Insya Allah ini menjadi motivasi. Mokasi dinda Zultan On 1/26/10, zul tan <[email protected]> wrote: > Kilas Balik 20 Tahun YRN (imajiner) > > Sebagian di antara Anda mungkin tidak tahu bagaimana sejarah panjang > eksistensi YRN. Enam tahun sebelum lahir YRN gugur ketika masih dalam > kandungan. Waktu itu tinggal menanti hari, ketua sudah ditunjuk, susunan > penguruspun demikian pula. Entah kenapa setelah pembentukkan ini, hampir > tidak ada aktivitas apapun. Bahkan para pengurusnya seakan lenyap ditelan > bumi. Hanya komunitas maya melalui RantauNet yang terus berlanjut. > > Enam tahun kemudian, datanglah gagasan dari salah satu orang gaek kita yang > mukim di negara Mak Obama. Beliau adalah Ajo Data. Ini kejadian dua puluh > tahun yang lalu. Kini beliau berusia kira-kira 83 tahun dan tampaknya sudah > tidak aktif lagi dan mungkin saat ini tengah bercengkerama dengan anak cucu, > entah di Amerika, Jakarta, atau di kampung halamannya. > > Kelahiran kedua ini pun hampir saja mengulang kegagalan masa lalu tapi > akhirnya dengan “mengejan” sangat kuat akhirnya si YRN ini lahir dengan > selamat. Padahal kalau dipikir-pikir hampir tidak masuk di akal ini bisa > terjadi. Kenapa? Bayangkan saja ketika rapat pertama pembentukan YRN yang > digagas oleh Ajo Data yang sengaja datang ke Jakarta dari Amerika hanya di > hadir 10 orang yang sudah (maaf) “gaek-gaek” pula. Mereka adalah DR. > Syamsudin Bakar, Askim Nurkasan, Basril Koeis, Inyiak Monako, Rusdi > Chaniago, Lainal Lais, Zorro Ganas, Kayapun Nikmat, Isma Curiahati, dan Ajo > Data sendiri. > > Dua minggu menjelang rapat pertama ini, lapau sangat riuh. Ada yang > mendukung karena yakin ini niatnya baik dan caranya pun baik dan tidak pula > bersifat memaksa. Tapi tak kurang pula yang menolak atau kalau pun tidak > terang-terangan tapi nampak nyinyia bertanya segala macam. Ajo Duta seperti > diserang dari segala penjuru mata angin. Bahkan sangat ingat di benak saya, > seorang ibu yang dosen senior di universitas negeri Bengkelan, kalau tidak > salah bernama Habisah Damam, entah mengapa mengancam akan mundur dari lapau > bila YRN ini tetap didirikan. Belakangan diketahui alasan kemundurannya > bukan menolak kehadiran YRN tapi keberatan bila Yessi Rona pendiri RN tidak > dilibatkan. Banyak orang menyayangkan karena ibu ini aktif dan kreatif. > Banyak puisi yang ditulis oleh beliau. Tidak hanya itu, beliau pun pintar > pula menyelesaikan soal-soal matematika yang dilansir oleh beberapa orang ke > Palanta. > DR. Basriel Noemana pernah membuat sebuah puisi indah khusus untuk membujuk > bujuk beliau untuk tetap hadir di lapau. Tapi rupanya nasi telah menjadi > bubur. Sesaat sepeninggal beliau lapau terasa sepi. Tapi untunglah tidak > berlama-lama. Lapau kembali ramai. Saya tidak tahu dimana beliau kini > berada. Umurnya sekarang kira-kira 68 tahun. Dua tahun lebih muda dari > saya. Mungkin sudah pensiun dengan gelar profesor, insyaallah. > > Ada beberapa orang yang sangat berjasa dalam membidani kelahiran YRN ini. > Di antaranya adalah DR. Syamsoedin Bakar. Beliau ini mantan orang gadang di > PT Semen Padang yang dulu sangat terkenal dan menjadi kebanggan orang > Minang. Kini nama itu sudah tinggal kenangan karena sudah diambil alih oleh > West China Cement Tbk melalui PT Semen Gresik Tbk. Beliau adalah seorang > intelektual. Hingga usia 75 tahun beliau masih mengajar di Bahanas (d/h > Lemhanas). Semangat beliau luar biasa dalam banyak hal. Kami yang > muda-muda ketika itu; saya masih 49 beliau 73 tahun, sebenarnya merasa malu > dengan semangat beliau dalam mewujudkan YRN ini. Tentu dengan melihat > perkembangan YRN sekarang Anda heran dengan sikap itu. Jujur saja kami > tidak punya visi apapun bahwa YRN akan bisa seperti ini. Bahkan ada anggota > lapau yang bekerja di Senayan ketika itu mengatakan bahwa sangat sulit > mengurus yayasan. Beliau sudah berpengalaman dengan banyak yayasan. > Walaupun beliau tetap mendukung, sedikit banyak pendapat ini memengaruhi > orang yang memang ragu-ragu sejak awal. Mengingat YRN bukanlah yayasan > pertama dilingkungan orang Minang perantauan yang hidup segan mati tak mau, > sangatlah wajar keragu-raguan ini bertambah tebal. Bagi yang pesimis, > merasa YRN akan seperti yayasan-yayasan itu. > > > Singkat cerita berdirilah YRN pada tanggal 5 Februari dua puluh tahun yang > lalu di sebuah Rumah Makan Kubang di daerah Kalimalang yang kini sudah > menjadi Golden Skypark pusat perbelanjaan termegah dan terbesar di wilayah > Jakarta Timur. Dulu sangat sulit menjangkau lokasi ini khususnya pada > jam-jam pulang kerja dan bisa menghabiskan waktu 2 jam dari Semanggi. Tidak > seperti sekarang tinggal naik MRT dalam waktu 10 menit kita sudah sampai di > GS. > > Kini dengan aset US$ 20 miliar dan meningkat sekurangnya 10% pertahun banyak > orang yang menginginkan saham YRN yang kebetulan sudah listed sejak delapan > tahun yang lalu di Bursa Efek Nasional (d/h BEI). Dulu preference stock YRN > hanya dihargai Rp 100.000/lembar. Pendiri mendapatkan saham bonus 10% lebih > banyak dengan harga yang sama. Dalam 20 tahun nilainya meningkat menjadi Rp > 5 juta. Jujur, saya menyesal hanya membeli 1000 lembar secara bertahap. > Sedangkan common stock-nya saat IPO diharga Rp 1.800 sudah naik menjadi Rp > 25.000, hampir 1.300 persen hanya dalam kurun delapan tahun. YRN sekarang > menjadi salah satu perusahaan blue chip di BEN. Dan karena menjalankan > bisnis secara islami maka masuk JII (Jakarta Islamic Index). Nama YRN makin > menjulang sejak mereka membantu korban gempa Mentawai beberapa tahun yang > lalu yang berakibat luluh-lantaknya sebagian wilayah di Sumatera Barat. > Belum pernah ada dalam sejarah Indonesia sebuah > perusahaan swasta berani memberikan sumbangan gempa senilai satu triliun > kecuali YRN. Manajemen YRN menganggap ini sebagai salah satu aksi corporate > social responsibility. > > > YRN awalnya hanya mengelola penerbitan buku-buku yang ditulis orang-orang > lapau seperti Andra G. Pailang, Ries Suryati, dan Eltaft. Salah satu > pendiri YRN Askim Nurkasan mengusulkan agar buku-buku ini dijual dengan cara > berbeda. Produk YRN harus memenuhi 3 kriteria: murah, mudah, dan cepat. > Murah? Ya jual dalam bentuk e-book dalam dua harga. Harga temporer (dibatasi > waktu) atau harga permanen (untuk dimiliki). Sebagai contoh buku AGP yang > berhalaman 400 dijual seharga Rp 4.000 (Rp 10/halaman) untuk pemakaian 30 > hari. Setelah beredar 12 bulan, buku ini dilanggani oleh 1 juta orang. Ini > baru 10% dari jumlah orang Minang di wilayah Jabodetabek yang jadi captive > market bagi produk-produk YRN. Nilai penjualan buku AGP ini mencapai Rp 4 > milyar/bulan, tiga puluh persen kembali ke penulis. Bayangkan lebih dari > Rp. 1 milyar perbulan untuk AGP. Wajar saja AGP akhirnya menolak untuk > dicalonkan lagi menjadi wakil rakyat dari Partai Dolkar. AGP > merasa lebih tenang dan nyaman mencari nafkah dengan cara ini. Terbebas > dari uberan GPK (d/h KPK). YRN memang hebat. Sukses ini tidak terlepas > dari hasil kreativitas Askim Nurkasan. YRN memutuskan siapapun yang > memberikan gagasan dan bisa dijual serta menguntungkan akan menerima royalti > 10% dari laba. Gagasan ini tidak hanya terbatas bagi orang lapau saja tapi > terbuka juga buat orang dapur dan orang luar, orangtua bahkan