Raso rewine ulang ambo baliak da. Ibaraik sadang manonton VHS kak Rhoma nan ba 
judul Satria Bergitar, ma nan sesi heroik jo romantisnyo yo ba takan tombol 
rewine di masin vidio usang dulu itu. Mode itu bana mambaco detail catatan uda 
ko.

Tadi baru sajo mendarat di Changi, mahambuah sakali ka tampek internet perai 
disinan, tapi indak sempat mambaleh, takuik bagasi ta icia di jalan. Kini 
setelah batanang-tanang dirumah, yo dibukak balaik curito ko. Oh yo, FYI ajo, 
kapatang ukatu transit di Changi, ambo mancari makan disinan, ruponyo ado satu 
tampek nan urang manjua masakan padang. Ternyata masakan padang alah manjadi 
masakan internasional kini. Nan manggaleh urang Cino, caro manjuanyopun alah 
KFC atau Mc. Donald. Indak ado keramahan khas warung padang disinan, semua 
murni industri. Yo maraso asiang di salero sorang ambo deknyo. Alah salasai 
makan lansuang bakirok se.

Baliak ka curito uda tadi, yo tabayang-bayang kutiko uda datang. Ibaraik dapek 
durian runtuah ambo sanjo itu. Tamu nan indak disangko-sangko datang. Itulah 
satu manfaat utama RN nan ambo rasokan, manambah dunsanak. Cuma sayang ukatu 
uda datang lupo ambo kalau kapalo kambiang itu masih ado. Kudian baru ambo 
manampak, dan akhirnyo kakanda anwar rencananyo dari KL datang ka mambalah 
kapalo kambiang itu. Tabayang dek ambo baa kanda Anwar mambalahnyo pakai 
ladiang. Tapi sayang, indak rasaki pulo baliau sampai. Tasakek baliau di 
payokumbuah.

Suatu waktu, kok lai tagak tali layang-layang ko, bialah ambo nan manjinguak ka 
tampaik kakanda baduo. Yo alah batanam batu bana silaturrahmi di RN ko, sarik 
ka ma ungkainyo. Kok batu mintalak ladang nan ka di asak, yo namuah celek mato 
deknyo, baitulah kiro-kiro. 

BTW, Kalau lai jadi oktober ko ambo ado di Pakanbaru beberapa hari ko.

Sakitu dulu da, ambo tunggu sambungan curito, khususnyo mengenai sesi Dadiah.

Salam

andiko

----- Original Message -----
From: "Jupardi" <[email protected]>
To: [email protected]
Cc: [email protected]
Sent: Thursday, September 23, 2010 12:16:51 PM GMT +07:00 Bangkok, Hanoi, 
Jakarta
Subject: [...@ntau-net] Catatan Mudik lebaran 1431 H ke Ranah Minang (lanjutan)








Aqiqah Putri Buah Hati Andiko Sutan Mancayo (lanjutan) 

By : Jepe 



Minggu, 12 September pagi yang cerah di Kota Pekanbaru dari rumah saya pacu 
kendaraan menuju ranah minang menuju kampung halaman istri di Lintau, memasuki 
simpang Piladang sore itu sejauh mata memandang langit ranah minang di hamparan 
kaki gunung merapi begitu cerah dengan semburat warna tembaga dibeberapa 
gerombolan awan yang sedang berarak. Menjelang Magrib roda mobil saya berlabuh 
di Sungai Tarab. Sebuah kenagarian di Tanah Datar dengan pemandangan khas alam 
pedesaan yang terletak dikaki gunung. Puncak Gunung Merapi telah ditutupi awan 
nan lembut bermandikan cahaya senja dan terkadang semburat cahaya yang berkilau 
dibalik awan sebelum matahari tenggelam di ufuk barat. Hamparan nagari Sungai 
Tarab sore menjelang Magrib itu begitu memesona mata. Ketika pandangan jauh 
dilayangkan mulai dari kaki gunung merapi hamparan sawah yang 
bertingkat-tingkat serta berkontur dari ketinggian dan berakhir dilembah-lembah 
yang mengalir sunagi dan anak-anak sungai yang meliuk-liuk. 



