St. Mancayo..

Baa lai agak mangalai agak sajamang di kandang singo? Tokoklah kawek ambo




________________________________
From: andi ko <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Thu, September 23, 2010 2:07:50 PM
Subject: Re: [...@ntau-net] Catatan Mudik lebaran 1431 H ke Ranah Minang 
(lanjutan)


Da Jepe

Bekolah di tanggapi sampai di rumah beko. Indak tahan sabananyo mambaco 
salayang, tapi awak sadang maminteh, ka baa lai.

Andiko

Baru mancogok di Changi International Airport Singapore


Pada 23 September 2010 13.16, Jupardi <[email protected]> menulis:

 
> 
>Aqiqah Putri Buah Hati Andiko Sutan Mancayo  (lanjutan)
>By : Jepe
> 
>Minggu, 12 September pagi yang cerah di Kota Pekanbaru dari rumah saya pacu 
>kendaraan menuju ranah minang menuju kampung halaman istri di Lintau, memasuki 
>simpang Piladang sore itu sejauh mata memandang langit ranah minang di 
>hamparan 
>kaki gunung merapi begitu cerah dengan semburat warna tembaga dibeberapa 
>gerombolan awan yang sedang berarak. Menjelang Magrib roda mobil saya berlabuh 
>di Sungai Tarab. Sebuah kenagarian di Tanah Datar  dengan pemandangan khas 
>alam 
>pedesaan yang terletak dikaki gunung. Puncak Gunung Merapi telah ditutupi awan 
>nan lembut bermandikan cahaya senja  dan terkadang semburat cahaya yang 
>berkilau 
>dibalik awan sebelum matahari tenggelam di ufuk barat. Hamparan nagari Sungai 
>Tarab  sore menjelang Magrib itu begitu memesona mata. Ketika pandangan jauh 
>dilayangkan mulai dari kaki gunung merapi hamparan sawah yang 
>bertingkat-tingkat 
>serta berkontur dari ketinggian dan berakhir dilembah-lembah yang mengalir 
>sunagi dan anak-anak sungai yang meliuk-liuk. 
>
> 
>Hamparan sawah ini ibarat potongan mozaik yang terpecah satu sama lain tapi 
>dirangkai dalam satu kesatuan yang utuh oleh pematang-pematang sawah yang 
>ditumbuhi rumput hijau dan terkadang dibeberapa persimpangan pematang sawah 
>tumbuh pohon-pohon seperti kulit manisyang rimbun dengan pucuk daunnya 
>kemerahan. Setiap petak dan hamparan sawah memncarkan warna-warna alami yang 
>tak 
>ada tandingannya, begitu apa adanya., mulai warna hijau pupus  seperti 
>permadani 
>lembut dari benih-benih padi yang baru tumbuh, lalu disekeliling benih ini 
>seberkas cahaya menerpa genangan air yang bening dengan dasar coklat khas 
>warna 
>tanah liat yang subur baru diolah untuk ditanami benih padi. Dihamparan lain 
>padi-padi yang merunduk dan menguning keemasan siap untuk dipanen. Pada 
>petak-petak sawah yang dipaneh semburat warna jerami coklat pupus berpadu 
>dengan 
>warna hitam pekat dari abu jerami yang dibakar.Potongan lain dari Mozaik 
>nagari 
>Sungai Tarab nan elok ini tentunya ladang-ladang dan parak-parak masyarakat 
>yang 
>berada sedikit  lebih tinggi dari sawah tersebut dengan aneka warna tanaman 
>keras, pohon buah-buahan atau hamparan sayur mayur serta bumbu-bumbu dapur 
>seperti cabe merah. Diantara sisi-sisi kanan kiri jalan dari simpang Sitakuak 
>menuju dusun Mandahiliang berjejer rumah-rumah penduduk dengan halaman yang 
>bersih serta dipekarangannya dihiasi  pagar hidup seperti pinang, pohon pepaya 
>dan alpukat serta tanaman kehidupan lainnya yang memberi manfaat baik secara 
>ekonomi maupun lingkungan bagi yang punya rumah.Air dari pegunungan yang 
>mengalir dan tersedia sepanjang tahun tentunya tidak disia-siakan oleh 
>masyarakat di nagari yang subur ini selain untuk mengairi sawah tentunya untuk 
>kolam ikan, sungguh betapa  ikan-ikan dikolam dengan air yang sejuk dari kaki 
>gunung Merapi itu seperti bertemu dengan habitatnya yang begitu menyenangkan 
>untuk bermain, bergerak kesana sini walau badan mereka terkurung dalam sebuah 
>“rumah khusus “ buat mereka (Minang : Tabek).
> 
>Pelan tapi pasti saya menelusuri jalan yang berliku sedikit mendaki ke dusun 
>Mandahiliang sambil menikmati pemandangan alam yang memanjakan mata di senja 
>hari  menjelang magrib di kanagarian Sungai Tarab yang terletak di hamparan 
>kaki 
>Gunung Merapi dari sisi yang lain dan itu tak kalah indahnya dari sisi kaki 
>gunung Merapi disebelahnya menghampar kenagarian-kenagarian yang termasuk 
>“Koto 
>rang Agam”, inilah bagian dari Minangkabau yang terkenal dengan luhak nan tuo 
>Tanah Datar.
> 
>Diujung jalan pusat keramian Dusun Mandahiliang laju mobil saya hentikan dan 
>merapat kesisi badan jalan, seorang anak nagari yang tidak asing lagi saya 
>kenal 
>sedang duduk santai diatas sepeda motornya mengawasi tenda-tenda biru yang 
>dipasang para pemuda kampung  disebuah lapangan takraw yang berlantai semen. 
>Andiko Sutan Mancayo sosok anak nagari Dusun Mandahiliang yang saya kenal itu 
>persis berada di depan hidung mobil  saya. Klason saya bunyikan sebagai tegur 
>sapa awal sekaligus untuk bikin kaget yang duduk santai disebuah sepeda motor 
>skutik. Andiko terpana mungkin dalam hatinya (sia pulo ko nan ka 
>gadang-gadangan) tapi ketika kaca mobil saya buka dan wajah kami saling 
>mentap, 
>wahh luar biasa terperanjatnya Andiko seakan  tak perjaya saya datang 
>kekampung 
>dia untuk memenuhi undangan aqiqah putrinya.
> 
>Hanya sebuah kata singkat dan penuh rasa buncah dari ekpresi wajah Andiko 
>ketika 
>beranjak duduk dari sepeda motor skutiknya menghampiri saya ke mobil “ehhh  
>Udaaaaa jo Uni !!!!”  Kami saling mengulurkan tangan dan bersalaman itu baru 
>langkah awal yang cukup nikmat dan dahsyatnya sebuah silahturahhim apalagi di 
>hari yang fitri yang selalu bergairah dan berdenyut dirayakan 
>dikampung-kampung 
>di ranah minang.Andiko dengan sigap menuntun saya untuk menepi dan memakir 
>kendaraan dihalaman kerabatnya sementara azan magrib yang dilafazkan oleh 
>mamak 
>Andiko bergema disurau kaumnya yang terletak disisi jalan utama yang membelah 
>dusun Mandahiliang.
> 
>Sementara saya dan istri menunaikan shalat magrib di surau, Andiko berlari 
>kerumah mandenya hanya berkata singkat saja sebelum shalat berjamaah dimulai 
>“Ambo siapkan buek Uda jo keluarga dulu makan malam”. Wajah sumringah Andiko 
>yang begitu antusias menjamu kami makan malam  menghampiri kami yang telah 
>selesai shalat Magrib berjamaah di surau. 
>
> 
>“Ka ateh rumah lah kito lai Da, lah disiapkan”itu sapaan Andiko penuh 
>perhatian 
>pada kami dan saya juga bisa membayangkan apa yang dipikirkan Andiko kira-kira 
>begini “apolah nan dikomentari dek Da Jepe ko beko yo samba-samba nan 
>dihidangkan mande ambo, pasti lamak caritonyo beko sambia makan dek ambo lai 
>saulah pulo kalakuannyo jo da Jepe ko satantang kuliner rang kampuang” Kami 
>langkahkan kaki dari surau menuju rumah mande Andiko ketika didepan pintu 
>dengan 
>mengucapkan salam,  Andiko memperkenalkan mandenya, Istri, mamak serta 
>dunsanak 
>nan dibawah daguaknya kebetulan sedang berkumpul di ruang tengah rumah  yang 
>sedang direhab, sungguh sebuah kecintaan seorang Andiko buat kampung dan 
>mandenya sedikit demi sedikit rejekinya di rantau dikumpulkannya untuk 
>membangun 
>sebuah rumah sederhana yang permanen walau itu belum siap tapi sudah kokoh 
>berdiri,
> 
>Pandangan saya layangkan pada taplak meja (sepra) yang terbentang, waw memang 
>sepertinya terlalu spesial hidangan buat kami karena alek aqiqah sudah selesai 
>tadi siang tentunya datang habis magrib suasananya buat kami lebih tenang dan 
>bisa bercengkrama dengan tuan rumah sambil menikmati segala hidangan diatas 
>sepra.Andiko dan mandenya mempersilahkan saya yang membawa keluarga dengan 
>kekuatan penuh (full team) untuk duduk bersila mengelilingi sepra putih yang 
>terhampar di ruang tengah. Sungguh sesuatu yang sulit juga dari mana memulai 
>aneka hidangan ini diambil setelah nasi beras kampung yang panas disendok 
>didalam piring, rendang belut khas Sungai Tarab kah akan dicicipi, rendang, 
>gulai kepala ikan atau di kepala jamba didepan saya terhidang gulai kambing 
>aqiqah. 
>
> 
>Mmmm..bagaimana kalau kuah kambing yang kental dan khas ini yang akan 
>menyentuh 
>lidah saya, ya…kuah gulai kambing, saya sendok dan nikmati dengan sesuap nasi 
>saya coba lumat dan rasakan bumbunya yang sedikit berat dengan pedas yang khas 
>rata-rata gulai kambing masakan kampung khususnya nagari-nagari di tanah 
>datar.Lidah  seperti disentrum listrik tegangan rendah dengan kuah gulai 
>kambing 
>dan itu membangkitkan selera untuk suap nasi selanjutnya.
> 
>Pandangan pertama begitu menggoda pada setiap piring-piring yang berisi aneka 
>sambal (menu) di atas seprai, lihatlah di pojok sana agak jauh dari jangkauan 
>saya tergeletak sepiring perkedel kentang ala masakan kampung, sepertinya 
>Andiko 
>menangkap sinyal apa yang saya suka “Da perkedel kentang..cubolah lah “  Ehem 
>memang ini yang saya suka, dua potong perkedel kentang ukuran kecil berlabuh 
>dipiring makan saya, selanjutnya memang tak tertahankan lagi, Andiko begitu 
>antusiasnya  “memaksakan kehendaknya” agar saya menikmati semua hidangan yang 
>tersedia. Apa boleh buat ini dunia lelaki dalam menikmati cita rasa masakan 
>kampung dengan sentuhan tradisional yang dalam. 
>
> 
>Sedikit tapi pasti saya nikmati semuanya,  rendang belut yang agak berbeda 
>“genre”  dengan rendang belut di kampung saya, seperti rendang daging 
>kebanyakan 
>begitu rendang belut khas masakan kampung andiko , potongan belut yang padat 
>dicampur dengan kacang polong rasanya unik dan tentunya akan membelai lidah 
>bergoyang tak terkendali ketika potongan belut  yang rapuh dikunyah bersatu 
>dengan nasi serta kuah gulai kambing.Disayap kiri saya duduk, entahlah 
>sepertinya Andiko “memprovokasi” saya dengan menghidangkan spesial gulai 
>kepala 
>ikan Padang (Tongkol) dengan kuahnya yang kental diantara kelopak insang ikan 
>tersebut terkait daun ruku-ruku tentunya ini memberikan sebuah cita rasa dalam 
>masakan khas ranah minang.
> 
>“cobain Da…itu untuak uda mah”  yasudah saya coba lagi…mantapppp Andiko hanya 
>itu kata yang terucap dari mulut saya. Sepertinya ada yang kurang dalam 
>hidangan 
>ini, apa itu..ahaa ini dia, Andiko “berteriak”
> 
>“Mak..manyo samba lado , lupo mah amak manghidangkan buek Uda ambo mah 
>katangahkanlah Mak”
> 
>Mmmm sepiring samba lado hijau dengan gilingan yang halus (sepertinya diuok 
>dulu 
>cabe hijaunya sebelum digiling) dihidangkan oleh mande Andiko. Samab lado ini 
>cabe hijau ini sedikit basah itu melumuri bada (teri) kecil yang kecoklatan, 
>kalau di Padang saya mengenal nama ikan teri ini dengan sebutan yang populer 
>yaitu “Bada Kuriak” tapi orang kampung Andiko menyebutnya “Maco”. Rasanya 
>tentunya membangkit selera makan tapi saya tidak bisa menjamin jika samba lado 
>maco mande Andiko ini akan membuat yang patah hati akan kembali bersemangat 
>lagi 
>menggapai cintanya yang kandas , saya hanya  bisa menjamin jika makan samba 
>lado 
>maco ini akan membangkitkan lagi gairah selera yang patah. 
>
> 
> 
>Sesendok samba lado maco menghiasi ujung piring makan saya tentunya paling 
>cocok 
>dipadu serasikan dengan buncis muda  manis yang diuokan tergeletak didepan  
>saya 
>dalam piring,  ahhh tentunya sebuah sentuhan yang tampil beda ketika buncis 
>manis yang dikukus ini dilumuri samba lado lalu ditingkahi rasa bada kuriak 
>yang 
>di sangrai bersatu lagi dalam lumatan nasi dari beras kampung yang putih 
>ketika 
>dimasak beras baru ini, kembangnya seperti yang sering saya dengar dari ibu 
>saya 
>tentang beras kampung yang enak ini “kembangnya seperti kembang bungo limau”
> 
> 
>***  
> 
>Udahan dulu euyyyy laperrrr.. (Rita, Rina dan Andiko ini dulu ya..semakin 
>keujung semakin seru ..yakin nggak..he he  maap-maap aja ya ..jika ini bagian 
>provokasi saya terhadap kuliner ranah minang yang selalu kita cintai dan kita 
>promosikan 
>
> 
>Salam -Jepe
> 
> 
> 
> 
> 
> The above message is for the intended recipient only and may contain 
>confidential information and/or may be subject to legal privilege. If you are 
>not the intended recipient, you are hereby notified that any dissemination, 
>distribution, or copying of this message, or any attachment, is strictly 
>prohibited. If it has reached you in error please inform us immediately by 
>reply 
>e-mail or telephone, reversing the charge if necessary. Please delete the 
>message and the reply (if it contains the original message) thereafter. Thank 
>you. -- 
>
>.
>* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
>wajib 
>mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
>http://groups.google.com/group/RantauNet/~
>* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>===========================================================
>UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
>- DILARANG:
>1. E-mail besar dari 200KB;
>2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
>3. One Liner.
>- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
>http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
>- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
>subjeknya.
>===========================================================
>Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
>http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
>
-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib 
mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
1. E-mail besar dari 200KB;
2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.



      

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke