السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Pertama saya turut prihatin atas keadaan yang menimpa anak-anak kita ini. sesungguhnya banyak lagi anak-anak seperti mereka yang bahkan menutup mimpi mereka lebih awal dengan berinisiatif tidak melanjutkan ke bangku kuliah, namun langsung mencari rezki di dunia kerja. Bahkan banyak lagi nasib anak-anak kita yang lebih susah dari ini. Di dekat tempat usaha saya, bahkan orang tuanya ingin menunda anaknya masuk SD karna tidak punya uang, padahal usianya sudah usia sekolah. Masuk SD negeri yang katanya gratis tidak bisa karena sekolah lebih menerima anak-anak dengan kemampuan yang lebih tinggi, dan kebanyakan mereka keluarga berada (yang kaya malah dapat subsidi) dengan terpaksa masuk kesekolah swasta yang harus bayar. Alhamdulillah kami bisa bantu sepenuhnya. Sekarang kalau sudah begini pertanyaannya, siapa yang harus bertanggung jawab? Masyarakat? Masyarakat tentunya secara moral dan agama punya kewajiban, terutama mereka yang bertetangga dengan anak-anak tersebut. Namun disisi lain, perkembangan pembangunan membuat masyarakat kita terkotak, si kaya dengan perumahan kayanya. Simiskin dengan komunitasnya. Setiap insan juga punya kewajiban yang sudah di syariat kan melalui zakat, infak dan sadaqah. Pertanyaannya, sudah kah kita membayar zakat? Menyisihkan infak? Dan mengeluarkan sadaqah? Jika saja kita semua punya kesadaran membayar zakat, Insya Allah jelaslah tempat mereka mengadu. Setiap warga negara juga punya kewajiban melalui pajak dan retribusi. Naaaah... yang ini kebanyakan kita mengelak dengan berbagai alasan, pemerintah koruplah, penyaluran tak jelas, bahkan dianggap tidak wajib dalam agama, yang wajib hanya zakat. Pertanyaannya, sudahkah kita membayar pajak dengan benar dan jujur? Siapa lagi yang bertanggung jawab ? Pemerintah? Ya, pemerintah adalah orang yang dipercaya masyarakat untuk mengatur negaranya. Tapi yang kita saksikan saat ini adalah mereka malah sibuk mengurus diri sendiri, memperkaya diri, tanpa merasa berdosa telah lalai terhadap anak-anak ini. Padahal UU sudah mengatur tanggung jawab ini. Semua salah masyarakatnya juga, karena memilih pemimpin yang tidak peduli dengan masyarakat, yang tidak merakyat, yang suka menumpuk harta. Pemimpin adalah cerminan masyarakatnya, kalau kita lihat banyak pemimpin yang melakukan kemungkaran saat ini, yakinlah masyarakat kita juga gemar melakukan hal yang sama (dalam kasus yang berbeda, mungkin lebih kecil atau lebih besar saja nilainya) Sekarang kalau masyarakatnya tidak bertanggung jawab, pemerintahnya tidak bertanggung jawab...akan kah kita serahkan semuanya kepada Allah Swt Wassalam, Haris Jumadi, 34, Pekanbaru Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...! -----Original Message----- From: "Nofend St. Mudo" <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Wed, 21 Jul 2010 13:45:13 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: RE: [...@ntau-net] Derai Air MATA Ibu-ibu Miskin di Singgalang Rabu, 21 Juli 2010 MASUK PERGURUAN TINGGI : Anak-anak Miskin yang Terhempas PADANG - Maida, anak Solok Selatan yang gigih itu, bergerilya dari kantor ke kantor meminta sumbangan agar ia bisa masuk Unand. Nida Ria, anak yatim itu, terhantuk langkahnya ketika ia dinyatakan diterima di UNP. Ibu tercinta hanyalah seorang penjual lontong. Lalu Anggun nyaris terhempas di ujung malam, karena ketiadaan uang. Motor kakaknya sudah digadai, tapi uang untuk menuju universitas Padjadjaran Bandung, masih belum cukup. Sementara Nova, Afdal sebagaimana disiarkan Singgalang, kemarin mulai agak lega. Nova sudah mengantongi bantuan dari Hamba Allah Rp3 juta dan Bazda Kota Padang Rp4 juta. Akan halnya Afdal, sudah dijanjikan, tapi belum diserahkan. Meski begitu, ia sudah diterima mendaftar di Unand. "Tak ada anak miskin yang ditolak di sini," kata Rektor Unand, Musliar Kasim. Sedangkan M. Ikhsan yang diterima di Universitas Brawijaya, baru dapat Rp2 juta, sementara kebutuhannya Rp9 juta. Bukan pengemis Hari ini ada kisah tentang Maida Solvianti. Gadis remaja itu bukan pengemis, tapi pelajar ulet yang ingin masuk perguruan tinggi. Namun karena orangtuanya miskin, ia nekat menjajakan daftar sumbangan. Walau hasilnya tak cukup, bermodal sumbangan itulah ia mendaftar jadi mahaiswa di Fakultas Pertanian, Universitas Andalas, Padang. Namanya Maida Solvianti, tamat SMA Negeri 1 Solok Selatan. Maida lulus Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SMPTN) yang diumumkan 17 Juli lalu. Kepastian diterima di PTN ternama di Sumbar itu diketahuinya lewat pengumuman di surat kabar terbitan Padang. Maida anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Syamwil dan Somi. Orangtua petani miskin di kampungnya Pasir Talang, Kecamatan Sungai Pagu. Jangankan untuk biaya masuk perguruan tinggi, untuk makan sehari-hari saja, orangtua Maida sudah pontang panting. Saat membaca hasil seleksi di media massa yang menyatakan ia lulus, mata Maida berkaca-kaca. Wajahnya sumringah, gembira. Betapa gembiranya hati anak pertama dari empat bersaudara ini. Namun di balik kegembiraan dan kebahagiaan itu, ada rona sedih di wajahnya, sebab orangtuanya miskin, tidak punya uang untuk melanjutkan sekolah. Dalam pengumuman tersebut dicantumkan, bagi yang lulus segera mendaftar ulang dengan biaya Rp5 juta. Maida sedikit kecewa, ketiga adik-adiknya juga tengah memerlukan biaya sekolah pula. Waktu mencari uang pinjaman terlalu singkat. Bermodalkan nekad, Maida berjalan gontai menemui pihak sekolah untuk dicarikan jalan keluarnya. Bagaimana untuk mendapatkan uang pendaftaran Rp5 juta. Maida sadar, kalau diminta kepada orangtuanya, kemana akan dicarikan uang sebanyak itu. "Untuak makan sajo indak cukuik nak!," kata Maida mengulang jawaban dari ayahnya Syamwil. Keluhkan Maida direspon SMA 1 Solsel. Kepala sekolah, Ridwan.Spd, MM secara spontan mengumpulkan sumbangan dari dari guru dan pegawai di sekolah tersebut. Tak hanya sumbangan, pihak sekolah juga memberikan rekomendasi untuk dilanjutkan ke Dinas Pendidikan dan pemerintah kabupaten. Tanpa didamping orang lain, Meida datang ke Padang Aro dengan menaiki angkot dengan membawa uang pas-pasan. Berupaya mengumpulkan sumbangan dari orang-orang yang peduli terhadap nasibnya. Hari itu Senin (19/7) siang, nafasnya sedikit sesak, keringatnya bercucuran di tengah teriknya matahari. Satu persatu langkahnya diayunkan di tangga menuju lantai dua kantor bupati Solok Selatan yang terletak di Padang Aro. Maida masih berseragam SMA dan berjilbab. Di tangannya ada sebuah map dan kotak kecil berisikan uang sumbangan dari beberapa orang yang sudah ditemuinya. Maida naik ke lantai dua kantor bupati itu dengan maksud bertemu bupati Syafrizal, namun tak berhasil. Bupati tidak berada di tempat. Seperti yang di perlihatkan kepada Singgalang, sumbangan beberapa orang yang peduli terdiri SMAN 1 Solsel sebesar Rp1,3 juta, Dinas Pendidikan Rp800 ribu, sekretariat kantor bupati Rp750 ribu dan lainya. Totalnya terkumpul Rp2.850.000. Tekad gadis memang sudah bulat. Bermodalnya uang hasil sumbangan itu ia pun berangkat ke Padang mendaftar di Unand. Selasa kemarin, dari informasi yang diperoleh Singgalang melalui kepala sekolah SMA Neg 1, Ridwan, Meida sudah berada di Padang berhasil mendaftar dari uang pinjaman orang lain. Mida Ria Nida Ria begitu kalut saat mengetahui dirinya lolos dalam Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2010 yang diumumkan 17 Juli 2010 lalu. Bukan karena tak suka, tapi hatinya gundah gulana karena memikirkan biaya masuk sebesar Rp2.750.000 yang harus dipenuhinya untuk bisa kuliah di jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Padang (UNP) yang memang sangat dicita-citakannya. Yang jauh lebih gundah adalah Nelmawati, sang ibu. Penghasilannya sebagai penjual lontong jelas tidak dapat memenuhi hasrat anaknya melanjutkan pendidikan ke PTN. Berapalah uang yang didapatkan dari menjual lontong yang hanya sekali dalam seminggu di Pasar Lubuk Buaya, Padang itu. Uang tersebut tidak hanya untuk modal penjualan lontong selanjutnya, tapi di sanalah bergantung semua kebutuhan hidup mereka anak beranak. Seperti untuk makan pagi dan petang, biaya sekolah anak dan kebutuhan hidup lainnya. Suaminya, Usman sudah meninggal dunia dua tahun lalu. Kalaulah suaminya tersebut masih ada, maka tidak sesusah itu hatinya. Tapi, bukan dia hendak menyesali takdir Allah, hanya dia tak dapat berpikir lagi kemana hendak mengadu. Dia sangat berkeinginan pula anaknya itu bisa kuliah. Tapi untuk meminjam ke tetangga juga sulit baginya. Bukan saja karena sulit membayar kembali, tapi mereka tak hendak menyusahkan para tetangga yang selama ini sudah sering membantu. "Untuk membeli formulir ujian SNMPTN itu saja, Nida sudah dibantu oleh para tetangga yang memberinya dana Rp200 ribu," sela Merize, sang kakak yang kini sudah menikah. Kekalutan mereka kian bertambah, mengingat waktu pendaftaran tinggal beberapa hari lagi. Bila biaya masuk itu tak bisa dibayarkan sebelum waktu pendaftaran ditutup 24 Juli mendatang, maka pupus sudah harapan Nida untuk menggapai asa yang sudah lama dipendamnya. "Ini cita-cita Nida sejak lama, menjadi guru PLB mendidik anak-anak berkebutuhan khusus," ujarnya sedih. Tidak hanya asanya saja yang akan terkubur, keinginan untuk mengubah nasib keluarganya juga akan lenyap seketika. "Nida tak ingin hidup dari menjual lontong saja, Kak. Nida ingin mengubah nasib kami," kata kelahiran Kasang, 14 April 1992 tersebut dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca kepada Singgalang, Selasa (20/7). Nida bercerita, sejak semula dia tahu ini sulit baginya. Ketika tamat SMA beberapa bulan lalu, dia sempat berniat untuk mencari kerja saja dan mengubur impiannya menjadi guru. Namun tetangga yang kasihan melihatnya, memberikan dorongan dan uang untuk biaya mendaftar SNMPTN. Uang itulah yang dipakai membeli formulir IPC. "Nida memilih tiga jurusan, PGSD, PLB dan Biologi di UNP. Alhamdullilah lulus di PLB yang sesuai keinginan Nida," kenang lulusan IPA di SMA Pertiwi I, Padang itu. Walau tahu akan kesulitan keuangan bila dia lulus SNMPTN, tidak membuat Nida asal-asalan dalam menjawab pertanyaan. Dia tetap bersungguh-sungguh dalam menyelesaikan pertanyaan demi pertanyaan yang ada. Sampai kemudian dalam pengumuman Sabtu lalu itu, dia dinyatakan lulus pada jurusan PLB, jurusan yang memang sudah diimpikannya sejak dulu. "Nida sebenarnya merasa beruntung bisa lulus dalam SNMPTN ini, karena banyak anak-anak lain tidak lulus, tapi kondisi keuangan kami yang tak memungkinkan membuat saya sedih," katanya. Merize, sang kakak juga tak tega melihat adiknya yang sering menangis. Tapi apa daya, dia juga tak sanggup membantu, karena suaminya hanya guru honor sebuah sekolah dasar di dekat kediaman mereka di Simpang Tanjung, Batas Kota Padang dengan Padang Pariaman. "Kalaupun bisa membantu, berapalah yang mampu saya bantu," ujarnya ikut sedih. Menemui Singgalang merupakan harapan terakhir Nida dan keluarganya untuk mendapatkan biaya masuk kuliah itu. Dia berharap, ada orang yang hiba dengan nasibnya dan mau membantu meringankan beban ibunya yang kini menjadi penopang utama kehidupan keluarga mereka. "Saya sangat berharap ada yang bisa membantu kami," ujar gadis manis ini penuh harap. Anggun Mata indah Reski Anggun Syarif terlihat berkaca-kaca ketika dinyatakan lulus sebagai mahasiswa sarjana-S1, Fakultas Sastra dengan Program Studi (Prodi) Sastra Jepang pada Universitas Padjadjaran. Sayangnya rona wajahnya tersirat antara kecemasan, kegamangan bercampur dengan girang tak terkira. Mengingat biaya kuliah di Unpad senilai Rp6.000.000 belum jua terkumpul. Walapun, keluarganya telah menjual sepeda motor. Tetapi uangnya tak mampu menutupi biaya kuliahnya. Belum lagi untuk biaya kos di negeri orang. "Kami telah menjual sepeda motor dengan harga Rp5 juta. Tapi uang belum mencukupi untuk biaya kuliah di sana," kata Reski Anggun Syarif memulai pembicaraan dengan Singgalang, Selasa (20/7). Apalagi pekerjaan orang tua lelaki Syarifuddin hanya seorang buruh kasar (tukang). Sedangkan sang bunda, Surtini hanya seorang ibu rumah tangga. Tekad Reski Anggun Syarif yang tinggal bersama kedua orang tuanya di Jalan Andalas Gang Surga Indah nomor 30 Padang sangat kuat. Ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Tentunya didukung dengan prestasinya yang berhasil memperoleh nem rata-rata 7,9 saat Ujian Nasional (UN). Anaknya terbilang cerdas dan kreatif. Ketika duduk di bangku sekolah, SMAN 10 Padang, Reski Anggun Syarif terbilang anak yang pintar dengan segudang prestasi. Walaupun penghasilan orang tua yang pas-pasan. Kondisi perekonomian keluarga itu membuatnya untuk minder. Dia tetap berprestasi di sekolah bertaraf internasional itu. Buktinya selama di SMA selalu menduduki peringkat sepuluh besar. Malah, dia juga terbilang bibit berprestasi. Dia berhasil memperoleh mendali perak tingkat Sumbar di dunia tekondow. Saat ini dalam dunia itu telah memiliki sabuk hijau. Anggun tersedu, matanya hampa, ketika datang ke Singgalang. Bisa jadi, seorang dermawan akan membantunya. Ikhsan Tangis Muhammad Ikhsan Putra berhenti mendengar ia lulus SNMPTN di Universitas Brawijaya. Sebelumnya Ikhlan mengabaikan tawaran beasiswa belajar di Universitas Leiden, serta Rotterdam Belanda karena terkendala uang. Kini sejumlah donatur meyumbangkan sebagian rezekinya untuk anak pintar ini. Dipelopori Kepala Dinas Pendidikan Pesisir Selatan, H. Dian Wijaya dihubungi sejumlah donatur. Hasilnya, sementara terkumpul Rp2 juta, berasal dari karyawan Dinas Pendidikan Pessel Rp1 juta, M. Zein Sadan, Padang Rp500 ribu dan H. Nizar Abbas, Rp500 ribu. Tidak cukup sampai di situ, orang nomor satu di Dinas Pendidikan Pessel tersebut berjanji akan mencari upaya lain menanggulangi biaya masuk kuliah Ikhsan, siswa tamatan SMAN I Tarusan. Rencananya Rabu ini, dalam rapat kepala SMA/K se- Pesisir Selatan di Balai Selasa, Dian Wijaya akan menggugah para kepala sekolah untuk badoncek. "Setelah saya mendapat telepon dari Pemred Harian Singgalang, Khairul Jasmi dan membaca Singgalang Selasa (20/7), saya langsung berusaha mencarikan para donatur. Alhamdulillah sementara sudah terkumpul Rp2 juta. Nanti kita upayakan lagi dalam rapat kepala-kepala sekolah," kata Dian Wijaya Selasa sore kemarin. Kata Dian, melihat potensi Ikhsan, sangat sayang sekali jika tidak kuliah hanya gara-gara ketiadaan uang. "Ini menjadi tanggungjawab moral masyarakat Pessel menanggulanginya," katanya. Ikhsan berasal dari keluarga miskin, terkendala masuk perguruan tinggi karena ketiadaan biaya. Afdal Afdal Tanjung akhirnya bisa juga kuliah di Unand. Ia pun sudah dites urin, sebagai persyaratan menjadi mahasiswa Unand. Afdal sangat bahagia, karena keinginannya sudah tercapai. "Saya sudah dites. Terimakasih saya pada Harian Singgalang yang telah sudi menjadi tempat mengadu bagi kami orang miskin. Semoga Harian Singgalang tetap menjadi nomor satu dan semakin banyak pelanggannya," doa Afdal sewaktu dikonfirmasi tentang kondisi terakhirnya terkait masalah kuliah, Selasa (20/7). Suksesnya Afdal menjadi mahasiswa Unand, karena adanya niat baik dari Rektor Musliar Kasim. Menurutnya, tak satupun anak miskin yang tidak bisa kuliah di Unand. Sementara Pemimpin Redaksi Harian Singgalang, Khairul Jasmi mengatakan, Sumbar sebenarnya ada dana Rp500 juta untuk menunjang pendidikan anak tak mampu. Yayasan itu bernama Yayasan Pendidikan Sumbar. Sayangnya hingga saat ini belum juga beroperasi, padahal banyak anak miskin yang butuh. "Kalau tidak mampu mengelolanya, percayakan saja pada Harian Singgalang, biar disalurkan pada yang berhak. Saya harap uang itu tidak lama-lama tersimpan dan segera dicairkan," katanya. Adakah yang masih peduli untuk anak-anak kita yang cerdas ini? (104/204/alex/109/304) http://www.hariansinggalang.co.id/media.php?module=detailberita&id=63 -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe. -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
