Assalamualaikum w.w. para sanak sa apalanta,
Saya hampir tak percaya kepada posting Sanak Imran Al di bawah ini, yang 
intinya adalah bahwa  menurut penilaian Pemerintah Pusat cq BNPB,  Pemda Sumbar 
-- mulai dari Gubernur sampai pada Bupati dan Walikota pada enam daerah tingkat 
dua [kira-kira Pasaman, Agam, Pariaman/Kota, Pariaman/Kabupaten, Padang, dan 
Pesisir Selatan] dinilai  tidak mampu menyalurkan bantuan tingkat pertama 
terhadap para korban gempa besar bulan September 2009 yang lalu. Sebabnya 
adalah oleh karena tidak mampu membentuk pokmas [kelompok masyarakat], baik di 
tingkat kecamatan maupun di tingkat desa untuk menerima bantuan tersebut.

Sebagai akibatnya, kini BNPB merekrut 900 orang tenaga untuk melaksanakan 
distribusi bantuan tersebut. 
Sudah barang tentu saya bertanya: Bagaimana mungkin? Apa sebabnya ? Sebagai 
seorang pemerhati masalah etnik/ suku bangsa, yang sedang mencoba memersiapkan 
sebuah Kongres Kebudayaan Minangkabau bulan Agustus 2010 yang akan datang,  
saya bertanya kepada diri saya sendiri : apa yang telah terjadi di Sumatera 
Barat/ Minangkabau, yang terkenal dengan adat bersuku-suku lengkap dengan 
perangkat adat dan tanah ulayatnya, sampai hanya untuk membentuk kelompok 
masyarakat [pokmas] sekedar untuk menerima bantuan yang sudah disediakan 
Pemerintah Pusat tidak bisa melakukannya ? Tidak adakah hubungan fungsional 
antara pemda dengan para pemangku adat, yang mempunyai buah paruik, kaum, suku, 
yang jelas siapa saja`warganya, karena seyogyanya sudah tercatat dalam ranji ? 
Atau, lebih parah lagi, -- dan mudah-mudahan tidak demikian-- apa mungkin 
justru buah paruik, kaum, dan suku ini sendiri yang tidak berfungsi lagi ?
Saya tidak berani menduga-duga. Secara pribadi saya berpendapat bahwa hal ini 
perlu diteliti dan dikaji secara mendalam, baik secara teknis menurut disiplin 
ilmu pemerintahan/ ilmu administrasi negara, maupun dari perspektif sosial 
budaya. Setelah itu diupayakan mencari jalan keluarnya secara mendasar.
Kebetulan, saya sangat tertarik kepada masalah masyarakat-hukum adat ini sejak 
tahun 2004, sewaktu saya masih menjadi komisioner di Komnas HAM. Minat saya ini 
saya teruskan sampai sekarang, sebagai Ketua Dewan Pakar Sekretariat Nasional 
Masyarakat Hukum Adat (Setnas MHA) yang berpusat di Pekanbaru, Riau, dan 
sebagai Ketua Dewan Penasehat Gebu Minang, yang ditunjuk menjadi Ketua Steering 
Committee Kongres`Kabudayaan Minangkabau, 7-8 Agustus 2010 yang akan datang.
Hanya pengalaman dan pengamatan saya menunjukkan bahwa Minangkabau memang telah 
berubah banyak. Secara parsial hal ini diakui dan dikeluhkan oleh banyak pihak, 
termasuk para pemangku adat sendiri, hanya belum demikian banyak gagasan yang 
disampaikan tentang bagaimana menanganinya secara lebih konsepsional.
Pilihan bagi Minangkabau hanya dua : segarkanlah kembali tatanan sosial yang 
ada, atau lenyap pelan-pelan. 
Penarikan kepercayaan oleh BNPB yang diikuti oleh rekrutmen tenaga untuk 
menyalurkan bantuan yang tidak lancar, mungkin hanya puncak dari sebuah gunung 
es yang ada di bawah permukaan.
Adakah yang setuju dengan kerisauan saya ini ?
Wassalam,
Saafroedin Bahar(Laki-laki, Tanjung, masuk 73 th, Jakarta) 


--- On Tue, 6/1/10, Imran Al <[email protected]> wrote:

From: Imran Al <[email protected]>
Subject: Re: [...@ntau-net] Fw: Tujuh Bulan Peran LSM dan Organisasi Masyarakat 
  Madani dalam Penanganan Bencana G 30 S 2009 di Sumbar
To: [email protected]
Date: Tuesday, June 1, 2010, 7:26 PM

Tamparan atas Kegagalan

DELAPAN bulan setelah gempa 30 September, pemerintah pusat akhirnya menarik 
kembali kepercayaannya pada pemerintahan daerah di Sumbar. Khususnya kepada 
gubernur serta bupati dan wali kota pada enam daerah, yang masuk kategori 
terparah terkena dampak gempa berkekuatan 7,9 SR itu. 

