Selasa, 20 Juli 2010
Derai Air MATA Ibu-ibu Miskin di Singgalang : Nasib Anak Kami di Tangan
Dermawan

PADANG - Tiga orang ibu, satu di antaranya, sudah nenek-nenek, kemarin
menangis di Harian Singgalang. Nenek datang dari Pariaman. Seorang dari
Pesisir Selatan dan satu lagi dari Padang. Ketiganya datang dengan anak
tercinta yang diterima di perguruan tinggi. Anak-anak mereka pintar bukan
buatan.

Anak yang dari Pesisir Selatan misalnya, dipanggil ke Universitas Leiden di
Belanda, tapi gagal berangkat karena tak ada uang. Dipanggil Universitas
Indonesia (UI), juga gagal karena hal yang sama. Lalu sekarang dipanggil
oleh Universitas Brawijaya.
Seorang anak tukang cuci, nyaris kehilangan masa depan, karena kemiskinan.
Lantas, seperti biasa, suratkabar tercinta ini, mengetuk Anda, sudilah
kiranya membagi rezeki untuk tunas-tunas bangsa, titipan Tuhan, demi masa
depan mereka.

Afdal
Kabar lulusnya Afdal Tanjung, putra kesebelas dari seorang ibu bernama
Anuar, membuat hatinya campur aduk. Di satu pihak, ia merasa bangga karena
anaknya berhasil merebut bangku kuliah di Unand, dari sekian banyak pesaing.
Tapi di sisi lain ia gundah gulana, mengingat tidak ada satupun yang bisa
dijualnya untuk biaya kuliah. Apalagi tubuh tuanya baru saja sembuh dari
sakit-sakitan yang beberapa waktu lalu terkena stroke.

"Amak alah jando nak... apak anak-anak alah lamo maningga. Tapi anakko kareh
juo hatinyo ndak kuliah. Hanyo iko dayo amak, mintak bantuan dermawan Harian
Singgalang (Ibu sudah janda nak... Ayah anak-anak sudah lama meninggal. Tapi
anak saya ini keras juga hatinya ingin kuliah. Hanya ini yang bisa ibu
lakukan, meminta bantuan dermawan Harian Singgalang-red)," kata Anuar dengan
berlinang air mata kepada Singgalang, sewaktu mengutarakan maksudnya datang
ke Harian Singgalang, Senin (19/7).

Anuar mengusap air matanya yang sedari tadi ia coba menahan supaya tidak
jatuh. Afdal sendiri hanya bisa menunduk, karena memang inilah yang bisa ia
lakukan saat ini.

Sebenarnya, Afdal sudah menganggur dua tahun. Ia lulus SMA I Nagari Nan
Sabaris Kab. Padang Pariaman 2008 lalu. Melihat kondisi keluarganya yang
miskin, ia memutuskan untuk bekerja di Pekanbaru dan diterima di bagian
suntik ayam.
"Sebenarnya saya ingin menabung untuk biaya kuliah. Tapi itu tidak terwujud,
karena ibu sakit-sakitan, sementara keluarga saya butuh makan. Uang gaji
akhirnya saya kirim ke kampung untuk biaya hidup ibu dan keluarga lainnya,"
imbuh Afdal.
Hasrat ingin kuliah kembali memenuhi hatinya di tahun 2010. Ia pun
memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan dan balik ke Jorong Muaro,
Kanagarian Kurai Taji Pariaman. Sejak saat itu, ia mulai tekun membolak
balik buku pelajaran.

Hasilnya, ia pun lulus SNMPTN di Agro Eko Teknologi Fakultas Pertanian
Unand. Hatinya sangat gembira karena bisa lulus, di tengah keterbatasan yang
ada. Rasa khawatir datang, ketika membaca biaya pendaftaran yang mencapai
Rp5 juta lebih.
"Tanggal 20 besok, terakhir saya harus mendaftar. Kalau uangnya tidak ada,
punah sudah harapan saya untuk kuliah. Swasta jelas tidak akan sanggup saya
menjalaninya. Saya sangat berharap, agara para dermawan mau membantu saya,"
kata Afdal menghiba.
Jika nantinya bisa kuliah, Afdal sudah berencana kuliah sambil kerja. Ia
akan banting tulang mengumpulkan uang, untuk biaya hidup dan uang kuliah
semester berikutnya.

Nova
Bersamaan dengan Afdal, datang pula Nova. Ia lulus SNMPTN. Diantara ribuan
orang yang ikut SNMPTN, namanya tertera menjadi satu dari sedikit yang
diterima. Namun itu hanya sejurus. Tak sampai sepeminuman teh, perasaan
cemas menghampiri. Tatkala melihat sejumlah uang yang harus disediakan demi
mengecap bangku kuliah itu.

Adalah Nova Susilawatiwitri (18), anak seorang tukang cuci di kawasan Lapai,
Padang, diterima di Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Universitas Negeri
Padang. Namun untuk bisa berkuliah di perguruan tinggi terkemuka di Sumbar
itu, Nova harus menyediakan biaya mencapai Rp4,5 juta yang dibayar dalam dua
tahap. Tahap pertama harus dilunasi Rp2,75 juta paling lambat 24 Juli 2010.
Sedangkan tahap selanjutnya Rp1,75 juta lagi yang harus dilunasi pada
Desember nanti.

Pusing kepala Nova memikirkannya. Mau mengadu, kepada siapa akan mengadu.
Bapaknya Amin Moron sudah lama tiada. Sedang ibunya Lindawati (43) hanya
seorang tukang cuci.
Berderai airmata Nova memikirkannya. Di matanya terbayang masa depan yang
akan dirajutnya. Namun banyangan itu kembali terhenti saat jumlah uang yang
harus dibayar melintas lagi dibenaknya.
Sehabis akal ia memberanikan diri datang ke Redaksi Singgalang. Dengan penuh
haru ia bercerita tentang cita-citanya. Namun uang pangkal penebus bangku
kuliah itu serasa sangat berat.
"Tak tahu kemana kami akan mengadu pak. Kalaulah saya bisa kuliah, saya
satu-satunya dari empat bersaudara yang bisa mengecap pendidikan di
perguruan tinggi," ungkapnya.
Entah rezeki yang sedang baik, saat bersamaan ada seorang dermawan yang akan
menyumbang. Saat itu juga bantuan untuk Nova mengalir. Uang sejumlah Rp3
juta pembayar uang tahap pertama pun sudah di tangan.
"Alhamdulillah, ada dermawan yang membantu. Mudah-mudahan rezeki bapak itu
dilipatgandakan Allah," ujarnya.

Ikhsan
Otaknya benar-benar pintar dan cerdas. Apalagi, wajahnya begitu tampan. Dia
bernama M Ikhsan Putra, 19. Berkat kecerdasannya itu putra kembar asal
Pesisir Selatan itu berhasil lulus sebagai mahasiswa Bisnis International di
Universitas Brawijaya setelah mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan
Tinggi Negeri (SNMPTN). Pernyataan kelulusan tersebut dibacanya di koran
Sabtu lalu dan disana tertera nomor ujian 310-17-150407005 dinyatakan lulus
pada pilihan ke tiga di Universitas Brawijaya.

Sayangnya, keinginannya terpaksa ditunda karena orang tuanya tidak memiliki
biaya untuk menyekolahkannya. Orang tua laki-laki lumpuh di rumah, sementara
sang ibu Nurmayantini hanya seorang guru ngaji di kampungnya. Untuk biaya
uang masuk di Universitas Brawijaya membutuhkan biaya Rp9.260.000. "Dengan
penghasilan uang orang tuanya pas-pasan tersebut mana mungkin bisa membiayai
saya sekolah," ungkap M Ikhsan Putra.

Sebelumnya anak tampan yang pintar berbicara dengan Bahasa Inggris secara
otodidak ini telah melewatkan tawaran kesempatan beasiswa baik dari dalam
negeri maupun dari luar negeri. Dalam negeri seperti Sampoerna dan CIMB
Niaga. Sedangkan dari luar negeripun, dia dianggurkan begitu saja. Dua di
antaranya dari Universitas Leiden dan dari Rotterdam Belanda.
"Semuanya, waktu pendaftaran ulangan untuk penerima beasiswa sudah lewat.
Karena saya tidak punya biaya tiket untuk pergi ke sana melakukan
pendaftaran ulang," ucapnnya dengan nada sedih.

Tapi, tahun ini dia memiliki kebulatan tekad untuk melanjutkan pendidikan.
Korbaran api semangat di jiwanya masih ada, walaupun selama enam bulan ini
telah bekerja pada sebuah rumah makan di Pasar Raya Padang. "Tapi uang dari
hasil kerja itu belum cukup untuk biaya kuliah," ungkap lelaki pekerja kerja
keras dan pintar itu.

Hanya dengan kepintarannya itu siswa SMA 1 Tarusan Pesisir Selatan ini
berhasil mendapatakan tawaran beasiswa dari beberapa universitas ternama di
Indonesia maupun di luar negeri. Dia sangat mengharapkan bantuan supaya bisa
berkuliah kembali, mengembangkan potensi dirinya, demi mambangkik batang
tarandam. Dia agak deg-degkan sebab waktu pembayaran masuk di Universitas
Brawijaya dilakukan dimulai tanggal 19-30 Juli ini.

Ibunya, Nurmayantini, yang guru mengaji itu, matanya sabak. Sulit bisa
mendapatkan anak sepintar anaknya. Tapi, kepintaran anaknya sekaligus bagai
sembilu, mengiris hatinya. Ia meneteskan air mata dan menyapunya
cepat-cepat, seolah ia tak ingin anaknya melihat ia menangis.

Andakah yang ditunjuk Allah SWT sebagai dermawan yang akan membantu Afdal,
Ikhsan dan Nova? Silahkan salurkan donasi anda lewat Harian Singgalang,
nomor telepon 0751-36923.

(Hendri Nova/Bambang/Lenggo)

http://berita.hariansinggalang.co.id/media.php?module=detailberita&id=39

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke