Dunsanak Sadonyo.
Maaf kalau ambo dianggap narsis. Tujuan "ke-narsis-an" ko cuma untuak mengurangi rencana pengeluaran dunsanak nan lain, yang tadinyo tapikia ka membantu katigo anak2 tu, kini cukuik nan 2 sajo lai. Sabantako ambo lah confirmed ka Redaksi SInggalang ka transfer untuak Afdal Tanjung 7 juta (uang masuak plus beli buku atau apalah kebutuhan dia). Btw, untuak Afdal Zikri Mawardi, adiak kelas ambo di SMA, di STAN, dan di Palanta, are you there? J Riri Bekasi, l, 48 -----Original Message----- From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf Of Nofend Marola Sent: Tuesday, July 20, 2010 10:40 AM To: [email protected] Subject: [...@ntau-net] Derai Air MATA Ibu-ibu Miskin di Singgalang Selasa, 20 Juli 2010 Derai Air MATA Ibu-ibu Miskin di Singgalang : Nasib Anak Kami di Tangan Dermawan PADANG - Tiga orang ibu, satu di antaranya, sudah nenek-nenek, kemarin menangis di Harian Singgalang. Nenek datang dari Pariaman. Seorang dari Pesisir Selatan dan satu lagi dari Padang. Ketiganya datang dengan anak tercinta yang diterima di perguruan tinggi. Anak-anak mereka pintar bukan buatan. Anak yang dari Pesisir Selatan misalnya, dipanggil ke Universitas Leiden di Belanda, tapi gagal berangkat karena tak ada uang. Dipanggil Universitas Indonesia (UI), juga gagal karena hal yang sama. Lalu sekarang dipanggil oleh Universitas Brawijaya. Seorang anak tukang cuci, nyaris kehilangan masa depan, karena kemiskinan. Lantas, seperti biasa, suratkabar tercinta ini, mengetuk Anda, sudilah kiranya membagi rezeki untuk tunas-tunas bangsa, titipan Tuhan, demi masa depan mereka. Afdal Kabar lulusnya Afdal Tanjung, putra kesebelas dari seorang ibu bernama Anuar, membuat hatinya campur aduk. Di satu pihak, ia merasa bangga karena anaknya berhasil merebut bangku kuliah di Unand, dari sekian banyak pesaing. Tapi di sisi lain ia gundah gulana, mengingat tidak ada satupun yang bisa dijualnya untuk biaya kuliah. Apalagi tubuh tuanya baru saja sembuh dari sakit-sakitan yang beberapa waktu lalu terkena stroke. "Amak alah jando nak... apak anak-anak alah lamo maningga. Tapi anakko kareh juo hatinyo ndak kuliah. Hanyo iko dayo amak, mintak bantuan dermawan Harian Singgalang (Ibu sudah janda nak... Ayah anak-anak sudah lama meninggal. Tapi anak saya ini keras juga hatinya ingin kuliah. Hanya ini yang bisa ibu lakukan, meminta bantuan dermawan Harian Singgalang-red)," kata Anuar dengan berlinang air mata kepada Singgalang, sewaktu mengutarakan maksudnya datang ke Harian Singgalang, Senin (19/7). Anuar mengusap air matanya yang sedari tadi ia coba menahan supaya tidak jatuh. Afdal sendiri hanya bisa menunduk, karena memang inilah yang bisa ia lakukan saat ini. Sebenarnya, Afdal sudah menganggur dua tahun. Ia lulus SMA I Nagari Nan Sabaris Kab. Padang Pariaman 2008 lalu. Melihat kondisi keluarganya yang miskin, ia memutuskan untuk bekerja di Pekanbaru dan diterima di bagian suntik ayam. "Sebenarnya saya ingin menabung untuk biaya kuliah. Tapi itu tidak terwujud, karena ibu sakit-sakitan, sementara keluarga saya butuh makan. Uang gaji akhirnya saya kirim ke kampung untuk biaya hidup ibu dan keluarga lainnya," imbuh Afdal. Hasrat ingin kuliah kembali memenuhi hatinya di tahun 2010. Ia pun memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan dan balik ke Jorong Muaro, Kanagarian Kurai Taji Pariaman. Sejak saat itu, ia mulai tekun membolak balik buku pelajaran. Hasilnya, ia pun lulus SNMPTN di Agro Eko Teknologi Fakultas Pertanian Unand. Hatinya sangat gembira karena bisa lulus, di tengah keterbatasan yang ada. Rasa khawatir datang, ketika membaca biaya pendaftaran yang mencapai Rp5 juta lebih. "Tanggal 20 besok, terakhir saya harus mendaftar. Kalau uangnya tidak ada, punah sudah harapan saya untuk kuliah. Swasta jelas tidak akan sanggup saya menjalaninya. Saya sangat berharap, agara para dermawan mau membantu saya," kata Afdal menghiba. Jika nantinya bisa kuliah, Afdal sudah berencana kuliah sambil kerja. Ia akan banting tulang mengumpulkan uang, untuk biaya hidup dan uang kuliah semester berikutnya. Nova Bersamaan dengan Afdal, datang pula Nova. Ia lulus SNMPTN. Diantara ribuan orang yang ikut SNMPTN, namanya tertera menjadi satu dari sedikit yang diterima. Namun itu hanya sejurus. Tak sampai sepeminuman teh, perasaan cemas menghampiri. Tatkala melihat sejumlah uang yang harus disediakan demi mengecap bangku kuliah itu. Adalah Nova Susilawatiwitri (18), anak seorang tukang cuci di kawasan Lapai, Padang, diterima di Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri Padang. Namun untuk bisa berkuliah di perguruan tinggi terkemuka di Sumbar itu, Nova harus menyediakan biaya mencapai Rp4,5 juta yang dibayar dalam dua tahap. Tahap pertama harus dilunasi Rp2,75 juta paling lambat 24 Juli 2010. Sedangkan tahap selanjutnya Rp1,75 juta lagi yang harus dilunasi pada Desember nanti. Pusing kepala Nova memikirkannya. Mau mengadu, kepada siapa akan mengadu. Bapaknya Amin Moron sudah lama tiada. Sedang ibunya Lindawati (43) hanya seorang tukang cuci. Berderai airmata Nova memikirkannya. Di matanya terbayang masa depan yang akan dirajutnya. Namun banyangan itu kembali terhenti saat jumlah uang yang harus dibayar melintas lagi dibenaknya. Sehabis akal ia memberanikan diri datang ke Redaksi Singgalang. Dengan penuh haru ia bercerita tentang cita-citanya. Namun uang pangkal penebus bangku kuliah itu serasa sangat berat. "Tak tahu kemana kami akan mengadu pak. Kalaulah saya bisa kuliah, saya satu-satunya dari empat bersaudara yang bisa mengecap pendidikan di perguruan tinggi," ungkapnya. Entah rezeki yang sedang baik, saat bersamaan ada seorang dermawan yang akan menyumbang. Saat itu juga bantuan untuk Nova mengalir. Uang sejumlah Rp3 juta pembayar uang tahap pertama pun sudah di tangan. "Alhamdulillah, ada dermawan yang membantu. Mudah-mudahan rezeki bapak itu dilipatgandakan Allah," ujarnya. Ikhsan Otaknya benar-benar pintar dan cerdas. Apalagi, wajahnya begitu tampan. Dia bernama M Ikhsan Putra, 19. Berkat kecerdasannya itu putra kembar asal Pesisir Selatan itu berhasil lulus sebagai mahasiswa Bisnis International di Universitas Brawijaya setelah mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Pernyataan kelulusan tersebut dibacanya di koran Sabtu lalu dan disana tertera nomor ujian 310-17-150407005 dinyatakan lulus pada pilihan ke tiga di Universitas Brawijaya. Sayangnya, keinginannya terpaksa ditunda karena orang tuanya tidak memiliki biaya untuk menyekolahkannya. Orang tua laki-laki lumpuh di rumah, sementara sang ibu Nurmayantini hanya seorang guru ngaji di kampungnya. Untuk biaya uang masuk di Universitas Brawijaya membutuhkan biaya Rp9.260.000. "Dengan penghasilan uang orang tuanya pas-pasan tersebut mana mungkin bisa membiayai saya sekolah," ungkap M Ikhsan Putra. Sebelumnya anak tampan yang pintar berbicara dengan Bahasa Inggris secara otodidak ini telah melewatkan tawaran kesempatan beasiswa baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Dalam negeri seperti Sampoerna dan CIMB Niaga. Sedangkan dari luar negeripun, dia dianggurkan begitu saja. Dua di antaranya dari Universitas Leiden dan dari Rotterdam Belanda. "Semuanya, waktu pendaftaran ulangan untuk penerima beasiswa sudah lewat. Karena saya tidak punya biaya tiket untuk pergi ke sana melakukan pendaftaran ulang," ucapnnya dengan nada sedih. Tapi, tahun ini dia memiliki kebulatan tekad untuk melanjutkan pendidikan. Korbaran api semangat di jiwanya masih ada, walaupun selama enam bulan ini telah bekerja pada sebuah rumah makan di Pasar Raya Padang. "Tapi uang dari hasil kerja itu belum cukup untuk biaya kuliah," ungkap lelaki pekerja kerja keras dan pintar itu. Hanya dengan kepintarannya itu siswa SMA 1 Tarusan Pesisir Selatan ini berhasil mendapatakan tawaran beasiswa dari beberapa universitas ternama di Indonesia maupun di luar negeri. Dia sangat mengharapkan bantuan supaya bisa berkuliah kembali, mengembangkan potensi dirinya, demi mambangkik batang tarandam. Dia agak deg-degkan sebab waktu pembayaran masuk di Universitas Brawijaya dilakukan dimulai tanggal 19-30 Juli ini. Ibunya, Nurmayantini, yang guru mengaji itu, matanya sabak. Sulit bisa mendapatkan anak sepintar anaknya. Tapi, kepintaran anaknya sekaligus bagai sembilu, mengiris hatinya. Ia meneteskan air mata dan menyapunya cepat-cepat, seolah ia tak ingin anaknya melihat ia menangis. Andakah yang ditunjuk Allah SWT sebagai dermawan yang akan membantu Afdal, Ikhsan dan Nova? Silahkan salurkan donasi anda lewat Harian Singgalang, nomor telepon 0751-36923. (Hendri Nova/Bambang/Lenggo) http://berita.hariansinggalang.co.id/media.php?module=detailberita&id=39 -- -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