orangutan > sekalipun. > > Ketika YRN masuk kebisnis telekomunikasi, melihat ketatnya persaingan hingga > perang harga yang tak ada habisnya, salah seorang anggota lapau bernama > ZulDan yang berharap mendapatkan royalti pula, mengusulkan agar pulsa telpon > genggam digratiskan. Ide ini sangat mengagetkan. ”Dari mana keuntungan > diperoleh?” sergap pendiri. ZulDan mengatakan bahwa keuntungan diperoleh > dari si pemasang iklan. Caranya? Setiap pelanggan yang ingin menelpon > secara gratis harus menekan tombol #YRN* untuk mendengarkan iklan di HP-nya > terlebih dahulu. Setiap mendengarkan satu iklan pelanggan berhak menelpon > selama satu menit. Kemudian mendengarkan lagi agar dapat menelpon kembali, > demikian seterusnya. Bagi yang tidak bersedia mendengarkan harus tetap > membayar pulsa. Agar klien tertarik maka cost-per-contact iklan HP harus > jauh lebih murah dibandingkan iklan radio. Ingat keunggulan produk YRN > murah, mudah, dan cepat. Sebaliknya ketika memasuki industri > televisi YRN justru membebaskan produsen untuk memasang iklan tanpa bayar. > Deal-nya melalui pembagian keuntungan yang diperoleh produsen setelah > beriklan. Besarnya persentase tergantung banyaknya frekuensi tayang, durasi > iklan, dan jenis acara, prime time misalnya. > > YRN kemudian berkembang dengan mendirikan e-Universitas dengan jumlah > mahasiswa saat ini lebih kurang 500.000. e-Universitas tidak memerlukan > ruangan. Kuliah dilakukan melalui telekonferens. Biaya SKS hanya Rp > 10.000/bulan. E-bimbel pun dilakukan dengan cara yang sama (telekonferens) > dengan murid hampir 1 juta orang di seluruh Indonesia, dengan biaya yang > sangat murah, Rp. 10.000/pertemuan. Kedua jenis pendidikan ini dapat > diakses melalui Blueberry, Aquarius, Leo dan sejenisnya, selain televisi. > > Akan sangat panjang sekali bila perjalan success story YRN dari dulu hingga > kini diceritakan disini. Prinsip YRN: lebih baik tidak berbisnis kalau > hanya sama seperti yang lain. > Saat ini ada beberapa proyek YRN yang sedang dalam proses di antaranya: > 1. Tender offer terhadap West China Cement Tbk untuk mengembalikan > kejayaan Semen Padang seperti yang diusulkan DR. Syamsoedin Bakar. > 2. Membeli right mobil berbahan bakar angin yang dirancang oleh > mahasiswa ITS, Surabaya. Saat ini dalam uji coba Jakarta-Solo-Jakarta hanya > menghabiskan 1 liter bensin. Bensin hanya digunakan pada saat perlu saja > (TEMPO, 31 Januari 2010). > > Mohon maaf apabila ada penamaan yang mirip karena memang disengaja supaya > tidak serupa. Semuanya hanya imajinasi penulis. > > Wassalam, > ZulTan, > L, 49+, Bogor > 26 Januari 2010 > > > Lebih Bersih, Lebih Baik, Lebih Cepat - Rasakan Yahoo! Mail baru yang > Lebih Cepat hari ini! http://id.mail.yahoo.com > > -- > . > Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat > lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet > http://groups.google.com/group/RantauNet/~ > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: > - DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; > 3. One Liner. > - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet > - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting > - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply > - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan > keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe >
-- Wassalaamu'alaikum Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta), gelar Bagindo, suku Mandahiliang, lahir 17 Agustus 1947. Nagari Gasan Gadang, Kab. Pariaman. rantau Deli, Jakarta, USA. sekarang Sterling, Virginia-USA -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
