nan alah ambo sigi salamo 2 bulan ko ka mak Google iyo indak ado batamu situs 
resmi LKAAM Sumbar ko doh. Kebetulan tanggal 29 Juni 2010 ambo niek kan untuak 
manelpon sekretariat LKAAM nan ba alamat  Jl Diponegoro Padang, nan manjawek 
sanak Sandrino Libra pegawai administrasi LKAAM & baliau juo menyatokan bahwa 
sampai saat 29 Juni 2010  LKAAM memang alun ado memiliki situs resmi. Sabananyo 
sangat disayangkan, dek karano warnet alah tumbuah bak cindawan di musim hujan 
di nagari-nagari ranah minang, nan tantu sajo bisa menjadi website pembelajaran 
adat budaya minangkabau pada generasi muda nan ado dikampuang-kampuang.


lai dapek sakatek berita soal LKAAM wakatu mubes kapatang ko, ado di situs 
resmi 
pemprov Sumbar

http://www.sumbarprov.go.id/detail_artikel.php?id=177

Mubes Dibelit LKAAM

H. Bagindo M. Letter, Ketua V Bidang Pendidikan dan Pelatihan LKAAM 
mengungkapkan bahwa panitia musyawarah besar (Mubes) LKAAM X dan Mubesar VII 
Bundo Kanduang, pada 7 dan 8 Juni 2010 ini terancam terbelit utang akibat 
keterbatasan dana. Mubes, katanya, membutuhkan biaya sekitar Rp 357, 7 juta. 
Sedangkan APBD Sumbar 2010 cuma menyediakan anggaran Mubes Rp 250 juta dari Rp 
1,3 milyar total anggaran yang diusulkan.


Padahal menurut Sekretaris Umum LKAAM M. Sayuti Dt. Rajo Pangulu, di pundak  
LKAAM terpikul tanggungjawab mewujudkan Adat Basandi Syara’ Syara’ Basandi 
Kitabullah (ABS-SBK), dan pendidikan moral adat dan budaya bagi anak kemanakan. 
Tapi komitmen Pemerintah daerah (Pemda) untuk melaksanakan program itu terkesan 
setengah hati. 


Dulu, kata Sayuti, di zaman Pejabat Gubernur Dunija, LKAAM malah mendapat  
anggaran Rp 1 milyar. Ini membuktikan pejabat yang bukan orang Minang lebih 
peduli  pada kajian adat dan budaya. Di beberapa daerah kepala daerah yang 
menjabat Ketua LKAAM juga memberikan perhatian besar kepada organiasi ini. 
Demikian antara lain pernyataan H. Bagindo M. Letter dan M. Sayuti Dt. Rajo 
Pangulu dalam jumpa pers 1 Juni lalu sebagaimana dikutip Padang Ekspres (hal 
23) 
Rabu 2 Juni 2010.


Pernyataan itu tentu saja menggelitik. Pertama, karena Sayuti dan HM Letter 
adalah pengurus inti LKAAM. Keduanya juga berpengalaman beberapa priode di DPRD 
Sumbar. Seharusnya mereka mengerti ”adat” prosedur dan proses pengusulan dan 
penetepan APBD, termasuk anggaran untuk LKAAM itu. Yaitu, ” ajukanlah sebanyak 
yang dinginkan dan terimalah sebanyak yang disetujui”. Adatnya bukan 
”ma-agak-an 
agiah urang. Kalau ma-agak-an agiah urang  sama dengan pemaksaan.

Kedua, sebagai senior di LKAAM keduanya tentu mengikuti sejarah LKAAM yang 
sejak 
berdiri di Padang 18 Maret 1966 silam hingga sekarang dibiayai Pemda Sumbar dan 
 
bupati/wali kota. Baik biaya operasional, personal, maupun kegiatan khusus 
seperti pelatihan, Mubes termasuk berkunjung ke negara tetangga. Kini, dengan 
menyebut bahwa Dunija yang tak cukup setahun di Sumbar (dari 27 Maret 1999 
hingga 24 Febaruari  2000) lebih peduli, sama artinya meniadakan kepedulian 
gubernur yang orang Minang dan DPRD sebelum dan sesudahnya. Artinya, karena 
hujan sehari percuma panas berpuluh tahun.

Ketiga, dengan menyebut kepala daerah yang ketua LKAAM lebih peduli kepada 
LKAAM, mengisyaratkan bahwa keduanya menginginkan gubernur dan kepala daerah 
yang akan datang mestilah seorang datuk dan ketua LKAAM. Sebagai mantan aktivis 
partai dan anggota DPRD keduanya wajar berpikir politis. Tapi sebagai pengurus 
LKAAM lembaga yang mengatasnamakan adat dan alam Minangkabau, pernyataan itu  
bisa menyeret LKAAM pada kepentingan pribadi. 


Melihat tiga hal diatas, keduanya tampaknya lupa kearifan lamah nan ka 
mancucuak, barek nan ka maimpok. Bukankah meagungkan dan membandingkan Pejabat 
Gubernur Dunija yang berasal dari Jawa dan bukan datuk kemudian pejabat kepala 
daerah yang kebetulan Ketua LKAAM dengan Gubernur Sumbar sekarang (Marlis 
Rahman) bisa mengusik Gubernur yang secara fungsional merupakan pelindung LKAAM 
dan bisa mengecilkan arti Kepala Daerah yang bukan Ketua LKAAM meski tak pernah 
mengabaikan LKAAM selama ini.

Keduanya juga terkesan tidak konsisten. Di satu pihak mereka mengaku paham 
keterbatasan anggaran Pemda, di pihak lain justru melontarkan kekecewaan pada 
keterbatasan anggaran itu. Padahal, kabarnya, Gubernur Marlis Rahman sudah 
menawarkan solusi mengatasi kekurangan biaya Mubes itu. LKAAM diminta 
menggunakan anggaran rutin sementara menunggu pengesahan anggaran perubahan. 
Kalau itu benar dan keduanya masih merasa kecewa, tentulah ada maksud-maskud 
lain di balik pernyataan itu. Bisa jadi mau menjajakan LKAAM kepada orang lain 
selain Gubernur Marlis Rahman, yang boleh jadi bergelar datuk. Maklum, pasar 
tentang itu kini sedang terbuka. 


Kemudian, jika benar pernyataan keduanya bahwa LKAAM merupakan refresentasi 
dari 
ninik mamak, mereka mestinya tak mencemaskan utang tersebut. Sebab seorang 
ninik 
mamak yang arif, paham sekali mamak di pintu utang, keponakan di pintu bayia. 
Gubernur dan para bupati/walikota adalah keponakannya sekaligus pelindung LKAAM 
di wilayah masing-masing, yang tak akan membiarkan mamaknya tergadai karena 
utang.

Maka, mencermati pernyataan Sayuti dan HM. Letter itu agaknya LKAAM bukan 
sedang 
terbelit utang melainkan terbelit kepentingan. Karena itu para peserta Mubes 
patut menjauhi sikap-sikap seperti itu karena bisa merusak citra LKAAM di mata 
masyarakat adat dan dapat mengusik keserasian tungku tigo sajarangan dan tali 
tigo sapilin yang telah menjadi tatatan sosial politik dalam membangun Sumbar 
selama ini. (*)

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke