Kisah Melayu Tua dan pra-Majapahit sebenarnya berada dalam lingkung prasejarah 
dan sejarah. Skenario masa lalu bisa saja dikembangkan berbagai versi dari 
secuil petunjuk.
Seperti contoh Slamet Mulyana menafsirkan secara pretentif Amoghapasa; justru 
Kozok lebih baik: menanyakan alasan pemindahan ibukota Melayu.
Dara Petak dijodohkan dengan Raden Wijaya, seorang perwira Melayu yang sedang 
membangun tapak dinasti baru di Jawa, dan menjadi 'permaisuri'. Bandingkan 
dengan 4 putri raja Singhasari yang dikawinkan sesudahnya. Perlu diselidiki 
kenapa trah dinasti baru itu diambil dari darah Melayu?
 
Wassalam,
-datuk endang

--- On Tue, 3/30/10, Syafroni (Engineering) <[email protected]> 
wrote:








“DARA JINGGA”, SEPERTI MEMBACA KEPEDIHAN
Desember 17, 2007
(Dari Wisran Hadi, sampai kepada Gus tf Sakai ; Sebuah Intertekstualitas)
Oleh: Fadlillah Malin Sutan Kayo
“…dan penulisan sejarah masih merupakan bagian dari perang diam-diam”, Goenawan 
Mohamad (1997:139)
Dara Jingga, sepertinya “mempertemukan” Wisran Hadi dengan Gus tf Sakai . 
Sebagai teks, hal ini hanyalah sebuh intertekstualitas, namun tampaknya tidak 
sekedar hubungan antarteks, lebih dari itu, sebuah pertemuan, dalam dialog yang 
panjang dan dalam. Dialog itu rupanya sudah menjadi perenungan budaya, sejarah, 
dan filosofi. Namun yang menjadi pertanyaan; ada apa dengan Dara Jingga? 
Dara jingga telah jadi teks tragedi sejarah, budaya, filosofi bagi bangsa 
Minangkabau. Teks tragedi kesedihan kebudayaan. Bukan teks “merobek baju di 
dada” tetapi seperti “merangkul tunggua ke dada”, ini hanya membicarakan 
kepedihan diri, sebuah kesakitan tragedi kemanusiaan dalam jerit keputus-asaan.
Dara Jingga adalah teks ekspedisi Pamalayu. Bukan tidak mungkin, ia merupakan 
teks yang disembunyikan oleh kurun zaman dan para pencandu serta pemburu 
kekuasaan di Indonesia. Karena ia menimbulkan pertanyaan yang tidak terjawab 
kepastiannya dalam mengapa dalam buku sejarah anak sekolahan Indonesia. Mengapa 
ditulis sebagai ekspedisi persahabatan, serta kedua putri itu, Dara Petak dan 
Dara Jingga, dikatakan sebagai persembahan pada raja Majapahit? Mengapa, dan 
ada apa?
Pertanyaan itulah yang nampaknya menjadi intertekstualitas Wisran Hadi dengan 
Gus tf Sakai. Dara Jingga ditulis Wisran Hadi (2000:85-169) dalam naskah “Dara 
Jingga”. Naskah ini dipentaskan di Taman Ismail Marzuki Jakarta, tahun 1984, 
oleh Bumi Teater dan dipentaskan di Padang tahun 1995, oleh grup teater 
mahasiswa APB [Akademi Parawisata Bunda] Padang. Di bukukan dengan tiga naskah 
lainnya, yakni buku Empat Sandiwara Orang Melayu. Sedangkan Gus tf Sakai 
menulis juga tentang Dara Jingga dalam novelnya Tambo (Sebuah Pertemuan).
Pada teks sejarah, “Pamalayu” merupakan ekspedisi militer, penaklukan, ungkap 
Slamet Mulyana (dalam Amran, 1981:31) dalam bukunya Menuju Puncak Kemegahan 
(1965). Fakta sejarah ini dikukuhkan Zoetmulder (1994:514) dalam buku Kalangwan 
Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang (baca pada kidung Harsawijaya). Dikatakan 
dalam buku itu bahwa ekspedisi ke Melayu adalah untuk memaksa raja itu 
menyerahkan kedua putrinya untuk dijadikan istri yang sederajat dengan 
permaisuri. Ini artinya penjarahan, penaklukan dan penjajahan.
Ekspedisi Pamelayu oleh Kartanegara (Singhosari) sesungguhnya merupakan 
ekspedisi militer, ekspedisi penjajahan, kolonialisasi dan penjarahan. Dengan 
demikian Dara Petak dan Dara Jingga bukan persembahan kepada raja Kartanegara 
(Majapahit), tetapi perempuan yang diambil paksa sebagai rampasan perang.
Dara Jingga yang sedang hamil itu “dipulangkan” ke Dhamasraya oleh kerajaan 
Majapahit. Benarkah dia dipulangkan? Catatan sejarah Majapahit mengatakan bahwa 
dia bukan dipulangkan, melainkan dia dijadikan sebagai hadiah (dalam keadaan 
hamil) untuk Wiswarupakumara pejabat tinggi Majapahit di Dhamasraya. Hal ini 
tidak ada dalam teks sejarah, barangkali inilah sesuatu dibalik teks materi 
sejarah, sesuatu yang tersembunyi atau disembunyikan.
Pada satu pihak mungkin tulisan sejarah sengaja dimusnahkan karena menanggung 
malu, karena yang ada hanya sejarah kekalahan. Dalam pengertian yang tidak 
berbeda, sejarah memang dibuat oleh para penguasa dan untuk mengukuhkan 
kekuasaan mereka, artinya sejarah adalah narasi yang dianggap sah dan pasti, 
padahal sejarah tersebut hanyalah tulisan interpretasi yang tidak akan pernah 
mendapat kepastian. 
Bukankah kehormatan dan harga diri di dunia timur, ada pada perempuan mereka, 
apa lagi bagi satu bangsa, memang ada juga bangsa-bangsa yang menjadikan 
perempuan menjadi benda persembahan. Pada multi-bangsa Melayu dan Minangkabau, 
harga diri menjadi hancur dan tak berdaya ketika dalam kekalahan para perempuan 
mereka dirampas dan dijadikan persembahan. 
Suatu tragedi kesedihan dari kehidupan kemanusiaan selalu tidak ditulis 
sejarah. Tulisan sejarah yang dianggap ilmiah dalam dunia positivistik adalah 
tulisan yang tidak memuat “rasa atau emosi” manusia, pada pihak lain juga 
berarti tidak mempunyai rasa kemanusiaan. 
Ada hal yang tidak ada dalam catatan sejarah, yakni persoalan kepedihan, 
kehancuran harga diri, persoalan malu dan dipermalu, kepahitan. Catatan sejarah 
sering hanya akan mencatat bagian yang baik dari kekuasaan. Jika ada catatan 
yang buruk, “merobek baju di dada”, sesungguhnya menimbulkan pertanyaan ada apa 
di balik semua itu, ada yang dituju, ada maksud-maksud tertentu…

(- Tulisan ini pernah dimuat di Singgalang, Minggu 02 Desember 2007, Hal. 11, 
Jika anda ingin memiliki artikel ini silahkan tulis mail kepada sdr. Fadlillah 
Malin Sutan Kayo; e-mail: [email protected] )
Sumber : http://fadlillah.wordpress.com/category/esai-sastra/page/2/ 



      

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

To unsubscribe from this group, send email to 
rantaunet+unsubscribegooglegroups.com or reply to this email with the words 
"REMOVE ME" as the subject.

<<image001.jpg>>

Kirim email ke