Nan ambo hormati,,,dunsanak sadonyo di palanta,,,
Ambo lewakan cerpen Buya nan berlatarbalakang Minang...
Lumayan manjalang puaso,,, semoga ado lo hikmahnyo

Amir H, 37, Jakarta 


B U Y A Cerpen  Damhuri Muhammad
(http://kumpulan-cerpen.blogspot.com)

Setitik  cahaya menyembul dari balik semak-semak di kaki bukit.  Mungkin suluh  
orang yang mencari belut sawah atau menjaring ikan di sungai Batang  Mungo 
sepanjang lereng bukit itu. Tapi, makin mendekat, makin jelas  terlihat. Makin 
terang terasa. Lalu, cahaya itu menggulung seperti  dihempas angin limbubu. 
Menggumpal, membulat, membesar seperti bola api.  Melayang dan melaju kencang 
ke 
arah Surau Tuo. Lama sekali bola api itu  berputar-putar di atas permukaan 
tanah 
kosong, tepat di sisi kanan  mihrab Surau Tuo, hingga sekeliling surau itu 
terang benderang seperti  tersiram sinar bulan purnama keempat belas. Padahal, 
malam itu bukan  malam terang bulan. 

’’Pertanda apa ini,  Bilal?’’ tanya Katik, gemetar dan tergagap-gagap.
’’Ini petunjuk yang kita tunggu-tunggu selama ini.’’ 
’’Petunjuk?’’ tanya  Katik lagi, ’’Maksudnya apa?’’
’’Kita sudah beroleh jawaban tentang raibnya jasad buya,’’ jawab Bilal, sambil 
tersenyum lega.
’’Jadi….jadi….Ini petunjuk tentang buya Ibrahim Mufti yang menghilang beberapa 
tahun lalu?’’
Hanya  dalam hitungan hari sejak Katik, Bilal, segenap ninik mamak, alim ulama  
bermufakat dan memutuskan bahwa peristiwa munculnya cahaya pada malam  gelap 
bulan itu benar-benar pertanda yang tak diragukan kebenarannya,  masyarakat 
Taram dari enam jorong: Tanjung Ateh, Tanjung Kubang, Tanjung  Balai Cubadak, 
Parak Baru, Sipatai, dan Subarang, berbondong-bondong ke  Surau Tuo. Saling 
bahu-membahu, menggali tanah pekuburan, mendirikan  makam bagi almarhum buya 
Ibrahim Mufti. Hari itu, kali pertama mereka  menggali kubur, tapi tak ada 
mayat 
yang bakal ditimbun di liang lahat.  Keempat sisinya ditembok semen setinggi 
dua 
meter, sementara bagian  atasnya diatap seng. Seperti makam para wali, kuburan 
orang-orang  keramat. 

***
Dulu, negeri Taram tanahnya gersang. Musim kering  berkepanjangan. Tak ada 
sumber air untuk mengairi sawah. Kalaupun ada  sawah yang ditanami, itu hanya 
mengharapkan curah hujan. Sementara,  musim panas lebih lama ketimbang musim 
hujan. Gabah dari sawah tadah  hujan hanya cukup untuk menghadang ancaman 
kelaparan. Sekadar bertahan  hidup. Tak bersisa untuk ditabung dalam lumbung. 
Tapi, sejak kedatangan  buya Ibrahim Mufti, perlahan-lahan alam mulai 
bersahabat. Keadaan  berubah menjadi lebih baik. 

Waktu itu, buya menancapkan ujung  tongkatnya ke dalam tanah, lalu dihelanya 
tongkat itu sambil berjalan ke  arah timur. Tanah kering yang tergerus tongkat 
buya seketika lembab,  basah dan dialiri air yang datang entah dari mana. 
Sesampai di ujung  paling timur, buya berhenti. Dibiarkannya tongkat itu 
tertancap. Lebih  dalam dari tancapan yang pertama. Kelak, titik tempat beliau 
berhenti  dinamai: Kepala Bandar. Itulah mata air pertama di Taram. Airnya  
mengalir deras ke bandar yang semula hanya parit kecil akibat tergerus  tongkat 
buya. Tak lama berselang, bandar pun melebar, membesar dan  akhirnya berubah 
menjadi Sungai Batang Mungo yang menyimpan persediaan  air berlimpah. Sejak 
itu, 
orang-orang Taram tak lagi tergantung pada  sawah tadah hujan. Mereka telah 
beroleh sumber air. Sawah-sawah pun  membuahkan hasil berlebih-lebih. 
Lumbung-lumbung padi penuh terisi. 

Di  tengah perkampungan, (dengan bantuan warga) buya membangun sebuah  surau. 
Di 
sanalah buya tinggal, di sebuah bilik kecil di samping surau.  Anak-anak 
berhamburan datang hendak belajar mengaji. Begitu pun orang  dewasa dan orang 
tua-tua berduyun-duyun untuk salat berjamaah,  mendengarkan wirid dan 
pengajian. 
Buya memberi nama surau itu: Surau  Tuo. Surau pertama yang pernah ada di sana. 
Surau tertua.
Selain  sebagai guru mengaji, guru wirid dan guru tasawuf, buya dikenal memilki 
 
banyak keistimewaan. Di bulan Ramadan, setiap keluarga di Taram  menggelar 
acara 
buka bersama, dan mengundang buya untuk mendoakan  keberkahan bagi tuan rumah. 
Suatu kali, keluarga Nuraya, keluarga  Syamsida,  dan keluarga Wastiah 
menyelenggarakan buka bersama di hari  yang sama. Secara bersamaan pula 
mengundang buya. Mereka bersitegang  urat leher mempertahankan kesaksian 
masing-masing. Nuraya tidak percaya,  kalau buya datang memenuhi undangan ke 
rumah Syamsida dan Wastiah.  Sebab, hari itu buya ada di rumahnya. Begitu pun 
Syamsida dan Wastiah,  keduanya berani bersumpah bahwa buya juga hadir di rumah 
mereka  masing-masing. Mereka tidak salah. Buya benar-benar memenuhi undangan  
ketiga keluarga itu. Meski ada yang bersaksi, hari itu buya tidak ke  
mana-mana. 
Beliau berzikir dan i’tikaf di Surau Tuo, berbuka bersama  dengan jamaah 
Maghrib. Di manakah jasad asli buya saat itu? Berapa  banyakkah bayang-bayang 
buya? Ada yang menyebut, buya punya ilmu  ’’bayang-bayang tujuh’’. Jangankan 
undangan dari tiga keluarga, dari  tujuh keluarga pun buya akan menyanggupinya. 
Itu belum seberapa, ada  yang pernah melihat buya berjalan di atas air saat 
menyelamatkan orang  hanyut di Sungai Batang Mungo. Karena itu, beliau sering 
disebut: buya  keramat.
***
Hari itu, Jumat 12 Sya’ban. Wan Tobat bergegas datang  ke Surau Tuo. Memenuhi 
janjinya, mencukur rambut buya. Kecuali jenggot,  buya tidak suka pada bulu.  
Begitu rambut penuh uban itu mulai tumbuh,  beliau akan memanggil Wan Tobat. 
Meminta tukang cukur itu  menggundulinya, hingga culun, licin, dan mengkilat.
’’Tolong agak cepat! Gunakan pisau cukur paling tajam! Sebentar lagi waktu 
Jumat 
akan masuk,’’ suruh buya pada Wan Tobat.
Baru  separuh rambut buya tergunduli, Wan Tobat tersentak kaget. Karena  
tiba-tiba buya bangkit, berdiri dari duduknya. Seolah ada yang  mengejutkan 
beliau. Tampak ganjil bentuk kepala buya. Culun sebelah.  Sebelah kiri gundul, 
sebelah kanan masih ada rambut. 

’’Wah, saya harus buru-buru pergi.’’
’’Tapi, rambut buya belum selesai dicukur bukan?’’
’’Ndak apa-apa. Saya tidak bisa menunggu lagi.’’
’’Ada apa buya?’’
’’Ka’bah kebakaran. Saya harus segera memadamkannya.’’ 
Buya  berkepala culun itu tergesa-gesa lari ke biliknya, berkemas dan memakai  
sorban. Masih tampak aneh, meski kepalanya sudah terlilit sorban.  Sejenak 
beliau duduk bersila, menunduk berzikir di depan mihrab Surau  Tuo, setelah itu 
Wan Tobat tak melihat apa-apa lagi. Seketika saja,  jasad buya menghilang. 
Seperti menguap dan raib entah ke mana. 

***
Wan  Tobat, satu-satunya orang yang melepas kepergian buya. Tukang pangkas  itu 
sudah berkali-kali meyakinkan orang-orang bahwa buya Ibrahim Mufti  pergi 
berjihad, memadamkan api yang hendak meluluhlantakkan Baitullah di  Mekah. 
Tapi, 
mereka masih sukar mempercayai kebenaran cerita Wan Tobat,  antara percaya dan 
tidak. Malah ada yang menganggap kesaksian itu  mengada-ada, tak masuk akal, 
omong kosong yang dibuat-buat. 