Hamparan sawah ini ibarat potongan mozaik yang terpecah satu sama lain tapi 
dirangkai dalam satu kesatuan yang utuh oleh pematang-pematang sawah yang 
ditumbuhi rumput hijau dan terkadang dibeberapa persimpangan pematang sawah 
tumbuh pohon-pohon seperti kulit manisyang rimbun dengan pucuk daunnya 
kemerahan. Setiap petak dan hamparan sawah memncarkan warna-warna alami yang 
tak ada tandingannya, begitu apa adanya., mulai warna hijau pupus seperti 
permadani lembut dari benih-benih padi yang baru tumbuh, lalu disekeliling 
benih ini seberkas cahaya menerpa genangan air yang bening dengan dasar coklat 
khas warna tanah liat yang subur baru diolah untuk ditanami benih padi. 
Dihamparan lain padi-padi yang merunduk dan menguning keemasan siap untuk 
dipanen. Pada petak-petak sawah yang dipaneh semburat warna jerami coklat pupus 
berpadu dengan warna hitam pekat dari abu jerami yang dibakar.Potongan lain 
dari Mozaik nagari Sungai Tarab nan elok ini tentunya ladang-ladang dan 
parak-parak masyarakat yang berada sedikit lebih tinggi dari sawah tersebut 
dengan aneka warna tanaman keras, pohon buah-buahan atau hamparan sayur mayur 
serta bumbu-bumbu dapur seperti cabe merah. Diantara sisi-sisi kanan kiri jalan 
dari simpang Sitakuak menuju dusun Mandahiliang berjejer rumah-rumah penduduk 
dengan halaman yang bersih serta dipekarangannya dihiasi pagar hidup seperti 
pinang, pohon pepaya dan alpukat serta tanaman kehidupan lainnya yang memberi 
manfaat baik secara ekonomi maupun lingkungan bagi yang punya rumah.Air dari 
pegunungan yang mengalir dan tersedia sepanjang tahun tentunya tidak 
disia-siakan oleh masyarakat di nagari yang subur ini selain untuk mengairi 
sawah tentunya untuk kolam ikan, sungguh betapa ikan-ikan dikolam dengan air 
yang sejuk dari kaki gunung Merapi itu seperti bertemu dengan habitatnya yang 
begitu menyenangkan untuk bermain, bergerak kesana sini walau badan mereka 
terkurung dalam sebuah “rumah khusus “ buat mereka (Minang : Tabek). 



Pelan tapi pasti saya menelusuri jalan yang berliku sedikit mendaki ke dusun 
Mandahiliang sambil menikmati pemandangan alam yang memanjakan mata di senja 
hari menjelang magrib di kanagarian Sungai Tarab yang terletak di hamparan kaki 
Gunung Merapi dari sisi yang lain dan itu tak kalah indahnya dari sisi kaki 
gunung Merapi disebelahnya menghampar kenagarian-kenagarian yang termasuk “Koto 
rang Agam”, inilah bagian dari Minangkabau yang terkenal dengan luhak nan tuo 
Tanah Datar. 



Diujung jalan pusat keramian Dusun Mandahiliang laju mobil saya hentikan dan 
merapat kesisi badan jalan, seorang anak nagari yang tidak asing lagi saya 
kenal sedang duduk santai diatas sepeda motornya mengawasi tenda-tenda biru 
yang dipasang para pemuda kampung disebuah lapangan takraw yang berlantai 
semen. Andiko Sutan Mancayo sosok anak nagari Dusun Mandahiliang yang saya 
kenal itu persis berada di depan hidung mobil saya. Klason saya bunyikan 
sebagai tegur sapa awal sekaligus untuk bikin kaget yang duduk santai disebuah 
sepeda motor skutik. Andiko terpana mungkin dalam hatinya (sia pulo ko nan ka 
gadang-gadangan) tapi ketika kaca mobil saya buka dan wajah kami saling mentap, 
wahh luar biasa terperanjatnya Andiko seakan tak perjaya saya datang kekampung 
dia untuk memenuhi undangan aqiqah putrinya. 



Hanya sebuah kata singkat dan penuh rasa buncah dari ekpresi wajah Andiko 
ketika beranjak duduk dari sepeda motor skutiknya menghampiri saya ke mobil 
“ehhh Udaaaaa jo Uni !!!!” Kami saling mengulurkan tangan dan bersalaman itu 
baru langkah awal yang cukup nikmat dan dahsyatnya sebuah silahturahhim apalagi 
di hari yang fitri yang selalu bergairah dan berdenyut dirayakan 
dikampung-kampung di ranah minang.Andiko dengan sigap menuntun saya untuk 
menepi dan memakir kendaraan dihalaman kerabatnya sementara azan magrib yang 
dilafazkan oleh mamak Andiko bergema disurau kaumnya yang terletak disisi jalan 
utama yang membelah dusun Mandahiliang. 



Sementara saya dan istri menunaikan shalat magrib di surau, Andiko berlari 
kerumah mandenya hanya berkata singkat saja sebelum shalat berjamaah dimulai 
“Ambo siapkan buek Uda jo keluarga dulu makan malam”. Wajah sumringah Andiko 
yang begitu antusias menjamu kami makan malam menghampiri kami yang telah 
selesai shalat Magrib berjamaah di surau. 



“Ka ateh rumah lah kito lai Da, lah disiapkan” itu sapaan Andiko penuh 
perhatian pada kami dan saya juga bisa membayangkan apa yang dipikirkan Andiko 
kira-kira begini “apolah nan dikomentari dek Da Jepe ko beko yo samba-samba nan 
dihidangkan mande ambo, pasti lamak caritonyo beko sambia makan dek ambo lai 
saulah pulo kalakuannyo jo da Jepe ko satantang kuliner rang kampuang” Kami 
langkahkan kaki dari surau menuju rumah mande Andiko ketika didepan pintu 
dengan mengucapkan salam, Andiko memperkenalkan mandenya, Istri, mamak serta 
dunsanak nan dibawah daguaknya kebetulan sedang berkumpul di ruang tengah rumah 
yang sedang direhab, sungguh sebuah kecintaan seorang Andiko buat kampung dan 
mandenya sedikit demi sedikit rejekinya di rantau dikumpulkannya untuk 
membangun sebuah rumah sederhana yang permanen walau itu belum siap tapi sudah 
kokoh berdiri, 



Pandangan saya layangkan pada taplak meja (sepra) yang terbentang, waw memang 
sepertinya terlalu spesial hidangan buat kami karena alek aqiqah sudah selesai 
tadi siang tentunya datang habis magrib suasananya buat kami lebih tenang dan 
bisa bercengkrama dengan tuan rumah sambil menikmati segala hidangan diatas 
sepra.Andiko dan mandenya mempersilahkan saya yang membawa keluarga dengan 
kekuatan penuh (full team) untuk duduk bersila mengelilingi sepra putih yang 
terhampar di ruang tengah. Sungguh sesuatu yang sulit juga dari mana memulai 
aneka hidangan ini diambil setelah nasi beras kampung yang panas disendok 
didalam piring, rendang belut khas Sungai Tarab kah akan dicicipi, rendang, 
gulai kepala ikan atau di kepala jamba didepan saya terhidang gulai kambing 
aqiqah. 



Mmmm..bagaimana kalau kuah kambing yang kental dan khas ini yang akan menyentuh 
lidah saya, ya…kuah gulai kambing, saya sendok dan nikmati dengan sesuap nasi 
saya coba lumat dan rasakan bumbunya yang sedikit berat dengan pedas yang khas 
rata-rata gulai kambing masakan kampung khususnya nagari-nagari di tanah 
datar.Lidah seperti disentrum listrik tegangan rendah dengan kuah gulai kambing 
dan itu membangkitkan selera untuk suap nasi selanjutnya. 



Pandangan pertama begitu menggoda pada setiap piring-piring yang berisi aneka 
sambal (menu) di atas seprai, lihatlah di pojok sana agak jauh dari jangkauan 
saya tergeletak sepiring perkedel kentang ala masakan kampung, sepertinya 
Andiko menangkap sinyal apa yang saya suka “Da perkedel kentang..cubolah lah “ 
Ehem memang ini yang saya suka, dua potong perkedel kentang ukuran kecil 
berlabuh dipiring makan saya, selanjutnya memang tak tertahankan lagi, Andiko 
begitu antusiasnya “memaksakan kehendaknya” agar saya menikmati semua hidangan 
yang tersedia. Apa boleh buat ini dunia lelaki dalam menikmati cita rasa 
masakan kampung dengan sentuhan tradisional yang dalam. 



Sedikit tapi pasti saya nikmati semuanya, rendang belut yang agak berbeda 
“genre” dengan rendang belut di kampung saya, seperti rendang daging kebanyakan 
begitu rendang belut khas masakan kampung andiko , potongan belut yang padat 
dicampur dengan kacang polong rasanya unik dan tentunya akan membelai lidah 
bergoyang tak terkendali ketika potongan belut yang rapuh dikunyah bersatu 
dengan nasi serta kuah gulai kambing.Disayap kiri saya duduk, entahlah 
sepertinya Andiko “memprovokasi” saya dengan menghidangkan spesial gulai kepala 
ikan Padang (Tongkol) dengan kuahnya yang kental diantara kelopak insang ikan 
tersebut terkait daun ruku-ruku tentunya ini memberikan sebuah cita rasa dalam 
masakan khas ranah minang. 



“cobain Da…itu untuak uda mah” ya sudah saya coba lagi… mantapppp Andiko hanya 
itu kata yang terucap dari mulut saya. Sepertinya ada yang kurang dalam 
hidangan ini, apa itu..ahaa ini dia, Andiko “berteriak” 



“Mak..manyo samba lado , lupo mah amak manghidangkan buek Uda ambo mah 
katangahkanlah Mak” 



Mmmm sepiring samba lado hijau dengan gilingan yang halus (sepertinya diuok 
dulu cabe hijaunya sebelum digiling) dihidangkan oleh mande Andiko. Samab lado 
ini cabe hijau ini sedikit basah itu melumuri bada (teri) kecil yang 
kecoklatan, kalau di Padang saya mengenal nama ikan teri ini dengan sebutan 
yang populer yaitu “Bada Kuriak” tapi orang kampung Andiko menyebutnya “Maco”. 
Rasanya tentunya membangkit selera makan tapi saya tidak bisa menjamin jika 
samba lado maco mande Andiko ini akan membuat yang patah hati akan kembali 
bersemangat lagi menggapai cintanya yang kandas , saya hanya bisa menjamin jika 
makan samba lado maco ini akan membangkitkan lagi gairah selera yang patah. 





Sesendok samba lado maco menghiasi ujung piring makan saya tentunya paling 
cocok dipadu serasikan dengan buncis muda manis yang diuokan tergeletak didepan 
saya dalam piring, ahhh tentunya sebuah sentuhan yang tampil beda ketika buncis 
manis yang dikukus ini dilumuri samba lado lalu ditingkahi rasa bada kuriak 
yang di sangrai bersatu lagi dalam lumatan nasi dari beras kampung yang putih 
ketika dimasak beras baru ini, kembangnya seperti yang sering saya dengar dari 
ibu saya tentang beras kampung yang enak ini “kembangnya seperti kembang bungo 
limau” 





*** 



Udahan dulu euyyyy laperrrr.. (Rita, Rina dan Andiko ini dulu ya..semakin 
keujung semakin seru ..yakin nggak..he he maap-maap aja ya ..jika ini bagian 
provokasi saya terhadap kuliner ranah minang yang selalu kita cintai dan kita 
promosikan 



Salam -Jepe 











-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet 
http://groups.google.com/group/RantauNet/~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi:
- DILARANG:
  1. E-mail besar dari 200KB;
  2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. One Liner.
- Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet
- Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
- Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
- Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.

Kirim email ke