*Seorang Begawan Telah Mangkat : Catatan Kecil Untuk Prof. Satjipto
Rahardjo.*
Andiko
Satjipto Rahardjo, namanya. Sebuah nama seperti yang di rawikan orang
pandai adalah sebuah do’a. Begitu juga dia, sepenggal namanya dimulai
dari kata cipta, cipta dalam pengertian sederhana, adalah mengadakan
yang tak ada atau lebih dalam harfiahnya manusia, menemukan tanda-tanda
tuhan yang tersembunyi di alam semesta dan jalan itulah yang ia titi.
Tanda itu bernama keadilan.
Seperti ungkapan hiperbola orang Minangkabau, seorang Tjip telah
“berdaun mulutnya” membahasakan sebuah keadilan hokum dari perspektif
orang kebanyakan, orang-orang yang kerapkali harus kalah, sebuah
keadilan yang banyak sekali terlanggar sehingga pelanggaran itu hampir
menjadi biasa dan me ritual pada sebuah panggung hokum, mekanik dan statik.
Manisnya kekuasaan telah melahirkan banyak sekali penghamba-penghamba di
jalannya, tapi Tjip tidak, kadang seperti bagawan yang sepi, ia berdiri
dalam resah dipersimpangan tempat orang lalu-lalang, selokanya
dinikmati, tapi tak lagi merasuk pada inti, karena ketika itu yang
memandu, maka segala kemegahan kekuasaan akan runtuh dan Tjip
menyampaikan, bahwa itu adalah kepastian, sebuah marka sejarah yang
tidak akan tertolak, beratus dinasti runtuh karena itu.
Para positifistik yang ia kritik, mengambil sebagian kecil saja dari
kepastian alam, hitungan kasar dari apa yang sesungguhnya tersembunyi,
menangkap ukuran mekanik yang sejatinya tidaklah se-mesin itu. Karena
itulah ia kemudian tergelincir, dipenjara oleh symbol-simbol harfiah dan
kepastian bendawi.
Prof. Tjip atau Cip, mengantarkan sebuah kepastian yang lain yaitu bahwa
pada hukumnya segala paraturan perundang-undangan itu mengabdi kepada
manusia, ialah alat untuk mencapai ke adiluhungan manusia sebagai
kafilah dimuka bumi, bukan sebaliknya, segala kalimat undang-undang itu
mengabdi kepada hokum itu sendiri, sehingga hokum dalam kesendiriannya,
terasing, buta dan teramat jauh dari jangkauan manusianya. Ia indah
sekaligus racun peradaban.
Pak Cip mengajarkan kepada kita bagaimana membaca apa yang tersirat dari
apa yang tersurat dari seloka-seloka undang-undang yang pastinya akan
dimakan waktu dan akan segera menjadi artefak pengisi museum dan
perpustakaan raja-raja. Karena undang-undang sebagai sebuah kalimat
terumus dalam kertas buram, akan termakan waktu. Tetapi ketidak adilan
terus berlangsung mengasah rasa keadilan para jelata, ia tumbuh,
berkembang dan pada akhirnya berlari meninggalkan bait-bait itu.
Seorang bagawan telah mangkat. Tak ada yang berurai airmata, ataupun
tembang seloka puja puji, tak ada juga parade militer dengan segenap
dentuman senapan dan tentara berbaris memanggul jenazahnya.
Kepulangannya tampa rasa hilang adalah kehidupan baru bagi benih-benih
pengajaran dan itulah garis seorang mahaguru. Raga yang memenjara, itu
saja yang dimakan waktu, tetapi semua apa yang dikatakan dan apa yang
pernah ditoreh akan hidup, membiak dan akan menggelincirkan status quo
hokum itu. Karena kefanaan jasadnya tak perlu di puja, tapi apa yang ia
pancangkan pada ladang peradaban, akan membiak, dari pohon ilmu itu kita
memandang, bagaimana keadilan undang-undang sudah demikian jauh dari
kedailan para sudra, diantaranya, telah ia bentang jembatan itu.
Selamat jalan professor, selamat jalan bagawan. Sungguh aku kehilangan
kata untuk sebuah jasa.
Pasar Minggu, 16 Januari 2010
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe