Pak Saaf dan Pak Muljadi, sarato sanak di Palanta.
 
Bukan manapuak aia di dulang, inilah kelemahan kita umat Islam. Arab Saudi 
--atau negara2 Arab pada umumnya--yang kaya raya karena haji dan minyak tidak 
banyak berdampak kepada SESAMA SAUDARA MUSLIMNYA. Di sinilah kelemahan kita 
dibanding orang negara2 orang putih tempat saya terpaksa menompang mencari 
hidup sekarang. LIHAT SAJA: YUNANI BANGKRUT LANGSUNG DITOLONG OLEH SESAMA 
SAUDARA PUTIHNYA. Sebaliknya Arab Saudi yang kaya tidak begitu merasa 
berkewajiban menolong sesama saudara Muslimnya. Asal tahu saja: dengar2 Raja 
Arab Saudi memesan pesawat Airbus dua tingkat untuk 'INSTANA DI UDARA'. 
Gila.... orang Eropa saja yang bisa bikin pesawat tidak ada yang melakukan 
seperti itu. 
 
Soal bisnis haji sudah ada sejak zaman baheula. Ingatlah istilah 'HAJI PENANG' 
dan 'HAJI SINGAPURA'. Jauah dari Makah baru pitih lah lucuik disantuang para 
calo haji--orang2 seagama yang mengecoh orang2 yg seiman dengannya. Nanti akan 
saya postingkan peringatan dari DJA ENDAR MOEDA  (1903)--salah seorang bapak 
pers pribumi di Sumatra--kepada calon jemaah haji Nusantara tentang hal2 apa 
saja yang harus dihindari selama melakukan perjalanan haji ke Tanah Hejaz.
 
Wassalam,
Suryadi

--- Pada Sel, 4/5/10, Dr. Saafroedin Bahar <[email protected]> menulis:


Dari: Dr. Saafroedin Bahar <[email protected]>
Judul: Re: Bls: [...@ntau-net] Kualitas kehidupan di Ranah
Kepada: "Rantau Net" <[email protected]>
Tanggal: Selasa, 4 Mei, 2010, 3:58 PM


Sanak Muljadi, sudah barang tentu ada aspek bisnis dari perhajian ini, sejak 
dari tahap pendaftaran, tabungan/pembayaran di bank , pemeriksaan kesehatan, 
manasik, paspor/visa ke Saudi, travel/transit, katering, hotel, pemberian uang 
saku, dan kelas biasa atau haji plus/ eksekutif. Untuk itu di Indonesia ada 
berbagai perusahaan perjalanan haji yg tentu sebagian tujuannya mencari untung. 
[Bagi Saudi, kedatangan dua juta jemaah setiap tahun tentu bermanfaat sekali.]

Sebagian perusahaan perjalanan haji ini bagus, sebagian lagi tidak bagus, 
bahkan ada yg sampai menelantarkan/menipu jemaahnya, sehingga di-'black list' 
oleh Pemerintah.

Setahu saya belum ada yg mengkaji aspek bisnis dari perjalanan haji ini, 
padahal bahannya demikian melimpah, bisa jadi bahan disertasi utk studi strata 
3.

Bagaimana kalau Sanak Muljadi yg menanganinya ? Survai cepat saja dahulu.

Rasanya data bisa disuplai Riri, tentu dengan bertanya ke 'Prof' Google.

Wassalam,
Saafroedin Bahar.
Powered by Telkomsel BlackBerry®



-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke