Wah.....salut untuak ZulTan nan punyo imajinasi nan smart, canggih, komplit. Terhanyut khayalan ambo mambaconyo, serasa ikuik didalamnyo, walaupun indak tatulih disaat usia sudah manjadi 73 tahun. Teruslah berkaya Zultan dengan imajinasi2 nan memotivasi ini. Kalau Abang Dasriel dan Iffah dengan Puisinyo. Wassalam, HMDTMB (53-) Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT
-----Original Message----- From: zul tan <[email protected]> Date: Tue, 26 Jan 2010 07:25:30 To: <[email protected]> Subject: [...@ntau-net] Kilas Balik 20 Tahun YRN (imajiner) Kilas Balik 20 Tahun YRN (imajiner) Sebagian di antara Anda mungkin tidak tahu bagaimana sejarah panjang eksistensi YRN. Enam tahun sebelum lahir YRN gugur ketika masih dalam kandungan. Waktu itu tinggal menanti hari, ketua sudah ditunjuk, susunan penguruspun demikian pula. Entah kenapa setelah pembentukkan ini, hampir tidak ada aktivitas apapun. Bahkan para pengurusnya seakan lenyap ditelan bumi. Hanya komunitas maya melalui RantauNet yang terus berlanjut. Enam tahun kemudian, datanglah gagasan dari salah satu orang gaek kita yang mukim di negara Mak Obama. Beliau adalah Ajo Data. Ini kejadian dua puluh tahun yang lalu. Kini beliau berusia kira-kira 83 tahun dan tampaknya sudah tidak aktif lagi dan mungkin saat ini tengah bercengkerama dengan anak cucu, entah di Amerika, Jakarta, atau di kampung halamannya. Kelahiran kedua ini pun hampir saja mengulang kegagalan masa lalu tapi akhirnya dengan “mengejan” sangat kuat akhirnya si YRN ini lahir dengan selamat. Padahal kalau dipikir-pikir hampir tidak masuk di akal ini bisa terjadi. Kenapa? Bayangkan saja ketika rapat pertama pembentukan YRN yang digagas oleh Ajo Data yang sengaja datang ke Jakarta dari Amerika hanya di hadir 10 orang yang sudah (maaf) “gaek-gaek” pula. Mereka adalah DR. Syamsudin Bakar, Askim Nurkasan, Basril Koeis, Inyiak Monako, Rusdi Chaniago, Lainal Lais, Zorro Ganas, Kayapun Nikmat, Isma Curiahati, dan Ajo Data sendiri. Dua minggu menjelang rapat pertama ini, lapau sangat riuh. Ada yang mendukung karena yakin ini niatnya baik dan caranya pun baik dan tidak pula bersifat memaksa. Tapi tak kurang pula yang menolak atau kalau pun tidak terang-terangan tapi nampak nyinyia bertanya segala macam. Ajo Duta seperti diserang dari segala penjuru mata angin. Bahkan sangat ingat di benak saya, seorang ibu yang dosen senior di universitas negeri Bengkelan, kalau tidak salah bernama Habisah Damam, entah mengapa mengancam akan mundur dari lapau bila YRN ini tetap didirikan. Belakangan diketahui alasan kemundurannya bukan menolak kehadiran YRN tapi keberatan bila Yessi Rona pendiri RN tidak dilibatkan. Banyak orang menyayangkan karena ibu ini aktif dan kreatif. Banyak puisi yang ditulis oleh beliau. Tidak hanya itu, beliau pun pintar pula menyelesaikan soal-soal matematika yang dilansir oleh beberapa orang ke Palanta. DR. Basriel Noemana pernah membuat sebuah puisi indah khusus untuk membujuk bujuk beliau untuk tetap hadir di lapau. Tapi rupanya nasi telah menjadi bubur. Sesaat sepeninggal beliau lapau terasa sepi. Tapi untunglah tidak berlama-lama. Lapau kembali ramai. Saya tidak tahu dimana beliau kini berada. Umurnya sekarang kira-kira 68 tahun. Dua tahun lebih muda dari saya. Mungkin sudah pensiun dengan gelar profesor, insyaallah. Ada beberapa orang yang sangat berjasa dalam membidani kelahiran YRN ini. Di antaranya adalah DR. Syamsoedin Bakar. Beliau ini mantan orang gadang di PT Semen Padang yang dulu sangat terkenal dan menjadi kebanggan orang Minang. Kini nama itu sudah tinggal kenangan karena sudah diambil alih oleh West China Cement Tbk melalui PT Semen Gresik Tbk. Beliau adalah seorang intelektual. Hingga usia 75 tahun beliau masih mengajar di Bahanas (d/h Lemhanas). Semangat beliau luar biasa dalam banyak hal. Kami yang muda-muda ketika itu; saya masih 49 beliau 73 tahun, sebenarnya merasa malu dengan semangat beliau dalam mewujudkan YRN ini. Tentu dengan melihat perkembangan YRN sekarang Anda heran dengan sikap itu. Jujur saja kami tidak punya visi apapun bahwa YRN akan bisa seperti ini. Bahkan ada anggota lapau yang bekerja di Senayan ketika itu mengatakan bahwa sangat sulit mengurus yayasan. Beliau sudah berpengalaman dengan banyak yayasan. Walaupun beliau tetap mendukung, sedikit banyak pendapat ini memengaruhi orang yang memang ragu-ragu sejak awal. Mengingat YRN bukanlah yayasan pertama dilingkungan orang Minang perantauan yang hidup segan mati tak mau, sangatlah wajar keragu-raguan ini bertambah tebal. Bagi yang pesimis, merasa YRN akan seperti yayasan-yayasan itu. Singkat cerita berdirilah YRN pada tanggal 5 Februari dua puluh tahun yang lalu di sebuah Rumah Makan Kubang di daerah Kalimalang yang kini sudah menjadi Golden Skypark pusat perbelanjaan termegah dan terbesar di wilayah Jakarta Timur. Dulu sangat sulit menjangkau lokasi ini khususnya pada jam-jam pulang kerja dan bisa menghabiskan waktu 2 jam dari Semanggi. Tidak seperti sekarang tinggal naik MRT dalam waktu 10 menit kita sudah sampai di GS. Kini dengan aset US$ 20 miliar dan meningkat sekurangnya 10% pertahun banyak orang yang menginginkan saham YRN yang kebetulan sudah listed sejak delapan tahun yang lalu di Bursa Efek Nasional (d/h BEI). Dulu preference stock YRN hanya dihargai Rp 100.000/lembar. Pendiri mendapatkan saham bonus 10% lebih banyak dengan harga yang sama. Dalam 20 tahun nilainya meningkat menjadi Rp 5 juta. Jujur, saya menyesal hanya membeli 1000 lembar secara bertahap. Sedangkan common stock-nya saat IPO diharga Rp 1.800 sudah naik menjadi Rp 25.000, hampir 1.300 persen hanya dalam kurun delapan tahun. YRN sekarang menjadi salah satu perusahaan blue chip di BEN. Dan karena menjalankan bisnis secara islami maka masuk JII (Jakarta Islamic Index). Nama YRN makin menjulang sejak mereka membantu korban gempa Mentawai beberapa tahun yang lalu yang berakibat luluh-lantaknya sebagian wilayah di Sumatera Barat. Belum pernah ada dalam sejarah Indonesia sebuah perusahaan swasta berani memberikan sumbangan gempa senilai satu triliun kecuali YRN. Manajemen YRN menganggap ini sebagai salah satu aksi corporate social responsibility. YRN awalnya hanya mengelola penerbitan buku-buku yang ditulis orang-orang lapau seperti Andra G. Pailang, Ries Suryati, dan Eltaft. Salah satu pendiri YRN Askim Nurkasan mengusulkan agar buku-buku ini dijual dengan cara berbeda. Produk YRN harus memenuhi 3 kriteria: murah, mudah, dan cepat. Murah? Ya jual dalam bentuk e-book dalam dua harga. Harga temporer (dibatasi waktu) atau harga permanen (untuk dimiliki). Sebagai contoh buku AGP yang berhalaman 400 dijual seharga Rp 4.000 (Rp 10/halaman) untuk pemakaian 30 hari. Setelah beredar 12 bulan, buku ini dilanggani oleh 1 juta orang. Ini baru 10% dari jumlah orang Minang di wilayah Jabodetabek yang jadi captive market bagi produk-produk YRN. Nilai penjualan buku AGP ini mencapai Rp 4 milyar/bulan, tiga puluh persen kembali ke penulis. Bayangkan lebih dari Rp. 1 milyar perbulan untuk AGP. Wajar saja AGP akhirnya menolak untuk dicalonkan lagi menjadi wakil rakyat dari Partai Dolkar. AGP merasa lebih tenang dan nyaman mencari nafkah dengan cara ini. Terbebas dari uberan GPK (d/h KPK). YRN memang hebat. Sukses ini tidak terlepas dari hasil kreativitas Askim Nurkasan. YRN memutuskan siapapun yang memberikan gagasan dan bisa dijual serta menguntungkan akan menerima royalti 10% dari laba. Gagasan ini tidak hanya terbatas bagi orang lapau saja tapi terbuka juga buat orang dapur dan orang luar, orangtua bahkan orangutan sekalipun. Ketika YRN masuk kebisnis telekomunikasi, melihat ketatnya persaingan hingga perang harga yang tak ada habisnya, salah seorang anggota lapau bernama ZulDan yang berharap mendapatkan royalti pula, mengusulkan agar pulsa telpon genggam digratiskan. Ide ini sangat mengagetkan. ”Dari mana keuntungan diperoleh?” sergap pendiri. ZulDan mengatakan bahwa keuntungan diperoleh dari si pemasang iklan. Caranya? Setiap pelanggan yang ingin menelpon secara gratis harus menekan tombol #YRN* untuk mendengarkan iklan di HP-nya terlebih dahulu. Setiap mendengarkan satu iklan pelanggan berhak menelpon selama satu menit. Kemudian mendengarkan lagi agar dapat menelpon kembali, demikian seterusnya. Bagi yang tidak bersedia mendengarkan harus tetap membayar pulsa. Agar klien tertarik maka cost-per-contact iklan HP harus jauh lebih murah dibandingkan iklan radio. Ingat keunggulan produk YRN murah, mudah, dan cepat. Sebaliknya ketika memasuki industri televisi YRN justru membebaskan produsen untuk memasang iklan tanpa bayar. Deal-nya melalui pembagian keuntungan yang diperoleh produsen setelah beriklan. Besarnya persentase tergantung banyaknya frekuensi tayang, durasi iklan, dan jenis acara, prime time misalnya. YRN kemudian berkembang dengan mendirikan e-Universitas dengan jumlah mahasiswa saat ini lebih kurang 500.000. e-Universitas tidak memerlukan ruangan. Kuliah dilakukan melalui telekonferens. Biaya SKS hanya Rp 10.000/bulan. E-bimbel pun dilakukan dengan cara yang sama (telekonferens) dengan murid hampir 1 juta orang di seluruh Indonesia, dengan biaya yang sangat murah, Rp. 10.000/pertemuan. Kedua jenis pendidikan ini dapat diakses melalui Blueberry, Aquarius, Leo dan sejenisnya, selain televisi. Akan sangat panjang sekali bila perjalan success story YRN dari dulu hingga kini diceritakan disini. Prinsip YRN: lebih baik tidak berbisnis kalau hanya sama seperti yang lain. Saat ini ada beberapa proyek YRN yang sedang dalam proses di antaranya: 1. Tender offer terhadap West China Cement Tbk untuk mengembalikan kejayaan Semen Padang seperti yang diusulkan DR. Syamsoedin Bakar. 2. Membeli right mobil berbahan bakar angin yang dirancang oleh mahasiswa ITS, Surabaya. Saat ini dalam uji coba Jakarta-Solo-Jakarta hanya menghabiskan 1 liter bensin. Bensin hanya digunakan pada saat perlu saja (TEMPO, 31 Januari 2010). Mohon maaf apabila ada penamaan yang mirip karena memang disengaja supaya tidak serupa. Semuanya hanya imajinasi penulis. Wassalam, ZulTan, L, 49+, Bogor 26 Januari 2010 Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
