Kanda Jepe...

Turun naik se jakun dibueknya.. Baa ati nan cinto masakan minang di rantau 
jauah ko.. Raso ka ewai se tiket pulang dek nyo.

Bialah mambaco curita se lah sanang juo..hehehe

Wassalam

Nb: kukuruyuak paruik koo

Roland Y. Mandailiang
26th, marantau ka Jeddah
Sent from my BlackBerry® smartphone provided by "rang minang" baralek gadang

-----Original Message-----
From: "Jupardi" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 23 Sep 2010 12:16:51 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: <[email protected]>
Subject: [...@ntau-net] Catatan Mudik lebaran 1431 H ke Ranah Minang (lanjutan)

 

 

Aqiqah Putri Buah Hati Andiko Sutan Mancayo  (lanjutan)

By : Jepe

 

Minggu, 12 September pagi yang cerah di Kota Pekanbaru dari rumah saya
pacu kendaraan menuju ranah minang menuju kampung halaman istri di
Lintau, memasuki simpang Piladang sore itu sejauh mata memandang langit
ranah minang di hamparan kaki gunung merapi begitu cerah dengan semburat
warna tembaga dibeberapa gerombolan awan yang sedang berarak. Menjelang
Magrib roda mobil saya berlabuh di Sungai Tarab. Sebuah kenagarian di
Tanah Datar  dengan pemandangan khas alam pedesaan yang terletak dikaki
gunung. Puncak Gunung Merapi telah ditutupi awan nan lembut bermandikan
cahaya senja  dan terkadang semburat cahaya yang berkilau dibalik awan
sebelum matahari tenggelam di ufuk barat. Hamparan nagari Sungai Tarab
sore menjelang Magrib itu begitu memesona mata. Ketika pandangan jauh
dilayangkan mulai dari kaki gunung merapi hamparan sawah yang
bertingkat-tingkat serta berkontur dari ketinggian dan berakhir
dilembah-lembah yang mengalir sunagi dan anak-anak sungai yang
meliuk-liuk. 

 

Hamparan sawah ini ibarat potongan mozaik yang terpecah satu sama lain
tapi dirangkai dalam satu kesatuan yang utuh oleh pematang-pematang
sawah yang ditumbuhi rumput hijau dan terkadang dibeberapa persimpangan
pematang sawah tumbuh pohon-pohon seperti kulit manisyang rimbun dengan
pucuk daunnya kemerahan. Setiap petak dan hamparan sawah memncarkan
warna-warna alami yang tak ada tandingannya, begitu apa adanya., mulai
warna hijau pupus  seperti permadani lembut dari benih-benih padi yang
baru tumbuh, lalu disekeliling benih ini seberkas cahaya menerpa
genangan air yang bening dengan dasar coklat khas warna tanah liat yang
subur baru diolah untuk ditanami benih padi. Dihamparan lain padi-padi
yang merunduk dan menguning keemasan siap untuk dipanen. Pada
petak-petak sawah yang dipaneh semburat warna jerami coklat pupus
berpadu dengan warna hitam pekat dari abu jerami yang dibakar.Potongan
lain dari Mozaik nagari Sungai Tarab nan elok ini tentunya ladang-ladang
dan parak-parak masyarakat yang berada sedikit  lebih tinggi dari sawah
tersebut dengan aneka warna tanaman keras, pohon buah-buahan atau
hamparan sayur mayur serta bumbu-bumbu dapur seperti cabe merah.
Diantara sisi-sisi kanan kiri jalan dari simpang Sitakuak menuju dusun
Mandahiliang berjejer rumah-rumah penduduk dengan halaman yang bersih
serta dipekarangannya dihiasi  pagar hidup seperti pinang, pohon pepaya
dan alpukat serta tanaman kehidupan lainnya yang memberi manfaat baik
secara ekonomi maupun lingkungan bagi yang punya rumah.Air dari
pegunungan yang mengalir dan tersedia sepanjang tahun tentunya tidak
disia-siakan oleh masyarakat di nagari yang subur ini selain untuk
mengairi sawah tentunya untuk kolam ikan, sungguh betapa  ikan-ikan
dikolam dengan air yang sejuk dari kaki gunung Merapi itu seperti
bertemu dengan habitatnya yang begitu menyenangkan untuk bermain,
bergerak kesana sini walau badan mereka terkurung dalam sebuah "rumah
khusus " buat mereka (Minang : Tabek).

 

Pelan tapi pasti saya menelusuri jalan yang berliku sedikit mendaki ke
dusun Mandahiliang sambil menikmati pemandangan alam yang memanjakan
mata di senja hari  menjelang magrib di kanagarian Sungai Tarab yang
terletak di hamparan kaki Gunung Merapi dari sisi yang lain dan itu tak
kalah indahnya dari sisi kaki gunung Merapi disebelahnya menghampar
kenagarian-kenagarian yang termasuk "Koto rang Agam", inilah bagian dari
Minangkabau yang terkenal dengan luhak nan tuo Tanah Datar.

 

Diujung jalan pusat keramian Dusun Mandahiliang laju mobil saya hentikan
dan merapat kesisi badan jalan, seorang anak nagari yang tidak asing
lagi saya kenal sedang duduk santai diatas sepeda motornya mengawasi
tenda-tenda biru yang dipasang para pemuda kampung  disebuah lapangan
takraw yang berlantai semen. Andiko Sutan Mancayo sosok anak nagari
Dusun Mandahiliang yang saya kenal itu persis berada di depan hidung
mobil  saya. Klason saya bunyikan sebagai tegur sapa awal sekaligus
untuk bikin kaget yang duduk santai disebuah sepeda motor skutik. Andiko
terpana mungkin dalam hatinya (sia pulo ko nan ka gadang-gadangan) tapi
ketika kaca mobil saya buka dan wajah kami saling mentap, wahh luar
biasa terperanjatnya Andiko seakan  tak perjaya saya datang kekampung
dia untuk memenuhi undangan aqiqah putrinya.

 

Hanya sebuah kata singkat dan penuh rasa buncah dari ekpresi wajah
Andiko ketika beranjak duduk dari sepeda motor skutiknya menghampiri
saya ke mobil "ehhh  Udaaaaa jo Uni !!!!"  Kami saling mengulurkan
tangan dan bersalaman itu baru langkah awal yang cukup nikmat dan
dahsyatnya sebuah silahturahhim apalagi di hari yang fitri yang selalu
bergairah dan berdenyut dirayakan dikampung-kampung di ranah
minang.Andiko dengan sigap menuntun saya untuk menepi dan memakir
kendaraan dihalaman kerabatnya sementara azan magrib yang dilafazkan
oleh mamak Andiko bergema disurau kaumnya yang terletak disisi jalan
utama yang membelah dusun Mandahiliang.

 

Sementara saya dan istri menunaikan shalat magrib di surau, Andiko
berlari kerumah mandenya hanya berkata singkat saja sebelum shalat
berjamaah dimulai "Ambo siapkan buek Uda jo keluarga dulu makan malam".
Wajah sumringah Andiko yang begitu antusias menjamu kami makan malam
menghampiri kami yang telah selesai shalat Magrib berjamaah di surau. 

 

"Ka ateh rumah lah kito lai Da, lah disiapkan" itu sapaan Andiko penuh
perhatian pada kami dan saya juga bisa membayangkan apa yang dipikirkan
Andiko kira-kira begini "apolah nan dikomentari dek Da Jepe ko beko yo
samba-samba nan dihidangkan mande ambo, pasti lamak caritonyo beko
sambia makan dek ambo lai saulah pulo kalakuannyo jo da Jepe ko
satantang kuliner rang kampuang" Kami langkahkan kaki dari surau menuju
rumah mande Andiko ketika didepan pintu dengan mengucapkan salam,
Andiko memperkenalkan mandenya, Istri, mamak serta dunsanak nan dibawah
daguaknya kebetulan sedang berkumpul di ruang tengah rumah  yang sedang
direhab, sungguh sebuah kecintaan seorang Andiko buat kampung dan
mandenya sedikit demi sedikit rejekinya di rantau dikumpulkannya untuk
membangun sebuah rumah sederhana yang permanen walau itu belum siap tapi
sudah kokoh berdiri,

 

Pandangan saya layangkan pada taplak meja (sepra) yang terbentang, waw
memang sepertinya terlalu spesial hidangan buat kami karena alek aqiqah
sudah selesai tadi siang tentunya datang habis magrib suasananya buat
kami lebih tenang dan bisa bercengkrama dengan tuan rumah sambil
menikmati segala hidangan diatas sepra.Andiko dan mandenya
mempersilahkan saya yang membawa keluarga dengan kekuatan penuh (full
team) untuk duduk bersila mengelilingi sepra putih yang terhampar di
ruang tengah. Sungguh sesuatu yang sulit juga dari mana memulai aneka
hidangan ini diambil setelah nasi beras kampung yang panas disendok
didalam piring, rendang belut khas Sungai Tarab kah akan dicicipi,
rendang, gulai kepala ikan atau di kepala jamba didepan saya terhidang
gulai kambing aqiqah. 

 

Mmmm..bagaimana kalau kuah kambing yang kental dan khas ini yang akan
menyentuh lidah saya, ya...kuah gulai kambing, saya sendok dan nikmati
dengan sesuap nasi saya coba lumat dan rasakan bumbunya yang sedikit
berat dengan pedas yang khas rata-rata gulai kambing masakan kampung
khususnya nagari-nagari di tanah datar.Lidah  seperti disentrum listrik
tegangan rendah dengan kuah gulai kambing dan itu membangkitkan selera
untuk suap nasi selanjutnya.

 

Pandangan pertama begitu menggoda pada setiap piring-piring yang berisi
aneka sambal (menu) di atas seprai, lihatlah di pojok sana agak jauh
dari jangkauan saya tergeletak sepiring perkedel kentang ala masakan
kampung, sepertinya Andiko menangkap sinyal apa yang saya suka "Da
perkedel kentang..cubolah lah "  Ehem memang ini yang saya suka, dua
potong perkedel kentang ukuran kecil berlabuh dipiring makan saya,
selanjutnya memang tak tertahankan lagi, Andiko begitu antusiasnya
"memaksakan kehendaknya" agar saya menikmati semua hidangan yang
tersedia. Apa boleh buat ini dunia lelaki dalam menikmati cita rasa
masakan kampung dengan sentuhan tradisional yang dalam. 

 

Sedikit tapi pasti saya nikmati semuanya,  rendang belut yang agak
berbeda "genre"  dengan rendang belut di kampung saya, seperti rendang
daging kebanyakan begitu rendang belut khas masakan kampung andiko ,
potongan belut yang padat dicampur dengan kacang polong rasanya unik dan
tentunya akan membelai lidah bergoyang tak terkendali ketika potongan
belut  yang rapuh dikunyah bersatu dengan nasi serta kuah gulai
kambing.Disayap kiri saya duduk, entahlah sepertinya Andiko
"memprovokasi" saya dengan menghidangkan spesial gulai kepala ikan
Padang (Tongkol) dengan kuahnya yang kental diantara kelopak insang ikan
tersebut terkait daun ruku-ruku tentunya ini memberikan sebuah cita rasa
dalam masakan khas ranah minang.

 

"cobain Da...itu untuak uda mah"  ya sudah saya coba lagi...mantapppp
Andiko hanya itu kata yang terucap dari mulut saya. Sepertinya ada yang
kurang dalam hidangan ini, apa itu..ahaa ini dia, Andiko "berteriak"

 

"Mak..manyo samba lado , lupo mah amak manghidangkan buek Uda ambo mah
katangahkanlah Mak"

 

Mmmm sepiring samba lado hijau dengan gilingan yang halus (sepertinya
diuok dulu cabe hijaunya sebelum digiling) dihidangkan oleh mande
Andiko. Samab lado ini cabe hijau ini sedikit basah itu melumuri bada
(teri) kecil yang kecoklatan, kalau di Padang saya mengenal nama ikan
teri ini dengan sebutan yang populer yaitu "Bada Kuriak" tapi orang
kampung Andiko menyebutnya "Maco". Rasanya tentunya membangkit selera
makan tapi saya tidak bisa menjamin jika samba lado maco mande Andiko
ini akan membuat yang patah hati akan kembali bersemangat lagi menggapai
cintanya yang kandas , saya hanya  bisa menjamin jika makan samba lado
maco ini akan membangkitkan lagi gairah selera yang patah. 

 

 

Sesendok samba lado maco menghiasi ujung piring makan saya tentunya
paling cocok dipadu serasikan dengan buncis muda  manis yang diuokan
tergeletak didepan  saya dalam piring,  ahhh tentunya sebuah sentuhan
yang tampil beda ketika buncis manis yang dikukus ini dilumuri samba
lado lalu ditingkahi rasa bada kuriak yang di sangrai bersatu lagi dalam
lumatan nasi dari beras kampung yang putih ketika dimasak beras baru
ini, kembangnya seperti yang sering saya dengar dari ibu saya tentang
beras kampung yang enak ini "kembangnya seperti kembang bungo limau"

 

 

***  

 

Udahan dulu euyyyy laperrrr.. (Rita, Rina dan Andiko ini dulu
ya..semakin keujung semakin seru ..yakin nggak..he he  maap-maap aja ya
..jika ini bagian provokasi saya terhadap kuliner ranah minang yang
selalu kita cintai dan kita promosikan 

 

Salam -Jepe

 

 

 

 

 

 


The above message is for the intended recipient only and may contain 
confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
reply e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
you.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke