Ambo baru tahu kalau ado budaya sarupo iko di Minangkabau. Problema anak kembar ado pado babarapo sistem budaya, salah satu disampaikan oleh Victor Turner (1969) dalam "The Ritual Process". Ambo cubo terjemah saketek di bawah. Intinyo, ritual dibuek untuak babarapo alasan : partamo, kelahiran satu anak cukuik bagi ibu untuak manyusuinyo, namun kalau alah labiah, indak tasudio asi nan cukuik. Kalau maso kini alah tasadio susu bubuk (sapi) nan diperkenalkan oleh Mr. Nestle pado abaik 19. Pado maso bayi Rasulullah, baseokan upah susu itu ka Halimatus Sya'diah. Kaduo, ado kebingungan terhadap struktur, karono urutan adolah penting dalam suatu keluarga. Hal iko dapek menjadi petaka kalau suatu kutiko ado peralihan suksesi dan perwarisan. Karono itu dalam mambayia masalah nan dihadoi keluarga tersebut, dilakukan upacaro. Baitu kiro-kiro logikanyo. Apokoh hal iko masuak dalam hukum syarak? Nan satau ambo indak ado aturan dalam syarak nan mangatur anak sumbang, indak pulo ditagahkan. Jadi manuruik pamahaman ambo hukum budaya sarupo iko adolah 'jaiz'. Indak pulo dapek disabuik sabagai adat nan ber-ABSSBK, karono itu perkiraan ambo indak kan masuak dalam materi KKM. Wassalam, -datuk endang Di dalam suku Ndembu di Zambia Afrika, ritual Wubwang’u dilakukan untuk menguatkan perempuan yang diperkirakan sedang hamil atau telah melahirkan anak-anak kembar. Bagi masyarakat Ndembu hal ini menjadi paradoks, sebagai sesuatu yang bertentangan dengan harapan yang beralasan dan masuk akal. Ada kemustahilan dari kenyataan psikologis memiliki anak kembar menurut suku Ndembu. Di satu sisi adalah kebudayaan yang menempatkan kesuburan/fertilitas berada dalam posisi yang tinggi, namun hal ini juga mengakibatkan permasalahan secara psikologi dan ekonomi. Seorang ibu yang memiliki anak kembar akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anaknya. Tanpa mengharapkan pengganti gizi dari binatang ternak, mereka mengharapkan ibu yang lain yang baru kehilangan bayi untuk mau menyusui dan mengasuh salah seorang dari anak kembar tersebut. Meskipun hal ini dapat memecahkan masalah pada masa penyapihan, secara umum hal ini juga menyulitkan bagi ibu si kembar untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya tersebut. Karena itu mereka menyelenggarakan ritual sebagai bentuk pembayaran kepada kelompoknya. Wubwang’u menunjukkan paradoks yang lain dalam tatanan sosial. Profesor Schapera dan lainnya memberikan perhatian pada kenyataan kekerabatan adalah penting secara struktur, dan menyediakan kerangka pada hubungan kekerabatan dan status sosial, bahwa kelahiran bayi kembar adalah memalukan. Secara umum di Afrika, kelahiran anak dalam suatu proses adalah identik secara mistis. Urutan persaudaraan merupakan hal penting, bahwa saudara yang lebih tua memiliki hak tertentu dibandingkan adiknya, dan dalam beberapa hal juga terkait dengan suksesi politik. Kelahiran anak kembar akan menimbulkan paradoks karena secara fisik adalah ganda, namun secara struktur adalah tunggal, serta secara mistis adalah tunggal, namun secara empirik adalah ganda. Pada beberapa masyarakat di Afrika, dilema tersebut diselesaikan dalam beberapa cara. Anak kembar memiliki fungsi mediasi antara dunia hewan dan dunia dewa. Mereka memiliki kelebihan sekaligus juga kekurangan sebagai manusia. Pada masyarakat Ndembu, kondisi kembar merupakan hal yang sakral dan dikembangkan sebagai masalah bagi setiap orang, bukan hanya pada keluarga dekat ibu. Penderitaan ibu yang berlebih menjadi tanggung jawab komunitas. Dan melalui ritual kontradiksi ini diminimalisir. Rangkaian ritual kembar masyarakat Ndembu. Penyatuan pasangan yang berlawanan secara dominan diekspresikan dalam simbol perbedaan laki-laki dan perempuan; pemisahan dan penyatuan merupakan rangkaian ritual Wubwang’u. Terdapat dua ritual yang menjadi perhatian : ’ritual sumber sungai’, sebagai penyatuan jenis kelamin dalam pernikahan, yang direpresentasikan sebagai misteri; dan membuat tempat keramat bagi si kembar, yang merupakan representasi dari penyatuan dan pemisahan. Dalam ritual sumber sungai, merupakan tahap awal dari ritual Wubwang’u, dilakukan melalui pengumpulan obat-obatan, dapat berupa tanaman, tanah liat, binatang, dan bir. Hal ini menyimbolkan bahwa makanan membawa kekuatan pada tubuh ibu dan anak-anaknya; tanah liat putih akan membuat anak kuat, murni, dan beruntung; tanah liat merah mempunyai arti ketidakberuntungan, kelemahan, dan tidak sukses. Perpaduan putih-merah pada ritual Wubwang’u melambangkan kekuatan/kelemahan, keberuntungan/kemalangan, kesehatan/ penyakit, kesucian hati/iri hati yang disebabkan oleh sihir, maskulin/feminin. Lagu mesum dinyanyikan selama ritual pengumpulan obat-obatan untuk membuat pasien menjadi kuat. Lonceng dibunyikan dua kali oleh dukun, bertujuan untuk membuka telinga sang anak yang akan dilahirkan, serta untuk membangkitkan arwah pelindung. Masyarakat Ndembu menerima kembar dengan jenis kelamin yang berbeda sebagai lebih menguntungkan dibandingkan dengan berjenis kelamin sama, terkait dengan struktur politik dalam keluarga. Prinsip matrilineal dan virilokal masyarakat Ndembu lebih bersifat kompetisi daripada koadaptif dikarenakan alasan ekologi. Mereka tumbuh dalam masyarakat yang mengandalkan pola ekstraktif dan reproduktif, namun tidak memelihara hewan ternak. Laki-laki dari masyarakat ini lebih dihargai sebagai pemburu. Struktur kompetisi ini merupakan faktor penting dalam mengkaji cara masyarakat Ndembu memperlakukan anak kembar, serta konseptualisasi mereka atas dualisme antar pasangan yang berlawanan. Dalam ritual Wubwang’u prinsip pertentangan ini tidak secara permanen disatukan. Dalam ritual sumber sungai dan kontes buah terkait dengan kondisi paradoks dari anak kembar. Pertama kenyataan 2 = 1 dapat diterima sebagai suatu misteri. Kedua perasaan 2 = 1 merupakan kemustahilan; sehingga sering disindir secara internal. Dalam ritual digunakan warna putih-merah-hitam, yang melambangkan aspek kosmis dan susunan sosial sebagai bentuk harmoni dan keseimbangan.
--- On Thu, 7/29/10, sjamsir_sjarif <[email protected]> wrote: Anak Kamba, surang Padusi surang Laki-laki ruponyo manjadi masalah pulo. Baa lah ko carito luruihnyo manuruik latar bulakang logika, Syarak jo Adat? Adokoh nan dapek mangatangahi berita ko supayo kami nan alun panah mandanga istilah "Manyarang Anak Sumbang" ko dapek katarangan agak saketek? Dari Padang Media kito baco: Manyarang Anak Sumbang, "Induk Bako" Anggap "Anak Pisang" Melanggar Norma Rabu, 28/07/2010 14:17 WIB padangmedia.com - PAINAN- Berbagai prosesi adat masyarakat nagari ikut menyemarakkan pembukaan Festival Langkisau VIII tahun 2010 Kabupaten Pesisir Selatan di lapangan parkir Pantai Carocok Painan, Rabu (28/7). Diantara prosesi adat yang merupakan budaya lokal yang masih dipelihara oleh masyarakat tersebut antara lain Prosesi "Manyarang Anak Sumbang", yaitu suatu kegiatan adat yang dilakukan akibat dari lahirnya sepasang anak kembar. ...dst. http://www.padangmedia.com/index.php?mod=berita&id=62798 Salam, --MakNgah -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
