"DARA JINGGA", SEPERTI MEMBACA KEPEDIHAN
<http://fadlillah.wordpress.com/2007/12/17/%e2%80%9cdara-jingga%e2%80%9d
-seperti-membaca-kepedihan/> 


Desember 17, 2007
(Dari Wisran Hadi, sampai kepada Gus tf Sakai ; Sebuah
Intertekstualitas)

Oleh: Fadlillah Malin Sutan Kayo

"...dan penulisan sejarah masih merupakan bagian dari perang diam-diam",
Goenawan Mohamad (1997:139)

<http://fadlillah.files.wordpress.com/2007/12/03-fadlillah.jpg>  
<http://fadlillah.files.wordpress.com/2007/12/03-fadlillah.jpg>  
<http://fadlillah.files.wordpress.com/2007/12/03-fadlillah.jpg> Dara
Jingga, sepertinya "mempertemukan" Wisran Hadi dengan Gus tf Sakai.
Sebagai teks, hal ini hanyalah sebuh intertekstualitas, namun tampaknya
tidak sekedar hubungan antarteks, lebih dari itu, sebuah pertemuan,
dalam dialog yang panjang dan dalam. Dialog itu rupanya sudah menjadi
perenungan budaya, sejarah, dan filosofi. Namun yang menjadi pertanyaan;
ada apa dengan Dara Jingga? 

Dara jingga telah jadi teks tragedi sejarah, budaya, filosofi bagi
bangsa Minangkabau. Teks tragedi kesedihan kebudayaan. Bukan teks
"merobek baju di dada" tetapi seperti "merangkul tunggua ke dada", ini
hanya membicarakan kepedihan diri, sebuah kesakitan tragedi kemanusiaan
dalam jerit keputus-asaan.

Dara Jingga adalah teks ekspedisi Pamalayu. Bukan tidak mungkin, ia
merupakan teks yang disembunyikan oleh kurun zaman dan para pencandu
serta pemburu kekuasaan di Indonesia. Karena ia menimbulkan pertanyaan
yang tidak terjawab kepastiannya dalam mengapa dalam buku sejarah anak
sekolahan Indonesia. Mengapa ditulis sebagai ekspedisi persahabatan,
serta kedua putri itu, Dara Petak dan Dara Jingga, dikatakan sebagai
persembahan pada raja Majapahit? Mengapa, dan ada apa?

Pertanyaan itulah yang nampaknya menjadi intertekstualitas Wisran Hadi
dengan Gus tf Sakai. Dara Jingga ditulis Wisran Hadi (2000:85-169) dalam
naskah "Dara Jingga". Naskah ini dipentaskan di Taman Ismail Marzuki
Jakarta, tahun 1984, oleh Bumi Teater dan dipentaskan di Padang tahun
1995, oleh grup teater mahasiswa APB [Akademi Parawisata Bunda] Padang.
Di bukukan dengan tiga naskah lainnya, yakni buku Empat Sandiwara Orang
Melayu. Sedangkan Gus tf Sakai menulis juga tentang Dara Jingga dalam
novelnya Tambo (Sebuah Pertemuan).

Pada teks sejarah, "Pamalayu" merupakan ekspedisi militer, penaklukan,
ungkap Slamet Mulyana (dalam Amran, 1981:31) dalam bukunya Menuju Puncak
Kemegahan (1965). Fakta sejarah ini dikukuhkan Zoetmulder (1994:514)
dalam buku Kalangwan Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (baca pada kidung
Harsawijaya). Dikatakan dalam buku itu bahwa ekspedisi ke Melayu adalah
untuk memaksa raja itu menyerahkan kedua putrinya untuk dijadikan istri
yang sederajat dengan permaisuri. Ini artinya penjarahan, penaklukan dan
penjajahan.

Ekspedisi Pamelayu oleh Kartanegara (Singhosari) sesungguhnya merupakan
ekspedisi militer, ekspedisi penjajahan, kolonialisasi dan penjarahan.
Dengan demikian Dara Petak dan Dara Jingga bukan persembahan kepada raja
Kartanegara (Majapahit), tetapi perempuan yang diambil paksa sebagai
rampasan perang.

Dara Jingga yang sedang hamil itu "dipulangkan" ke Dhamasraya oleh
kerajaan Majapahit. Benarkah dia dipulangkan? Catatan sejarah Majapahit
mengatakan bahwa dia bukan dipulangkan, melainkan dia dijadikan sebagai
hadiah (dalam keadaan hamil) untuk Wiswarupakumara pejabat tinggi
Majapahit di Dhamasraya. Hal ini tidak ada dalam teks sejarah,
barangkali inilah sesuatu dibalik teks materi sejarah, sesuatu yang
tersembunyi atau disembunyikan.

Pada satu pihak mungkin tulisan sejarah sengaja dimusnahkan karena
menanggung malu, karena yang ada hanya sejarah kekalahan. Dalam
pengertian yang tidak berbeda, sejarah memang dibuat oleh para penguasa
dan untuk mengukuhkan kekuasaan mereka, artinya sejarah adalah narasi
yang dianggap sah dan pasti, padahal sejarah tersebut hanyalah tulisan
interpretasi yang tidak akan pernah mendapat kepastian. 

Bukankah kehormatan dan harga diri di dunia timur, ada pada perempuan
mereka, apa lagi bagi satu bangsa, memang ada juga bangsa-bangsa yang
menjadikan perempuan menjadi benda persembahan. Pada multi-bangsa Melayu
dan Minangkabau, harga diri menjadi hancur dan tak berdaya ketika dalam
kekalahan para perempuan mereka dirampas dan dijadikan persembahan. 

Suatu tragedi kesedihan dari kehidupan kemanusiaan selalu tidak ditulis
sejarah. Tulisan sejarah yang dianggap ilmiah dalam dunia positivistik
adalah tulisan yang tidak memuat "rasa atau emosi" manusia, pada pihak
lain juga berarti tidak mempunyai rasa kemanusiaan. 

Ada hal yang tidak ada dalam catatan sejarah, yakni persoalan kepedihan,
kehancuran harga diri, persoalan malu dan dipermalu, kepahitan. Catatan
sejarah sering hanya akan mencatat bagian yang baik dari kekuasaan. Jika
ada catatan yang buruk, "merobek baju di dada", sesungguhnya menimbulkan
pertanyaan ada apa di balik semua itu, ada yang dituju, ada
maksud-maksud tertentu...


(- Tulisan ini pernah dimuat di Singgalang, Minggu 02 Desember 2007,
Hal. 11, Jika anda ingin memiliki artikel ini silahkan tulis mail kepada
sdr. Fadlillah Malin Sutan Kayo; e-mail: [email protected] )

Sumber : http://fadlillah.wordpress.com/category/esai-sastra/page/2/ 

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

To unsubscribe from this group, send email to 
rantaunet+unsubscribegooglegroups.com or reply to this email with the words 
"REMOVE ME" as the subject.

<<image001.jpg>>

Kirim email ke