>AssWrWB,
 
Wa'alaikum salam. w.w. 

>Bung St Sinaro,: izinkan saya mengunakan bung, bung St Sinaro yg memulai
>menggunakan bung, saya jadi senang juga pakai bung, kalau bung ngak suko tolong
>kasih tahu saya, dan saya tidak perlu minta maaf, ini respon saya terhadap 
>tulisan bung
>Sinaro.
...............(dikarek)....
>Coba bung Sinaro terangkan sedikit, dimana dan apa nya yg salah, krn premise 
>(dasar
> pemikiran ) kita berbeda., maka cara kita berpendapat juga akan berbeda.
>Bunb St Sinaro menulis :
>.yang ini pemisalan demokras yang mendekati Musyawarah .... 
.......()....
 
Ha ha .... bung Murzirman, disitulah letak salahnya.... 
Kita sedang membahas beda demokrasi dengan Musyawarah Mufakat,  kita sedang
mencari mana yang sesuai dan cocok untuk kita, mana yang akan membuat bangsa ini
jaya dan diredhai oleh Yang punya jagad raya ini dan diberi surga jannatun 
na'im untuk
kehidupan kekal abadi nanti. Lalu bung Muzirman mengemukakan pemakaian demokrasi
di Padang dengan segala permasalahannya dan mencoba membetulkannya. Tentu saja
dalam hati saya berkata...kenapa dipakai... ide (paham) ini beracun kok... 
yaa... salah
sendiri. Itu sebabnya saya mengatakan, kalau dari pangkal sudah salah, yaaa 
ujungnya
salah dan merugikan.

>Respon saya ; Sbg contoh ttg nelayan dgn Jembatan Siti Nurbaya tsb diatas. 
>Pemda
> KOta Pdg dan DPRD bermusyawarah dan mufakat bangun Jembatan Siti NUrbaya,
> Apakah ada di ajak nelayan (rakyat)bermusyawarah juga? Kan tidak. Itulah yg 
>saya
> sebutkan proses pengambilan keputusan nya tidak bermusyawarah, bersama rakyat 
>dan tidak demokratis, Di putuskan di atas saja.
>Saya ulangi, dalam pemilihan suara,(bukan musyawarah)  dan informasi terbuka, 
>nelayan
>tahu siapa yg tidak sesuai dgn dan memenuhi kepentingan nelayan , krn 
>informasi nya
> terbuka, maka Pemilu Kada berikutnya kami nelayan tidak pilih lagi. Kalau 
>musyawarah
> kan yg tahu satu suara bulat yg keluar ,.. ok bangun jembatan.Dgn pemilihan 
>suara jelas
> tahu hitam putih, siapa yg milih bangun Jembatan, siapa yg milih kredit lunak 
>utk
> nelayan, Utk pemilihan berikit nya nelayan akan pikir dua kali milih siapa.
 
.... haa... nampak ?... rancunya pikiran.... urusan ini demokrasi yang 
dipakai,... lalu pada
kalimat kedua, "Pemda KOta Pdg dan DPRD bermusyawarah dan mufakat...."
.. campur aduk,...  antara eksekutif (pemerintah) dan legislatif (DPRD) bertemu 
dan
berbincang,... itu sistem demokrasi bukan musyawarah. Akibatnya rakyat(nelayan) 
jadi
korban. Musyawarah punya majlis syuro, bukan eksekutif, legislatif yudikatif. 

>Kalau St Sinaro mengatakan sia-sia saja, memang dmk sementara ini krn kekuatan 
>dan
>kepentingan personal dan kepenting partai lbh kuat dari kepentingan rakyat 
>banyak,
> walaupun suara pers mulai agak kuat terdengar, tp kepenting partai dan 
>personal yg
> akan unggul. Kenapa?
>Kata buku, " masyarakat menengah kita masih sedikit, dan rakyat sebahagian 
>besar
> penddidikan nya masih perlu di tingkat kan."Krn masyarakt menengah ini 
>menuntut ada
> dan tersedia nya nilai 2 demokrasi utk kepentingan mereka juga. Jadi begitu 
>lah kita
> akan selalu " konflik kepentingan, Nah siapa yg akan melerai nya. siapa jadi 
>wasit dan
> peraturan yg adil, 'lamak dek awak , katuju dek urang,
 
Sia-sia saya katakan bukan karena alasan di atas yang bung Muzriman sebutkan, 
tapi
akan sia-sia karena kita memakai ide (paham) yang salah yang kita sendiri tidak 
tahu
bagaimana membetulkannya. Salah di pangkal salah di ujung. Bagaimanapun kita 
mendi-
dik rakyat, kalau paham yang dipakai salah, akan tetap menyengsarakan rakyat.
Mengapa tidak kita ikut pepatah Minang, kalau salah diujung jalan kembali ke 
pangkal
jalan. So discard it (buang saja sistem itu), use the best one (pakai yang 
terbaik) yang
datang dari Penguasa jagad raya ini, yang tahu dan Mahatahu bagaimana kurenah
manusia dan Mahatahu pula bagaimana mengatasinya. Mari kita renungkan ayat itu 
baik-
baik.
Afaghaira diinillaahi yabghuun, wa laHu aslama man fis samaawaati wal ardhi 
thau'an 
 wa karHan, wa ilaihi yurja'uun.
"Maka apakah mereka mencari (petunjuk) agama yang lain dari (petunjuk) agama 
Allah,
padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, 
baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. 
(QS:3:83)
 
Mengapa kita mencari/memakai petunjuk/cara/paham (demokrasi) selain dari
petunjuk/paham/cara yang telah diturunkan Allah swt. (Musyawarah dan Mufakat),
padahal kita akan kembali kepada Allah, apa dan bagaimana pertanggung jawaban 
kita
 nanti ?.

>Sekian dulu bung St Sinaro.
 
Ok, bung Muzirman, have a nice day, good luck, may God bless us.

>Wass. Muzirman Tanjung
 
Wa'alaikum salam, warahmatullah..

St. Sinaro



      

-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke