
Puah Datar. Pangkalan Koto Baru, Muara Mahat, Gunuang Bongsu, Gunuang Malelo, 
Tanjuang, Pongkai, Koto Tuo, Batu Basurek, Tanjuang Godang, Baluang, Lubuak 
Aguang, Pulau Godang, Binamang dan Sibinuang, Muaro Takuih dan Kuntu Kampar 
diam2 tetap didatangi saudagar2 Islam yang merangkap mubalig terutama sejak 
munculnya Kerajaan Samudera Pasai Aceh 
  
Ketidak lancaran-nya da’wah Islamiyah pada kurun ini disamping dominasi Budha 
Mahayana yang kuat dari Dinasti Syailendra Sriwijaya Palembang yang di-back up 
Dinasti Tang didaratan besar China namun juga karena terjadi kemelut politik 
dipusat Islam itu sendiri dimana Dinasti Ummayah dilengserkan oleh Dinasti 
Abbasiyah yang kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari Damsyik Syam 
(Damascuss Syiria sekarang) ke Bagdad Irak sekarang (749 – 1258M) 
  
Berbeda dengan Ummayah yang memiliki armada maritim yang di-backing Angkatan 
Laut yang kuat hingga belahan Bumi Timur dan Barat mendapat sentuhan da’wah 
melalui para saudagar dan pelaut yang menjalankan fungsi da’wah, sebaliknya 
dinasti Abbasiyah dengan ibukota Bagdad dipedalaman padang pasir sana justru 
yang berkembangkan adalah Romantisme Negeri Seribu Satu Malam dimana orang2 
istana akrab dengan sastra pujangga dan entertainment tari perut (goyang Inul 
sekarang) apalagi jika sudah dekat kewilayah per-syahwat-an hingga tidak heran 
da’wah ternomor dua-kan 
  
Sejak itu fungsi da’wah dikelola tidak dengan terorganisir baik bahkan dukungan 
dana dari khalifah yang semakin minim hingga fungsi da’wah dikelola mandiri 
oleh saudagar2 Yaman Selatan (Hadlramaut) dan Gujarat anak benua India 
  
Salah satu cara yang paling efektif dalam pengembangan da’wah masa itu tentu 
saja melalui perkawinan terutama lewat keluarga penguasa setempat maupun tokoh2 
tempatan (sekalian perbaikan keturunan)    
  
wasalam 
abp 
------------------------------ 
Mamak Arman

Ambo lai memegang sebuah buku yang mancaritokan hal yang samo jo mamak 
tulih ko, khusunyo mengenai mulainyo Minangkabau dari Sungai Dareh 
(Darmasraya) yang kemudian membelah menjadi kerajaan Minangkabau jo 
kerajaan Sriwijaya.

Salam

Andiko Sutan Mancayo 
 



      Get your preferred Email name!
Now you can @ymail.com and @rocketmail.com. 
http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/aa/
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke