Terima kasih sanak Riri atas analisanya ,memang setiap ada milis yang masuk
umumnya mereka selalu copy paste untuk di forward dan sebagian dari kita
selalu berfikir secara instan contohnya setiap ada sesuatu yang kita tidak
tahu dengan mudah mencari lewat google dan ini menghambat kreativitas
seseorang untuk berkreasi.

Wassalam
Kemal Anas
Bekasi/L 57 th

2009/5/12 Riri Chaidir <[email protected]>

>  Kalau menurut saya,  cerita ini termasuk “Urban Legend” atau Hoax” , atau
> cerita dari mulut kemulut (kalau jaman sekarang dari milis ke milis) yang
> tidak dibuktikan kebenarannya.
>
>
>
> Judul asli cerita ini adalah “Kisah Bocah Cerdas di Lapas Tangerang”.
> Kalimat pertamanya adalah: “Terus terang …”. Sebagai pengantar ada yang
> mengatakan ini “dari temannya”, atau yang banyak juga menyatakan (spt yang
> diforward oleh sanak Kemal Anas) “Pengalaman dari teman2 *yang melayani*di LP 
> Tangerang”. Dari frase “yang melayani” itu rasanya jelas, dari
> kalangan mana cerita ini berkembang.
>
>
>
> Ada beberapa hal yang agak mengherankan (kalau tidak bisa dikatakan tidak
> logis), misalnya tentang dinding sel yang bisa dijebol dengan fermentasi
> tape. Bahwa dia bisa membunuh jagoan pasar pun juga lucu ... Belum lagi
> kalau ditanyakan, kenapa cerita sefantastis ini tidak pernah dimuat di media
> resmi? Rasa2 tidak mungkin tidak ada kru TV yang tidak tahu dengan berita
> besar ini. Sedangkan yang ”tidak fantastis” saja bisa dibuat ”fantastis” dii
> TV, apalagi yang ini. Setidaknya, cerita ini sudah beredar di internet *sejak
> tahun 2007* (a.l ada di
> http://bintangsatria.wordpress.com/2007/08/22/kisah-bocah-cerdas-di-lapas-tangerang/)
>
>
>
> Tapi itulah yang disebut Urban Legend ...
>
>
>
> Wassalam
>
>
>
>
>
> Riri
>
> Bekasi, L 46
>
>
>
>
>
>
>
>
>  ------------------------------
>
> *From:* [email protected] [mailto:[email protected]] *On
> Behalf Of *[email protected]
> *Sent:* Tuesday, May 12, 2009 3:13 PM
>
> *To:* [email protected]
> *Subject:* [...@ntau-net] Re: Cerita dari Lp Anak
>
>
>
> Pak kemal Anas yth
> Arif harus di selamatkan . Adakah satu jalan untuk menolongnya?
> Saya ingin menolong arif menyekolahkannya. Bisakah dia dikeluarkan dg
> alasan kemanusiaan.?
> Ada kekawatiran saya jika anak dan bibit yg sebaik itu tercemar di dalam
> penjara
> Salam teriring do'a
> K Suheimi
>
> Powered by Telkomsel BlackBerry®
>  ------------------------------
>
> *From*: Kemal Anas
> *Date*: Tue, 12 May 2009 11:07:02 +0700
> *To*: <[email protected]>
> *Subject*: [...@ntau-net] Re: Cerita dari Lp Anak
>
>
> Dari mailis tetangga.
>
> Pengalaman dari teman2 yang melayani di LP Tangerang
>
> Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal di
> LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung
> dengan seseorang yang didakwa kasus
> pembunuhan berencana. Dengan jantung dag dig dug, pikiran saya
> melayang-layang mengira-ngira gambaran orang yang akan saya temui. Sudah
> terbayang muka keji hanibal lecter, juga penjahat-penjahat berjenggot palsu
> ala sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah dingin lain yang
> sering saya temui di cerita TV.
>
> Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah
> satu sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar seorang anak
> berumur 8 tahun.
> Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan wajah yang diliputi
> senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang sopan.
>
> Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu. Sebelum
> masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara
> menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat
> kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik
> sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar
> tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?
>
> Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum
> genap berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah
> bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar belakangnya
> karena si ayah enggan membayar uang 'keamanan' yang begitu tinggi. Berita
> ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok harinya setelah ayahnya
> dikebumikan
> ia mendatangi tempat mangkal preman tersebut.. Bermodalkan pisau dapur ia
> menantang orang yang membunuh ayahnya.
>
> 'siapa yang bunuh ayah saya!' teriaknya kepada orang
> yang ada di tempat itu.
>
> 'Gue terus kenapa?' ujar kepala preman yang membunuh ayahnya
> sambil disambut gelak tawa di belakangnya.
>
> Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke
> perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu
> jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke rumah
> setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke
> kantor polisi.
>
> 'Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!' ujar kepala lapas yang
> ikut menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum. Ternyata sejak di
> penjara dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari selnya.
> Dan caranya pun menurut saya tergolong ajaib.
>
> Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun.
> Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil kebersihan.
> Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam salah satu kantung
> sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari penjara.
>
> Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah membaca
> artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu wawancara usianya
> baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung hawa
> panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras. Kebetulan pula di Lapas
> anak ini disediakan
> tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan tape, arif
> selalu berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke dinding tembok sel
> tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan, tembok penjara itu menjadi lunak
> seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya.. 2-0 untuk arif. Ia
> keluar penjara ke dua
> kalinya.
>
> Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang ditugasi
> membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang
> berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam kamarnya. Tahu
> bahwa dirinya sudah
> diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat persembunyian paling aman sebelum
> memutuskan untuk kabur. Ruang kepala Lapas menjadi pilihannya. Alasannya
> jelas, karena tidak pernah satu pun penjaga berani memeriksa ruangan ini.
> Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan menggunakan besi pegangan
> ember untuk membuka pintu dan gembok. Jangan tanya saya bagaimana caranya,
> pokoknya tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk Arif.
>
> Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi?
> Rupanya kepintaran itu masih berada di sebuah kepala bocah.
> Pelarian-pelarianny a didorong dari rasa kangennya terhadap ibunya. Anak
> ini keluar dari penjara hanya untuk ke rumah sang ibunda tercinta. Jadi dari
> Lapas tanggerang ia menumpang-numpang mobil omprengan dan juga berjalan kaki
> sekian
> kilometer dengan satu tujuan, pulang!
>
> Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas yang juga
> seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera
> menjemput Arif. Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas
> sambil membawa surat untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.
>
> Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif. Tulisnya
> singkat.
>
> Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara.
> Tapi, saya tidak lantas berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan
> harus dibebaskan. Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang.
> Tapi saya hanya berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat menangkap
> pembunuh si ayah (secepat polisi menangkap si Arif) pastinya saat ini anak
> pintar dan
> rajin itu tidak akan berada di tempat seperti ini. Dan kreativitasnya yang
> tinggi itu bisa berguna untuk hal yang lain. Sayangnya si Arif itu cuma anak
> pedagang sayur miskin sementara si preman yang dibunuhnya selalu setia
> menyetor kepada pihak berwajib setempat. Itulah yang namanya keadilan!
>
>
>
> dikutip  dari the r.o.t.e.n.s
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> </html
>
> >
>

--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---

Kirim email ke