Waalaikumsalam w.w Sanak Epy dan para sanak sa palanta, Saya sepenuhnya setuju dengan pandangan Sanak. Bagaimanapun kita memang sangat berpeduli terhadap kampung halaman kita itu. Yang menjadi masalah -- dan perlu didudukkan -- adalah bagaimana mengkomunikasikan kepedulian kita tersebut serta kepada siapa kita tujukan. Gubernur Sumbar [dahulu] Gamawan Fauzi telah membentuk sebuah biro hubungan dengan perantau di kantor gubernur, namun setahu saya belum pernah merespons pesan yang kita kirim.Kita juga belum tahu, bagaimana pandangan kita diolah oleh para pembuat kebijakan di Sumbar.
Pada dasarnya masalah ini menyangkut hubungan [kelembagaan] antara kita yang berada di rantau dengan para sanak kita di Ranah. Keterkaitan kita adalah secara kultural, dan belum secara institusional. Bagaimana kalau topik yang penting ini kita bahas dalam Kongres Kebudayaan Minangkabau Pertama yang digagas oleh Gebu Minang bulan Juni 2010 yang akan datang ? Akan besar manfaatnya jika Sanak Epy mengembangkan pokok-pokok pikiran yang ada menjadi makalah yang lengkap, kalau perlu kita bahas dalam salah satu pertemuan pra-kongres. Wassalam, Saafroedin Bahar(Laki-laki, masuk 73 th, Jakarta) --- On Thu, 12/10/09, bandarost <[email protected]> wrote: From: bandarost <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Urun Rembug Pembangunan Sumbar & Peran RantauNet To: "RantauNet" <[email protected]> Date: Thursday, December 10, 2009, 12:51 PM Assalamu’alaikumWrWb, Bung Riri, bung Bakhtiar Muin, Pak Saaf, dan dunsanak lainnya Saya tertarik dengan materi pembahasan pada topik : “Dari Mana Memulai Pembangunan Sumbar ? Re: Lapehnya Tanago Terdidik ka Lua Nagari”. Karena pembahasan tampaknya sudah terhenti pada postingan ke 11, topik tersebut saya transformasikan menjadi topik baru diatas yang saya pikir lebih mendasar, sebelum membahas topik sebelumnya yang tampaknya lebih “berat” untuk diimplementaikan. Rekan saya bung Bakhtiar secara tajam telah langsung menukik ke pokok permasalahan pembangunan yang tentunya terkait langsung dengan ketersediaan dana disamping sikap mental masyarakat yang seyogianya “compatible” dengan semangat membangun tersebut. Saya tertarik dengan permasalahan yang diangkat oleh bung Riri mengenai perlu adanya kesamaan persepsi antara “Kita” dan “Mereka”. Saya sependapat dengan hal ini, dengan catatan bahwa tentunya tidak dalam semua hal “Kita” selalu lebih pintar dari “Mereka”. Apalagi kalau ditelusur lebih lanjut, sebenarnya “Kita” ini siapa dan siapa pula “Mereka” yang dimaksud ? ---- dipotong -- ------~----~------~--~--- -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, kirim email kosong ke: [email protected] Untuk melakukan konfigurasi keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
