Pak Datuk Endang Pendapatnya terasa pas dan mengunci, betul sekali memang hal2 beginian "domainnya" berada di elit dan kekuasaan terkadang kesannya pemaksaan
Ditingkat masyarakat umum dan kebanyakan serta heterogen "datar-datar" saja tidak ada penyeragaman Wass-Jepe Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -----Original Message----- From: Datuk Endang <[email protected]> Date: Mon, 30 Nov 2009 05:17:43 To: <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Re: Minang di tanah Melayu...Melayunisasi??? Sanak Jepe yth. Memang konflik akan mulai terlihat bila terjadi politik budaya dan budaya politik. Mungkin hal ini tidak dirasakan di masyarakat umum, namun sangat terasa di kalangan elit. Wassalam, -datuk endang --- On Mon, 11/30/09, [email protected] <[email protected]> wrote: Da Riri dan Sanak Palanta Kusak kusuk "kekwatiran" ko memang lebih di dunia birokrasi dengan segala intriknya dan menyangkut pada isu putra daerah seperti yang Uda bilang "takut nggak kebagian" sebab di birokrasi nergara kita , jabatan dan pos2 atau bidang tertentu sampai sekarang memang tetap mengenal terminologi "tempat basah dan tempat kering" Faktanya semenjak Otonomi daerah jabatan Bup, Wako dan Gubernur sekarang jabatan politis yang rata2 memang putra daerah punya posisi tersebut Di jaman drop2an dan dikendalikan pusat dulunya memang suku Minang banyak mendapat tempat di Birokrat di Pemerintahan prov Riau begitu juga suku2 lain seperti Batak, Jawa dan Sunda apalagi saat Kanwil belum bubar Nah semenjak Kanwil Bubar maka "putra daerah riau" yang berada di Kanwil rata2 mengisi jabatan di dinas teknis tsb Tapi seperti saya utarakan disektor swasta atau informal lainnya saya pikir orang Minang di Riau ini tetap Fight disini terutama disektor perdagangan, kemudian orang Batak tetap fight dengan berkebun sawit dengan uletnya Menurut saya memang ada upaya "menstandar" kan semua daerah disini dengan Melayu lagi2 di Birokrat (pemda-pemda) tapi ditingkat masyarakat seperti Kampar dan Kuantan masih kuat tradisinya yang memang tidak jauh beda atau identik dengan suku minang Jika sanak Bot bilang "Melayu kulturarisasi" itu memang di Pemerintahan Riau semisal seragam ala melayu, gedung pemerintahan ala melayu, warna warni dan simbol2 ala melayu, bahasa ala melayu begitu juga bahasa tulisannya di perkantoran atau nama jalan disamping huruf latin yang kita kenal dibawahnya ada huruf arab gundul melayu, acara-acara serimonial penerimaan tamu2 dari luar ala melayu. Yahhh begitulah euforia otonomi Jangan khawatir sekali lagi orang minang itu dimanapun "tidak kehilangan akal dan panjang akal, pandai dan pandai-pandai" berbaur dengan suku apapun dia di rantau orang Tapi memang jika terjadi pembelokan sejarah akar budaya tradisi akibat atau dampak "melayu kulturalisasi" di Pemerintahan Daerah, ini saya tidak bisa jawab, biarlah waktu yang akan menjawabnya Wass-Jepe Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
