Rabu, 21 Juli 2010
MASUK PERGURUAN TINGGI : Anak-anak Miskin yang Terhempas

PADANG - Maida, anak Solok Selatan yang gigih itu, bergerilya dari kantor ke
kantor meminta sumbangan agar ia bisa masuk Unand. Nida Ria, anak yatim itu,
terhantuk langkahnya ketika ia dinyatakan diterima di UNP. Ibu tercinta
hanyalah seorang penjual lontong. Lalu Anggun nyaris terhempas di ujung
malam, karena ketiadaan uang. Motor kakaknya sudah digadai, tapi uang untuk
menuju universitas Padjadjaran Bandung, masih belum cukup.

Sementara Nova, Afdal sebagaimana disiarkan Singgalang, kemarin mulai agak
lega. Nova sudah mengantongi bantuan dari Hamba Allah Rp3 juta dan Bazda
Kota Padang Rp4 juta. Akan halnya Afdal, sudah dijanjikan, tapi belum
diserahkan. Meski begitu, ia sudah diterima mendaftar di Unand. "Tak ada
anak miskin yang ditolak di sini," kata Rektor Unand, Musliar Kasim.
Sedangkan M. Ikhsan yang diterima di Universitas Brawijaya, baru dapat Rp2
juta, sementara kebutuhannya Rp9 juta.

Bukan pengemis
Hari ini ada kisah tentang Maida Solvianti. Gadis remaja itu bukan pengemis,
tapi pelajar ulet yang ingin masuk perguruan tinggi. Namun karena
orangtuanya miskin, ia nekat menjajakan daftar sumbangan. Walau hasilnya tak
cukup, bermodal sumbangan itulah ia mendaftar jadi mahaiswa di Fakultas
Pertanian, Universitas Andalas, Padang. Namanya Maida Solvianti, tamat SMA
Negeri 1 Solok Selatan. Maida lulus Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri
(SMPTN) yang diumumkan 17 Juli lalu. Kepastian diterima di PTN ternama di
Sumbar itu diketahuinya lewat pengumuman di surat kabar terbitan Padang.

Maida anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Syamwil dan Somi. Orangtua
petani miskin di kampungnya Pasir Talang, Kecamatan Sungai Pagu. Jangankan
untuk biaya masuk perguruan tinggi, untuk makan sehari-hari saja, orangtua
Maida sudah pontang panting.
Saat membaca hasil seleksi di media massa yang menyatakan ia lulus, mata
Maida berkaca-kaca. Wajahnya sumringah, gembira. Betapa gembiranya hati anak
pertama dari empat bersaudara ini.
Namun di balik kegembiraan dan kebahagiaan itu, ada rona sedih di wajahnya,
sebab orangtuanya miskin, tidak punya uang untuk melanjutkan sekolah.

Dalam pengumuman tersebut dicantumkan, bagi yang lulus segera mendaftar
ulang dengan biaya Rp5 juta. Maida sedikit kecewa, ketiga adik-adiknya juga
tengah memerlukan biaya sekolah pula. Waktu mencari uang pinjaman terlalu
singkat.
Bermodalkan nekad, Maida berjalan gontai menemui pihak sekolah untuk
dicarikan jalan keluarnya. Bagaimana untuk mendapatkan uang pendaftaran Rp5
juta.

Maida sadar, kalau diminta kepada orangtuanya, kemana akan dicarikan uang
sebanyak itu.
"Untuak makan sajo indak cukuik nak!," kata Maida mengulang jawaban dari
ayahnya Syamwil.
Keluhkan Maida direspon SMA 1 Solsel. Kepala sekolah, Ridwan.Spd, MM secara
spontan mengumpulkan sumbangan dari dari guru dan pegawai di sekolah
tersebut. Tak hanya sumbangan, pihak sekolah juga memberikan rekomendasi
untuk dilanjutkan ke Dinas Pendidikan dan pemerintah kabupaten.

Tanpa didamping orang lain, Meida datang ke Padang Aro dengan menaiki angkot
dengan membawa uang pas-pasan. Berupaya mengumpulkan sumbangan dari
orang-orang yang peduli terhadap nasibnya.

Hari itu Senin (19/7) siang, nafasnya sedikit sesak, keringatnya bercucuran
di tengah teriknya matahari. Satu persatu langkahnya diayunkan di tangga
menuju lantai dua kantor bupati Solok Selatan yang terletak di Padang Aro.
Maida masih berseragam SMA dan berjilbab. Di tangannya ada sebuah map dan
kotak kecil berisikan uang sumbangan dari beberapa orang yang sudah
ditemuinya. Maida naik ke lantai dua kantor bupati itu dengan maksud bertemu
bupati Syafrizal, namun tak berhasil. Bupati tidak berada di tempat.

Seperti yang di perlihatkan kepada Singgalang, sumbangan beberapa orang yang
peduli terdiri SMAN 1 Solsel sebesar Rp1,3 juta, Dinas Pendidikan Rp800
ribu, sekretariat kantor bupati Rp750 ribu dan lainya. Totalnya terkumpul
Rp2.850.000.
Tekad gadis memang sudah bulat. Bermodalnya uang hasil sumbangan itu ia pun
berangkat ke Padang mendaftar di Unand. Selasa kemarin, dari informasi yang
diperoleh Singgalang melalui kepala sekolah SMA Neg 1, Ridwan, Meida sudah
berada di Padang berhasil mendaftar dari uang pinjaman orang lain.

Mida Ria
Nida Ria begitu kalut saat mengetahui dirinya lolos dalam Seleksi Masuk
Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2010 yang diumumkan 17 Juli 2010 lalu.
Bukan karena tak suka, tapi hatinya gundah gulana karena memikirkan biaya
masuk sebesar Rp2.750.000 yang harus dipenuhinya untuk bisa kuliah di
jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB), Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP)
Universitas Negeri Padang (UNP) yang memang sangat dicita-citakannya.

Yang jauh lebih gundah adalah Nelmawati, sang ibu. Penghasilannya sebagai
penjual lontong jelas tidak dapat memenuhi hasrat anaknya melanjutkan
pendidikan ke PTN. Berapalah uang yang didapatkan dari menjual lontong yang
hanya sekali dalam seminggu di Pasar Lubuk Buaya, Padang itu. Uang tersebut
tidak hanya untuk modal penjualan lontong selanjutnya, tapi di sanalah
bergantung semua kebutuhan hidup mereka anak beranak. Seperti untuk makan
pagi dan petang, biaya sekolah anak dan kebutuhan hidup lainnya.
Suaminya, Usman sudah meninggal dunia dua tahun lalu. Kalaulah suaminya
tersebut masih ada, maka tidak sesusah itu hatinya. Tapi, bukan dia hendak
menyesali takdir Allah, hanya dia tak dapat berpikir lagi kemana hendak
mengadu. Dia sangat berkeinginan pula anaknya itu bisa kuliah. Tapi untuk
meminjam ke tetangga juga sulit baginya. Bukan saja karena sulit membayar
kembali, tapi mereka tak hendak menyusahkan para tetangga yang selama ini
sudah sering membantu.
"Untuk membeli formulir ujian SNMPTN itu saja, Nida sudah dibantu oleh para
tetangga yang memberinya dana Rp200 ribu," sela Merize, sang kakak yang kini
sudah menikah.

Kekalutan mereka kian bertambah, mengingat waktu pendaftaran tinggal
beberapa hari lagi. Bila biaya masuk itu tak bisa dibayarkan sebelum waktu
pendaftaran ditutup 24 Juli mendatang, maka pupus sudah harapan Nida untuk
menggapai asa yang sudah lama dipendamnya. "Ini cita-cita Nida sejak lama,
menjadi guru PLB mendidik anak-anak berkebutuhan khusus," ujarnya sedih.
Tidak hanya asanya saja yang akan terkubur, keinginan untuk mengubah nasib
keluarganya juga akan lenyap seketika. "Nida tak ingin hidup dari menjual
lontong saja, Kak. Nida ingin mengubah nasib kami," kata kelahiran Kasang,
14 April 1992 tersebut dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca kepada
Singgalang, Selasa (20/7).

Nida bercerita, sejak semula dia tahu ini sulit baginya. Ketika tamat SMA
beberapa bulan lalu, dia sempat berniat untuk mencari kerja saja dan
mengubur impiannya menjadi guru. Namun tetangga yang kasihan melihatnya,
memberikan dorongan dan uang untuk biaya mendaftar SNMPTN. Uang itulah yang
dipakai membeli formulir IPC. "Nida memilih tiga jurusan, PGSD, PLB dan
Biologi di UNP. Alhamdullilah lulus di PLB yang sesuai keinginan Nida,"
kenang lulusan IPA di SMA Pertiwi I, Padang itu.
Walau tahu akan kesulitan keuangan bila dia lulus SNMPTN, tidak membuat Nida
asal-asalan dalam menjawab pertanyaan. Dia tetap bersungguh-sungguh dalam
menyelesaikan pertanyaan demi pertanyaan yang ada. Sampai kemudian dalam
pengumuman Sabtu lalu itu, dia dinyatakan lulus pada jurusan PLB, jurusan
yang memang sudah diimpikannya sejak dulu. "Nida sebenarnya merasa beruntung
bisa lulus dalam SNMPTN ini, karena banyak anak-anak lain tidak lulus, tapi
kondisi keuangan kami yang tak memungkinkan membuat saya sedih," katanya.

Merize, sang kakak juga tak tega melihat adiknya yang sering menangis. Tapi
apa daya, dia juga tak sanggup membantu, karena suaminya hanya guru honor
sebuah sekolah dasar di dekat kediaman mereka di Simpang Tanjung, Batas Kota
Padang dengan Padang Pariaman.
"Kalaupun bisa membantu, berapalah yang mampu saya bantu," ujarnya ikut
sedih.
Menemui Singgalang merupakan harapan terakhir Nida dan keluarganya untuk
mendapatkan biaya masuk kuliah itu. Dia berharap, ada orang yang hiba dengan
nasibnya dan mau membantu meringankan beban ibunya yang kini menjadi
penopang utama kehidupan keluarga mereka. "Saya sangat berharap ada yang
bisa membantu kami," ujar gadis manis ini penuh harap.

Anggun
Mata indah Reski Anggun Syarif terlihat berkaca-kaca ketika dinyatakan lulus
sebagai mahasiswa sarjana-S1, Fakultas Sastra dengan Program Studi (Prodi)
Sastra Jepang pada Universitas Padjadjaran. Sayangnya rona wajahnya tersirat
antara kecemasan, kegamangan bercampur dengan girang tak terkira. Mengingat
biaya kuliah di Unpad senilai Rp6.000.000 belum jua terkumpul. Walapun,
keluarganya telah menjual sepeda motor. Tetapi uangnya tak mampu menutupi
biaya kuliahnya. Belum lagi untuk biaya kos di negeri orang.

"Kami telah menjual sepeda motor dengan harga Rp5 juta. Tapi uang belum
mencukupi untuk biaya kuliah di sana," kata Reski Anggun Syarif memulai
pembicaraan dengan Singgalang, Selasa (20/7).
Apalagi pekerjaan orang tua lelaki Syarifuddin hanya seorang buruh kasar
(tukang). Sedangkan sang bunda, Surtini hanya seorang ibu rumah tangga.
Tekad Reski Anggun Syarif yang tinggal bersama kedua orang tuanya di Jalan
Andalas Gang Surga Indah nomor 30 Padang sangat kuat. Ingin melanjutkan
pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Tentunya didukung dengan prestasinya
yang berhasil memperoleh nem rata-rata 7,9 saat Ujian Nasional (UN). Anaknya
terbilang cerdas dan kreatif.
Ketika duduk di bangku sekolah, SMAN 10 Padang, Reski Anggun Syarif
terbilang anak yang pintar dengan segudang prestasi. Walaupun penghasilan
orang tua yang pas-pasan. Kondisi perekonomian keluarga itu membuatnya untuk
minder. Dia tetap berprestasi di sekolah bertaraf internasional itu.
Buktinya selama di SMA selalu menduduki peringkat sepuluh besar.
Malah, dia juga terbilang bibit berprestasi. Dia berhasil memperoleh mendali
perak tingkat Sumbar di dunia tekondow. Saat ini dalam dunia itu telah
memiliki sabuk hijau.
Anggun tersedu, matanya hampa, ketika datang ke Singgalang. Bisa jadi,
seorang dermawan akan membantunya.

Ikhsan
Tangis Muhammad Ikhsan Putra berhenti mendengar ia lulus SNMPTN di
Universitas Brawijaya. Sebelumnya Ikhlan mengabaikan tawaran beasiswa
belajar di Universitas Leiden, serta Rotterdam Belanda karena terkendala
uang. Kini sejumlah donatur meyumbangkan sebagian rezekinya untuk anak
pintar ini.
Dipelopori Kepala Dinas Pendidikan Pesisir Selatan, H. Dian Wijaya dihubungi
sejumlah donatur. Hasilnya, sementara terkumpul Rp2 juta, berasal dari
karyawan Dinas Pendidikan Pessel Rp1 juta, M. Zein Sadan, Padang Rp500 ribu
dan H. Nizar Abbas, Rp500 ribu.

Tidak cukup sampai di situ, orang nomor satu di Dinas Pendidikan Pessel
tersebut berjanji akan mencari upaya lain menanggulangi biaya masuk kuliah
Ikhsan, siswa tamatan SMAN I Tarusan.
Rencananya Rabu ini, dalam rapat kepala SMA/K se- Pesisir Selatan di Balai
Selasa, Dian Wijaya akan menggugah para kepala sekolah untuk badoncek.
"Setelah saya mendapat telepon dari Pemred Harian Singgalang, Khairul Jasmi
dan membaca Singgalang Selasa (20/7), saya langsung berusaha mencarikan para
donatur. Alhamdulillah sementara sudah terkumpul Rp2 juta. Nanti kita
upayakan lagi dalam rapat kepala-kepala sekolah," kata Dian Wijaya Selasa
sore kemarin.
Kata Dian, melihat potensi Ikhsan, sangat sayang sekali jika tidak kuliah
hanya gara-gara ketiadaan uang. "Ini menjadi tanggungjawab moral masyarakat
Pessel menanggulanginya," katanya.
Ikhsan berasal dari keluarga miskin, terkendala masuk perguruan tinggi
karena ketiadaan biaya.

Afdal
Afdal Tanjung akhirnya bisa juga kuliah di Unand. Ia pun sudah dites urin,
sebagai persyaratan menjadi mahasiswa Unand. Afdal sangat bahagia, karena
keinginannya sudah tercapai.
"Saya sudah dites. Terimakasih saya pada Harian Singgalang yang telah sudi
menjadi tempat mengadu bagi kami orang miskin. Semoga Harian Singgalang
tetap menjadi nomor satu dan semakin banyak pelanggannya," doa Afdal sewaktu
dikonfirmasi tentang kondisi terakhirnya terkait masalah kuliah, Selasa
(20/7).
Suksesnya Afdal menjadi mahasiswa Unand, karena adanya niat baik dari Rektor
Musliar Kasim. Menurutnya, tak satupun anak miskin yang tidak bisa kuliah di
Unand.
Sementara Pemimpin Redaksi Harian Singgalang, Khairul Jasmi mengatakan,
Sumbar sebenarnya ada dana Rp500 juta untuk menunjang pendidikan anak tak
mampu. Yayasan itu bernama Yayasan Pendidikan Sumbar. Sayangnya hingga saat
ini belum juga beroperasi, padahal banyak anak miskin yang butuh.
"Kalau tidak mampu mengelolanya, percayakan saja pada Harian Singgalang,
biar disalurkan pada yang berhak. Saya harap uang itu tidak lama-lama
tersimpan dan segera dicairkan," katanya.
Adakah yang masih peduli untuk anak-anak kita yang cerdas ini?
(104/204/alex/109/304)

http://www.hariansinggalang.co.id/media.php?module=detailberita&id=63


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke