Marindo, iko gagasan rancak mah, tapi bisa gak dipraktekkan deg generasi Internet jaman sekarang?? Apokoh Marindo sandiri lai acok menelaah AlQur'an (bantuan Tafsir) sehingga menemukan "sesuatu" didalamnya? Wassalam, DAN-Balikpapan
--- Pada Kam, 23/9/10, Marindo Palar <[email protected]> menulis: Dari: Marindo Palar <[email protected]> Judul: Re: Bls: Bls: [...@ntau-net] Risau, Siapa Pelanjut Ulama Besar Kepada: [email protected] Tanggal: Kamis, 23 September, 2010, 1:18 PM Assalamu'alaikum dunsanak sadonyo di Palanta...., Mengenai topik : Risau - Siapa Pelanjut Ulama Besar, ini..., ambo berkhayal sarupo ko ha. Kito paralu managakkan baliak surau nan alah roboh (mengutip judul Novel AA. Navis : Robohnya Surau Kami). Tapi Surau ko adalah Surau Modern. Terhubung satu sama lain melalui jaringan internet. Akses kepada website keagamaan dibuka seluas-luasnya. Akses ke situs-situs yg mubazir dan maksiat, ditutup habis. Pelajaran agama Islam yg salamo ko dilakukan di sekolah, dilakukan di Surau. Salah satu kurikulum pelajaran disekolah adalah Bahasa Arab, yg disusun untuk mencapai tujuan akhir : siswa bisa memahami Al-Qur'an. Pelajaran Bahasa Arab ini dimulai dari TK sampai, minimal SMA. Guru gurunya adalah guru-guru yg parlente, tapi alim, punya ilmu agama yg luas (eh... tapi ado ndak guru agama yg sarupo tu....??....ahhh.., beko lo lah itu kito etong....). Kito harus bisa memberi gaji yg bisa menaikkan gengsi guru-guru agama ko, dimata masyarakat yg sudah materialistis ko, sehingga profesi Guru Agama menjadi profesi yg membanggakan. Jangan seperti sekarang, gaji guru agama, yg mengajarkan anak-anak kita bisa membaca Al-Qur'an, jauh lebih kecil dari uang les Matematika...??.Apalagi dari uang les Piano...!!. Tamat TK, harus khatam Juz Amma. Tamat SD, harus khtam Juz Amma dengan Artinya. Tamat SMP harus khatam Al-Qur'an. Tamat SMA, harus khatam AlQuran, dan artinya (min 50% dari Surat yg ada dalam Al-Qur'an). Dari SMP sampai SMA, siswa harus membuat makalah mengenai ayat-ayat Al-Qur'an, tentu dsesuaikan tingkat kesulitannya dengan usia dan pelajaran Agama yg di pelajarinya. Setiap pelajaran lain, harus bisa dikorelasikan dengan Al-Qur'an. Misalnya, ketika belajar Biologi, Makhluk Hidup, harus bisa dirujuk ke ayat Al-Qur'an tertentu yg relevan. Atau ketika belajar ilmu ekonomi, harus bisa merujuk kepada ayat2 ekonomi yg relevan. Mudah2an dengan cara seperti itu, dari sekian ratus ribu murid sekolah, ada yg tertarik mendalami ilmu agama, yg kelak dikemudian hari menjadi Ulama Besar. Setidak tidaknya, nuansa agama bisa hidup dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan di tengah masyarakat. Baa gak ati tu Sanak...?. Atau, terlalu jauah khayalan ambo ko...?? Salam, Marindo Palar --- Pada Sel, 21/9/10, Ibnu Mas'ud <[email protected]> menulis: Dari: Ibnu Mas'ud <[email protected]> Judul: Re: Bls: Bls: [...@ntau-net] Risau, Siapa Pelanjut Ulama Besar Kepada: [email protected] Tanggal: Selasa, 21 September, 2010, 3:59 PM Assalamu'alaikum w.w. Alah lari antah kama-kama. tapi indak baa doh. Tando awak rami. Namonyo juo duduak di lapau. Baliak kito ka curito baa caronyo mambangkik batang tarandam. Baa caronyo kito untuak mancetak kader ulama nan alah lamo abih. Gubernur kito dari partai Da'wah. Mudah-mudahan dengan kepemimpinan beliau muncul semangat untuk jadi ulama dikalangan pelajar-pelajar awak. Tapi ijan pulo biko nan jadi ulama nan sibuk ba partai...alah tambah jauah panggang dari api. Wassalam, Ibnu 2010/9/21 Ryan Firdaus <[email protected]> Akhi Fitr Tanjuang... Suatu penjelasan nan terperinci tentang level ulama' syai'ah...tabik lo tanyo di kapalo ambo..kok ado di antaro kito nan berprinsip, ndak paralu bermazhab dlm syariat doh...tantu kito labiah tinggi levelnyo dari Mujtahid Muthlaq lai??? mohon penjelasan akhi....terima kasih sebelum nyo.. wassalam, Ryan 43 Ipoh From: Fitr Tanjuang <[email protected]> To: [email protected] Sent: Tue, September 21, 2010 3:40:32 AM Subject: Re: Bls: Bls: [...@ntau-net] Risau, Siapa Pelanjut Ulama Besar AslmWrWb Iko tingkatan ulama nan ambo dapek pulo dari internet. Kito caliak2 lah nan maa nan kurang di minang atau ina atau dunia Islam sacaro umum. Wassalam fitr tanjuang http://www.ustsarwat.com/search.php?id=1197238217 Tingkatan Ulama Ahli Syariah Di dalam situs ini saya banyak belajar dan berkenalan dengan beragam ulama. Pertanyaannya, apakah di antara para ulama itu ada jenjang atau struktur kesenioran atau semacam tingkatan? jawaban Assalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Kalau ada tingkatan atau level di kalangan ahli syariah, sebenarnya bukan derajat keimanan atau ketaqwaan, melainkan tingkat keahlian dan profesionalitas. Ibarat dunia kedokteran, ada dokter umum dan ada dokter spesialis. Tapi semua itu bukan jaminan bahwa dokter tidak akan terserang penyakit atau tidak bisa mati. Syeikh Abu Zahrah, ulama besar Mesir mencoba membuat klasifikasi para ahli ijtihad menjadi beberapa klasifikasi, misalnya mujtahid mutlaq (mustaqil), mujtahid muntasib, mujtahid fil mazhab dan mujtahid fi at-tarjih. 1. Mujtahid mutlaq (mustaqil) Ini adalah level mujtahid yang paling tinggi. Untuk sampai ke level ini, awalnya seseorang harus memenuhi dulu standar dasar yang harus dimiliki seorang mujtahid. Kemudian tambahannya adalah dia harus bisa membuat metologi ijtihad (ushul fiqih) sendiri tanpa meniru atau mengadaptasi dari orang lain. Dari hasil konsepnya itu, dia melakukan ijtihad pada semua sisi kehidupan mulai dari urusan thaharah sampai urusan kenegaraan, yang kemudian disusun menjadi kumpulan hasil ijtihad yang murni hasil dari kesungguhan dirinya. Bukan kutipan juga bukan contekan dari mujtahid lain. Kecuali kalau kebetulan hasilnya sama. Contoh mujtahid mutlak adalah 4 imam mazhab yang kita kenal: Al-Imam Abu Hanifah (80-150 H) Al-Imam Malik (93-179H) Al-Imam Asy-Syafi''i (150-204 H) Al-Imam Ahmad bin Hanbal Mereka yang merumuskan metodologi istimbath hukum dan sistem pengerjaannya, selain mereka juga menggunakannya untuk berijtihad, di mana sistem dan hasil ijtihadnya kemudian dijadikan rujukan oleh mujtahid di level bawahnya. Kalau kita ibaratkan ilmu matematika, mereka ini kira-kira seperti orang yang menemukan rumus segi tiga siku-siku Phitagoras, a kuadrat sama dengan b kuadrat kali c kuadrat. Atau yang menemukan rumus luas lingkaran. Siapa pun orang yang datang kemudian, kalau mau mengukur segi tiga siku-siku atau mengukur luas lingkaran, pasti tidak akan bisa lepas dari rumus dasar itu. 2.Mujtahid Muntasib Pada level kedua, kita bertemu dengan para mujtahid yang disebut muntasib. Sesuai namanya, muntasib adalah orang yang melakukan instisab, yaitu berafiliasi kepada suatu mazhab tertentu. Jadi mereka tidak menciptakan mazhab sendiri dalam arti tidak merumuskan sistem ijtihad dan istimbath. Mereka adalah orang yang datang belajar sistem itu hingga betul-betul menguasai sepenuhnya, setelah itu mereka menjadi pengguna langsung untuk melakukan berbagai ijtihad dalam masalah syariah. Namun dari segi kemampuan, sesungguhnya mereka sudah bisa melakukan perumusan sistem ijtihad sendiri. Tapi biasanya mereka tidak melakukannya, karena apa yang sudah dirintis oleh guru mereka sudah lebih baik dan lebih maju. Bahkan mereka malah menjadi tonggak yang ikut menguatkan suatu mazhab yang sudah ada, karena mereka menjadi pembela sekaligus berjasa mempopulerkannya kepada khalayak. Kalau kita ibaratkan kira-kira mereka adalah para programer yang ikut pada OS Open Source semacam komunitas Linux. Walau pun mereka bisa bikin sendiri tapi umumnya mereka lebih banyak menjadi pengguna, meski sesekali ikut menyumbangkan karya. Di tangan mereka inilah OS Open Source bisa tetap eksis. Menurut Ibnu Abidin, sebagaimana dikutip oleh Abu Zahrah, pada tiap-tiap mazhab dari keempat mazhab itu ada mujtahid dengan level muntasib. 2.1. Muntasib Mazhab Hanafi Yang termasuk ke dalam kategori ini adalah Muhammad bin Hasan As-Syaibani (131-189H) dari mazhab Abu Hanifah. Beliau adalah murid langsung Imam Mazhab dan menjadi muntasib pada mazhab yang beliau rintis, sekaligus menjadi pilar yang menguatkan mazhab ini. Selain itu juga ada Al-Qadhi Abu Yusuf (113-182H) yang amat terkenal itu. Mereka berdua adalah pasangan ulama yang tidak bisa dilepaskan dari nama besar mazhab Abu Hanifah, biasa disebut singkat: Abu Yusuf dan Muhammad. 2.2. Muntasib Mazhab Maliki Di dalam yang didirikan oleh Al-Imam Malik rahimahullah, kita mengenal ulama besar seperti Abdurrahman bin Al-Qasim (132-191H). Beliau ini levelnya sebenarnya mujtahid mutlak, karena sudah bisa membuat sistem mazhab sendiri. Namun sebagai murid langsung Al-Imam Malik selama 20 tahun, lebih lebih senang menyempurnakan mazhab gurunya. Termasuk di antara jasa beliau adalah menyempurnakan kitab Al-Mudawwanah Al-Kubra, kitab induk dalam mazhab ini. 2.3. Muntasib Mazhab Asy-Syafi''i Nama yang bisa disebut untuk muntasib mazhab ini adalah Al-Muzani. Lengkapnya adalah Abu Ibrahim Ismail bin Yahya Al-Muzani (175-264H). Sang guru, Al-Imam Asy-Syafi''i sampai berkomentar begini, "Al-Muzani adalah pembela mazhabku." Beliau memang berkarya besar untuk mazhab gurunya, di antaranya adalah kitab Al-Mabsuth (Al-Mukhtashar Kabir) dan Al-Mukhtashar Shaghir. Murid Al-Muzani tersebar di seantero khilafah Islamiyah sehingga mazhab gurunya ini dikenal dari ujung barat sampai ujung timur dunia. Selain itu juga ada Al-Buwaithi (w.231 H) yang oleh As-Syafi''i diwariskan halaqoh di Baghdad dan menulis banyak tentang mazhab ini. 3. Mujtahid fil mazhab Mereka ini adalah mujtahid yang tidak membuat sistem sendiri, juga tidak berijtihad sendiri. Mereka menggunakan sistem dari mazhab masing-masing dan mengikuti hasil ijtihadnya juga. Mereka hanya berijtihad manakala di dalam mazhab mereka belum ada hasil ijtihad. Karena persolaan hukum akan terus ada dan tidak pernah berhenti. Maka pada saat tidak hasil ijtihad dari mazhabnya yang sekiranya cocok dan bisa dijadikan jawaban, mereka barulah berupaya untuk berijtihad. Dari kalangan mazhab Al-Hanafiyah, yang termasuk ulama mujtahid fil mazhab adalah Abul Hasan Al-Karkhi (260-340H) dan Hasan bin Az-Ziyad (w. 204H). Dari kalangan Maliki adalah Muhammad bin Abdullah Al-Abhari (89-375H). Dari kalangan mazhab Syafi''i adalah Ibnu Abi Hamid Al-Asfraini (344-406H). 4. Mujtahid fi at-tarjih Pada level paling bawah, ada mujtahid fit tarjih. Peran mereka bukan membuat sistem, juga tidak berijtihad sendiri, juga tidak melakukan ijtihad yang belum ada ijtihad sebelumya. Mereka 100% mengikuti sistem dan ijtihad dari para seniornya. Dan karena sudah banyak hasil ijtihad dari para senior dan terkadang hasilnya agak berbeda, maka peran mereka adalah melakukan tarjih. Namun tarjih yang mereka lakukan bukan dalam arti mementahkan hasil ijtihad, melainkan mencoba melakukan studi komparasi antara semua hasil ijtihad dari keempat mazhab itu, lalu melakukan penelitian ulang atas dalil-dail yang digunakan serta analisa tentang keunggulan dari masing-masing mazhab. Mengapa masih harus ada tarjih? Salah satu sebabnya adalah perubahan zaman yang sangat dinamis serta kondisi tiap negeri yang selalu berbeda. Sehingga ada ijtihad yang cocok diterapkan di suatu negeri tapi barangkali kurang tepat kalau diterapkan di negeri yang lain. Juga ada mazhab yang bisa diterapkan pada zaman tertentu dan kurang tepat untuk masa yang lain. Wallahu a''lam bishshawab, wassalamu ''alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ahmad Sarwat, Lc 2010/9/20 Muhammad Gifari <[email protected]> Sahabat2 RN nan ambo hormati, Ambo ikut pulo mengomentari judul iko dengan mengutip buku yang pernah ambo baco (Fadhilah Amal: Maulana Muhammad Zakariyya al Kandahlawi). Manurut alim ulama, katonyo "untuk dapat menafsirkan al qur'an diperlukan 15 bidang ilmu". Saya akan meringkas kelima belas ilmu itu semata mata agar diketahui bahwa tidak mudah bagi setiap orang memahami makna bathin al qur'an ini. 1. Ilmu lughat (filologi) 2. Ilmu Nahwu 3. Ilmu sharaf 4. Ilmu isytiqaq (akar kata) 5. Ilmu ma ani (susunan kalimat) 6. Bayaan (permisalan kata) 7. Badi' (keindahan Bahasa) 8. Ilmu qiraat (perbedaan bacaan) 9. Ilmu Aqa'id (dasar dasar keimanan) 10 Usul fiqih (menggali hukum dari suatu ayat) 11. Ilmu Asbabun Nuzul 12. Ilmu Nasikh Mansukh 13. Ilmu Fiqih (hukum hukum yang rinci) 14. Ilmu Hadist 15. Ilmu Wahbi (ilmu yang diberikan khusus Allah kepada hambanya yang istimewa sesuai sabda rasul: "Barang siapa mengamalkan apa yang dia ketahui maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu yang tidak dia ketahui" M Gifari S (lk 29 ) Tokyo -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe. -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe. -- . Posting yang berasal dari Palanta RantauNet ini, jika dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumbernya: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini dan kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur dan Lokasi pada setiap posting - Hapus footer dan seluruh bagian tidak perlu dalam melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat e-mail baru, tidak me-reply e-mail lama dan mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali serta ingin mengubah konfigurasi/setting-an keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta r...@ntaunet http://groups.google.com/group/RantauNet/~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, melanggar akan dimoderasi: - DILARANG: 1. E-mail besar dari 200KB; 2. E-mail attachment, tawarkan di sini & kirim melalui jalur pribadi; 3. One Liner. - Anggota WAJIB mematuhi peraturan serta mengirim biodata! Lihat di: http://groups.google.com/group/RantauNet/web/peraturan-rantaunet - Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting - Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply - Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/subscribe.
