Maaf, agak tergelitik juga setelah lama memperhatikan polemik mengenai adat dan agama ini.
Kenapa selalu elemen adat mulai dari pemangkunya hingga pelakunya yang disalahkan ? Lalu bagaimana pula dengan ulama/buya yang memiliki tugas pokok menjelaskan yang benar dan menunjukkan yang salah ? Bila ulama/buya menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik sehingga semua masyarakat teredukasi dengan baik bagaimana jiwa dan roh Islam itu yang sesungguhnya yang merupakan rahmat bagi sekalian alam, maka saya kira polemik ini tidak perlu terjadi. Bila ulama telah menjalankan tugas dna fungsinya, jangankan adat, agama saja bisa berubah dari yang dulunya menyembah berhala atau jin menjadi penyenbah Allah SWT. Artinya bila peran ulama di Ranah Minang berjalan, adat yang dirasa bertentangan dengan ajaran Islam itu akan sirna dengan sendirinya. Tapi bila dirasa ulama telah menjalankan fungsinya di Minangkabau sementara adat yang dirasa bertentangan masih ada, maka ini mungkin beda pemahaman saja mengenai adat. Putih menurut si A belum tentu putih juga menurut si B. Perubahan di ranah Minang itu tidak bisa dimulai dari luar tapi dari dalam. Jadi mulailah dari individu2 si Minang itu sendiri. Kalau menurut pemahaman agama kita ada bagian adat yang tidak sesuai, yakinkanlah dengan menyadarkan individu2 tersebut. Jangan secara kolektif apalagi bergerombolan. Karena orang Minang itu kalau sudah mengenai adat mereka akan bersatu untuk mempertahankan dirinya. Seeprti kata Imam Ali, kebaikan yang begerombolan akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir/berbaris. Kalau saya pribadi melihat yang luntur dari ranah Minang itu adalah tradisi agama yang dahulu melahirkan ulama2 berkelas, dan sekarang boleh dikatakan sirna. Kalau adat saya kira tidak ada yang berubah, statis cenderung menurun terutama tentang peran ayah yang semakin besar. Kalau dibuat grafik nya adat menunjukkan gejala menurun sedikit /landai, sementara progress keislaman menurun dengan drastis/terjun bebas. Lalu mengapa bukan kekurangan ulama dan degradasi keislaman ini yang kita jadikan poin untuk diperangi atau restorasi kembali ? berikanlah pendidikan agama kepada anak Minangkabau dengan baik. Yakinkan pada mereka matrinial itu bertentangan dengan Islam (bila iya) maka jangankan kebiasaan, adat Minang ini saja bisa hilang dari bumi. Tapi saya kira tidak akan begitu jadinya karena Islam bukan anti budaya. contohnya Islam mengakomodir budaya arab sehingga kita sering terkecoh budaya arab kita sangka budaya Islam. saya sampai saat ini meyakini, seperti apapun struktur organisasi yang akan dibentuk tidak akan mendatangkan perubahan di Ranah Minang,karena perubahan itu datang dari dalam/jiwa. Apalagi mengenai agama, pemahamannya bersumber dari hati. Mata melihat tapi sesungguhnya tidak melihat. Yang melihat adalah hati. Telinga mendengar sesunguhnya tidak mendengar. Yang mendengar adalah hati. Maka oleh itu jangkaulah hati si Minang …dengan hati-hati…. Salam, Ben --- In [email protected], "Tasril Moeis" <tasrilmo...@...> wrote: > > Pak Emi, > Kalau lah pemangku adat itu orang yang "telah benar dalam menjalankan > agamanya" sarupo nan Pak Emi kecek kan ko, sangaik gadang keyakinan indak ka > ado lai masalah nan ka diadok i masyarakat Minang dalam manjalankan adat nan > sasuai jo ABS-SBK ko. > Untuak kini samo2 ba do'a lah awak mudah2 an iko bisa tacapai. > > Salamaik ba kumpua2 di PMC dan ado pulo hasil2 nan boneh untuak awak basamo > > Wassalam > Tan Ameh (51+) > -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
