Kisah si “GANESH”
Suatu hari Dewi Drupadi ingin mandi, maka dia panggil pengawal, tapi pengawal
sedang tidak ada. Lalu dia panggil anak laki-lakinya yang ternyata juga sedang
pergi. Akhirnya dipanggilnya anak angkatnya yang bernama Ganesh (kalau di
Indonesia sepertinya disebut Ganesha atau Ganesa). Lalu dia berpesan: “Ganesh,
Kau jaga pintu di depan rumah, Ibu mau mandi, jangan biarkan seorangpun juga
memasuki rumah ini ketika ibu sedang mandi”. Ganesh si anak angkat yang patuh
itu pun mengangguk dan duduk berjaga di depan pintu. Tak lama kemudian ketika
Dewi Drupadi sedang mandi, kebetulan Bhatara Shiwa (Dewa Shiwa) datang dan
hendak memasuki rumah. Ganesh, sesuai perintah ibu angkatnya tentu saja tidak
mengizinkan.
Bhatara Shiwa lalu marah, “Kenapa saya tidak boleh memasuki rumah ini?”.
Ganesh menjawab: “Ibu sedang mandi, dan beliau berpesan agar saya tidak
mengizinkan satu orang pun memasuki rumah ini ketika beliau sedang mandi”.
Bhatara Shiwa bertambah marah: “ Saya akan memasuki rumah ini, tidak boleh ada
yang melarang!”.
Ganesh tetap menghambat, sehingga Bhatara Shiwa makin marah. Ia lalu menghunus
senjatanya sambil bertanya:”Kamu tahu siapa saya?”
Ganesh dengan tenang menjawab: “TIDAK”. Karena dia memang tidak tahu.
Kemarahan Bhatara Shiwa mencapai puncaknya, ia berseru: “Saya adalah Bhatara
Shiwa, yang punya rumah ini!” Lalu dengan sekali tebas, kepala Ganesh sudah
terlepas kena pancungan Bhatara Shiwa.
Ketika Dewi Drupadi selesai mandi dan mengetahui apa yang terjadi, ia marah
kepada Bhatara Shiwa. “Kamu sadar bahwa kamu telah membunuh seorang anak yang
tidak bersalah? Dia melarang itu hanya karena menuruti perintah saya”. Bhatara
Shiwa terdiam, lalu Dewi Drupadi memberi ultimatum bahwa Ganesh harus
dihidupkan kembali.
Menurut kepercayaan mereka waktu itu, Kalau ada orang meninggal karena
terpancung, dan jika ada orang lain yang ‘pertama’ lewat disekitar itu lalu
diambil kepalanya (dengan cara dipancung juga) kemudian kepala orang kedua
dipasangkan ke badan orang yang pertama, maka orang yang pertama tadi bisa
hidup kembali. Maka Bhatara Shiwa lalu menyuruh semua pengawal berpencar di
sekitar rumah Dewi Drupadi (yang sebenarnya juga rumah Bhatara Shiwa) untuk
mencari orang yang kepalanya bisa dipasangkan ke badan Ganesh. Ternyata setelah
waktu berapa lama, tidak ada juga orang yang lewat di sana.
Ketika harapan sudah hampir pupus, tiba-tiba seekor gajah lewat. Apa boleh
buat, yang ‘pertama’ lewat ternyata bukan manusia, tetapi gajah. Pengawal
dengan sigap memenggal kepala gajah lalu memasangkannya ke badan Ganesh. Ganesh
pun hidup kembali, walaupun dengan kepala gajah.
Apakah Ganesh kemudian marah? TIDAK. Dia tidak menyesali ibu angkatnya,
walaupun ia terpancung karena menjalankan perintah ibunya itu. Ganesh juga
tidak menyalahkan Bhatara Shiwa yang memancung kepalanya, karena Bhatara Shiwa
hanya ingin memasuki rumahnya sendiri. Apakah Ganesh menyesali keadaannya? Juga
TIDAK. Dia hanya bersyukur bisa hidup kembali walaupun dengan kepala yang sudah
berganti. Tidak ada dendam dan penyesalan pada diri Ganesh. Dia hanya ingin
tetap menjadi anak yang baik dan patuh kepada orang tuanya.
Keadaan ini akhirnya membuat Ganesh di boyong ke istana Bhatara Shiwa dan
dijadikan pengawal kerajaan. Suatu hari dia akan mengawal Dewi Drupadi dan
anggota keluarga lainnya. Ketika semua naik burung Garud (kalau di kita mungkin
maksudnya garuda), ternyata Ganesh tidak kebagian tempat dan hanya naik burung
biasa. Ketika yang lain bisa berjalan-jalan sejauh mungkin, Ganesh dengan
kondisi dan posisinya hanya bisa berputar-putar di sekeliling istana. Semua itu
dijalani Ganesh tetap dengan tawa dan ceria, tanpa harus merasa rendah diri.
Wajahnya memang telah berubah menjadi si buruk rupa, tapi tidak hatinya. Ia
tetap bekerja dan melaksanakan setiap tugasnya dengan sungguh-sungguh dan
membantu setiap orang yang membutuhkannya.
Akhirnya hati Bhatara Shiwa pun luluh dan bersabda: “Ganesh, selama hidupmu,
dimanapun kau berada, kamu akan selalu bermanfaat bagi orang-orang yang ada di
sekeliling kamu!”
Begitulah kira-kira ‘inti’ dari legenda Ganesh yang diceritakan peneliti dan
ahli kebudayaan Asia, Dr. Bachchan di ruang kerjanya, ketika saya berkunjung ke
kantornya di Indira Gandhi National Center, New Delhi, dua bulan yang lalu.
Sebenarnya beliau mengundang saya waktu itu hanya untuk membicarakan tentang
kegiatan ASF, dan memberikan beberapa nasehat dan wejangan, ketika tiba-tiba
saya melihat gambar Ganesh di salah satu sudut ruangannya dan spontan saya
bertanya, karena setahu saya di ITB juga ada ‘gajah duduk’ (walaupun yang saya
lihat di ruangan pak Bachchan itu si Ganesh berupa manusia yang sedang duduk
dengan kepala gajah yang utuh, tapi badan, tangan dan kakinya normal). Agak
berbeda dengan yang saya lihat di ITB, karena “Ganesa” yang lambang ITB setahu
saya salah satu gadingnya patah, ia menyandang kapak, selendang dan memegang
buku, dan… cawan??, yang pastinya semua itu juga punya makna tersendiri bagi
orang-orang ITB (saya bukan orang ITB, jadi mohon di koreksi oleh orang-orang
dari ITB kalau saya salah).
Diskusi lalu beralih ke Ganesh.
Beliau (Bachchan) lalu bilang: Lihatlah my sister, betapa banyak filosofi dan
pelajaran hidup, yang ternyata dapat kita petik dari kisah si Ganesh ini,
antara lain:
1. Cerita Ganesh mengajarkan kita agar teguh memegang amanah. Lihatlah
betapa Ganesh yang sudah berjanji untuk melaksanakan perintah ibu (angkat)nya,
benar-benar teguh dan bertanggung jawab sekalipun ia harus kehilangan kepalanya.
2. Cerita Ganesh juga mengingatkan kita agar jangan cepat mengambil
keputusan atau bertindak ketika pikiran dan perasaan masih sedang diliputi
emosi. Lihatlah Bhatara Shiwa yang akhirnya juga menyesal karena terlanjur
memenggal kepala si Ganesh.
3. Kita diingatkan agar tidak mudah menyalahkan orang lain ataupun
berburuk sangka atas apa yang menimpa diri kita. Ganesh tidak pernah menyesali
Dewi Drupadi yang telah membuat kepalanya terpancung, dan juga tidak
menyalahkan Bhatara Shiwa yang memancung kepalanya.
4. Ganesh juga mampu membuang jauh-jauh rasa dendam dalam hatinya atas
apa yang telah terjadi dan menimpa dirinya.
5. Ganesh bekerja tanpa pamrih, walaupun fasilitas yang diterima
kadang-kadang kurang sesuai dengan yang seharusnya, ia tetap bekerja
sebaik-baiknya dan tidak menuntut macam-macam.
6. Ganesh boleh saja wajahnya si buruk rupa, tapi tidak untuk hatinya.
7. Ganesh mengajarkan agar hidup itu tetap dijalankan dengan ceria dan
optimisme, dan berbuat yang terbaik sesuai kemampuan kita walaupun kita punya
keterbatasan, baik keterbatasan fisik, pikiran, tenaga ataupun harta.
8. Ganesh mengajarkan agar kita tidak mudah menyerah, apalagi rendah
diri dengan kekurangan yang ada, tetapi justru mengoptimalkan potensi yang
dimiliki, tanpa perlu merasa sombong, hebat atau benar sendiri.
9. Ganesh juga mengajarkan bagaimana menjadi orang yang selalu berbuat
baik dan bermanfaat bagi orang lain, dimanapun ia berada.
Yah...., Saya terdiam. Betul yang dinasehatkan senior saya itu, memang alangkah
indahnya mungkin dunia ini kalau kita bisa mempunyai sifat-sifat Ganesh di
atas. Semoga Tuhan mengarahkan kita ke jalan dan kehidupan yang lebih baik.
Beliau yang juga pernah tinggal di Indonesia selama beberapa bulan untuk
meneliti itu lalu melanjutkan. ”Mungkin itulah sebabnya, salah satu perguruan
tinggi di negaramu di Bandung sana, ITB, juga menjadikan Ganesh sebagai ’icon’
nya. Barangkali dengan tujuan agar lulusannya adalah orang-orang yang juga luar
biasa seperti Ganesh.”
”Ya..., saya kira juga begitu”, jawab saya.
Wallahu’alam, karena pasti orang-orang dari ITB lah yang sebenarnya lebih
mengerti tentang kisah si Ganesh atau si Ganesha ini daripada saya.
Mohon maaf kalau ado kato-kato ambo nan salah.
Wassalam,
Rita Desfitri
--~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain harap mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi/dibanned:
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
- DILARANG: 1. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
2. Posting email besar dari 200KB; 3. One Liner
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected]
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---