Assalamu'alikum. w.w. 

Kito taruihkan nan kapatang dik Nof dan dunsanak kasadonyo...
(dek ari satu, mungkin dik Nof alun ka mancogok lai do,... ndak baa do kito 
taruihkan...
ambopun, ampia lo indak mancogok lai....soal  cogok mancogok ko tanyo se lah ka 
Murai
kukuban....he he he he). 
    Dalam demokrasi setiap orang mendahulukan kepentingannya sendiri, itu 
sebabnya
banyak yang berbisik-bisik, "urang ko mamulangkan pitihnyo nan abih untuak 
kampanye
dulu mah..., kemudian kepentingan partai sehingga tidak ada kawan yang abadi,
yang ada kepentingan yang abadi. Makanya dua partai yang berseteru bisa jadi 
berkawan
baik pada lain masa. Sementara dalam musyawarah dan mufakat, kepentingan bersama
(ummat) di atas segala-galanya. Bukan hanya kawan yang abadi, malah kawan itu 
adalah
saudara, "innamal mu'minuunan ikhwah" sesungguhnya setiap mu'min itu bersaudara.
    Dalam demokrasi boleh beroposisi selama-lamanya (lihat dalam sistem dua 
partai
seperti di Amerika, juga antara barisan nasional dan pembangkang di Malaysia)
tanpa harus peduli masing masing kubu benar atau salah. Sementara dalam 
musywarah
mufakat, tidak boleh berargumen lagi bila didapati hasil tela'ah menunjukkan 
kebenaran 
orang tersebut diukur dari sumber Islam yang empat.
     Dalam demokrasi....   alaah ... lupa pulak...
ooo yaa dalam demokrasi kebenaran mutlak tidak ada, yang ada hanya kebenaran 
dari
suara terbanyak, oleh sebab itu yang haram dapat menjadi halal dan sebaliknya. 
Ini sesuai
dengan hadits Rasulullah saw. "akan datang suatu zaman nanti dimana yang haram
menjadi menjadi halal dan yang halal men jadi haram......." (hadits ini 
panjang, kita ambil
cuilannya saja, bagi yang ingin tahu, confirmasi pada dunsanak Ahmad Ridha)...
artinya dengan demokrasi, keadaan itu semakin cepat datangnya dan bahkan sudah
terjadi, oleh sebab itu perlu segera diantisipasi (so... discard it 
immediately, it is better).
Sementara dalam musyawarah mufakat kebenaran mutlak ada, ya'ni kebenaran yang
dimiliki oleh Yang Punya Jagad Raya. "Al-haqqu mir rabbikum, falaa takuu nanna 
minal
mumtariin" Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, oleh sebab itu jangan sekali-kali 
kamu
 termasuk orang-orang yang ragu." (QS:2:147)
    Dalam demokrasi pertanggungan jawaban seseorang hanyalah kepada rakyat,
sementara rakyat hanya kadang-kadang dapat menuntut balik, itupun kalau mampu
dibuktikan.  (ingat pertanggungan jawab Soekarno, Soeharto dan para penerusnya 
serta
kuncu-kuncunya, siapa yang bisa membuktikan dan menuntut balik ?.).
Sementara dalam musyawarah mufakat, pertanggunggan jawaban seseorang adalah
kepada Tuhan, itu sebabnya ketika Umar bin khattab ra., begitu mendapati ada 
diantara
rakyatnya yang merebus batu malam-malam untuk "maantokkan" anaknya yang
kelaparan, bergegas mengambil gandum di baitul mal dan memikulnya sendiri 
(cerita ini
sangat populer bagi telinga kita), lalu bujangnya berkata "Wahai Amirul 
mu'minin, biarlah
aku yang memanggulnya",  lalu jawab Umar ra. "Di Padang mahsyar nanti, 
sanggupkah
engkau memikul dosa-dosaku ?, kalau tidak, biar aku pikul sendiri". Hmm... Umar 
sendiri
yang memikul gandum tersebut sampai ke rumah orang itu, karena saking takutnya 
bila
ditanya oleh Allah nanti. Begitu pertanggung jawaban yang digambarkan oleh 
seorang 
hamba Allah yang  sudah dijamin masuk surga (Umar salah satu dari 10 sahabat 
yang
kata Nabi saw. dijamin masuk surga).
  Akhirnya, dalam demokrasi yang memerintah adalah orang yang terpilih menjadi
pemimpin, sehingga walaupun sudah dibagi-bagi menjadi eksekutif, legislatif, 
yudikatif,
menurut John Lock dan Montesque, tetap saja dapat bermain memanipulasi negara 
tanpa rasa takut. Sementara dalam musyawarah mufakat, yang memerintah adalah 
Tuhan, si pemimpin hanyalah yang memikul amanah dari Tuhannya, itu sebabnya 
ketika
 Umar bin Khattab menerima kedatangan anaknya (Abdullah bin Umar)sewaktu 
ia menela'ah lembaran negara, ia memadamkan lampu, lalu Abdullah bertanya 
mengapa
ia memadamkan lampu, Umar menjawab, lampu ini milik negara, kalau urusanmu 
datang
adalah urusan negara, mari kita nyalakan lagi, tapi kalau tidak,... biarkan ia 
padam....
 aaa... begitu gambaran seorang hamba yang diamanahi menjadi pemimpin
oleh Tuhannya. Bayangkan yang terjadi pada kita sekarang ini, pitih 
bamilyard-milyard
 bahkan triliunan kemana raib nya ? (ndak usahlah di sabuik kasus-kasus 
bank-bank maa).

... Nah, demikian konsepnya dasarnya dik Nof, dan dunsanak kasadonyo... (inipun 
hanya summary nya saja, kelengkapannya dan penjabarannya bisa lebih panjang 
untuk
 bisa menjawab pertanyaan dik Nof).

     Lalu kita masuk ke yang kedua pula....soal sejarah Islam..
tapi lah panjang banako... bisuak pulo lai,...
 
 
Wassalam
 
St. Sinaro


      

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke