Orang ini patut dibanggakan dan diacungi jempol, karena sampai 2 x naik haji
dengan pekerjaan hanya sbg penjual es keliling. Tapi saya berdoa kepada Allah
SWT agar dia dijauhkan dari sifat ria: berhaji hanya karena hanya ingin jadi
terpandang. Jika ia mengumpulkan uang berdikit2 dengan tekat hanya untuk dapat
naik haji, dan ingin merasa terpandang karena gelar hajinya itu, tetapi
sebaliknya dia menelantarkan anak istrinya, mancakiak leher mereka agar
berhemat dan berdikit2 untuk makan sehari2, maka saya khawatir Allah akan
memandang dia secara sebaliknya. Sifat orang Indonesia yang ria pergi berhaji
sudah tercatat dalam banyak teks klasik Nusantara, misalnya dalam BUKU WOELANG
HADJI oleh HOOFD PENGHULU MOEHAMAD-HOESEN (aksara Jawi di hal. recto dan Latin
di hal. verso) dari Krawang yang kini tersimpan di Universiteitsbibliotheek
Leiden (Cod.Or.5567). Ia mengeritik orang2 Sunda dan Jawa di akhir abad ke-19
yang pergi haji tapi menelantarkan anak
istrinya di kampung, membuat mereka kelaparan dan jadi peminta. Ia mengeritik
pula orang yang memaksakan diri pergi berhaji, walau mangaciang perut
keluarganya atau minta2 ke sana sini. Berikut sedikit kutipan dari manuskrip
BOEKOE WOELANG HADJI (berdasarkan transkripsi atas versi Jawi-nya).
Buku Wulang Haji
Inilah Buku Wulang Haji, sudah dikarang oleh Raden Moehamad-hoesen[1], hoodf
Panghulu Tanah Krawang, pada hari bulan September 1875.
Tersalin oleh Kweekling ka-1 R. Poerawidjaja
[4r] Bermula ini buku karangan pengajaran dan memberi ingat kepada sekalian
orang2 yang mengharapkan akan keuntungan[2] dan keselamatan selama hidupnya,
jangan kena pedaya atau kena tipu setan[3] dan tipu nafsunya yang jahat, dari
karena[4] kebanyakan manusia di dalam dunia ini segala kehendaknya itu
melalui[5] daripada hukuman kemestiannya[6], dengan tiada menimbang da[n] tiada
memikir lebih dahulu, upama kejadian nantinya, dan lagi kebanyakan manusia
suka melakukan segala rupa2 perkara yang lebih [5r] besar ganjarannya atau
keuntungannya, tetapi tiada suka lebih dahulu mengerjakan sagala perabotnya
yang jadi syarat atau yang jadi diberlakukan sabelum mengerjakan pekerjaan yang
jadi sebab lantarannya mendapat keuntungannya yang besar2 itu. Maka yaitulah
yang dinamakan kena pedaya dan kena tipu nafsunya yang jahat dan pedaya setan
yang jadi merusakkan akan dirinya dan merusakkan akan sekalian hartanya,
karugian yang lebih susah digantinya,
sebab disengajanya daripada ke[6r]bodoannya[7], tiada dicari lebih dahulu
ilmunya, yaitulah[8] diupamakan[9] orang yang hendak dapat pangkat yang
besar2[10], seperti orang yang kepengen mendapat pangkat bupati, padahal tiada
suka belajar ilmunya[11] pekerjaan kabupatian dan tiada belajar ilmunya
kepatihan, atau orang yang kepengen kaya tiada suka rajin berusaha akan yang
menjadikan kekayaan. Itulah tiada sekali2 boleh masuk ke dalam akal[12] dan
tiada harus boleh didapat maksudnya. Dari hal ini buku pengajaran [7r] telah
disyairkan[13] dari permulaannya sampai pangabisannya[14], supaya menjadi
bertambah ragab[15] gumira[16] atas sekalian orang yang suka membaca. Inilah
buku diharapnya supaya lebih berguna pada sakalian anak2 sekolah dan sekalian
lainnya yang harap mendapat[17] selamat di dalam selama hidupnya.
[SKIP]
[1] Nama pengarang dan nama penyalin teks ini tetap ditulis sebagaimana bentuk
aslinya. Perubahan tulisan pada nama seseorang tidak dengan mudah dapat
dilakukan karena akan berpengaruh luas, misalnya menyangkut dokumen-dokumen
formal milik orang itu.
[2] Tertulis: ‘k-w’-ntw-ngn’ (ke’ntungan).
[3] Tertulis: ‘syytha-n’ (syethan), juga di bagian lain dalam teks ini.
[4] Tertulis: ‘kn-n’ (kerna), juga di bagian lain dalam teks ini.
[5] Tertulis: ‘ml-lw-’y’ (melalu’i).
[6] Tertulis: ‘kmsyty-’-nny ’ (kemisti’annya).
[7] Maksudnya: ‘kebodohannya’. Lihat berbagai bentuk turunan dari kada dasar
‘bodo’ (bukan ‘bodoh’) di bagian lain dalam teks ini.
[8] Tertulis: ‘iy-iytlh’ (iyaitulah), juga di bagian lain dalam teks ini.
[9] Tertulis ‘di upamakan ’. Rupanya dalam versi Jawi teks ini banyak imbuhan,
khususnya awalan di-, ditulis terpisah dari kata dasar yang mengikutinya. Dalam
transkripsi hal itu akan diperbaiki menurut sistem EYD, yaitu imbuhan ditulis
menyatu dengan kata dasar.
[10] Tertulis: ‘bsyr2’ (besyar2).
[11] Tertulis ‘lmny’ (‘ilmunya).
[12] Tertulis: ‘ ‘ql’ (‘aqal).
[13] Tertulis: ‘d-ysyngyr-kn’ (di syangirkan).
[14] Maksudnya: ‘penghabisannya’.
[15] ‘Ragab’, Sunda, ‘berjalan dengan baik dan teratur’.
[16] ‘Gumira’, Sunda, ‘gembira’.
[17] Ada garis bawah di bawah kata ini. Tintanya agak pecah, tapi yang dimaksud
memang kata ‘mendapat’.
1. Rasa dirinya banyak berguna
mengerjakan haji sudah sempurna
anak istrinya ditaro[1] di mana,
tinggal di belakang terlalu hina.
2. Demikian lagi tiada perduli
pergi ke haji dengan buta tuli
saratnya tiada tahu sekali
pusing di jalan menjadi kuli
[11r]
3. Fardhu dan rukun tiada mengerti
bodo den lupa di dalam hati
tiada belajar mana yang mesti
sungguh rugi kebawa mati
4. Naik haji itu rukun kelima
sebelun pergi mesti utama
jangan ingat supaya baik nama[2]
hidupmu selamat selama2
5. Tiada belajar lebih dahulu
sebelum pergi bodo terlalu
hendak bertanya malas dan malu
menurut setan dengan selalu
[12r]
[1] ‘Ditaro’ = ‘ditaruh’, ‘diletakkan’.
[2] Maksud baris ini: ‘Jangan berniat naik haji hanya karena ingin disanjung
orang, karena meninggikan nama.’
[dan seterusnya]
Catatan: Suntingan teks ini, beserta beberapa teks lainnya, akan terbit dalam
sebuah buku mengenai IMAGES ORANG NUSANTARA TENTANG IBADAH HAJI yang akan
diterbitkan oleh Ecole fracaise d'Extreme-Orient-Jakarta.
Wassalam,
Suryadi yg daif
AI
Dua Kali Haji dari Jual Es Keliling
Nengsih Adeyaka - Padang Ekspres
Rajin pangkal pandai, menabung pangkal naik haji. Begitulah motto seorang
penjual es keliling, Musdi, CJH asal Solsel yang kembali berangkat pada musim
haji tahun ini. Bagaimana kisahnya?.
Wajah Musdi tampak berbinar, saat Padang Ekspres (Group Padang Today)
berbincang soal keberangkatannya ke tanah suci. Di sela acara pembukaan manasik
haji bagi Calon Jamaah Haji (CJH) Solok Selatan, bapak tiga anak itu
menceritakan usahanya mengumpulkan uang, sedikit demi sedikit demi cita-cita
menunaikan rukun Islam yang ke lima.
“Karajo wak manjua es keliling. Dari situlah, pitih takumpua untuk barangkek
naik haji. (kerja saya menjual es keliling. Dari sanalah, uang terkumpul untuk
menunaikan ibadah haji),”ujarnya sambil membetulkan peci dikepalanya.
--
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi;
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe