Wa'alaikum salam ww,

Pak Saaf, kok buliah tanyo ciek, baa mangko adat jo pamangku nyo nan
apak tembak di masalah nangko. Dari kaba dibawah nan ditembak pusek KaDa
nyo tapi baa tibo diapak nan batembak adat jo parangkaiknyo.

Nampaknyo io lah paralu apak sugiro turun tangan go supayo mak labiah
maju Sumbar ko dimaso nan ka datang jo konsep nan sadang apak kambang
kini di KKM nan katibo.

 

Wassalam

Batuduang Ameh (43) Nan Ba Bandera Sirah

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of Dr.Saafroedin BAHAR
Sent: Wednesday, June 02, 2010 12:00 AM
To: [email protected]
Cc: Ir. Raja Ermansyah YAMIN; Mochtar Naim; Farhan Muin DATUK BAGINDO;
Amri AZIZ; gebuminang pusat
Subject: [...@ntau-net] BENARKAH PEMDA SUMBAR TAK MAMPU MENYALURKAN
BANTUAN BENCANA ?

 

Assalamualaikum w.w. para sanak sa apalanta,

 

Saya hampir tak percaya kepada posting Sanak Imran Al di bawah ini, yang
intinya adalah bahwa  menurut penilaian Pemerintah Pusat cq BNPB,  Pemda
Sumbar -- mulai dari Gubernur sampai pada Bupati dan Walikota pada enam
daerah tingkat dua [kira-kira Pasaman, Agam, Pariaman/Kota,
Pariaman/Kabupaten, Padang, dan Pesisir Selatan] dinilai  tidak mampu
menyalurkan bantuan tingkat pertama terhadap para korban gempa besar
bulan September 2009 yang lalu. Sebabnya adalah oleh karena tidak mampu
membentuk pokmas [kelompok masyarakat], baik di tingkat kecamatan maupun
di tingkat desa untuk menerima bantuan tersebut.

 

Sebagai akibatnya, kini BNPB merekrut 900 orang tenaga untuk
melaksanakan distribusi bantuan tersebut. 

 

Sudah barang tentu saya bertanya: Bagaimana mungkin? Apa sebabnya ?
Sebagai seorang pemerhati masalah etnik/ suku bangsa, yang sedang
mencoba memersiapkan sebuah Kongres Kebudayaan Minangkabau bulan Agustus
2010 yang akan datang,  saya bertanya kepada diri saya sendiri : apa
yang telah terjadi di Sumatera Barat/ Minangkabau, yang terkenal dengan
adat bersuku-suku lengkap dengan perangkat adat dan tanah ulayatnya,
sampai hanya untuk membentuk kelompok masyarakat [pokmas] sekedar untuk
menerima bantuan yang sudah disediakan Pemerintah Pusat tidak bisa
melakukannya ? Tidak adakah hubungan fungsional antara pemda dengan para
pemangku adat, yang mempunyai buah paruik, kaum, suku, yang jelas siapa
saja`warganya, karena seyogyanya sudah tercatat dalam ranji ? Atau,
lebih parah lagi, -- dan mudah-mudahan tidak demikian-- apa mungkin
justru buah paruik, kaum, dan suku ini sendiri yang tidak berfungsi lagi
?

 

Saya tidak berani menduga-duga. Secara pribadi saya berpendapat bahwa
hal ini perlu diteliti dan dikaji secara mendalam, baik secara teknis
menurut disiplin ilmu pemerintahan/ ilmu administrasi negara, maupun
dari perspektif sosial budaya. Setelah itu diupayakan mencari jalan
keluarnya secara mendasar.

 

Kebetulan, saya sangat tertarik kepada masalah masyarakat-hukum adat ini
sejak tahun 2004, sewaktu saya masih menjadi komisioner di Komnas HAM.
Minat saya ini saya teruskan sampai sekarang, sebagai Ketua Dewan Pakar
Sekretariat Nasional Masyarakat Hukum Adat (Setnas MHA) yang berpusat di
Pekanbaru, Riau, dan sebagai Ketua Dewan Penasehat Gebu Minang, yang
ditunjuk menjadi Ketua Steering Committee Kongres`Kabudayaan
Minangkabau, 7-8 Agustus 2010 yang akan datang.

 

Hanya pengalaman dan pengamatan saya menunjukkan bahwa Minangkabau
memang telah berubah banyak. Secara parsial hal ini diakui dan
dikeluhkan oleh banyak pihak, termasuk para pemangku adat sendiri, hanya
belum demikian banyak gagasan yang disampaikan tentang bagaimana
menanganinya secara lebih konsepsional.

 

Pilihan bagi Minangkabau hanya dua : segarkanlah kembali tatanan sosial
yang ada, atau lenyap pelan-pelan. 

 

Penarikan kepercayaan oleh BNPB yang diikuti oleh rekrutmen tenaga untuk
menyalurkan bantuan yang tidak lancar, mungkin hanya puncak dari sebuah
gunung es yang ada di bawah permukaan.

 

Adakah yang setuju dengan kerisauan saya ini ?

 

Wassalam,
Saafroedin Bahar

(Laki-laki, Tanjung, masuk 73 th, Jakarta) 




--- On Tue, 6/1/10, Imran Al <[email protected]> wrote:


From: Imran Al <[email protected]>
Subject: Re: [...@ntau-net] Fw: Tujuh Bulan Peran LSM dan Organisasi
Masyarakat Madani dalam Penanganan Bencana G 30 S 2009 di Sumbar
To: [email protected]
Date: Tuesday, June 1, 2010, 7:26 PM

Tamparan atas Kegagalan

DELAPAN bulan setelah gempa 30 September, pemerintah pusat akhirnya
menarik kembali kepercayaannya pada pemerintahan daerah di Sumbar.
Khususnya kepada gubernur serta bupati dan wali kota pada enam daerah,
yang masuk kategori terparah terkena dampak gempa berkekuatan 7,9 SR
itu. 

Pemicunya, yang mengemuka tentu saja akibat desakan wakil rakyat asal
Sumbar yang duduk di lembaga DPR RI. Selain itu, tentu saja akibat
kinerja sang orang nomor satu di masing-masing daerah, dalam hal
mengurus rakyatnya yang telah kehilangan tempat berteduh, rumah ibadah,
tempat anak-anaknya bersekolah dan sarana-prasarana lainnya. 

Para pemimpin yang sebagian besar kini bertarung kembali memerebutkan
singgasananya untuk periode selanjutnya, mungkin saja telah dianggap
gagal oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sebuah lembaga
yang khusus dibentuk pemerintah, mengurusi persoalan penanganan bencana
di republik ini. 

Walaupun terkesan ada desakan, sebenarnya, pemerintahan daerah tak
berhasil lulus dalam ujian yang diberikan pusat. Yakni, menyalurkan
bantuan tahap I sebesar Rp313 miliar. Rinciannya, sebesar Rp115 untuk
rehabilitasi korban gempa yang masuk kategori rusak berat dan sedang.
Sisanya, untuk bantuan modal kerja yang menggerakan sektor ekonomi
produktif. 

Bagaimana bisa memeroleh kepercayaan untuk bantuan selanjutnya, jika
yang pertama ini saja tak juga diterima korban gempa. Padahal,
sejatinya, masih ada triliunan lagi bantuan pusat, yang telah dijanjikan
untuk merehabilitasi dan merecovery Sumbar, yang luluhlantak akibat
gempa yang telah menelan seribuan korban jiwa itu. 

Ketidakmampuan pemerintahan daerah Sumbar ini, sebenarnya sudah terbaca
sejak BNPB melakukan evaluasi penyaluran bantuan gempa tahap I, medio
Februari lalu di kantor gubernur Sumbar. Dalam rapat yang dihadiri
gubernur serta wali kota dan bupati daerah penerima gempa tersebut
terungkap, ketidakmampuan membentuk kelompok masyarakat (pokmas) dengan
basis kecamatan. 

Seolah dengan koor satu nada, mereka (kepala daerah-red) ramai-ramai
ngeles dengan menyebut, membentuk pokmas per kecamatan, kenyataannya
menemui beberapa kendala. Macam-macam alasan yang dikemukakan. Akhirnya,
dikesempatan itu disepakati, pokmas itu dibentuk dengan basis per
kelurahan. Walaupun BNPB telah 'mengalah,' tetap saja pokmas yang
diminta tak kunjung tersedia sebagaimana dijanjikan hingga sekarang. 

Pertanyaannya sekarang, ketika telah diambil alih oleh pusat, apakah
pokmas itu akan selesai dibentuk? Tak tahulah. Mungkin saja, pekerjaan
pembentukan pokmas itu diambil alih oleh 900 orang tenaga kerja hasil
rekruitmen yang tengah dilakukan BNPB saat ini. 

al imran
tingga di Padang, 34+


--- Pada Sel, 1/6/10, Dr. Saafroedin Bahar <[email protected]>
menulis:


Dari: Dr. Saafroedin Bahar <[email protected]>
Judul: Re: [...@ntau-net] Fw: Tujuh Bulan Peran LSM dan Organisasi
Masyarakat Madani dalam Penanganan Bencana G 30 S 2009 di Sumbar
Kepada: "Rantau Net" <[email protected]>
Tanggal: Selasa, 1 Juni, 2010, 2:59 PM

Syukur Alhamdulillah dan terima kasih atas sambutan positif KPMM. Semoga
juga disambut positif oleh rekan-rekan KPMM lainnya.

Saya tunggu perkembangan selanjutnya.

Wassalam,

SB, Lk, 73 th, Jkt. Powered by Telkomsel BlackBerry(r)

________________________________

From: <[email protected]> 

Sender: [email protected] 

Date: Tue, 1 Jun 2010 10:08:08 +0700

To: <[email protected]>

ReplyTo: [email protected] 

Subject: Re: [...@ntau-net] Fw: Tujuh Bulan Peran LSM dan Organisasi
Masyarakat Madani dalam Penanganan Bencana G 30 S 2009 di Sumbar

 

Pak Saaf YTH,

 

Terima kasih atas tanggapannya.

 

Mengenai Sekber PBD, mewakili KPMM saya menyambut baik usulan ini, dan
akan saya sosialisasikan kepada kawan-kawan LSM yang ada di Sumbar yang
bergerak dalam penanganan bencana/kesiapsiagaan bencana, agar dapat
direspon. 

 

Mengenai tawaran untuk mengadakan suatu pameran tentang kebencanaan pada
Kongres Kebudayaan Minangkabau, 7-8 Agustus mendatang, sangat menarik
untuk dapat dilaksanakan. Memang kampanye mengenai kesiapsiagaan bencana
ini sangat perlu di daerah rawan bencana seperti Sumbar. Oleh karena itu
saya akan mencoba mengkomunikasikan dengan LSM-LSM lokal, nasional dan
internasional yang sedang bekerja untuk penanganan bencana di Sumbar.


Demikian tanggapan saya, terima kasih atas tawarannya.

 

Wassalam,

 

Khairul Amri, 36+

Direktur Eksekutif 

Konsorsium Pengembangan Masyarakat Madani (KPMM)

Padang

 

        ----- Original Message ----- 

        From: Dr. Saafroedin Bahar 

        To: Rantau Net ; [email protected] ; Warni DARWIS 

        Sent: Monday, May 31, 2010 3:55 PM

        Subject: Re: [...@ntau-net] Fw: Tujuh Bulan Peran LSM dan
Organisasi Masyarakat Madani dalam Penanganan Bencana G 30 S 2009 di
Sumbar

         

        Terima kasih atas informasi KPMM ini. 
        
        Ada dua hal yg masih perlu mendapat perhatian, yaitu 1) fakta
bhw bencana th 2009 tsb mungkin bukan merupakan bencana terakhir di
Sumbar krn dua lempeng geologis yg ada masih belum stabil , dan 2)
koordinasi dgn organisasi perantau yg juga spontan turun ke lapangan utk
memberikan bantuan, termasuk Gebu Minang.
        
        Awal th 2010 ini Gebu Minang menggagas perlunya Sekretariat
Bersama Penanggulangan Bencana Daerah (Sekber PBD) Sumbar sbg wadah
permanen koordinasi potensi masyarakat Ranah dan Rantau utk mitigasi dn
penanggulangan bencana . Urgensi Sekber PBD ini adalah krn BPBD yg resmi
hanya terdiri dr pejabat Pemerintah.
        
        Amat ideal jika Sekber PBD ini berintikan unsur KPMM.
        
        Sekedar catatan, kesiagaan menghadapi bencana ini sdh tercantum
dlm Draft 16 Kesepakatan Bersama Kongres Kebudayaan Minangkabau, 7-8
Agustus yad.
        
        Bersediakah KPMM mengadakan pameran ttg kebencanaan di lokasi
Kongres di Bukit Tinggi pd tg 7-8 Agustus yad ?
        
        Harap tanggapan KPMM. Terima kasih.
        
        Wassalam, 

        SB, Lk, 73 th, Jkt. Powered by Telkomsel BlackBerry(r)

________________________________

        From: <[email protected]> 

        Sender: [email protected] 

        Date: Mon, 31 May 2010 15:17:43 +0700

        To: <[email protected]>

        ReplyTo: [email protected] 

        Subject: [...@ntau-net] Fw: Tujuh Bulan Peran LSM dan Organisasi
Masyarakat Madani dalam Penanganan Bencana G 30 S 2009 di Sumbar

         

        ----- Original Message ----- 

        From: [email protected] 

        To: [email protected] 

        Cc: [email protected] ; [email protected] ;
[email protected] ; [email protected] ;
[email protected] ; [email protected] ;
[email protected] ; [email protected] ; [email protected] ;
[email protected] ; [email protected] 

        Sent: Monday, May 31, 2010 11:45 AM

        Subject: Tujuh Bulan Peran LSM dan Organisasi Masyarakat Madani
dalam Penanganan Bencana G 30 S 2009 di Sumbar

         

        Tujuh Bulan Peran LSM dan Organisasi Masyarakat Madani dalam
Penanganan Bencana G 30 S 2009 di Sumbar

        Oleh

         Khairul Amri, Direktur Eksekutif Konsorsium Pengembangan
Masyarakat Madani (KPMM), Padang dan Anggota Stakeholder Council Global
Reporting Initiative (GRI), Amsterdam

         

        Gempa pada tanggal 30 September 2009 telah menggugah kehadiran
para pihak dari seluruh dunia untuk ikut membantu penanganan
akibat-akibatnya. Pemerintah, dunia usaha, dunia pendidikan, media serta
organisasi masyarakat madani yang diwakili LSM dan organisasi masyarakat
madani lainnya dari lokal, nasional dan internasional tercatat berperan
aktif dalam upaya-upaya tersebut. Peran tersebut sedikit banyak cukup
membantu para korban dalam merehabilitasi kehidupan mereka sedikit lebih
baik. Berbagai upaya ditawarkan mulai dari pemberian bantuan makanan dan
rehabilitasi mental pada masa-masa tanggap bencana, pembangunan rumah
sementara, perbaikan penyediaan air bersih dan MCK, promosi bidang
kesehatan hingga bantuan kesehatan reproduksi dan advokasi bagi
korban-korban yang mengalami ketidakadilan di lapangan.

   

 

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan
ditempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email
lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

-- 
.
Posting yg berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan ditempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan disini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tidak dengan mereply email lama 
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin merubah konfigurasi/settingan 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe

Kirim email ke