sekian lama sudah waktu berjalan dan progres bantuan bencanapun datang. 
Beragam 
macam bantuan, mulai dari pemerintah NGO samapai kepada 
pribadi-pribadi.Walaupun 
masih banyak tahapan dan pekerjaan yg harus dibenahi pasca gempa besar yg 
melanda Ranah Minang. Dan teror tsunami selalui menghantui, baik tsunami dari 
dampak gempa maupun tsunami budaya.

Siang tadi saya ikut mendengarkan sahabat saya persentasi tentang kearifan 
lokal 
dan dampak dari pemahaman modrenisasi dan lemahnya keberpihakan pemerintah 
tentang akan datangnya tsunami budaya ini.

Persentasi yg berlangsung di kantor beliau yg dihadiri oleh kelompok yg sedang 
meng-gaungkan green building. Kawan saya tersebut memaparkan sebuah proyek 
idealis yg mereka kerjakan di desa We Rebo diKabupaten Manggarai pulau Flores. 
Desa We Rebo ditempuh jalan kaki dari desa terdekat selama 5 jam jalan kaki. 
Memang alat transportasi yg ada cuma itu, bagusnya sentuhan tangan pemerintah 
tidak sampai kesana dan selamatlah kampung tersebut dari pendekatan yg katanya 
modren.

Perkampungan tersebut dulunya mempunyai 7 bangunan. Sekarang tinggal 3 dan 
itupun tinggal menunggu waktu karena kalnggan mudanya pergi merantau dan 
biasanya kalo pulang tentunya membawa pandangan2 baru. Desa yg konon kata 
tetuanya merupakan daerah perantauan orang minang 1000 tahun yg lalu mendadak 
kedatangn tamu dari Jakaarta yg memang langka karena tamu yg datang kesana 
lebih 
banyak orang eropa dan asia timur/tengah berdasarkan dari buku tamu yg mereka 
isi. kawan2 JKT ini mencoba menjadi mediator utk melestarikan bangunan 
-bangunan 
yg mempunyai filosofi yg tinggi.

Yg mnarik dari proses berdirinya bangunan ini adalah bagaimana diantara kita 
saling menghargai keragaman arsitektur nusantara ini. Apalagi kawasan yg jauh 
dijangkau ini dapat dijadikan kawasan eco tourism yg sangat memikat.

Selanjutnya beliau persentasi tentang rumah adat/raja disalah satu daerah di 
Nias.   Bagaimana susahnya membangun bangunan di daerah pasca bencana tersebut. 
Apalagi bantuan asing yg menawarkan rumah cepat saji dengan sertifikat tahan 
gempa. Padahal mereka tidak mempelajari kultur budaya dari mereka yg merupakan 
masyarakat asli. pola ruang kawasan dan struktur rumah nias yg sudah teruji. 
inilah yg saya takutkan di Sum Bar, tsunami budaya. Rumah pesisir masyarakat 
Pariaman berobah dg rumah cepat saji dg sertifikat anti gempa. Begitu juga 
dengan kota Padang, kearifan lokal semakin menipis.

apalagi para pakar semalam sudah memperlihatkan jalur terbaru potensi gempa dan 
berbarengan dengan rumah/bangunan yg harus sesuai dg standar 
SNI..............apakah banguna tradisionil kita ada mauk dalam daftar 
tersebut??????????? dan jangan lupa bahwa tatanan dan budaya membentuk karakter 
manusianya.

sedikit tukar pikiran di hari sabtu malam minggu


Nanang, jkt LL


________________________________
Dari: Nofend Marola <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Terkirim: Jum, 16 Juli, 2010 07:26:57
Judul: RE: [...@ntau-net] Info Seputar Bantuan Bencana SUMBAR

 
Korban Gempa Tunggu Kehadiran Fasilitator Rekonstruksi
 
Padang, (ANTARA) - Ribuan masyarakat yang rumahnya rusak akibat gempa 7,9 SR di 
Sumatera Barat (Sumbar) menunggu kehadiran para petugas fasilitator 
rekonstruksi 
untuk mendapat pengetahuan teknis membangun rumah yang lebih ramah bencana.
 
Kehadiran petugas fasilitator ditunggu masyarakat untuk mendapat informasi dan 
pengetahuan tentang perbaikan dan pembangunan kembali rumah mereka dengan 
bangunan lebih kuat dan ramah akan bencana,
kata Koordinator Tim Pendukung Teknis Rehabilitasi dan Rekonstrusi Sumbar 
Pascagempa, Dr Sugimin Pranoto di Padang, Jumat.
 
Hal itu disampaikanya, dalam penutupan pelatihan tahap-II bagi 247 orang 
petugas 
fasilitator Rehabilitasi dan Rekonstrusi Sumbar Pascagempa yang dilaksanakan 
Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta Padang.
 
Kegiatan penutupan juga dihadiri Rektor UBH Prof Dr Hafrijal Syandri, Dekan 
FTSP 
UBH Ir Hendri Warman MSCE dan Ketua Pelaksana Teknis Rehabilitasi dan 
Rekonstrusi Sumbar Pascagempa, Dr Bahrul Hanif serta 247 petugas fasilitator 
program ini.
 
Menurut Sugimin, tugas lain para fasilitator di tengah masyarakat adalah 
pengetahuan penyaluran bantuan, mempersiapkan masyarakat, mendiskusikan 
kebutuhan dan rencana kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa.
 
Ia menyebutkan, ada enam kegiatan pokok untuk menentukan keberhasilan 
pelaksanaan tugas para fasilitator nantinya, yakni, validasi kerusakan rumah 
warga, pembentukan kelompok masyarakat (pokmas) korban gempa.
 
Kemudian, penyusunan usulan pemanfaatan bangunan, penyusunan berkas pencairan 
dana bantuan gempa tahap I dan tahap II serta pengawasan pelaksanaan perbaikan 
dan pembangunan kembali rumah warga.
 
Setelah melakukan pelatihan, ratusan petugas fasilitator ini segera disebar ke 
wilayah-wilayah yang terkena dampak gempa dan tanah longsor pada tujuh 
kabupaten 
dan kota di Sumbar untuk membantu masyarakata merekonstruksi kembali tempat 
tinggal warga.
 
Sejumlah wilayah di Sumbar pada 30 September 2009 diguncang gempa 7,9 SR 
diikuti 
tanah longsor menyebabkan 1.195 orang tewas, ribuan orang luka-luka, ribuan 
orang mengungsi dan menimbulkan kerugian material ditaksir mencapai Rp21,58 
triliun.
 
Kerugian terbesar dialami akibat kerusakan perumahan milik masyarakat yang 
mencapai 74 persen dari total Rp21,58 triliun.
 
Kerugian tersebut berdasarkan hasil verifikasi final yang menyebutkan sebanyak 
249.833 unit rumah milik masyarakat rusak akibat gempa dan tanah longsor.
 
Kategori kerusakan terdiri dari 114.797 unit rusak berat atau roboh rata dengan 
tanah, 67.198 unit rusak sedang dan 67.838 unit rusak ringan.
 
Kerugian terbesar kedua dialami karena kerusakan pada komponen bidang ekonomi 
produktif mencapai 11 persen, lalu komponen sosial tujuh persen dan komponen 
infrastruktur liam persen.
 
Kerusakan lainnya yang menimbulkan kerugian adalah pada komponen lintas sektor 
terutama pada kantor pemerintahan yang mencapai kerugian tiga persen dari total 
Rp21,58 triliun tersebut, tambahnya.
 
Sedangkan kerugian berdasarkan kepemilikan aset yang rusak, diketahui 89 persen 
adalah milik swasta dan masyarakat serta 11 persen milik pemerintah. (*/sun)
 
| ANTARA Sumbar | Jumat, 16/07/2010 06:54 WIB
http://www.antara-sumbar.com/id/berita/propinsi/d/1/112197/korban-gempa-tunggu-kehadiran-fasilitator-rekonstruksi.html

 
-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
  • ... Nofend Marola
    • ... Nofend Marola
      • ... asfarinal, asfarinal, asfarinal, asfarinal nanang, nanang, nanang, nanang

Kirim email ke