Pemicunya, yang mengemuka tentu saja akibat desakan wakil rakyat asal Sumbar 
yang duduk di lembaga DPR RI. Selain itu, tentu saja akibat kinerja sang orang 
nomor satu di masing-masing daerah, dalam hal mengurus rakyatnya yang telah 
kehilangan tempat berteduh, rumah ibadah, tempat anak-anaknya bersekolah dan 
sarana-prasarana lainnya. 

Para pemimpin yang sebagian besar kini bertarung kembali memerebutkan 
singgasananya untuk periode selanjutnya, mungkin saja telah dianggap gagal oleh 
Badan Nasional Penanggulangan Bencana
 (BNPB), sebuah lembaga yang khusus dibentuk pemerintah, mengurusi persoalan 
penanganan bencana di republik ini. 

Walaupun terkesan ada desakan, sebenarnya, pemerintahan daerah tak berhasil 
lulus dalam ujian yang diberikan pusat. Yakni, menyalurkan bantuan tahap I 
sebesar Rp313 miliar. Rinciannya, sebesar Rp115 untuk rehabilitasi korban gempa 
yang masuk kategori rusak berat dan sedang. Sisanya, untuk bantuan modal kerja 
yang menggerakan sektor ekonomi produktif. 

Bagaimana bisa memeroleh kepercayaan untuk bantuan selanjutnya, jika yang 
pertama ini saja tak juga diterima korban gempa. Padahal, sejatinya, masih ada 
triliunan lagi bantuan pusat, yang telah dijanjikan untuk merehabilitasi dan 
merecovery Sumbar, yang luluhlantak akibat gempa yang telah menelan seribuan 
korban jiwa itu. 

Ketidakmampuan pemerintahan daerah Sumbar ini, sebenarnya sudah terbaca sejak 
BNPB melakukan evaluasi penyaluran bantuan gempa tahap I, medio Februari
 lalu di kantor gubernur Sumbar. Dalam rapat yang dihadiri gubernur serta wali 
kota dan bupati daerah penerima gempa tersebut terungkap, ketidakmampuan 
membentuk kelompok masyarakat (pokmas) dengan basis kecamatan. 

Seolah dengan koor satu nada, mereka (kepala daerah-red) ramai-ramai ngeles 
dengan menyebut, membentuk pokmas per kecamatan, kenyataannya menemui beberapa 
kendala. Macam-macam alasan yang dikemukakan. Akhirnya, dikesempatan itu 
disepakati, pokmas itu dibentuk dengan basis per kelurahan. Walaupun BNPB telah 
'mengalah,' tetap saja pokmas yang diminta tak kunjung tersedia sebagaimana 
dijanjikan hingga sekarang. 

Pertanyaannya sekarang, ketika telah diambil alih oleh pusat, apakah pokmas itu 
akan selesai dibentuk? Tak tahulah. Mungkin saja, pekerjaan pembentukan pokmas 
itu diambil alih oleh 900 orang tenaga kerja hasil rekruitmen yang tengah 
dilakukan BNPB saat ini. 

al imran
tingga
 di Padang, 34+


--- Pada Sel, 1/6/10, Dr. Saafroedin Bahar <[email protected]> menulis:

Dari: Dr. Saafroedin Bahar <[email protected]>
Judul: Re: [...@ntau-net] Fw: Tujuh Bulan Peran LSM dan Organisasi Masyarakat  
Madani dalam Penanganan Bencana G 30 S 2009 di Sumbar
Kepada: "Rantau Net" <[email protected]>
Tanggal: Selasa, 1 Juni, 2010, 2:59 PM



 
 

Syukur Alhamdulillah dan terima kasih atas sambutan positif KPMM. Semoga juga 
disambut positif oleh rekan-rekan KPMM lainnya.

Saya tunggu perkembangan selanjutnya.

Wassalam,SB, Lk, 73 th, Jkt. Powered by Telkomsel BlackBerry®From:  
<[email protected]>
Sender:  [email protected]
Date: Tue, 1 Jun 2010 10:08:08 +0700To: <[email protected]>ReplyTo:  
[email protected]
Subject: Re: [...@ntau-net] Fw: Tujuh Bulan Peran LSM dan Organisasi Masyarakat 
        Madani dalam Penanganan Bencana G 30 S 2009 di Sumbar

Pak Saaf YTH,
 
Terima kasih atas tanggapannya.
 
Mengenai Sekber PBD, mewakili KPMM saya menyambut 
baik usulan ini, dan akan saya sosialisasikan kepada kawan-kawan LSM yang ada 
di 
Sumbar yang bergerak dalam penanganan bencana/kesiapsiagaan bencana, agar dapat 
direspon. 
 
Mengenai tawaran untuk mengadakan suatu pameran 
tentang kebencanaan pada Kongres Kebudayaan Minangkabau, 7-8 Agustus mendatang, 
sangat menarik untuk dapat dilaksanakan. Memang kampanye mengenai kesiapsiagaan 
bencana ini sangat perlu di daerah rawan bencana seperti Sumbar. Oleh karena 
itu 
saya akan mencoba mengkomunikasikan dengan LSM-LSM lokal, nasional dan 
internasional yang sedang bekerja untuk penanganan bencana di 
Sumbar.

Demikian tanggapan saya, terima kasih atas tawarannya.
 
Wassalam,
 
Khairul Amri, 36+
Direktur Eksekutif 
Konsorsium Pengembangan Masyarakat Madani (KPMM)
Padang
 

  ----- Original Message ----- 
  From: 
  Dr. Saafroedin 
  Bahar 
  To: Rantau Net ; [email protected] ; Warni 
  DARWIS 
  Sent: Monday, May 31, 2010 3:55 PM
  Subject: Re: [...@ntau-net] Fw: Tujuh Bulan 
  Peran LSM dan Organisasi Masyarakat Madani dalam Penanganan Bencana G 30 S 
  2009 di Sumbar
  
Terima kasih atas informasi KPMM ini. 

Ada dua hal yg 
  masih perlu mendapat perhatian, yaitu 1) fakta bhw bencana th 2009 tsb 
mungkin 
  bukan merupakan bencana terakhir di Sumbar krn dua lempeng geologis yg ada 
  masih belum stabil , dan 2) koordinasi dgn organisasi perantau yg juga 
spontan 
  turun ke lapangan utk memberikan bantuan, termasuk Gebu Minang.

Awal th 
  2010 ini Gebu Minang menggagas perlunya Sekretariat Bersama Penanggulangan 
  Bencana Daerah (Sekber PBD) Sumbar sbg wadah permanen koordinasi potensi 
  masyarakat Ranah dan Rantau utk mitigasi dn penanggulangan bencana . Urgensi 
  Sekber PBD ini adalah krn BPBD yg resmi hanya terdiri dr pejabat 
  Pemerintah.

Amat ideal jika Sekber PBD ini berintikan unsur 
  KPMM.

Sekedar catatan, kesiagaan menghadapi bencana ini sdh tercantum 
  dlm Draft 16 Kesepakatan Bersama Kongres Kebudayaan Minangkabau, 7-8 Agustus 
  yad.

Bersediakah KPMM mengadakan pameran ttg kebencanaan di lokasi 
  Kongres di Bukit Tinggi pd tg 7-8 Agustus yad ?

Harap tanggapan KPMM. 
  Terima kasih.

Wassalam,
  SB, Lk, 73 th, Jkt. Powered by Telkomsel BlackBerry®
  

  From: <[email protected]> 
  Sender: [email protected] 
  Date: Mon, 31 May 2010 15:17:43 +0700
  To: <[email protected]>
  ReplyTo: [email protected] 
  Subject: [...@ntau-net] Fw: Tujuh Bulan Peran LSM dan Organisasi 
  Masyarakat Madani dalam Penanganan Bencana G 30 S 2009 di Sumbar
  

  ----- Original Message ----- 
  
  From: [email protected] 
  
  To: [email protected] 
  Cc: [email protected] ; [email protected] ; 
[email protected] ; [email protected] 
  ; [email protected] 
  ; [email protected] ; [email protected] ; [email protected] 
; [email protected] 
  ; [email protected] ; [email protected] 
  Sent: Monday, May 31, 2010 11:45 AM
  Subject: Tujuh Bulan Peran LSM dan Organisasi Masyarakat Madani 
  dalam Penanganan Bencana G 30 S 2009 di Sumbar
  

  
  Tujuh Bulan Peran LSM dan Organisasi Masyarakat Madani 
  dalam Penanganan Bencana G 30 S 2009 di Sumbar
  Oleh
   Khairul Amri, Direktur 
  Eksekutif Konsorsium Pengembangan Masyarakat Madani (KPMM), 
  Padang dan Anggota Stakeholder Council 
  Global Reporting Initiative (GRI), Amsterdam 
    
  Gempa 
  pada tanggal 30 September 2009 telah menggugah kehadiran para pihak dari 
  seluruh dunia untuk ikut membantu penanganan akibat-akibatnya. Pemerintah, 
  dunia usaha, dunia pendidikan, media serta organisasi masyarakat madani yang 
  diwakili LSM dan organisasi masyarakat madani lainnya dari lokal, nasional 
dan 
  internasional tercatat berperan aktif dalam upaya-upaya tersebut. Peran 
  tersebut sedikit banyak cukup membantu para korban dalam merehabilitasi 
  kehidupan mereka sedikit lebih baik. Berbagai upaya ditawarkan mulai dari 
  pemberian bantuan makanan dan rehabilitasi mental pada masa-masa tanggap 
  bencana, pembangunan rumah sementara, perbaikan penyediaan air bersih dan 
MCK, 
  promosi bidang kesehatan hingga bantuan kesehatan reproduksi dan advokasi 
bagi 
  korban-korban yang mengalami ketidakadilan di 
  lapangan. 

 




      

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke