Assalamu'alaikum.w.w.
 
Dik Nof, diskusi ko jadi maleba kama-kama, samantaro pak Muljadi manunggu bilo
konvergennyo. Nak jan baserak-serak, beko susah mangamehannyo, rancak kito 
pilah-
pilah. Dari tulisan terakhir dik nof tadi, ambo pilah jadi tigo.
Nan partamo urusan konsep demokrasi jo Musyawarah ko dulu. Nan kaduo urusan
sejarah Islam. Nan katigo urusan qaualifikasi sia nan berhak duduak di 
parlemen. Rasonyo
ndak ado nan ka ampek do, ... antah kok silap ambo, ... beko kito caliak.
..aaa... Mungkin urusan Islam abangan atau KTP ... .
    Baiaklah, nan paratamo, urusan konsep dasar ide antaro demokrasi jo 
Musyawarah.
Ambo taruihkan nan batulih jo bung Muzirman patang.
    Dalam demokrasi, orang berlomba-lomba menjadi pemimpin atau orang besar atau
orang berpengaruh dan banyak pengikut. Karena tujuannya kedudukan, pengaruh, 
dan harta bahkan wanita. Sedangkan dalam Musyawarah orang takut menjadi 
pemimpin 
karena memimpin itu amanah, dipertanggung jawabkan kelak di hadapan Allah swt.
Pemimpin itu kalau 'adil, maka tempatnya dekat dengan para Nabi di sorga, beda 
satu
tingkat saja. Tapi kalau pemimpin itu zhalim maka tempatnya di atas sedikit 
dari orang
kafir di neraka, beda satu tingkat saja. Makanya dalam musyawarah orang 
berpikir seribu
kali untuk menjadi pemimpin sebelum yakin betul akan berlaku 'adil. Contohnya 
dapat
dilihat dalam sejarah, ketika Nabi saw. tidak dapat mengimami shalat, maka 
tiada siapa
pun yang berani menjadi imam (ini baru soal menjadi imam yang bagi kita seolah 
sepele
dan tidak pernah tahu pula apa syarat-syarat menjadi imam dan bagaimana urutan 
pe-
milihannya). Abu Bakar ra. yang ketika itu merasa bertanggung jawab dan memang 
dia qualified (hmm... ini dibahas nanti), maka beliau berinisiatif mengimami 
shalat tanpa se-
orangpun membantahnya. 
    Dalam demokrasi orang-orang mencalonkan dirinya dan mengatakan dirinya yang 
terbaik melalui kampanye.  Sementara dalam musyawarah orang tidak mencalonkan 
diri
karena akan terlihat berambisi sementara Nabi saw. melarang mengangkat 
orang-orang
yang berambisi sebagai pemimpin. Contoh nya dapat dilihat ketika pemilihan 
khalifah
pertama, Abu Bakar ra. mengatakan Umar ra yang terbaik, sebaliknya Umar
 ra mengatakan Abu Bakar ra yang  terbaik. Jadi dalam hal ini tiada seorangpun 
yang 
dengan sombong mengatakan bahwa ia lah yang terbaik (sebagaimana yang terjadi 
dalam demokrasi). Seseorang dicalonkan oleh orang lain seperti keadaan Umar 
ra dan Abu Bakar
ra di atas, artinya orang lain yang menilai bahwa ia mampu jadi pemimpin dan ia
 dicalonkan. 
 
... oooppsss... panjang lo jadinyo dik Nof, samataro pertanyaan dik Nof alun 
terasosiasi-
kan lai.... 
... ndak baa do,... kito sambuang pulo bisuak ... jan bosan urang mambaco butir 
demi 
butir... (he he he he... bantuak P4 pulo)...
 
Wassalam
 
St. Sinaro
 
   
 
 


      

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke