Pak Anzori yth,
Kalo sample yang diambil dari kalangan menengah ke atas tentunya banyak sekali strategi yang bisa mereka gunakan. Seperti halnya Bapak atau Pak Reza dan lainnya. Bagi pekerja swasta di level menengah ke atas tentunya sangat banyak cara yang bisa dipergunakan. Saya yakin yang terbayang pertama kali adalah resiko. Tapi bayangan resiko ini tidak semua orang bisa mengendalikan apalagi buruh biasa. Jadi saya kutipkan perkataan seseorang : jangan main2 dengan perut lapar rakyat badarai. Kebetulan lagi semua factor dan kondisi memungkinkan untuk menjadi anarkis seperti saya ibaratkan : kertas udah lama disiram minyak kalo dicetuskan api ya terbakar. Banyak maaf, Wassalam Rina -- . Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe
