Uda Epi dan Dunsanak Kasadonyo.

 

Saya relatif belum lama bergabung di RN, jadi pengamatan saya bisa saja
salah.

 

Pertama, saya sengaja mengangkat isu "mereka" dan "kita", karena memang saya
sering melihat komunikasi yang "ga nyambung". "Kita" bilang pembangunan itu
seperti ini; potensi Sumbar itu ini, pariwisata harusnya begini ." Ketikan
"mereka" melakukan yang lain, kita menganggap mereka keliru atau malah
"berilmu basi (basipakak). Menurut saya, kalau mau berbicara tentang hal
yang sama, ya samakan dulu "bahasa" yang digunakan.

 

Kedua, yang saya maksud dengan "kita" itu memang terbatas dengan dunsanak
yang melontarkan/ menanggapi isu tertentu. Memang ini tidak mewakili
masyarakat RN, apalagi perantau Minangkabau keseluruhan. Ini juga suatu isu
tersendiri, apakah "kita" juga berbahasa yang sama dengan "mereka" (perantau
Minang lainnya)

 

Ketiga, saya perhatikan, milis RN relative toleran dengan berbagai topik
maupun dengan gaya para netters nya. Cuma sayangnya kadang2 tidak konsisten.
Adakalanya "harus berminang2", tapi ada kalanya kita dengan serunya membahas
pemilihan presiden amerika. Adakalanya bagarah di topik serius dianggap
halal, tapi ada juga yang dianggap salah, malah ada istilah "selebriti"
segala. Ada yang dikritik (bahkan siserbu) karena bahasanya kasar, tapi ada
juga yang bahasanya lebih kacau diamini. Jadi memang sulit untuk "memaksa"
misalnya, hanya boleh topik yang ini, yang itu tidak dst dst .. 

 

Keempat, membuat "bilik khusus" untuk topik tertentu sih bagus2 saja. Toh
secara teknis sekarang sangat mudah, dalam hitungan menit kita bisa membuat
grup baru misalnya di yahoo atau google yang bisa mengadopsi segala jenis
domain alamat member. Cuma, apakah itu efektif? Rasanya sudah ada beberapa
milis "turunan RN" yang topiknya lebih khusus, Misalnya MAPPAS dan MPKAS di
yahoogroups. Sekarang bisa dilihat frekuensi posting di sana, itupun
seringkali isinya Cuma cross-posted. 

 

Kelima, memang - apa boleh buat - setiap kita menag harus bersiap2 bahwa
bisa saja topik yang kita anggap maha penting, tiba2 tidak ada yang
menanggapi atau menanggapi tidak sesuai dengan selera kita, atau topik yang
seru (dan kita minati) tiba2 sudah dilupakan orang, dan terputus tanpa
kesimpulan . itu hal yang sangat2 biasa di RN

 

Jadi, kalau menurut saya (lagi2 saya lho, orang yang relatif yunior di RN
ini), biarkan saja topik2 "mengalir", toh setiap orang bisa menentukan yang
mana yang menarik untuk dia tanggapi, mana yang tidak.

 

Maaf, karena ini (lagi2) Cuma pendapat saya

 

 

 

Riri

Bekasi, l, 47

 

 

 

 

 

 

-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of bandarost
Sent: Thursday, December 10, 2009 12:51 PM
To: RantauNet
Subject: [...@ntau-net] Urun Rembug Pembangunan Sumbar & Peran RantauNet

 

 

Assalamu'alaikumWrWb,

Bung Riri, bung Bakhtiar Muin, Pak Saaf, dan dunsanak lainnya

 

Saya tertarik dengan materi pembahasan pada topik : "Dari Mana Memulai

Pembangunan Sumbar  ? Re: Lapehnya Tanago Terdidik ka Lua Nagari".

Karena pembahasan tampaknya sudah terhenti pada postingan ke 11, topik

tersebut saya transformasikan menjadi topik baru diatas yang saya

pikir lebih mendasar, sebelum membahas topik sebelumnya yang tampaknya

lebih "berat" untuk diimplementaikan.

 

Rekan saya bung Bakhtiar  secara tajam telah langsung menukik ke pokok

permasalahan pembangunan yang tentunya terkait langsung dengan

ketersediaan dana disamping sikap mental masyarakat yang seyogianya

"compatible" dengan semangat membangun tersebut.