’’Buya itu wali. Dalam sekali kerdipan mata, beliau bisa tiba di Mekah.’’ 
’’Andai bumi yang bulat ini ada tangkainya serupa buah Manggis, buya akan 
menjinjingnya ke mana-mana.’’ 

’’Apa lagi yang kalian sangsikan?’’
Berbulan-bulan,  peristiwa menghilangnya buya masih menjadi duri dalam daging 
bagi  orang-orang Taram. Mereka sulit menerima kenyataan. Apa mau dikata, Buya  
sungguh-sungguh telah tiada. Kesangsian mereka pada keterangan Wan  Tobat 
terjawab setelah mendengar cerita dari Wan Tongkin. Warga kampung  sebelah, 
yang 
pulang setelah berpuluh tahun hidup dan tinggal di tanah  suci. Semula Wan 
Tongkin mendalami ilmu-ilmu agama di Mekah. Setelah  pendidikannya tamat, ia 
tidak kembali pulang ke kampung. Tapi memilih  menjadi pedagang lukisan 
kaligrafi dan kopiah haji di wilayah sekitar  Masjid al-Haram. Meluap-meluap 
lelaki ringkih itu berkisah tentang  peristiwa kebakaran Ka’bah, beberapa hari 
sebelum kepulangannya.
’’Baitullah nyaris hangus jadi abu.’’ 
’’Siapa yang memadamkan api itu?’’ tanya orang-orang.
’’Untunglah  ada seorang lelaki tua. Secepat kilat, ia meloncat ke puncak 
Ka’bah.  Dari ujung tongkatnya mengucur air. Deras, seperti air yang muncrat 
dari  selang pemadam kebakaran. Sekejap, api yang menjalar-jalar  itu   
padam.’’ 

’’Masih ingat ciri-ciri orang itu?’’
’’Agak ganjil. Kepalanya culun sebelah. Sebelah kiri gundul, sebelah kanan 
masih 
ada rambut.’’
Sepeninggal  buya, pengajian tasawuf dilanjutkan oleh tiga orang murid 
kesayangan  buya Ibrahim Mufti. Haji Malih, Haji Amak dan Haji Djamil. Mereka 
juga  memiliki banyak keistimewaan seperti buya. Dari Haji Djamil, orang-orang  
Taram menjawab wasiat tentang buya. Ia pernah bermimpi bertemu arwah  buya. 
Ternyata, tak lama setelah peristiwa kebakaran Ka’bah, buya  meninggal. Dalam 
mimpi itu, Haji Djamil bermohon agar buya  memberitahukan di mana beliau 
dikuburkan. Agar kelak orang-orang Taram  dapat berziarah ke makam beliau. 

’’Bila muncul cahaya di malam bukan terang bulan, di sanalah saya.’’ 
’’Bagaimana cara kami mengenali cahaya itu?’’
’’Menggumpal,  membulat, dan membesar seperti bola api. Melayang-layang dan 
berputar  seperti gasing. Galilah kuburan persis di setentang cahaya itu! Di  
sanalah makam saya.’’ 

***
Bilal dan Katik sudah tiada. Begitu pun  orang-orang yang dulu setia menjaga 
Surau Tuo dan makam buya. Satu per  satu meninggal, hingga tak ada lagi yang 
tahu sejarah surau dan makam  keramat itu. Surau lengang. Tak ada hiruk suara 
anak-anak mengeja  alif-ba-ta. Tak ada salat berjamaah, pengajian, apalagi 
wirid. Surau  kotor, kumuh dan berdebu. Sama seperti makam buya yang tak 
terawat,  penuh rumput dan berlumut. 

Tapi, Kepala Bandar makin ramai. Mungkin  karena suasananya tenang dan sejuk. 
Airnya jernih, ikannya jinak. Setiap  hari berpuluh-puluh pasang muda-mudi 
(laki-laki dan perempuan)  berboncengan sepeda motor beriring-iringan menuju 
lokasi mata air tertua  itu. Di balik semak-semak sepanjang pinggir sungai, 
tersedia  pondok-pondok bambu yang disewakan bagi setiap pasangan. Mereka 
leluasa  berbuat apa saja. Tanpa ada yang mengusik dan menganggu. Tak ada yang  
tahu, Kepala Bandar yang sudah mesum dan penuh maksiat itu, dulu tempat  suci 
yang dihormati. Konon, buya Ibrahim Mufti pernah menancapkan  tongkat 
keramatnya 
untuk memperoleh mata air. Di sana pula buya kerap  berdoa, memohon keberkahan 
dan kelimpahan rezeki bagi orang-orang Taram.  ***
Kelapa Dua, 2005


-- 
.
Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat 
lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting
- Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan 
mengganti subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an 
keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke