-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Indra J Piliang
Sent: Thursday, April 08, 2010 8:19 PM
To: RantauNet; Koran Digital; KSM UI; S-2 UI; West Sumatera; Suma UI; KIM;
KIA; Aceh Kita; IASCF
Subject: [...@ntau-net] www.beritajatim.com

 

http://beritajatim.com/detailnews.php/2/Gaya_Hidup/2010-04-08/60977/Cita-Cit
a_Saya_Masuk_Penjara,_Mati_Muda,_dan_Bersalaman_dengan_Soeharto

~~"Mengalir Meniti Ombak" & "Bouraq-Singa Kontra Garuda".~~

 

Indra J. Piliang tentang Buku 'Mengalir Meniti Ombak' (1)
Cita-Cita Saya Masuk Penjara, Mati Muda, dan Bersalaman dengan Soeharto 

Top of Form


http://beritajatim.com/berita/brt965823733.jpg

 

Bottom of Form

Kamis, 08 April 2010 19:40:13 WIB 
Reporter : Oryza A. Wirawan 

Jember (beritajatim.com) - Sejarah hanya untuk para pemenang. Agaknya diktum
itu tak berlaku bagi seorang Indra Jaya Piliang. Politisi cum intelektual
muda Partai Golkar itu justru mendokumentasikan tiga kekalahannya dalam
berpolitik dalam buku setebal 568 halaman berjudul Mengalir Meniti Ombak:
Memoar Kritis Tiga Kekalahan.

Beritajatim.com mewawancarai Indra Piliang seputar bukunya., dan diturunkan
secara bersambung.

Anda menulis tentang kekalahan, bukan keberhasilan dalam berpolitik.
Sebenarnya apa yang Anda ingin sampaikan kepada khalayak tentang
kekalahan-kekalahan itu? 

Itu hanya pintu masuk. Sebetulnya yang ingin saya katakan adalah bahwa yang
kalah dalam politik jauh lebih banyak dari yang menang. Dalam ketiga
kekalahan yang saya ceritakan, sebetulnya yang kalah adalah Partai Golkar,
JK-Wiranto dan Yuddy Chrisnandi. Saya menjadi bagian dari kekalahan itu.
Tetapi apakah seluruhnya saya kalah? Tidak sama sekali. 

Buktinya perolehan suara pribadi saya jauh lebih besar dari beberapa
politisi di Sumbar 2 yang duduk di DPR RI sekarang, elektabilitas JK-Wiranto
meningkat dari 3% menjadi 12 %, lalu Yuddy Chrisnandi menjadi ikon
pemberitaan media massa berpengaruh. Kekalahan sebagai angle saja untuk
menunjukkan banyak hal yang justru belum diketahui publik. Kalau hanya soal
tiga kekalahan, cukup saya menulis 3-4 halaman, kan? Nyatanya keseluruhan
buku ini mencapai 591 halaman.

Dari semua peristiwa yang Anda ceritakan di buku itu, peristiwa mana yang
menurut Anda paling berpengaruh dan mengubah sosok seorang Indra Jaya
Piliang?

Beragam kejadian di kampung halaman saya. Kekecewaan-kekecewaan saya atas
bahan bacaan selama ini tentang Minangkabau yang melahirkan banyak sekali
intelektual mumpuni.

Saya terperosok ke lubang yang saya gali sendiri. Sebenarnya, kalau hanya
mau menang, saya bisa menerima tawaran PDI Perjuangan, lalu mencalonkan diri
di salah satu daerah di pulau Jawa. Tetapi saya tidak mau. Saya sadar,
ternyata saya sudah terlalu jauh terbang dari ranah saya. Bayangkan, saya
sekolah sejak TK sampai S-2 sudah 20 tahun lebih! Sementara, orang-orang di
kampung saya semakin jarang sekolah, bahkan untuk tamat sekolah dasar
sekalipun.

Dalam banyak pembicaraan di kampung bersama tim saya, saya menyebutnya
dengan istilah "bunuh diri kelas". Saya membunuh kelas sosial saya untuk
menjadi bagian dari masyarakat saya dengan beragam tingkat pemikiran,
tatanan sosial, stratifikasi sosial, ekonomi dan lain-lain. Saya harus
menyesuaikan rasionalitas saya dengan takhayul dan mitos yang masih banyak
di kampung. Saya kira, itulah kelahiran baru buat saya, selama delapan bulan
di kampung atau daerah pemilihan saya. 

Kalau fase pilpres dan Munas, karena hanya mengandalkan perdebatan dan
media, saya kira tidak mengubah apa-apa. Malah, saya merasa jauh lebih bodoh
dari IJP yang dikenal publik sebelumnya.

Mana bab favorit Anda dalam buku ini?

Bab 1, Bab 2 dan Bab 3 dan Bab 5. [catatan redaksi: bab 1 berjudul Anak yang
Mengalir, bab 2 berjudul Masa-Masa Indah di Sekolah, bab 3 berjudul We Are
The Yellow Jacket, bab 5 berjudul Delapan Tahun yang Hangat]

Ada jarak yang tercipta. Saya seperti melakukan ziarah ke masa lalu saya.
Ziarah yang membutuhkan energi, kehandalan ingatan dan kemauan untuk berkata
dan menulis sejujur-jujurnya. Bagi yang sudah membaca, mereka anggap sedang
membaca sebuah "novel politik". Hahahaha... 

Mereka pikir, mana mungkin seorang IJP pernah berjualan es waktu SD,
berdagang sate padang, atau menjadi office boy setelah tamat kuliah di
Apartemen Rasuna. Saya juga masih ingat, di kampus dulu juga orang  tidak
percaya bahwa saya anak seorang PNS yang kemudian menjadi petani. Mereka
pikir, saya anak seorang jenderal, karena "berani". Bagaimana mau takut,
kalau tiga cita-cita saya waktu mahasiswa adalah mati muda, masuk penjara
dan bersalaman dengan Soeharto. Hahahaha...

Kalau bertemu dengan beberapa kawan yang sudah membaca sekarang, saya selalu
ditanya hal-hal yang mereka anggap tidak mungkin. Sama tidak mungkinnya
seorang office boy masuk CSIS atau anak HMI masuk CSIS atau setelah masuk
CSIS, adik-adik HMI menganggap : "Ada Jesuit baru di CSIS, dia banyak
menulis". 

Bahkan kalangan Katolik juga menyangka saya Katolik "yang berbeda dengan
Katolik lain di CSIS, karena bisa bicara soal rakyat". Ya, bagi saya, banyak
keajaiban dalam hidup saya, termasuk bisa masuk UI. Saya mensyukurinya.
Tetapi, seperti yang saya tulis dalam buku, justru banyak kesempatan yang
saya buang dengan sikap tanpa penyesalan, termasuk tawaran beasiswa
pendidikan ke Amerika Serikat. Mana ada anak CSIS yang tidak sekolah di luar
negeri, kecuali saya. Dan mana ada kamus menolak beasiswa luar negeri di
kalangan mahasiswa dan sarjana baru? Hahahaha...

Kekalahan mana yang paling menyakitkan bagi Anda?

Kekalahan mendukung Yuddy (Chrisnandi). Bagi saya, mendukung Yuddy adalah
bagian dari kontestasi biasa untuk mengatakan bahwa Partai Golkar menganut
paham demokrasi. Sejak awal, gagasan mendukung Yuddy bagi saya adalah
menggelegarkan Munas PG di media massa. 

Kami memiliki kedekatan dengan pers selama pilpres. Sebelum Munas, PG
dianggap sebagai ayam sayur yang kalah dengan konflik tajam yang bisa
membelah partai. Nah, saya katakan kepada tim kandidat lain bahwa Munas PG
adalah momentum untuk menunjukkan kebesaran PG. Untuk itu, harus dibuat
seheboh mungkin, tetapi berbeda dengan persoalan hidup-mati dalam pileg dan
pilpres.

Kenyataannya? Saya menemukan musuh yang lebih banyak di dalam PG, ketika
mendukung Yuddy. Mereka bahkan mengancam saya secara fisik. Ini sudah tidak
waras lagi, menurut saya.

Kekalahan paling membanggakan?

Ketika kekalahan itu, tentunya. Saya tetap bangga telah menunjukkan
sika-sikap politik yang bisa "base on textbook". Saya tapaki setiap
prosesnya dengan baik. Saya pamit di Universitas Paramadina di hadapan
200-an orang tanggal 6 Agustus 2008. Saya mencantumkan rekening dana
kampanye di milis-milis. Saya menyatakan secara terbuka lewat press release
tentang beragam hal. Saya bahkan membela Pak Wiranto, sesuatu yang tidak
pernah terpikirkan sepanjang hidup saya, dan saya juga membela JK. 

Padahal, saya tidak mengenal keduanya sebelum pilpres. Mengenal dalam artian
berdiskusi dengan santai. Saya juga sudah tunjukkan no heart feeling dengan
siapapun. Dana kampanye saya saja berasal dari beragam tokoh partai politik.
Teman-teman saya berasal dari seluruh partai politik. Lihat saja
testimoninya, hanya Partai Demokrat yang tidak sempat dimintai, karena
mereka kan pemenang, hahaha. [wir]

 

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

<<image001.jpg>>

Kirim email ke