 

Saya tertarik dengan permasalahan yang diangkat oleh bung Riri

mengenai perlu adanya  kesamaan persepsi antara "Kita" dan "Mereka".

Saya sependapat dengan hal ini, dengan catatan bahwa tentunya tidak

dalam semua hal "Kita" selalu lebih pintar dari "Mereka". Apalagi

kalau ditelusur lebih lanjut, sebenarnya "Kita" ini siapa dan siapa

pula "Mereka" yang dimaksud ?

 

Kalau "Kita" itu adalah urang Rantau yang direpresentasikan oleh

RantauNet, apakah itu sudah dapat dikatakan valid ? Member RantauNet

hanya 1600an orang, dengan hanya belasan atau puluhan member yang

rajin mengirimkan beragam posting dengan berbagai tingkat keseriusan,

dibandingkan dengan sekian juta urang Rantau.

Apalagi kalau diibaratkan "Dapur" (hehehe...penyelenggara kan disebut

"Rang Dapua"), RantauNet memang mampu menyajikan menu andalan "sayur

lodeh" dengan rasa yang beragam pula karena ini adalah dapur tanpa

kehadiran jurumasak yang mengelola kualitas sayur lodeh yang notabene

terdiri dari beragam jenis bahan tersebut.

 

Saya juga tidak sepakat jika dianggap RantauNet telah mewakili urang

Rantau, karena banyak urang Rantau Minang  dengan prestasinya yang

hebat-hebat yang tidak pernah terlihat postingannya di milis ini.

 

Siapa pula "Mereka" ? Apakah "Mereka" ini Pemerintah Daerah (Provinsi,

Kabupaten, Nagari), ataukah semua yang berada di Ranah ? Sejumlah

postingan di RantauNet banyak yang mengesankan bahwa  "Mereka" ini

mada, keras kepala, sok pintar sendiri, tidak well organized,

melakukan sejumlah kebodohan, atau tidak mengerti permasalahan, atau

"telmi".

 

Saya lebih dari 20 tahun berhubungan secara profesional dengan

sejumlah institusi di Sumbar, terutama pihak PU Provinsi dan Kabupaten

serta  biro pembangunan kantor Gubernur dan BAPPEDA. Dibandingkan

dengan sejumlah Provinsi lainnya di Indonesia (termasuk Jawa), saya

dan kawan-kawan (sebagian expatriate)  menilai bahwa secara umum

institusi dan aparat di Provinsi Sumbar ini sejak awal Pelita I dulu

berfikiran maju, luas, dan terbuka terhadap kemajuan ilmu dan

teknologi.

Di zaman "normal" (dari sudut anggaran pembangunan) Orde Baru dulu,

Sumbar  memiliki prasarana  jaringan jalan yang berkualitas (mungkin)

terbaik di Indonesia, seperti jalan Trans Sumatera dan Manggopoh-

Simpang Empat serta perkebunan OPHIR  yang merupakan perkebunan dengan

sistim Nucleus-Smallholder yang tergolong sangat berhasil di

Indonesia.

 

Saya menyimpulkan bahwa jika "Kita" memang secara serius ingin memberi

masukan pada "Mereka", suatu sistim komunikasi yang baik perlu dibina

dan dikembangkan dengan berpedoman pada aturan main baku yang ada.

Pembangunan memang seyogianya didasarkan pada aspirasi dari bawah

(masyarakat) yang harus disalurkan melalui DPR. Kontrol harus

disalurkan melalui DPR, Pers, atau LSM.

 

Dengan demikian (andai bisa) yang perlu ditingkatkan adalah peranan

RantauNet sebagai wadah penampung aspirasi "Kita" yang berbobot dan

credible, dan punya linkage yang baik ke DPRD, Pers, ataupun LSM

setempat. Tanpa linkage ini, RantauNet yang berupa komunitas dunia

maya ini hanyalah ibarat hantu si Patrick  Swayzee yang tidak mampu

menggerakkan apapun di dunia nyata, kecuali dengan "memasuki" tubuh

Whoopi Goldberg (semoga yang membaca postingan ini masih ingat film

"Ghost" yang juga dibintangi Demi Moore ini).

 

Di sisi lain, RantauNet perlu merangkul juga warga Minang Rantau

lainnya yang jelas-jelas punya bobot bertolak dari pengalaman,

profesionalitas, pendidikan, atau power yang mereka miliki. Pemikiran-

pemikiran dan gagasan generasi muda Minang juga perlu diserap,

terutama yang menyangkut pembangunan Sumbar (dan mohon generasi yang

lebih tua dapat bersabar dan menahan diri jika mendengar pemikiran

mereka ini yang mungkin dirasa tidak sesuai dengan ABS-SBK atau norma

lainnya di ranah Minang).

 

RantauNet sebagai wadah silaturahim dan kangen-kangenan saya kira

sudah superb. Usul saya bagaimana kalau menu sayur lodeh ini bisa kita

buat variasinya menjadi goreng taruang balado, tumis kacang panjang

atau buncis, dll. Dengan kata lain, sesuai dengan usulan yang pernah

ada, RantauNet menyediakan ruang khusus untuk sejumlah hal yang kurang

seronok kalau dicampur adukkan. Sudah sangat sering terjadi bahwa

diskusi serius kemudian terpotong/terbelokkan oleh hal lain yang yang

sifatnya garah-garah dan sejenisnya. Hal ini baru terjadi beberapa

minggu yang lalu, yang kemudian memunculkan istilah "selebriti RN"

yang terasa nyelekit itu.

Di ruang khusus inilah RantauNet dapat menampung semua aspirasi

menyangkut pembangunan Sumbar yang didambakan dari sebanyak-banyaknya

urang Rantau. Urun rembug inilah yang kemudian dapat disampaikan ke

ketiga pilar demokrasi tersebut  sesuai keperluannya untuk

selanjutnya mereka perjuangkan sebagai aspirasi dari urang Rantau.

 

Oh ya, terkait pada penumbuhan rasa empati pada "Mereka" itu, saya

ingin menekankan kembali  tentang keterbatasan anggaran yang

dikatakan oleh bung Bakhtiar Muin. Orang yang tidak punya uang (yang

cukup) memang terkadang terkesan "bodoh". Orang kaya  (bodoh) yang

melihat orang bergelantungan bapaluah di bis kota secara gampang akan

mengatakan : kok mau sih pake bis, kan lebih baik naik BMW pribadi

dengan sopir pribadi pula..... Melebarkan jalan Padang-Bukittinggi

seperti kata bung Bakhtiar adalah hal "keciiil" bagi bung Doddy

kepala PU Sumbar dan kawan-kawannya. Kelok Sembilan pun sekarang

sedang  dia relokasi jika dananya tersedia.....

 

Jadi Rang Dapua dan para dunsanak, ambo bukan ingin mengecilkan arti

RantauNet, tapi justru mendambakan  peningkatan kualitas, kemampuan,

daya jangkau, dan kemampuan penetrasinya dalam mengarahkan pembangunan

Sumbar ke depan. Tanpa peningkatan ini, saya sependapat dengan pak

Saaf : menyamakan persepsi "Kita" dan "Mereka" adalah seperti

mengharapkan tanduak kudo. Saya faham bahwa ini bukan hal mudah, tapi

marilah kita wacanakan dulu secara terarah (maaf, untuk sementara saya

kira kemampuan para "ghost" di dunia maya ini memang baru sebatas

wacana).

 

Salah satu sasaran strategis menyangkut pembangunan Sumbar saat ini

adalah pengembangan pemikiran mengenai pemilihan para pemimpin Nagari,

Kabupaten, dan Provinsi. Kita sudah kenyang dengan kinerja para

pemimpin yang tidak berkualitas selama ini. Akankah dalam pemilihan

mendatang  kita kembali tidak mampu memilih pemimpin yang sesuai

dengan tuntutan kebutuhan Sumbar ? Upaya penetapan kriteria Ini sudah

dimulai RantauNet beberapa bulan yang lalu, tapi ternyata sudah tidak

ada pula minat untuk meneruskan kerja yang tergantung  itu....

 

Itulah sekadar pendapat dari pojok Palanta, teriring maaf jika ada

isi postingan ini yang tidak berkenan di hati.

 

Wassalam,

 

Epy Buchari

L-66, Ciputat Timur

http://kadaikopi.carpediem123.com

 

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] 
Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke